Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dr. Rino A. Gani

Memahami Hepatitis

Edisi 905 | 29 Jul 2013 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Dr. Rino Alvian Gani, Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PHHI). Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan RI, penyakit hepatitis menjadi penyakit penyebab kematian nomor dua untuk kategori penyakit infeksi.

Jumlah penderita penyakit hepatitis di Indonesia juga cukup banyak. Penderita hepatitis B, berjumlah sekitar 9,4% dari jumlah populasi rakyat Indonesia. Jika rakyat Indonesia ada 250 juta orang, maka sekitar 23-24 juta orang rakyat Indonesia terkena hepatitis B. Sedangkan jumlah penderita hepatitis C sekitar 2,2% dari jumlah populasi rakyat Indonesia atau sekitar 5 juta orang. Jika ditotal, maka ada sekitar 28 juta orang di Indonesia yang terkena infeksi virus hepatitis B dan C.

Rino Alvian Gani menjelaskan bahwa hepatitis karena virus dan 80% serangan hepatitis apakah itu A, B, dan C tidak menunjukkan gejala. Walaupun tidak ada gejala, mereka yang berisiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B dan C sebaiknya melakukan pemeriksaan apakah sudah terinfeksi atau belum. Jadi kita tidak boleh menunggu timbulnya gelaja, tetapi kalau ada risiko tinggi sebaiknya dilakukan pemeriksaan agar diketahui terinfeksi atau tidak.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jaleswari Pramodawardhani sebagai pewawancara dengan narasumber Dr. Rino A. Gani.

Bagaimana status penyakit hepatitis di Indonesia?

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI) pada 2007, penyakit dibagi dua yaitu infeksi dan non infeksi. Di kelompok penyakit infeksi, hepatitis atau penyakit hati penyebab kematian nomor dua.

Kalau berdasarkan geografis di Indonesia, daerah mana yang paling banyak dilanda penyakit hepatitis?

Jika kita mengklasifikasikan hepatitis di Indonesia, maka akan ada beberapa jenis penyakit hepatitis, yaitu hepatitis A, B dan C. Sedangkan hepatitis D tidak ada di Indonesia. Hepatitis D lebih banyak melanda daerah India, Afganistan, dan Bangladesh.

Apa penyebabnya sehingga hepatitis D tidak ada di Indonesia?

Saya juga kurang tahu, mungkin cara penularan yang berbeda berkaitan dengan pergerakan dari manusia. Perlu diketahui bahwa jenis virus hepatitis yang ada di Indonesia berbeda dengan jenis virus hepatitis yang ada di India dan Afganistan, sehingga mungkin hal tersebut yang menyebabkan hepatitis D tidak ditemukan di Indonesia. Lalu di Indonesia juga ada hepatitis E. Virus hepatitis E hanya berkembang di tempat-tempat tertentu seperti Bali dan Kalimantan Barat.

Lalu, apa gejala dari hepatitis A, B, C, D, dan E?

Sebagian masyarakat ada yang berpendapat bahwa dari hepatitis A lalu berkembang menjadi hepatitis B, kemudian hepatitis C, padahal yang sebenarnya tidak demikian. Hepatitis A, B dan C itu berlainan dari segi cara penularannya dan dari segi jenis virusnya. Misalnya hepatitis A, penularan yang utama dari hepatitis A adalah melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi oleh virus tersebut. Di sini sangat berperan higienitas dan kebersihan dari pribadi maupun lingkungannya. Sedangkan hepatitis B dan C, penularan terjadi melalui darah atau dari cairan tubuh penderita hepatitis kepada orang lain, misalnya melalui transfusi darah atau melalui memakai jarum suntik yang sama. Perlu diketahui bahwa semua 80% serangan hepatitis apakah itu A, B, dan C tidak menunjukkan gejala.

Bagaimana kita bisa mendeteksi jika telah terinfeksi virus hepatitis?

Saya kira itu permasalahannya. Walaupun tidak ada gejala, mereka yang berisiko tinggi untuk terinfeksi virus hepatitis B dan C sebaiknya melakukan pemeriksaan apakah sudah terinfeksi atau belum. Mereka yang beresiko tinggi adalah yang di dalam keluarga atau lingkungan satu rumahnya ada yang terinfeksi virus hepatitis B atau C. Lalu mereka yang aktif sebagai tenaga medis, para medis, atau tenaga laboratorium, yang sering sekali kontak dengan pasien. Kemudian mereka yang sering bekerja bersama-sama di lingkungan yang dekat, misalnya TNI yang saat latihan tinggal di barak, lalu mereka yang ada di penjara, atau pernah di penjara. Mereka yang harus melakukan transfusi darah berulang-ulang karena suatu penyakitnya, seperti pasien cuci darah, dan penyandang talasemia. Hepatitis B juga bisa menular dari ibu kepada bayinya. Jadi sangat dianjurkan bagi para ibu hamil agar memeriksakan dirinya, apakah terinfeksi virus hepatitis B atau tidak. Hal ini dilakukan untuk melakukan pencegahan kepada bayinya, agar setelah lahir tidak terinfeksi virus hepatitis B. Jadi kita memang tidak menunggu timbulnya gelaja, tetapi kalau ada risiko tinggi tadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan agar diketahui terinfeksi atau tidak.

Apakah ada tanda-tanda awal jika seseorang sudah positif terkena virus hepatitis?

Kebanyakan tidak ada gejala-gejala, walaupun terkadang ada yang merasa lemas, mual, atau ada yang merasa nyeri perut di sebelah kanannya. Tetapi sebagian besar kasus, penderita tidak merasakan hal tersebut.

Apakah semua jenis hepatitis itu menular, lalu bagaimana kita mencegah agar tidak terkena hepatitis?

Hepatitis karena virus menular. Tapi hepatitis bisa saja bukan karena virus. Ada hepatitis yang disebabkan karena perlemakan hati, itu tidak menular. Yang pertama harus dilakukan untuk mencegah penularan virus hepatitis A adalah higienitas dan sanitasi yang baik. Budaya cuci tangan pakai sabun sangat penting, baik sebelum makan maupun saat mempersiapkan makanan. Selain itu, alat-alat yang dipakai untuk memasak harus bersih.

Pencegahan untuk hepatitis B bisa menggunakan vaksin, dan kita bersyukur bahwa Kementerian Kesehatan RI sudah melakukan vaksinasi untuk semua bayi yang baru lahir sejak tahun 1997. Namun saya kira, upaya ini pun mungkin belum cukup. Barangkali kita harus meningkatkan lagi kualitas saat pemberian vaksinnya. Misalnya, apakah waktu pemberian vaksin sudah tepat, atau kualitas vaksin yang diberikan pada bayi yang baru lahir tersebut sudah cukup baik, sehingga bisa lebih efektif dalam mencegah virus hepatitis B.

Kemudian untuk hepatitis C, sering menular melalui tranfusi darah. Karena itu, screening atau penapisan untuk hepatitis C, B, dan HIV yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia (PMI), harus diterapkan untuk semua darah dan produk-produk darah yang akan ditransfusikan agar tidak mengandung virus hepatitis B atau C. Selain itu, hepatitis B dan C juga menular melalui alat-alat medis ataupun alat-alat yang bisa melukai tubuh. Contoh alat medis seperti suntikan, pisau operasi dan sebagainya. Sedangkan alat yang dipakai di kalangan masyarakat yang cukup berisiko menularkan hepatitis seperti alat untuk facial, manicure-pedicure, dan alat untuk mentato.

Apa akibatnya seandainya kita tidak sempat melakukan pencegahan-pencegahan dalam mengatasi penyakit hepatitis tersebut?

Kalau hepatitis A, 99% penderita bisa sembuh sempurna. Walaupun 99% bisa sembuh sempurna, tapi hari-hari produktif seseorang bisa terganggu oleh infeksi virus hepatitis A. Itu karena dalam proses penyembuhannya harus dirawat di rumah sakit. Sekitar 0,5 0,2% penderita Hepatitis A bisa tergolong berat, ini yang disebut hepatitis Fulminant. Sedemikian beratnya hepatitis Fulminant, sehingga pasien tidak dapat bertahan lebih dari 10 hari. Jadi untuk hepatitis A, cara yang tepat adalah dengan mengawasi dan melihat apakah diperlukan tindakan untuk membawa pasien ke rumah sakit atau tidak, dan tidak ada obat khusus untuk penderita hepatitis A. Sedangkan bagi orang yang sudah terinfeksi hepatitis B, dapat terjadi peradangan hati yang kronik dan menahun, tanpa pasien merasakan sudah terinfeksi. Jadi walaupun proses perusakan hati berjalan terus, banyak sekali pasien yang tidak merasakannya.

Banyak orang yang mengatakan bahwa penyakit hepatitis B tidak dapat disembuhkan. Apakah itu benar?

Bergantung dari konsepnya, apa kategori sembuh itu. Kalau sembuh karena tidak ada penyakit di hati, maka hepatitis B bisa sembuh. Tetapi untuk menghilangkan virusnya, kemungkinan hanya 1 - 2% saja. Pengobatan untuk hepatitis B sudah dapat dilakukan, sehingga dengan obat-obatan yang ada dapat menekan perkembangan virus sehingga tidak dapat merusak hati. Oleh karena itu, penting sekali untuk mengetahui apakah kita sudah terinfeksi atau tidak. Mereka yang sudah tahu jika terinfeksi virus hepatitis B, dapat menghubungi petugas medis untuk segera diberi pengobatan, agar kerusakan hati yang sudah terjadi tidak berkelanjutan. Perlu diketahui bahwa memerlukan waktu sampai 15 tahun untuk terjadinya kerusakan hati yang demikian berat, sehingga hati menjadi tidak berfungsi

Sedangkan bagi orang yang sudah diketahui terinfeksi virus hepatitis C, dapat dilakukan terapi. Di Indonesia saat ini, sudah ada terapi mulai dari vaknisasi atau pencegahan, pengobatan untuk hepatitis B dan C, bahkan hingga transplantasi hati. Hanya masalahnya, perlu banyak informasi kepada masyarakat agar tahu dan memanfaatkan berbagai fasilitas dan kesempatan yang sudah ada. Bila tidak diobati, kerusahan hati dapat menjadi lebih berat sehingga terjadi kegagalan dari fungsi hati. Kegagalan fungsi hati bisa mengakibatkan pasien terkena syrosis, yaitu hati menjadi mengecil dan mengeras sehingga fungsi hati menjadi berkurang, kemudian perutnya berisi air, kakinya membengkak, bahkan bisa terjadi muntah darah yang dapat membawa pasien kepada kematian.

Selain itu, mereka yang terdeteksi virus hepatitis B dan C dalam jangka waktu yang lama, dapat terjadi kanker hati. Kanker hati saat ini menjadi salah satu kanker yang sulit untuk diobati. Tetapi jika diketahui lebih dini, kanker hati yang kurang dari 3 cm bisa diobati sampai sembuh.

Bagaimana latar belakangnya sehingga tanggal 28 Juli dijadikan sebagai hari hepatitis se-dunia?

Angka resmi dari Kementerian Kesehatan RI untuk penderita hepatitis B di Indonesia adalah 9,4% dari jumlah populasi rakyat Indonesia. Jika rakyat Indonesia ada 250 juta orang, maka sekitar 23-24 juta orang rakyat Indonesia terkena hepatitis B. Sedangkan jumlah penderita hepatitis C sekitar 2,2% dari jumlah populasi rakyat Indonesia atau sekitar 5 juta orang. Jika ditotal, maka ada sekitar 28 juta orang di Indonesia yang terkena infeksi virus hepatitis B dan C. Jadi saya tidak heran jika penyakit hati menduduki peringkat kedua terbanyak penyebab kematian karena banyak penderita virus hepatitis. Memang tidak semuanya sakit dan tidak semuanya perlu diberikan pengobatan, tetapi yang penting bagaimana masyarakat bisa tahu jika dirinya itu sakit, dan apakah dirinya memerlukan pengobatan atau tidak.

Kepedulian Indonesia untuk hepatitis sudah sejak lama disuarakan. Peran Indonesia untuk mengajukan hepatitis sebagai permasalahan dunia saya kira tidak kecil. Indonesia bersama dengan Brazil, mengajukan hepatitis agar menjadi resolusi dari Badan kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO). Tahun 2010 dikeluarkanlah resolusi dari World Health Assembly, bahwa hepatitis menjadi permasalahan dunia bersama seperti tuberculosis (TBC) dan HIV-AIDS. Dari resolusi WHO tersebut, ditetapkanlah setiap 28 Juli sebagai Hari Hepatitis se-dunia.