Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Mundardjito

Manfaatkan Cagar Budaya

Edisi 922 | 25 Nov 2013 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Mundardjito, ahli arkeologi yang juga dosen di Universitas Indonesia. Kita akan membicarakan mengenai cagar budaya terutama candi.

Menurut Mundardjito, Indonesia adalah negara yang kaya, tidak hanya dari segi flora dan fauna, tetapi juga benda-benda budaya yang sudah ada sejak lama. Contoh yang bisa kita banggakan antara lain situs manusia prasejarah di Sangiran, Candi Borobudur, dan situs Majapahit di Trowulan. Contohnya, Indonesia tanpa Sangiran bukanlah Indonesia. Sangiran adalah adalah jati diri kita, "KTP" Indonesia. Itu karena Sangiran itu tidak ada di negara lain, begitu juga Borobudur dan Prambanan.

Kita harus bangga akan hal ini karena hanya ditemukan di Indonesia. Karena itu upaya untuk mensosialisasikan mengena pentingnya penyelamatan benda cagar budaya perlu dilakukan terus menerus. Hal yang juga penting adalah bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa situs cagar budaya juga harus menjadi sumber daya ekonomi bagi mereka. Bangunan-bangunan itu harus juga dapat dimanfaatkan dalam kepentingan ekonomi. Nah keseimbangan antara kepentingan ideologis, akademik, dan ekonomi harus seimbang

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jaleswari Pramodhawardani sebagai pewawancara dengan narasumber Mundardjito.

Mengapa kita harus melihat candi bukan hanya sekadar peninggalan budaya, tetapi juga termasuk jati diri bangsa?

Candi adalah satu bentuk bangunan yang dibuat oleh manusia berdasarkan ideologi mereka. Misalnya, mengapa mereka harus membuat candi, siapa yang mengerjakannya dan dibangun dengan teknologi yang ada pada waktu itu. Misalnya candi di daerah Jawa Tengah, kebanyakan dibangun menggunakan batu. Di dalam candi padat sekali, tidak ada ruangannya karena mereka mengadakan upacara di halaman candi. Karena itu halaman candi juga merupakan bagian dari data arkeologi. Di situ banyak ditinggalkan benda-benda yang ada kaitannya dengan upacara yang mereka lakukan. Jadi halaman candi adalah suatu area aktifitas manusia pada saat itu.

Jadi melalui benda itu, katakanlah candi, kita bisa mendeteksi bagaimana ritual tradisi dan kehidupan masyarakat di masa lampau?

Betul, jadi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan arkeolog itu adalah bagaimana orang membuat itu dan untuk apa itu dibuat. Pertanyaan itu harus selalu dikaji dengan cara penelitian-penelitian arkeologi yang murni dan tidak bisa dilakukan sembarangan. Penggalian candi juga tidak bisa dilakukan sembarangan. Penggalian candi harus sistematik dan selalu direkam atau dicatat. Kepadatan temuan candi juga menggambarkan kepadatan demografi penduduk. Tetapi masalahnya, kita tidak bisa mengukur demografi penduduk masa itu. Hal ini karena masa itu yang berkembang adalah kebudayaan Hindu dan Buddha, dimana orang yang meninggal akan dibakar sehingga tidak ada rangka, jadi kita tidak bisa menghitung demografinya.

Candi itu suatu tangible things, dan tugas arkeolog adalah menerangkan sisi intangible-nya, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan informasi kebudayaan. Jadi harus dilakukan penelitian. Kalau tidak dilakukan penelitian, maka kita hanya bisa menemukan Borobudur dalam bentuk fisik saja, lalu tidak bisa cerita apa-apa.

Anda sempat marah saat Pusat Informasi Majapahit dibangun di atas situs Trowulan. Apakah Anda bisa menjelaskan apakah kondisi situs Trowulan itu sedemikian rusak?

Sebetulnya ada kaidah-kaidah di ilmu arkeologi, yaitu semua yang kita gali harus direkam atau dicatat supaya kita bisa mengembalikan. Jadi tidak menggali dengan pacul tetapi dengan scraper atau catok supaya kita bisa melihat stafografinya karena setiap lapisan tanah adalah masa. Misalnya, Majapahit mempunyai tiga lapisan massa, yaitu paling bawah adalah masa berdirinya Majapahit, kemudian lapisan tengah dan lapisan atas yaitu masa akhir Majapahit. Nah, sekarang yang baru kita teliti adalah lapisan atas atau masa akhir Majapahit.

Jadi ada metode khusus untuk menggali dan memaparkan sejarah suatu candi.

Ada tingkat penelitian di dalam arkeologi. Pertama adalah pengumpulan data, dan itu bisa dilakukan melalui pemotretan dari udara. Misalnya, dengan menggunakan pemotretan hitam putih atau chraomatic dari ketinggian tertentu. Kalau air kolam maka warnanya akan menjadi lebih hitam, sedangkan kalau jalan warnanya putih. Ada lagi yang lebih rendah yaitu memakai multi spectral yaitu thermal atau panas bumi. Kalau jalan maka akan mantul dan akan ditangkap berbeda dengan kolam yang isinya air.

Selain itu ada juga metode geoelectric prospecting dan geomagnetic prospecting Metode ini menggunakan alat-alat listrik untuk menentukan adanya benda atau tidak. Jadi pekerjaan arkeolog adalah serangkaian metode yang bisa dilakukan dalam pengumpulan data, dengan cara arkeologi yaitu scraping atau mengerok tanah-tanah itu.

Nah pengetahuan semacam ini tidak mudah bagi orang awam. Seringkali justru yang membuat risau kaum arkeolog adalah banyak kerusakan yang diakibatkan oleh penggalian, misalnya kasus Gunung Padang. Bagaimana pandangan Anda mengenai proses penggalian di situs Gunung Padang?

Situs Gunung Padang sudah lama dikenal sejak zaman Belanda dan diusahakan untuk dipelihara. Di atas Gunung Padang ada punden berundak yang berbentuk teras. Kemudian ada sebagian orang yang menganggap di dalamnya itu ada piramida. Persoalannya, untuk membuktikan bahwa itu ada piramida atau tidak, maka kita harus membongkar, atau kita membuat lobang di tengah, atau kita kuliti bukit. Yang saya takutkan, hasil yang didapat hanyalah tanah yang menjadi longsor.

Apa agumen tentang adanya piramida di situs itu dan penyelidikan seperti apa yang sesuai dengan metode arkeologi?

Memang ada yang namanya pseudo science. Dalam hal ini dimulai dari kelompok tertentu yang berpendapat ada gunung bentuknya lancip, dan berkeyakinan ada piramida di dalamnya. Padahal menurut saya tidak begitu. Bukit atau gunung yang baru akan berbentuk lancip, tetapi gunung yang tua seperti Gunung Merapi atau Gunung Gede bentuknya akan bergelombang dan besar.

Apa tanggapan Anda mengenai persoalan-persoalan di Indonesia yang berkaitan dengan pelestarian cagar budaya?

Kita sangat kaya memiliki flora, fauna, dan benda-benda budaya yang sudah ada sejak lama. Misalnya, Sangiran. Itu adalah bukti jika sudah ada manusia di sekitar Bengawan Solo berjuta-juta tahun lalu. Jadi saat itu sudah ada manusia, dan kemudian berkembang dengan datangnya manusia-manusia dari tempat lain yang membawa kebudayaannya masing-masing. Jadi lapisan kebudayaan juga terjadi di tempat-tempat kita. Karena itu kita harus melakukan penelitian semacam itu. Anda bisa bayangkan bagaimana kita bisa meneliti kalau misalnya Borobudur kita biarkan saja hingga rusak bahkan sampai runtuh. Padahal Raffles (Sir Thomas Stanford Raffles-red) sudah mulai memperkenalkan Borobudur sejak 1814.

Apa saja ancaman kelestarian dari cagar budaya seperti Borobudur?

Ancaman dari alam dan manusia terus terjadi. Ancaman oleh alam misalnya hujan, gempa, atau pun banjir. Kalau dari manusia misalnya membuat permukiman dan segala macam pembangunan fisik yang berpotensi merusak.

Menurut Anda apa yang paling penting diketahui oleh masyarakat sehingga masyarakat juga ikut membantu pelestarian atau menghargai budaya-budaya masa lalu?

Sosialisasi mengenai pentingnya benda cagar budaya seharusnya dilakukan intensif dan tidak hanya sekali-sekali. Balai-balai pelestarian cagar budaya dan museum yang ada di daerah harus lebih sering melakukan sosialisasi.

Apa saja sosialisasi yang harus dilakukan?

Tentang cagar budaya dan apa kepentingannya. Misalnya. kepentingannya itu adalah bagian dari jati diri kita. Misalnya, Sangiran adalah bagian dari Indonesia karena merupakan situs pra sejarah yang sangat penting. Segala macam fosil-fosil yang ada di dunia tidak selengkap yang ada di Sangiran. Karena itu harus kita lestarikan. Menurut saya, Indonesia tanpa Sangiran bukanlah Indonesia. Sangiran adalah adalah jati diri kita, "KTP" Indonesia. Itu karena Sangiran itu tidak ada di negara lain, begitu juga Borobudur dan Prambanan. Kalau kita membiarkan itu rusak seperti di Muaro Jambi, kemudian sudah tiada sama sekali, bagaimana kita bisa membuktikan kepada masyarakat bahwa kita dulu sudah punya keahlian tertentu. Candi-candi yang saya teliti di daerah Merapi Selatan menunjukkan betapa hebatnya insinyur-insinyur kita zaman dulu.

Menurut Undang-Undang (UU) tentang Cagar Budaya, jika ada suatu kawasan besar dimana terdapat penemuan lebih dari dua situs, akan diakui sebagai cagar budaya nasional. Ini sedang diusahakan supaya orang mengerti sampai dimana pembangunan fisik boleh dilakukan, sehingga mereka tidak merusak cagar budaya tersebut. Hal ini harus terus disosialisasikan secara berkelanjutan oleh balai-balai pelestarian cagar budaya, para peneliti, para bupati, dan juga pemerintah daerah (Pemda).

Jadi candi tidak hanya dilihat sebagai peninggalan budaya masa lalu, tapi juga benda ekonomis yang juga bisa dinikmati oleh masyarakat.

Jadi kita harus manfaatkan secara ideologis dulu. Katakanlah, kita di Indonesia mempunyai Borobudur, itu jati diri kita secara ideologis. Borobudur menjadi penanda Republik Indonesia karena tidak ada di tempat lain. Kedua, dari segi akademik harus dimanfaatkan dalam kepentingan ilmu pengetahuan, baik dari sisi ilmu sejarah, ilmu arsitektur, arkeologi dan sebagainya. Masyarakat juga menjadi tujuan penelitan para arkeolog di lapangan. Bagaimana kita bisa memberdayakan mereka sebab mereka menggunakan Borobudur sebagai sumber daya ekonomi juga, bukan hanya sebagai sumber daya budaya. Misalnya, mereka diberdayakan dengan menjadi juru potret, pemandu wisata, penjual makanan, atau membuat homestay untuk para wisatawan. Hal yang juga penting, bagaimana menyadarkan masyarakat bahwa ini juga harus menjadi sumber daya ekonomi bagi mereka. Bangunan-bangunan itu harus juga dapat dimanfaatkan dalam kepentingan ekonomi. Nah keseimbangan antara kepentingan ideologis, akademik, dan ekonomi harus seimbang

Ini berarti bahwa anggaran-anggaran juga digunakan untuk penelitian-penelitian semacam ini. Nah itu yang menjadi persoalan untuk kita sekarang. Banyak orang tidak paham dan tidak mengerti pada paradigma dari perkembangan arkeolog, bahwa pelestarian itu harus berwawasan pada masyarakat.

Apa hal penting yang perlu didesak kepada pemerintah?

Pertama, jangan hanya membuat UU mengenai cagar budaya tetapi harus diimplementasikan. Jika sekarang di situs Trowulan ada 4.000 pembuat bata, maka kita telah melakukan pembiaran. Padahal hal ini sudah dilarang oleh UU.

Apakah belum ada peraturan turunannya?

Nah itu makanya harus dilaksanakan. Biasanya orang budaya sering bicara seni tari, seni petunjukan, tapi yang susah itu adalah yang ada di bawah tanah. Hal yang paling sering menjadi pertentangan antara pembangunan dan pelestarian, ini selalu kontradiktif. Pembangunan seharusnya bedasarkan pelestarian dan sebaliknya. Jadi pelestarian harus membangun juga ideologi manusia kita, membangun pengetahuan kita, membangun kesejahteraan masyarakat.

Dengan adanya desentralisasi juga menambah masalah tersendiri. Daerah mengelola keuangannya sendiri, dan anggaran untuk pemeliharaan dan penelitian cagar budaya belum menjadi fokus utama.

Bagaimana political will dari pemerintah?

Political will ada, hanya sekarang tinggal pelaksanaan dari political will itu. Sistem anggaran juga susah karena sering turun di Agustus atau akhir tahun yang mendekati musim hujan, padahal kita tidak bisa menggali di musim hujan, tidak akan terlihat perbedaan tanahnya. Musim yang cocok bagi arkelog untuk bekerja adalah pada musim kemarau, bukan pada musim hujan. Jika anggaran turun menjelang akhir tahun, kita dikejar untuk harus cepat selesai, jadi kita bekerja secara kurang tertib.