Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Berkomunikasi dengan Bahasa yang Tepat

Edisi 975 | 01 Des 2014 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah Wimar Witoelar, seorang profesor komunikasi dari Deakin University. Komunikasi merupakan kegiatan yang pasti dilakukan, baik komunikasi secara verbal ataupun non verbal. Hal ini membuat komunikasi sering kali disepelekan dan kesalahan-kesalahan dalam berkomunikasi dianggap biasa. Padahal tidak jarang kesalahan bahasa dalam berkomunikasi menimbulkan kesalahpahaman dan berujung perselisihan.

"The saddest thing is to be missunderstood", demikian kutipan yang disampaikan oleh Wimar Witoelar yang menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi harus terus dikembangkan agar terhindar dari kesalahpahaman. Komunikasi penting untuk dipelajari lengkap dengan bahasa dan alat lainnya. Namun di Indonesia belum sadar bahwa bahasa merupakan sendi komunikasi. Pelajaran Bahasa Indonesia bukan pelajaran utama seperti yang diterapkan oleh Inggris dan Amerika. Akibatnya masih banyak penggunaan bahasa yang salah. Seperti penggunaan kata "untuk" dalam sebuah percakapan dan perbedaan antara kata "jika" dan "bahwa".

Tidak ada kesalahan dalam mencampurkan bahasa asing dalam Bahasa Indonesia jika hal tersebut membuat pesan yang diterima menjadi lebih sempurna. Apabila seseorang menggunakan metode eklektik dalam berkomunikasi, tentu mereka akan lebih tenang dalam menghadapi dunia luar. Jangan sampai bahasa yang digunakan membuat orang lain resah dengan apa yang kita sampaikan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar dan usulan.

Seberapa penting nilai bahasa dan komunikasi dalam kehidupan sehari-hari

Bahasa dan komunikasi dapat dianalogikan seperti pemain bola dan sepatu bola. Jadi seseorang yang melakukan komunikasi tidak perlu menggunakan bahasa yang bagus karena hal tersebut dapat diatasi dengan ketulusan dan bahasa tubuh secara utuh agar pesan sampai dengan sempurna. Penting mempelajari bahasa, karena seseorang belajar komunikasi harus lengkap dengan bahasa dan alat lainnya.

Bagaimana cara orang Indonesia mempelajari Bahasa Indonesia?

Orang Indonesia belajar bahasa mereka berdasarkan pengalaman umum. Berbeda dengan orang Inggris atau orang Amerika yang memasukkan pelajaran bahasa sebagai pelajaran utama saat di bangku sekolah. Bahkan untuk masuk ke Perguruan Tinggi atau Pasca Sarjana diperlukan pengetahuan bahasa masing-masing. Ketika menjalani tes masuk, bentuk pertanyaan yang diberikan seperti tes bahasa padahal tes Intelligence Quotient (IQ).

Di negara maju, ketika seseorang dinilai kurang dalam penguasaan bahasa maka mereka dianggap memiliki IQ yang rendah. Sedangkan di Indonesia meski memiliki kemampuan bahasa yang terbatas tetap dianggap pintar karena mahir di bidang yang lain. Indonesia belum sadar bahwa bahasa merupakan sendi komunikasi.

Apa akibat jika seseorang salah menggunakan bahasa dalam percakapan sehari-hari?

Kesalahan komunikasi sering kali disebabkan karena salah dalam penggunaan bahasa sehingga mengakibatkan hal yang tidak diinginkan. Kesalahan terjadi tidak hanya mengenai komunikasi formal saja, tetapi juga terjadi pada komunikasi secara pribadi. Salah bahasa dapat menimbulkan salah persepsi.

Jadi bahasa tergantung bagaimana individu berbicara dan latar belakang pendidikan mereka?

Ya, seperti kutipan umum dalam seminar public speaking "know your audience" atau kenalilah khalayak kamu ketika berbicara. Hal ini penting, karena saya sebagai profesor komunikasi saja terkadang masih sulit untuk mengenali khalayak saya. Seperti kasus yang terjadi di Twitter, salah berbicara berakibat fatal. Itu terjadi karena saya tidak tahu bahwa yang menjadi pengikut saya di Twitter bukan hanya penggemar saya tetapi mereka yang membenci saya juga mengikuti kegiatan saya di Twitter. Di Indonesia terdapat beragam jenis khalayak. Oleh karena itu penting bagi komunikator mengenali yang menjadi khalayak mereka.

Bagaimana pengalaman Anda dalam berbahasa sehari-hari?

Meskipun saya adalah profesor komunikasi, namun saya masih mengalami kendala saat berbicara dengan karyawan saya di kantor sebanyak 20 orang. Dalam dunia komunikasi "the sadest thing is to be missunderstood" atau hal paling menyakitkan ialah tidak dimengerti oleh khalayak. Oleh karena itu, kemampuan berkomunikasi harus terus dikembangkan oleh masing-masing individu.

Saya dulu termasuk murid yang malas ketika belajar Bahasa Indonesia. Selain karena gurunya yang kurang asik, para pengajar selalu mengarah kepada hal yang baku dan tata bahasa yang rumit.

Sebaliknya, akan lebih menyenangkan jika pelajaran Bahasa Indonesia lebih menitikberatkan pada daya komunikasi bahasa. Jadi lebih menekankan pada penggunaan bahasa yang tepat untuk menyampaikan pesan pada orang lain. Jangan sampai bahasa yang digunakan membuat orang lain resah dengan apa yang kita sampaikan.

Apakah kesalahan-kesalahan fatal ketika berkomunikasi dapat membuat seseorang takut berkomunikasi?

Ya, betul. Seseorang yang takut menimbulkan kesalahan persepsi atau pernah mengalaminya dan tidak ingin kesalahan itu terjadi kembali, akhirnya membuat individu tersebut memilih untuk tidak berkomunikasi. Saya tidak tahu cara terbaik untuk mempelajari bahasa, namun salah satu cara terefektif ialah dengan studi kasus. Tata bahasa itu penting tetapi bersifat dinamis. Jadi yang penting ialah jangan takut untuk berkomunikasi.

Menurut Anda apakah menggunakan dua bahasa dalam satu informasi merupakan kebiasaan yang benar?

Benar atau tidaknya tergantung dari efektivitas komunikasi tersebut. Dinilai dari pemahaman yang ditangkap oleh penerima informasi. Saya tidak bisa memberikan penilaian karena tidak ada kesalahan mutlak.

Setiap individu memiliki gaya masing-masing dalam menyampaikan pesan. Misalkan, gaya berbicara saya mungkin disukai di satu tempat, tetapi belum tentu disukai di tempat lain. Paling tidak, hindarilah kesalahan-kesalahan mutlak seperti penggunaan kata "musikus" dan "musisi". Musikus digunakan untuk menggambarkan satu orang, sedangkan musisi lebih dari satu orang. Kata tersebut merupakan istilah-istilah latin.

Kebiasaan yang dianggap benar di Indonesia ternyata salah ya?

Iya, betul.

Bisakah Anda ceritakan bagaimana pengaruh bahasa asing terhadap bahasa Indonesia?

Saya bukan termasuk orang yang menolak penggunaan bahasa asing dalam Bahasa Indonesia. Justru ketika seseorang menggunakan kombinasi dan ramuan bahasa yang tepat, penerima informasi akan memperoleh pemahaman sempurna. Apabila seseorang menggunakan metode eklektik dalam berkomunikasi, tentu mereka akan lebih tenang dalam menghadapi dunia luar. Saya bukan ingin membersihkan Bahasa Indonesia dan menggantinya dengan bahasa asing. Akan tetapi saya ingin membersihkan Bahasa Indonesia dari bahasa yang salah.

Seperti penggunaan kata "untuk". Contoh, ketika seseorang memesan makanan sering kali mereka mengucapkan kata "Untuk salmonnya….." atau "Untuk ayamnya…...". Sekilas tidak ada yang salah dari kalimat tersebut. Kata "untuk" dalam psikologi digunakan untuk mengurangi kegugupan. Padahal kata "untuk" merupakan kata preposisi atau kata sambung yang harus disertakan dengan objek. Contoh, "Saya membuatkan kopi untuk Didit".

Kesalahan lainnya, dalam penggunaan kata "jika" dan "bahwa". Contoh, "Saya senang jika melihat kawan saya tertawa", dan "Saya tahu bahwa dia tertawa bukan karena mentertawakan saya". Jadi penggunaan kata "bahwa" diperuntukkan bagi hak yang bersifat mutlak, sedangkan kata "jika" merupakan situasi bersyarat.

Banyak hal yang sering kita dengar dalam komposisi bahasa namun ternyata tidak benar ya?

Ya, penyakit bahasa seperti itu sudah saya sadari sejak 2 tahun yang lalu.

Dalam bahasa yang formal sering kita mendengar, "Kepada Bapak Wimar Witoelar, waktu dan tempat kami persilakan". Bagaimana tanggapan Anda?

Kalimat tersebut merupakan contoh kesalahan besar. Kalimat tersebut memiliki makna bahwa yang dipersilahkan maju ke depan adalah jam, meja, dan bangku, bkan Wimar Witoelar. Meski tidak akan mengurangi kualitas dari pembicara, namun kalimat tersebut terasa janggal.

Lalu bagaimana contoh yang benar?

"Kepada Bapak Wimar Witoelar, kami persilakan menggunakan waktu dan tempat."

Kesalahan tersebut terus digunakan hingga saat ini.

Kalau begitu, gunakan bahasa yang lain. Contoh, "Kepada Bapak Wimar, kami persilakan maju". Jadi lebih fokus kepada komunikasinya bukan kata-katanya.

Apa yang perlu diperhatikan sebagai bangsa Indonesia terkait bahasa dan komunikasi?

Kita harus menggunakan bahasa yang dimengerti oleh khalayak kita dan dipantau apakah kalimat tersebut dipahami dengan sempurna. Kesalahan-kesalahan dalam berkomunikasi harus dihindari dan belajar dari kesalahan orang lain.

Bangsa Indonesia harus lebih menggunakan rasa atau logika untuk mempelajari bahasa?

Rasa berdasarkan logika.