Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Usman Hamid & Arif Azis

Mengubah Indonesia dengan Petisi

Edisi 920 | 11 Nov 2013 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Di era demokrasi, masyarakat Indonesia memiliki kebebasan dalam menyampaikan pendapat dalam berbagai hal termasuk menyatakan sikap tidak setuju terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah, salah satunya dengan cara mengumpulkan petisi. Tamu kita kali ini adalah Usman Hamid, Campaign Director change.org Indonesia dan Arif Azis, Communications Director change.org

Kini kita sudah 15 tahun menjalankan demokrasi, dan kita memiliki beragam cara untuk bersuara serta melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Sekarang muncul teknologi-teknologi baru yang memungkinkan orang makin terhubung sehingga kampanye lebih berkesinambungan. Cara-cara tersebut tidaklah mahal, bahkan gratis seperti melalui petisi di media sosial.

Sekarang media sosial untuk petisi seperti change.org sudah ada di banyak negara. Jadi siapa saja, di mana saja, bisa memulai petisi tentang isu apa saja yang dianggap baik seperti penyelamatan hutan, penyelamatan satwa, anti korupsi contohnya save KPK, atau juga hak asasi manusia (HAM). Banyak petisi melalui media sosial yang berhasil tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Semoga makin banyak orang yang sadar bahwa kita bisa mengubah Indonesia dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang saat ini.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dengan narasumber Usman Hamid dan Arif Azis.

Apa itu change.org?

Usman: change.org sama seperti facebook, YouTube, twitter, atau media sosial lainnya. Perbedaannya, change.org lebih fokus ke petisi dan mungkin menjadi wadah petisi terbesar di dunia. change.org didirikan oleh seorang mahasiswa Universitas Stanford, Amerika Serikat (AS), yakni Ben Rattray. Sekarang media sosial ini sudah ada di banyak negara. Jadi siapa saja, di mana saja, bisa memulai petisi tentang isu apa saja yang dianggap baik seperti penyelamatan hutan, penyelamatan satwa, anti korupsi contohnya save KPK, atau juga hak asasi manusia (HAM). Dengan kata lain, change.org tidak memutuskan tema petisi atau kepada siapa petisi ditargetkan, tetapi media sosial ini membantu siapa pun yang ingin membuat perubahan dengan petisi online.

Apakah orang-orang sudah mulai meninggalkan cara-cara konvensional seperti demonstrasi dan bergeser menggunakan petisi online agar pendapatnya dapat didengar?

Arif: Mungkin bukan bergeser, tapi senjatanya bertambah. Senjata konvensional akan tetap dipakai, tetapi sekarang muncul teknologi-teknologi baru yang memungkinkan orang makin terhubung sehingga kampanye lebih berkesinambungan. Misalnya lima tahun terakhir, kita sangat frustasi karena tidak terhubung dengan pemerintah, atau dengan perusahaan-perusahaan besar. Hal ini terlihat dengan banyaknya keluhan di twitter, facebook, atau media sosial lainnya. Namun, keluhan-keluhan ini tidak tersampaikan dengan baik sehingga tidak efektif. Keluhan-keluhan ini sebenarnya bagian dari demokrasi, semacam gerakan tagih janji untuk orang-orang yang telah kita pilih di pemerintahan.

Petisi di change.org lebih efektif karena suara-suara itu dijadikan satu, dibagi-bagi dalam masing-masing isu, kemudian di alamatkan kepada orang-orang yang tepat. Contohnya, saya ingin membuat petisi terhadap radio Perspektif Baru isinya meminta agar siaran dengan narasumber Usman diputar setiap hari. Dari petisi tersebut saya mendapatkan 1.000 tanda tangan dukungan, maka otomatis target dari petisi itu yaitu Perspektif Baru akan mendapat 1.000 e-mail. Jadi orang yang menjadi target petisi langsung mengetahui, "Ternyata ada yang mempetisi saya mengenai isu ini dan didukung sekian orang." Otomatis orang-orang makin terhubung. Nyatanya, selama 1,5 tahun ada di Indonesia, banyak petisi yang diwadahi change.org yang berhasil.

Bisa diceritakan kisah-kisah sukses change.org yang berhasil mengubah kebijakan di luar negeri.

Usman: Kalau di luar negeri, kisah sukses yang paling fenomenal mungkin kasus pembunuhan lelaki kulit hitam, bernama Trayvon Martin, oleh seorang anggota polisi. Kasus ini bahkan membuat Obama harus memberi reaksi. Dalam kasus ini, terkumpul lebih dari satu juta tanda tangan pada change.org. Tak hanya dengan petisi online, masyarakat yang mendesak diadilinya pelaku juga turun ke jalan membawa poster, mencetak tanda tangan petisinya, dan membawa berboks-boks petisi sebagai solidaritas agar pelaku diadili.

Kedua, kasus colective rape di Afrika Selatan. Masyarakat Afrika Selatan memiliki tradisi perkosaan yang legal terhadap perempuan yang dianggap tidak normal, seperti lesbian. Menurut mereka, cara untuk membuat perempuan tersebut kembali normal adalah dengan memperkosanya. Tradisi ini sudah berlangsung lama di Afrika Selatan, sampai suatu ketika seorang perempuan tidak menerima praktek ini terus berlangsung. Dia memulai petisi online, dan banyak mendapatkan solidaritas dari berbagai negara agar collective rape ini segera dihapuskan di Afrika Selatan. Akhirnya tradisi ini pun dihapuskan.

Kemana petisi tersebut ditujukan saat sudah diklik?

Usman: Ada tiga biasanya yang menjadi standar pembuatan petisi. Pertama, siapa yang ingin Anda petisi? Apakah itu pemerintah atau perusahaan? Biasanya kita selalu menyarankan agar petisi ditujukan untuk individu. Jika ditujukan ke pemerintah, misalnya gubernur, sebut saja nama gubernurnya. Kalau dia gubernur Sulawesi Utara, maka sebut saja Sarundajang (Sinyo Harry Sarundajang-red). Kalau dia gubernur Jakarta, maka sebut nama Jokowi (Joko Widodo-red). Makin personal maka makin mungkin untuk mendapatkan perhatian dari target.

Kedua, tuntutan harus disebutkan dengan rumusan yang jelas dan spesifik agar bisa dimenangkan. Misalnya, kasus simulator SIM yang merupakan bagian dari kasus korupsi di Indonesia. Namun, jika mengangkat isu korupsi akan terlalu abstrak. Hentikan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pun masih abstrak, sampai akhirnya mengerucut pada isu serahkan kasus simulator surat izin mengemudi (SIM) ke KPK. Jadi, jelas petisinya tentang apa.

Lalu, timeline yang terukur, berapa lama dia harus berkampanye. Terkadang, masyarakat merasa lelah karena dibawa ke dalam arus kampanye yang tidak ada ukuran waktunya. Bertahun-tahun memperjuangkan sesuatu yang dianggap positif tapi tidak mendatangkan perubahan.

Apakah ada petisi yang terlalu susah untuk dimenangkan?

Usman: Misalnya hentikan diskriminasi agama di Indonesia. Pertama, kita tanya ini petisi ditujukan untuk siapa. Banyak petisi seperti ini tapi gagal karena tidak spesifik. Sangat penting bagi pembuat petisi untuk mengetahui seberapa isu ini penting. Dari pengalaman sebelumnya, esensi dari sebuah isu dapat dilihat dari cerita personal karena akan jauh lebih berpengaruh.

Cerita personal bisa berupa memori di masa kecil. Misalnya, kampanye penyelamatan pulau Bangka oleh Kaka Slank, atau Pulau Aru oleh Glen Fredly. Glen atau Kaka bisa saja memiliki cerita di masa kecil tentang pulau itu. Cerita itu akan jauh lebih menggugah.

Selain itu, bisa juga dari pengalaman hidup. Misalnya, Cucu Saidah, seorang difabel yang mengharuskan dirinya menggunakan kursi roda. Dia tidak bisa menerima standar mengenai suatu formulir yang harus diisi oleh penumpang berkebutuhan khusus pada maskapai Garuda Indonesia. Dalam formulir tersebut, penumpang berkebutuhan khusus diminta untuk menyatakan dirinya sakit dan berjanji tidak akan menggugat pesawat atau maskapai tersebut jika terjadi segala sesuatu dalam perjalanan. Dia membuat petisi yang menyatakan bahwa orang-orang difabel bukan orang sakit dan menuntut maskapai tersebut mengubah kebijakan itu. Akhirnya, Garuda Indonesia membatalkan dan mengubah kebijakan tersebut.

Ada juga kasus lain, seperti kasus Trian Erlangga yang tuna netra saat ingin membuka rekening di Bank BCA ditolak karena dia tidak bisa membaca. Lalu dia mengatakan, "Saya bukan tidak bisa membaca, saya bisa membaca tetapi dengan cara yang berbeda." Jadi pengalaman hidup itu untuk membuat petisi memiliki nilai penting.

Jadi, harus ada deskripsi yang menunjang petisi ini?

Usman: Saya kira iya. Kita banyak menemukan isi kampanye-kampanye sosial yang sangat kering, misalnya tentang perundang-undangan yang tidak dikemas dengan baik. Sementara, dalam sosial media informasi mengalir begitu deras. Kalau kita melihat timeline di twitter atau news feed di facebook banyak sekali informasinya. Siapa yang mempunyai cerita terbaik, maka itu yang sebaiknya mendapatkan perhatian dari masyarakat.

Bagaimana mendapatkan e-mail untuk menargetkan petisi yang akan dibuat?

Arif: Kita bisa melihat dari informasi publik, atau siapa saja yang mungkin mempunyai e-mail maka kita cari yang bersangkutan. Hal ini yang menjadi tantangan kita apalagi jika kita menargetkan warga sipil atau pejabat publik yang terkadang tidak memiliki e-mail. Namun, hal ini adalah salah satu cara, banyak langkah-langkah yang bisa ditempuh agar petisi bisa tepat sasaran, misalnya dengan menggunakan akun twitter. Kita bisa mengajak pendukung petisi untuk beramai-ramai mention target di twitter. Bisa juga menjadikan tanda tangan yang terkumpul sebagai bahan agar diliput media sehingga orang yang kita targetkan pun dapat membacanya.

Bagaimana cara-cara yang bisa dilakukan agar petisi yang dibuat berhasil, dan apa tema-tema yang bisa diajukan di change.org?

Usman: Semua orang bisa membuat petisi dengan tema apa saja. Masyarakat dapat memberikan dukungan dalam bentuk apa pun, seperti dengan memberikan pandangannya kenapa ia mendukung petisi ini. Misalnya, dalam kasus penolakan topeng monyet di Jakarta. Masyarakat yang menandatangani petisi tersebut dapat memaparkan pengalamannya melihat bagaimana monyet-monyet tersebut dipaksa berdiri dengan keadaan diikat lehernya, atau dipaksa beratraksi naik motor, dan seterusnya. Atau, masyarakat juga bisa memberikan partisipasinya ketika pembuat petisi mengundang untuk bertemu dengan target, seperti dalam kasus KPK. Pembuat petisi mengundang relawan untuk ikut serta bertemu ketua KPK dengan membawa seluruh tanda tangan petisi, termasuk pendapat-pendapat dari para penandatangan.

Jadi, hal ini juga sebagai alat legitimasi mereka untuk bergerak, betulkah?

Usman: Bisa juga begitu. Memang, terkadang orang meremehkan seperti kasus Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meremehkan gerakan sejuta facebooker. Dia mengatakan, "Itu kan hanya di dunia maya." Dari sini, para facebooker seperti ingin membuktikan bahwa gerakan yang tercipta di dunia maya tidak bersifat maya tetapi nyata.

Koin untuk Prita juga salah satunya.

Usman: Iya, termasuk dukungan terhadap Prita, atau cicak melawan buaya. Kita ingin menumbuhkan semangat bahwa orang kecil atau biasa tidak takut pada orang yang besar. Perubahan itu tidak harus datang dari aktor besar, parlemen, partai politik, atau organisasi non pemerintah. Kalau mau bicara korupsi kenapa harus tunggu izin ICW atau KPK. Kalau mau bicara lingkungan kenapa harus tunggu Greenpeace atau Walhi. Kita atau siapa pun di mana saja bisa memulainya dan bisa memenangkan perubahan.

Apakah ada tema-tema yang tidak boleh dipetisikan?

Arif: Ada tiga kategori dari petisi-petisi yang kita handle di change.org yaitu petisi-petisi yang tidak kita izinkan, ada yang kita izinkan, dan ada yang kita bantu. Tema-tema yang tidak kita izinkan adalah petisi-petisi yang menghasut kekerasan dan sangat diskriminatif.

Apakah hasil petisi ini bisa digunakan secara sepihak tanpa izin change.org oleh orang yang memulai petisi untuk digunakan sebagai alat kampanye lebih lanjut?

Arif: Petisi yang tercipta dimiliki oleh yang memulai petisi tersebut. Jadi dia boleh melakukan apapun terhadap petisi tersebut bahkan dia memiliki opsi untuk mencetak petisinya atau tidak. Cetak petisi yang isinya ada ribuan tanda tangan itu bisa berlembar-lembar. Dia bisa memberikan cetakan petisi tersebut ke pengambil keputusan.

Namun, ada kegiatan lanjutan yang perlu persetujuan kami. Misalnya, Si Budi sudah berhasil mengumpulkan 2.000 dukungan dan ingin mengajak 2.000 pendukungnya untuk berkumpul. Sehubungan jumlahnya di atas 1000, pembuat petisi yang ingin mengajak berkumpul untuk melakukan kampanye lanjutan harus melewati proses persetujuan kami.

Apakah masyarakat bisa memakai petisi-petisi online seperti ini untuk memperkuat advokasi sosial mereka?

Usman: Kendala perubahan mungkin bukan pada besarnya masalah tetapi lebih pada apakah kita yakin bisa memulai perubahan. Seseorang yang telalu pesimis bahwa masalah Indonesia ini sudah terlalu banyak dan tidak mungkin diubah, jika diberikan melalui twitter, facebook, atau petisi online pun dia tidak akan bisa mengubah apa-apa.

Berbeda dengan seorang mantan tenaga kerja wanita (TKW) yang pernah hampir diperkosa dan mengalami patah tulang di tangan dan kaki ketika lari dari perkosaan. Meskipun tidak memiliki akses internet, dia memiliki keyakinan bahwa pernyataan pejabat Satuan Tugas Tenaga Kerja Wanita (Satgas TKW) yang menyatakan bahwa TKW-TKW Indonesia diperkosa di luar negeri karena genit, nakal, dan melakukan pergaulan bebas adalah salah dan harus diubah. Dia pergi ke Jakarta dan mengoreksi hal tersebut dengan menemui Melanie Subono yang dapat membantunya menyebar luaskan petisi agar Satgas TKW tersebut mencabut pernyataannya. Akhirnya, Satgas tersebut terpaksa minta maaf.

Jadi, tidak ada lagi alasan bagi masyarakat untuk hanya mengeluh dari belakang tanpa aksi yang jelas untuk perubahan.

Arif: Betul. Sekarang, kita berada di era yang amat sangat menarik karena banyak sekali tantangan, namun di lain pihak kita memiliki banyak kesempatan untuk mengubahnya. Kita sudah 15 tahun menjalankan demokrasi, dan kita memiliki beragam cara untuk bersuara serta melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Cara-cara tersebut tidaklah mahal, bahkan gratis. Banyak petisi dalam change.org yang berhasil tanpa mengeluarkan uang sepeser pun. Semoga makin banyak orang yang sadar bahwa kita bisa mengubah Indonesia dengan memanfaatkan teknologi yang berkembang saat ini.