Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Mardiyah Chamim

Menjadi Indonesia

Edisi 926 | 24 Des 2013 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Mardiyah Chamim, Direktur Tempo Institute. Tahun 2013, Tempo Institute kembali menggelar kompetisi esai ‘Menjadi Indonesia’. Kompetisi yang bertujuan mengekspos generasi muda dengan kesadaran kritis tentang konstituasi Indonesia ini kerap tidak hanya menambah pengetahuan mahasiswa seputar teknik penulisan, melainkan merupakan ’ajang’ bagi peserta untuk mengutarakan perasaannya terhadap hal-hal yang terjadi disekeliling mereka

 

Hal tersebut dipahami dan diamati oleh Tempo Institute berdasarkan isi naskah yang dilombakkan. Setiap tahunnya, Tempo Institute selalu menerima lebih dari 1000 naskah dari berbagai wilayah dengan beragam masalah. Dari 1000 naskah akan diseleksi menjadi 30 dan finalis akan mengikuti aktifitas Kemah Kepemimpinan selama dua minggu di Jakarta dan Bogor.

 

Disinilah cerminan Indonesia baru terlihat dan terasa secara kongkret. Selain itu, Tempo Institute dengan sengaja merangkai permainan dengan maksud menyadarkan peserta akan perbedaan kelas di Indonesia dan di Dunia. Membuka mata, pikiran, dan hati para peserta akan keberagaman di Indonesia.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jaleswari Pramodhawardani sebagai pewawancara dengan narasumber Mardiyah Chamim. 

Berbicara mengenai Tempo Institute maka identik dengan kompetisi esai mahasiswa bertemakan Menjadi Indonesia. Bisa Anda jelaskan makna dari Menjadi Indonesia tersebut?

 

Kompetisi esai Menjadi Indonesia sudah dimulai sejak tahun 2009. Tujuan diadakannya ialah menantang kemampuan mahasiswa untuk berfikir ‘apa arti Indonesia bagi diri kita’. Dengan begitu, generasi muda Indonesia dapat merefleksikan dirinya dalam gambaran besar Indonesia dan merefleksikan apa yang ia inginkan terhadap Indonesia. Oleh karena itu, kami tidak ingin lomba ini hanya menjadi sekedar paper ilmiah yang menggabungkan beberapa kutipan teori. Pada dasarnya kami ingin membuat generasi muda mendalami keadaan sekitarnya, melakukan observasi, menyerap setiap permasalahan yang terjadi dengan hati dan pikiran, kemudian menuangkannya menjadi sebuah karya tulis. Dengan begitu mereka akan memiliki sikap, opini, dan keberanian dalam bersuara meskipun nilai subjektifitas memiliki peran besar terhadap isi tulisan.

 

Adakah latar belakang khusus ketika membuat program tersebut?

 

Ketika menyusun program ini, kami merasa akan lebih strategis dan memiliki nilai besar apabila dapat merangkul generasi muda. Idealnya, kompetisi ini ditujukan kepada murid-murid sekolah tingkat atas atau SMA dan setara, karena mereka belum banyak terkontaminasi oleh ideologi yang beragam. Namun atas dasar beberapa pertimbangan, kami memutuskan terlebih dahulu merangkul mahasiswa.

 

Apa kesulitan yang dihadapi oleh Tempo Institute pada tahun pertama menggelar kompetisi esai ini?

 

Pada tahun pertama, jenis-jenis naskah yang masuk ke kami sebagian besar dalam format yang tidak sesuai. Bukan dalam bentuk esai melainkan dalam bentuk puisi, pointer seperti catatan kuliah, dan presentasi. Setelah kami cari tahu, rupanya banyak mahasiswa di Indonesia yang belum mendapatkan materi mengenai etika penulisan jurnalistik.

 

Akhirnya di tahun kedua, kami membuat petunjuk penulisan yang menjelaskan format penulisan esai. Sejak saat itu, secara perlahan-lahan, mahasiswa mulai mengetahui dan memahami format penulisan esai yang benar. Pada tahun ini,  Di sisi lain, perkembangan positif dari kompetisi ini ialah beberapa lembaga lain sudah mulai menerapkan kompetisi serupa.

 

Dimana peserta dapat mengakses informasi seputar kompetisi esai?

 

Informasi seputar kompetisi esai ‘Menjadi Mahasiswa’ dapat diakses iklan yang kami pasang di majalah dan Koran Tempo. Selain itu informasi terkait juga dapat diakses melalui Facebook, Twitter, dan mailing list seperti mailing list mahasiswa, mailing list beasiswa, dan mailing list komunitas mahasiswa.

 

Ketika peserta mulai mengirimkan karyanya, apakah pihak Tempo Institute membuat database seperti wilayah terbanyak yang mengikuti kompetisi esai, tema yang paling banyak dibahas oleh peserta dan atau universitas yang paling sering berkontribusi?

 

Iya, kami mengamati dan membuat database seperti itu. Misalnya di daerah Jawa, berdasarkan hasil pengamatan kami, mayoritas mahasiswa di kepulauan Jawa menyoroti masalah pendidikan dan pluralisme. Berbeda dengan Indonesia Timur yang lebih banyak membahas mengenai ketimpangan infrastruktur dan kemiskinan. Dari hasil analisa konten yang kami lakukan, kami memahami bahwa adanya perhatian yang berbeda dari masing-masing wilayah ataupun mahasiswa itu sendiri. Hasil ini pun akan kami amati lebih lanjut.

 

Lalu apa karakteristik khusus untuk menjadi pemenang?

 

Setiap tahun, kami menerima lebih dari 1000 naskah. Tahun ini kami menerima 1500 naskah untuk diperlombakan. Seluruh naskah akan diseleksi dan dinilai oleh dewan juri menjadi 100 naskah. Dari 100 naskah tersebut akan diperkecil kembali menjadi tiga puluh naskah dari mahasiswa yang berbeda. Ke tiga puluh mahasiswa inilah yang akan mengikuti kemah kepemimpinan ‘Menjadi Indonesia’ di Jakarta dan Bogor selama dua minggu.

 

Jadi pengumuman pemenang akan diumumkan saat kemah kepemimpinan?

 

Iya, tetapi ketika kemah dimulai kami belum memperoleh nama pemenang. Penilaian pemenang akan ditentukan 30% dari esai dan 70% dari interaksi saat kemah kepemimpinan. Interaksi yang kami bangun selama kemah kepemimpinan bertujuan untuk mengekspos para peserta dengan kesadaran kritis tentang konstituasi Indonesia melalui kepemimpinan, jurnalistik, materi anti korupsi, HAM, dan pluralisme. Sehingga makna yang diperoleh, baik oleh mahasiswa ataupun Tempo Institute, tidak hanya sekedar mahasiswa yang pintar menulis

 

Bisa Anda berikan contoh jenis-jenis kegiatan saat kemah kepemimpinan?

 

Salah satu sesinya ialah permainan kelompok. Permainan ini sudah dikemas sedemikian rupa sehingga mengandung nilai penting di dalamnya. Peserta akan dibagi menjadi tiga kelompok dan dibekali masing-masing uang dalam jumlah yang sama. Kemudian peserta diminta berinteraksi dengan sistem yang kami tahu bahwa mereka tidak akan berhasil. Hasil dari permainan tersebut ada kelompok yang memiliki banyak uang, ada yang sedang, ada pula yang tidak memiliki uang sama sekali. Bagi kelompok dengan uang terbanyak akan diberikan perlakuan yang sangat baik seperti makan malam mewah dengan candle light, dan diirngi musik. Sedangkan bagi kelompok yang tidak memiliki uang hanya dikasih kerupuk dan nasi.

 

Pesan apa yang ingin disampaikan dari permainan tersebut?

 

Kami ingin menunjukkan bahwa di dunia nyata terdapat perbedaan kelas dan setiap orang harus punya kesadaran akan perbedaan tersebut. Kami menggambarkan kegiatan apa saja yang dilakukan oleh kelas atas, kelas menengah, dan kelas bawah. Jadi semua permainan sudah dirancang berdasarkan situasi di Indonesia.

 

Seluruh mahasiswa Indonesia dari berbagai daerah, suku, agama dan latar belakang berkumpul di satu tempat. Masalah-masalah apa yang muncul dari sana?

 

Suatu hal yang sangat berkesan buat saya adalah keberagamannya. Tiga puluh mahasiswa yang mengikuti perkemahan berasal dari bermacam-macam latar belakang. Ada yang tumbuh di pesantren sehingga ia sama sekali belum pernah bertemu non-muslim selama hidupnya dan baru di perkemahan tersebut bertemu dengan non-muslim. Ada peserta berlatar belakang Syiah dan awalnya takut mengungkapkan identitas agamanya. Kemudian kami dorong dan beri pemahaman agar ia tidak boleh takut karena menjadi Syiah bukan kriminal jadi tidak ada yang perlu ditakutkan. Ada juga peserta yang berlatar belakang gay. Dapat dikatakan miniatur Indonesia ada di dalam situ.

Keberagaman tersebut dibicarakan di tempat itu?

 

Ya, dibicarakan secara terbuka. Mereka tidak perlu takut dan tidak perlu ada diskriminasi. Bahkan ada dari mereka yang berasal dari daerah seperti Papua dan belum pernah datang ke Jakarta.

 

Jadi dari Aceh sampai Papua ada semua?

 

Ada. Peserta dari Papua tersebut ketika kita beri tugas reportase bingung kenapa toilet di Jakarta harus dijaga? Apanya yang harus dikhawatirkan hilang? Lalu peserta dari Aceh rupanya masih sakit hati dan trauma pasca konflik dan masih ada kecurigaan jangan-jangan dia dijebak. Hal tersebut masih terbawa. Jadi ada tipikal-tipikal seperti itu.

 

Berapa lama perkembahan berlangsung dan adakah kemudahan dan kesulitan dalam penyelenggaraannya?

 

Acara berlangsung selama dua minggu. Kemudahannya karena kita meminta peserta untuk open minded dan hal itu kita dorong dengan berbagai permainan dan berbagai situasi yang kondusif untuk melebur. Hasilnya sesuatu yang mengharukan. Ada yang awalnya itu peserta dari Masalembo, Madura. Awalnya dia tidak mau bersalaman dengan saya karena bukan muhrim, tapi setelah dua minggu dia peluk saya dan bilang, “Saya tidak peduli lagi bahwa kita bukan muhrim, yang penting kita saling memberi dan saya menganggap Mbak Mardiyah kakak saya.” Kesulitannya ialah sebetulnya dua minggu tidaklah cukup untuk meleburkan banyak hal tersebut. Biasanya kesulitan lainnya ialah ada mahasiswa yang ikut ujian atau kegiata lain sehingga tidak bisa mengikuti secara penuh. Hal itu merepotkan secara teknis.

 

Apakah setelah peserta kembali ke daerahnya, mereka masih terkait dengan Tempo Institute dan hal-hal yang dimiliki bersama tetap terjaga?

 

Kita terus menjaga kontak dengan alumni program ini ketika program ini dimulai kembali pada tahun ini. Alumnus tahun ini dan tahun lalu diikutan sebagai mentor. Di daerah masing-masing juga ada diskusi bagaimana membuat esai sehingga terlibat aktif. Yang mengharukan juga sebagian dari mereka ada yang cukup serius di daerah masing-masing. Misalnya di Purwokerto ada alumnus yang kemudian menghimpun tukang becak untuk membuat kursus singkat tentang pengelolahan keuangan lalu workshop membuat ternak lele. Ada juga alumnus yang membuat koperasi simpan pinjam sederhana. Di Lombok selama ini para TKI dan TKW mengirim uang ke keluarga mereka namun keluarga tidak mempunyai rekening sehinga harus melalui lurah dan itu ada potongan-potongan. Ada alumnus memfasilitasi untuk membuat rekening. Hal-hal itu sebetulnya sederhana namun menunjukan mereka masing-masing paham. Ada yang membuat sanggar membaca untuk anak-anak jalanan. Ada yang membuat kelompok backpacker yang harus menulis tentang Indonesia dan tidak hanya menekankan jalan-jalanya namun dalam konteks ke-Indonesia-an.

 

Bagaimana cara Tempo Institute sendiri merangkul mereka?

 

Sebenarnya ini pekerjaan rumah yang cukup besar dan saya berharap bukan hanya Tempo Institute saja. Ini kerja besar, selain kompetisi esai juga kita membuat buku “Surat dari dan untuk Pemimpin.” Kita minta para pemimpin. Ada Susi Susanti, Boediono, Marie Pangestu. Ada yang dari kelompok budayawan, artis, altit. Semuanya menulis kepada anak muda. Jadi ada dua yaitu satu kompetisi esai untuk mahasiswa dan yang kedua surat-surat dari para pemimpin itu.

Kegiatan-kegiatan tersebut berjalan secara paralel?

 

Kita ingin suatu saat ada pertemuan. Misalnya anak muda alumnus yang ingin menjadi pengusaha, dia bisa bertemu satu-dua hari atau satu minggu dengan beberapa CEO.  Mereka yang ingin menjadi seniman bisa magang di tempatnya Ibu Titiek Puspa, atau yang ingin menjadi olahragawan bisa mengikuti aktivitas Chris John selama satu hari. Kita ingin inspirasi dan juga etos kerja dari pada pemimpin itu menular pada anak-anak muda ini. Tentu saja para orang tua ini juga belajar pada anak muda, jadi saling belajar.

 

Pekerjaan ini adalah pekerjaan besar. Apakah ada perkembangan ketertarikan pihak lain terhadap pekerjaan ini selama lima tahun perjalanannya?

 

Ada beberapa lembaga terlibat, namun kesadaran untuk mendanai program-program seperti ini sepertinya seret karena kegiatan ini tidak glamour seperti Indonesian Idol. Kita berharap ke depannya, bahwa banyak pihak akan terketuk untuk ikut telibat karena ini persoalan sosial .

 

Apakah kegiatan lomba esai ini akan terus berlangsung?

 

Mudah-mudahan begitu.