Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Prisia Nasution

Masyarakat Adat Berpikiran Matang

Edisi 925 | 16 Des 2013 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Bulan ini di bioskop daerah Anda diputar film berjudul Sokola Rimba. Film tersebut bercerita mengenai kisah perjuangan masyarakat adat Suku Rimba di Hutan Bukit Duabelas, Jambi. Jadi tamu kita kali ini adalah Prisia Nasution, pemeran utama film Sokola Rimba.

 

Prisia mengingatkan agar jangan lagi memandang masyarakat adat itu orang terbelakang. Jangan dilihat mereka sebagai orang yang terpojok, yang tersisih. Lihat mereka seperti  manusia yang mempunyai hak dan adat mereka sendiri. Jadi, saling menghargai hak hak adat satu dengan lainnya karena ada banyak sekali adat di Indonesia.

 

Menurut Prisia, masyarakat adat maju sekali dengan cara berpikir mereka. Kadang orang yang tinggal di kota malah semena-mena, misalnya membuang sampah di sungai. Kita kadang tidak terlalu peduli dengan hal-hal sederhana, walau sebenarnya dampak yang timbul besar sekali. Masyarakat adat masih mempunyai tradisi dan aturan. Suku Anak Rimba melarang untuk membuang sampah ke sungai, juga tidak boleh menebang pohon. Misalnya, sekadar mau mengambil duren maka kita harus menunggu duren itu jatuh, baru boleh kita makan. Dengan tradisi seperti itu, mereka justru yang sebenarnya melestarikan hutan. Dengan mempertahankan hutan, berarti mereka juga mempertahankan area tinggal mereka.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Prisia Nasution.

 

Bagaimana awal mula Anda mendapat tawaran untuk menjadi pemeran utama di film Sokola Rimba?

Tawaran datang dari Mira Lesmana (produser) dan Riri Riza (sutradara). Mereka menelepon saya dan setelah itu kita bertemu untuk audisi. Mungkin ada beberapa kandidat sebelumnya. Audisi di awal berupa tanya jawab mengenai bagaimana saya melihat suku asli, hutan, lembaga swadaya masyarakat (LSM).

Mengapa Anda menerima tawaran tersebut, padahal Anda tahu pengambilan gambarnya akan dilakukan di tengah hutan ?

Justru karena itu saya terima. Pengalaman seperti itu mungkin tidak akan datang dua kali. Biasanya fasilitas dalam pembuatan film sangat layak seperti ketika pengambilan gambar, property film, dan tinggal di hotel kalau memang dilakukan di luar kota, serta fasilitas transportasi. Di pembuatan film kali ini (Sokola Rimba-red) bukan tidak ada fasilitas-fasilitas tersebut namun tidak mungkin fasilitas-fasilitas tersebut disediakan. Kita harus tinggal dalam tenda di hutan dan harus berjalan kaki ke lokasi pengambilan gambar karena tidak mungkin kendaraan bisa masuk. Jadi saya sangat ingin di film ini karena hal tersebut, kesempatan ini tidak akan datang lagi.

Apakah sebelumnya Anda pernah tinggal di hutan dalam jangka waktu tertentu?

Kalau camping pernah hanya dua-tiga hari. Kemarin saat pembuatan film, kita tinggal di hutan selama dua minggu.

Jadi, berapa lama total waktu Anda tinggal di tengah hutan belantara untuk pengambilan gambar Sokola Rimba?

Totalnya 22 hari namun di dalam hutannya sendiri 14 hari. Sebelumnya kita sudah masuk dulu karena ada proses reading, juga pendalaman karakter dan melihat lingkungan. Itu dilakukan satu bulan sebelum pengambilan gambar selama sekitar lima hari.

Apa saja persiapan Anda untuk tinggal di tengah hutan belantara?

Sebenarnya tidak ada persiapan yang signifikan untuk tinggal di dalam hutan. Hanya kita harus minum pil malaria karena di situ rentan dengan malaria. Kita juga harus tetap menjaga kondisi tubuh. Meski kita minum pil malaria, tapi kondisi kita sedang turun pasti badan kita terserang juga. Jadi kita harus menjaga kondisi jangan sampai sakit, jangan terlalu lelah, dan minum obat malaria secara rutin, dan tidak boleh putus.

Apakah Anda merasa ada dampak lain atau tidak ketika minum obat malaria setiap hari?

Ada. Waktu itu pada suatu hari mungkin karena kita kelelahan dan belum cukup sarapan, pil malaria itu menyerang lambung kita semua di tengah-tengah pengambilan gambar. Jadi satu per satu kru mulai jatuh dan muntah-muntah karena lambungnya tidak kuat. Namun itu hanya kejadian satu hari saja.

Anda tinggal selama 14 hari di hutan untuk pengambilan gambar film Sokola Rimba. Apa saja yang Anda rasakan selama tinggal di Hutan Bukit Duabelas di Jambi?

Melihat anak-anak Suku Rimba, bagaimana mereka berinteraksi sesama, bagaimana cara mereka melihat orang luar. Lalu saya juga melihat cara mereka hidup, bagaimana mereka berburu, melihat permainan mereka, dan itu semua hal baru bagi saya. Jadi kalau ditanya perasaannya, cukup campur aduk.

Apakah Anda juga mengikuti pola hidup mereka?

Selayaknya bertamu di tempat orang, jadi kita harus mengikuti apapun adat di sana. Contohnya, salah satu adat mereka adalah tidak boleh mengotori sungai. Karena itu kita tidak boleh membuang air ataupun mandi dengan sabun di sungai. Bagi mereka sungai itu jalur kehidupan, jalur dewa mereka.

Jadi kelestarian sungainya masih terjaga.

Iya, dan justru itu yang membuat kita tidak takut untuk mandi di sungai. Kita sama sekali tidak boleh mengotori sungai. Nah saat pengambilan gambar, kita punya camp management yang sangat profesional. Kita dibuatkan tenda sendiri, lalu ada tenda komunal untuk bergabung dengan semua kru. Sedangkan untuk toilet, dipasanglah toilet duduk masuk di tengah hutan dan dibikinkan septic tank di bawahnya.

Lalu bagaimana kondisi Hutan Bukit Duabelas Jambi saat Anda di sana?

Sekarang perkebunan kelapa sawit dan karet sudah makin masuk ke dalam hutan, dan pelestarian di area luar hutan juga hampir habis karena semua isinya berupa perkebunan kelapa sawit dan karet. Namun ketika kita berjalan masuk lebih ke dalam, kondisi hutan masih cukup rimbun.

Apa yang harus kita lakukan untuk bisa menjaga kelestarian Hutan Bukit Duabelas?

Kalau kita sendiri yang mengupayakan agak susah, harus ada bantuan dari yang berwenang. Kalau tidak ada peraturan yang membatasi jumlah perkebunan kelapa sawit maka susah mengupayakannya. Namun kalau kita sebagai pribadi, maka yang paling mudah adalah menjaga kelestarian hutan dengan cara seminim mungkin jangan membuang sampah sembarangan.

Tadi Anda menyebutkan jika ekspansi perkebunan kelapa sawit dan karet semakin besar di Hutan Bukit Duabelas. Apakah itu juga berdampak pada kehidupan Suku Anak Rimba?

Itu sedikit diceritakan di film Sokola Rimba. Pada awalnya lahan mereka jauh ke luar sehingga masih bisa sampai ke perbatasan luar, tetapi sekarang mereka tidak bisa dan harus hidup makin masuk ke dalam. Mereka mencari makan dengan berburu, dan hewan buruan semakin jauh masuk ke dalam hutan rimba. Akibat hewan-hewan makin jauh masuk ke dalam hutan, mereka menjadi makin jauh dengan makanan mereka. Sekarang mereka kesusahan. Cari buruan juga tidak semudah dulu lagi karena mereka harus masuk ke dalam hutan.

Kalau begitu, bagaimana Anda makan di Hutan Bukit Duabelas?

Saya coba bercampur dengan mereka, apapun yang mereka makan, saya coba untuk makan juga. Hasil buruan mereka juga saya coba makan.

Nah dengan kondisi alam yang semakin terdesak, bagaimana Suku Anak Rimba mempertahankan hutan mereka?

Datangnya Butet Manurung kepada mereka sebenarnya baik sekali karena akhirnya mereka bisa belajar baca-tulis. Sebenarnya Hutan Bukit Duabelas adalah hutan adat bagi mereka, jadi bukan Taman Nasional. Dulunya mereka mudah sekali dibohongi. Tanah mereka diambil karena mereka tidak bisa membaca maka hanya diminta memberikan sekadar cap jempol. Nah sekarang anak-anak Suku Rimba sudah bisa mulai berpikir kritis, dan itu cara mereka mempertahankan wilayah.

Apakah yang mereka dapatkan itu berupa pendidikan formal atau non formal?

Sebenarnya pendidikan yang mereka butuhkan bukan urusan formal atau non formal. Pelajaran yang mereka perlukan adalah pelajaran yang bisa diterapkan di hutan seperti pelajaran ketahanan hidup. Pelajaran tersebut misalnya membaca karena orang luar pasti akan interaksi dan menggunakan kertas dan tertulis. Pelajaran lainnya adalah berhitung karena mereka sudah mulai ke luar dari hutan untuk berbelanja di desa. Sering sekali mereka dibohongi soal uang. Selain itu, mereka juga harus belajar tentang hak-hak mereka seperti hak tinggal.

Saat Anda berinteraksi langsung dengan masyarakat adat Suku Anak Rimba, apakah mereka bisa langsung mudah menerima kehadiran Anda?

Saat pertama kali ke sana, mereka tidak langsung menerima. Pasti ada jarak yang sangat besar dulu sebelum akhirnya mereka bisa menerima. Dalam adat mereka, anak kecil dan perempuan tidak boleh terlalu berinteraksi dengan orang luar karena kita sudah memakai sabun, sehingga dianggap tidak natural lagi.

Setelah Anda tinggal dengan masyarakat Suku Anak Rimba, bagaimana pandangan Anda mengenai mereka?

Saya senang sekali dengan pengalaman ini karena dari kecil saya lahir dan tinggal di Jakarta. Pola hidup mereka itu tercermin dari tradisi mereka dan itu menarik sekali. Jadi jangan sampai tradisi itu hilang karena perbedaan antara tradisi di suatu daerah dengan lainnya justru membuat unik.

Apakah Anda masih merasa bahwa masyarakat adat itu merupakan masyarakat yang tertinggal? Atau mereka malah merupakan masyarakat maju yang mampu menjaga kelestarian alam?

Kalau saya justru mengatakan mereka maju sekali dengan cara berpikir mereka. Kadang orang yang tinggal di kota malah semena-mena, misalnya membuang sampah di sungai. Kita kadang tidak terlalu peduli dengan hal-hal sederhana, walau sebenarnya dampak yang timbul besar sekali. Masyarakat adat masih mempunyai tradisi, adat, dan aturan. Suku Anak Rimba melarang untuk membuang sampah ke sungai, juga tidak boleh menebang pohon. Misalnya, sekadar mau mengambil duren maka kita harus menunggu duren itu jatuh, baru boleh kita makan. Dengan tradisi seperti itu, mereka justru yang sebenarnya melestarikan hutan. Dengan mempertahankan hutan, berarti mereka juga mempertahankan area tinggal mereka.

Saat pengambilan gambar film Sokola Rimba, apakah Anda sudah melihat pemenuhan hak-hak dari masyarakat Rimba seperti hak pendidikan atau pun hak asasi lainnya?

Sebenarnya selama mereka tidak diusik, tidak diancam untuk dipindahkan ke desa atau mendesakan orang rimba, mereka sudah bisa memenuhi hak dari tradisi mereka sendiri. Jadi mereka merasa haknya terancam jika mereka harus bersekolah, harus diseragamkan, atau harus ditaruh di rumah yang layak. Mereka merasa lebih mendapatkan haknya sebagai warga Rimba jika mereka dibiarkan di hutan dengan pola hidup mereka yang seperti itu.

Jika mereka merasa haknya terancam jika harus bersekolah, lalu bagaimana bentuk pendidikan yang sebenarnya cocok untuk masyarakat adat seperti masyarakat Rimba ini?

Pendidikan yang cocok adalah pendidikan yang mereka butuhkan. Kalau mau lebih ekstrem lagi, pendidikan yang cocok bagi kita semua ini adalah pendidikan yang juga kita butuhkan. Jadi tidak harus dari SD kita dicekokin pendidikan yang susah, yang tidak kita ingat lagi saat dewasa. Kalau semua pelajaran yang ada sekarang ini dijejalkan ke Orang Rimba, tidak ada fungsinya untuk ketahanan hidup mereka. Jadi pendidikan yang tepat adalah pendidikan yang mereka butuhkan seperti membaca, berhitung, dan bagaimana mempertahankan wilayah mereka.

Berbicara mengenai pengetahuan dan pendidikan untuk masyarakat adat Suku Rimba, saya mendengar bahwa pembuatan Film Sokola Rimba mendapat dukungan penuh dari The Body Shop Indonesia. Pihak The Body Shop juga menggelar donasi untuk akses pendidikan bagi masyarakat adat Suku Rimba ini. Menurut Anda, apa arti donasi ini untuk masyarakat adat menurut Anda?

Kalau saya melihat lebih baik ke sukarelawan untuk menjadi guru-guru yang akan masuk ke sana karena akses dan makanan susah sekali. Jadi donasi yang dibutuhkan adalah donasi untuk mendukung para guru. Ketika orang-orang Suku Anak Rimba mempunyai pertanyaan tentang seperti apa dunia luar, maka paling tidak ada Ibu atau Bapak guru sukarelawan yang bisa menjelaskannya.

Jadi bagi masyarakat Indonesia yang ingin membantu masyarakat adat, terutama untuk Suku Anak Rimba, bisa membantu dengan memberikan donasi untuk mendukung para guru.

Kalau mau menjadi sukarelawan sebagai guru malah lebih baik lagi.

Apakah Anda juga berminat untuk menjadi guru?

Berminat sekali tapi kriterianya juga cukup berat karena harus berdedikasi minimal beberapa lama tinggal di daerah itu, senang dengan anak-anak, dan suka tinggal di hutan. Saya senang sekali dengan anak-anak dan suka tinggal di hutan. Sayangnya saya tidak mempunyai waktu. Kalau mengenai kemauan, saya sangat mau sekali.

Apa yang sebaiknya dilakukan agar masyarakat adat tetap ada di bumi Nusantara ini?

Jangan lagi memandang masyarakat adat itu orang terbelakang yang harus dibantu untuk disekolahkan dan diumumkan dimana-mana. Jangan dilihat mereka sebagai orang yang terpojok, yang tersisih. Lihat mereka seperti manusia yang mempunyai hak dan adat mereka sendiri. Jadi, saling hargailah hak-hak satu dengan yang lainnya. Saling menghargai hak adat satu dengan lainnya, karena kalau mau dihitung ada banyak sekali adat di Indonesia. Jadi kita harus saling menghargai satu dengan yang lainnya.

@