Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Bens Leo

Ditunggu, Pencipta Lagu Anak-Anak

Edisi 874 | 26 Des 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Pada November lalu diselenggarakan Festival Lagu Anak Nusantara 2012 hasil kerjasama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bersama Bens Leo dan kawan-kawan. Festival ini merupakan awal kebangkitan karya-karya musik anak-anak di Indonesia. Festival lagu nusantara ini dinilai mampu memberikan jawaban untuk anak-anak yang kurang mendapatkan ruang yang cukup bagus di media maupun di ruang¨Cruang publik agar mereka mendapatkan lagu-lagu yang sesuai dengan usianya.

Menurut Bens Leo seharusnya semua pihak kembali memperhatikan bagaimana musik-musik anak harus digerakkan. Sungguh memperihatinkan jika ada seorang penyanyi cilik yang menyanyikan lagu bertema "selingkuh" dan sangat ironis jika seorang yang saat ini berusia 19 tahun menyanyikan lagu yang pernah mempopulerkan dirinya saat ia anak-anak. Bens Leo menyebutkan penyebab minimnya lagu anak-anak yang berkualitas dan kondisi anak-anak yang lebih banyak menyanyikan lagu orang dewasa antara lain semakin sempitnya ruang publik atau ruang anak-anak dan para pencipta lagu untuk berkreasi dan yang kedua adalah label rekaman tutup, mereka tiarap semua, karena dianggap musik anak-anak tidak memberikan profit.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jaleswari Pramodhawardani sebagai pewawancara dengan narasumber Bens Leo.

Bagaimana latar belakang Festival Lagu Nusantara pada 30 November 2012?

Yang pertama, saya beruntung sekali karena ini membuat saya beberapa kali bertemu dengan Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Pada pertemuan kedua, Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Kebudayaan Ibu Prof. Ir. Wiendu Nuryanti meminta saya untuk menyatakan apa yang bisa dikerjakan bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Setelah bertemu dengan stafnya, ternyata beliau meminta saya menjawab keresahan kenapa anak-anak Indonesia selama ini membawa lagu-lagu orang dewasa. Itu juga menjadi concern saya terhadap dunia musik Indonesia, karena tidak pernah terjawab bagaimana caranya anak-anak mendapat ruang yang cukup bagus di media maupun di ruang¨Cruang publik agar mereka mendapatkan lagu-lagu yang sesuai dengan usianya. Karena itu selama 3 bulan sebelum festival tersebut kami fokus menggarap Festival Lagu Nusantara 2012. Itu adalah proyek pertama yang dibuat oleh kementerian yang membawahi masalah pendidikan. Kebetulan Wamen Wiendu ini orang baru di kabinet, karena sejak dipecahnya Kementerian Pariwasata dan Kebudayaan, dimana Kebudayaan kembali ke Kementerian Pendidikan, pada saat itulah sebetulnya momentum pembuatan Festival Lagu Anak Nusantara bergulir. Saya ditunjuk karena barangkali saya orangnya ada di mana-mana untuk kegiatan musik termasuk kegiatan musik anak-anak.

Animo pesertanya cukup banyak?

Sangat-sangat banyak, karena terus terang saya punya banyak sekali kawan musisi. Jaringan itu yang saya pakai. Apalagi hadiah tertinggi disediakan dalam aktivitas lomba cipta lagu. Kementerian Pendidikan dan organisasi yang saya pimpin ini mendapatkan kesempatan untuk memberikan hadiah yang tinggi untuk penyanyi apalagi untuk penciptanya, karena kita tahu kalau hanya penyanyi tanpa penciptanya, maka tidak ada dorongan pencipta lagu anak-anak untuk kembali memiliki spirit untuk berkarya. Hadiah pertama Rp. 25 juta untuk pencipta lagu. Kaget karena 25 juta dapat membuat album anak-anak sebetulnya. Itulah yang kemarin terjadi. Biasanya kalau ada kompetisi-kompetisi cipta lagu paling tinggi sekitar 100-150 yang ikut serta jumlah lagunya. Jumlah pengikutnya biasanya dibawah itu, karena kadang ada yang menyertakan 2 atau 3 lagu. Ini sampai 438 lagu, sehingga kami memutuskan dewan juri untuk bekerja di rumah masing-masing sampai 4 hari. Dwiki Darmawan ada ada di Bali, kemudian Trie Utami ada di Palu dan jaringan multimedia memudahkan kami sekali dalam berkomunikasi untuk menentukan siapa semi finalisnya. Itu yg terjadi kemarin, sehingga akhirnya lomba itu mencapai puncaknya pada 28, 29, dan 30 November untuk Grand Finalnya.

Sebenarnya kalau dari jumlah peserta, kita jadi tahu sebetulnya banyak sekali minat untuk menggarap soal lagu anak-anak, tapi mengapa lagu-lagu anak ini tidak muncul tapi malah menduplikasi atau menyanyikan lagu dewasa?

Saya kira banyak hal. Pertama, ruang publik atau ruang anak-anak berkreasi dan para pencipta lagu berkreasi sudah semakin sempit. Kalaupun ada, paling Spacetoon TV atau TVRI adalah sebagian kecil. Kemudian yang lain-lain seperti event-event di mall tidak dapat mengcover lebih luas, meskipun kita sudah punya multimedia dimana satu acara dapat dilihat seluruh dunia. Tapi itu tidak akan menjadi bagus kalau tidak ada bukti bahwa ada proses kreatif baru dalam bentuk lagu.

Hal yang kedua adalah label rekaman tutup, mereka tiarap semua, karena dianggap musik anak-anak tidak memberikan profit. Album anak-anak yang terbaru, saya tidak menyebutkan terakhir karena kami semua yang terlibat dalam aktivitas menggerakkan kembali roda lagu anak-anak ini mulai optimis karena pesertanya kemarin banyak, adalah album Tasya dengan lagu-lagu karya almarhum AT Mahmud. Pada saat itulah seharusnya kita bangga bahwa sebuah perusahaan besar internasional, Sony Music Indonesia membuka label baru yakni Sony Wonder, dan Tasya ada di Sony Wonder. Label ini dengan optimis menggarap Tasya dengan orchestra Dian Hp. Karenanya pada saat itu orang optimis bahwa musik anak-anak akan bergerak lagi karena yang menggarapnya label besar. Tapi ternyata dianggap tidak profit malah meresahkan dibandingkan dengan beberapa album yang muncul belakangan. Album-album yang muncul belakangan yang justru menggerakkan industri rekaman adalah musik-musik, katakanlah band-band melayu atau aliran melayu. Bahkan perusahan yang sama, Sony Music Indonesia melahirkan "Album Hijau Daun" yang sebetulnya itu dianggap pesaing dalam arti petik oleh band-band yang lebih awal dikontrak oleh Sony, seperti Cokelat atau Gigi. Tapi yang cilaka yang kena getahnya termasuk rekaman-rekaman musik anak-anak, maka Sony Wonder pun ditutup.

Saya prihatin sekali karena kemarin Tasya yang sudah dewasa saat ini dikontrak oleh sebuah gerakan yang dilakukan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ibu Mari Elka Pangestu, gerakan yang namanya "Indonesia Menyanyi". Itu satu diantaranya road to Festival Lagu Anak tahun 2013, dan di proyek itu Tasya bernyanyi lagu anak-anak kembali pada usia 19 tahun. Itu kan jadi lucu, jadi dimana orang yang pernah mempopulerkan lagu anak-anak pada usia dia masih belasan, tiba-tiba saja disuruh menyanyi lagi dijamannya dia popular pada waktu itu dan perusahaannya sudah tutup, itu ironis menurut pendapat saya. Oleh karena itu pada saat seperti sekarang ini, seharusnya semua pihak kembali memperhatikan bagaimana musik-musik anak harus digerakkan. Usul kami pada kegiatan itu, kemarin kebetulan dibuka oleh Direktur dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Bapak Sulistyo, yang mengatakan bahwa kegiatan ini harus dilakukan tiap tahun berkesinambungan dan jangan berhenti. Kebetulan saya menunjuk salah satu direktur label rekaman Nagaswara untuk menjadi salah satu juri awal bersama Tri Utami, Dwiki, Edwin mantan Band Dewa dan Sinta sebagai produser dan pencipta lagu anak, dan saya sendiri. Juri-juri awal mengatakan bahwa aktivitas ini harus ditindak lanjut untuk masuk industri rekaman. Mudah-mudahan Rahayu Kertawiguna dari Nagaswara dapat memberi ruang bagi anak-anak muda dan pencipta lagu senior untuk memasuki industri rekaman kembali, sehingga lagu anak-anak diapresiasi. Lagunya macam-macam dan lucu-lucu.

¡¡

Kalau melihat upaya ini, sebenarnya terlihat sebagai upaya idealis yang ternyata kita tidak memunafikan musik dibenturkan soal profit dan macam-macam tadi. Dan hal ini tidak hanya terjadi di musik Indonesia saja tetapi film, atau sinetron kita, sampai hari ini belum mendapatkan sinetron yang bagus dan hanya selalu direduksi karena sebatas rating, profit, popularitas, dan segala macam. Apakah upaya ini kira-kira bagian dari upaya perlawanan terhadap hanya profit saja atau bagaimanakah?

Saya kira yang paling penting harus kita apresiasikan. Untung di Indonesia ada industri Indie. Indie itu kependekan independen, dimana para pejuang dalam tanda petik itu bergerak dengan kualifikasi yang sangat luar biasa, bahkan di industri Indie eksplorasinya tidak terbedung lagi karena karya-karya mereka sebetulnya ajaib sekali. Di industri mainstream tidak ada, tapi mereka bergerak di sana. Dan yang disebut Indie, Indie itu tidak mau diintervensi. Ini sebuah contoh, yang agak sedikit bergeser dari musik anak-anak. SID (Superman is Dead) dari Bali, band punkrock yang paling terkenal di Indonesia. Dulu rekaman Indie di Bali, tapi yang membeli kebanyakan orang-orang asing terutama dari Australia. Saya sendiri melihat sendiri bagaimana bule-bule tersebut membeli CD dan membawa ke sana, ke Australia dan dijual kembali di sana dengan harga lebih mahal. Itu memperihatinkan sekali. Pada akhirnya Jan Juhana dari Sony terbang ke Bali untuk melihat apa yang bisa digarap dari industri musik Indie. Termasuk dalam musik anak-anak, termasuk banyak sekali orang-orang independen yang bergerak di sini. Kemudian di industri film, film-film Indie lebih bagus daripada film-film mainstream yang kita lihat, kecuali bandingannya dengan Mira Lesmana karena mereka sudah punya nama besar. Tapi anak-anak muda lulusan Sinematografi dan segala macam, karya yang layak dilihat sebagai karya-karya baru yang bagus termasuk di musik anak-anak. Kemarin pada saat juri akhir menilai lagu-lagu anak yang lahir dari lomba cipta lagu anak dan penyanyi lagu anak, mereka melihat ini sebetulnya sebagai awal kebangkitan musik anak-anak. Misalnya karya-karya lagu anak, range-nya lucu sekali. Ada lagu Tomat yang bercerita anak-anak kecil yang tidak suka tomat, menarik karena dibawakan oleh anak usia 6 tahun yang tidak pernah makan tomat. Dari teman-teman juri akhir seperti Purwacaraka, Gilang Ramadhan, mba Dian Hp, Trie Utami dan saya sendiri, waktu itu menilai ini potensi paling bagus.

Apakah ada batasan atau kategori untuk peserta?

Juri awal sudah memilih lagu-lagu yang bervariasi, misalnya ada lagu untuk TK atau kelas 1 SD. Sebetulnya kami membatasi hingga usia 10 tahun dengan harapan anak-anak itu dapat berkarir hingga usia 12 tahun. Karena lain-lain kalau pembatasan usia 12 tahun, begitu dia rekaman pita suaranya sudah berubah dan itu tidak boleh karena dia lolos dari lomba penyanyi dan seharusnya bergerak di bidang ini sampai memiliki kebanggaan seperti Agnes Monica. Agnes itu selalu bangga karena dia sukses sebagai penyanyi anak-anak. Sekarang jadi go internasioanl secara benar. Kita berharap seperti itu dan itulah sebenarnya apresiasi yang bagus ini seharusnya ditindak lanjuti oleh semua pihak. Kemarin Tika Bisono mengatakan yang seharusnya dilakukan gerakan lomba cipta lagu ini juga harus digerakkan oleh lembaga lain di luar festival ini. Kalau festival ini tidak didanai lagi oleh Kementeriaan Pendidikan maka saya akan bawa ke mana-mana untuk mencari sponsor sendiri, karena prospeknya bagus untuk anak-anak Indonesia. Kemudian yang kedua, sekarang titip pesan saja buat sebuah lembaga penyiaran, apakah KPI yang membawahi itu, hendaknya dikritisi suatu lembaga lomba kompetisi yang ada di televisi yang sudah menggulirkan idola cilik belakangan ini karena jangan sampai idola cilik begitu Grand Final membawakan lagu dewasa apalagi temanya "selingkuh" dan itu terjadi dulu. Karena itulah saya sempat menolak untuk jadi tim juri karena berkaitan beberapa hal, karena tidak bisa mengajukan usul lagu apapun kegiatan-kegiatan yang sifatnya audio visual.

Kritik lagu anak untuk sekarang seperti apa?

Sekarang berbeda dengan dulu. Anak-anak sekarang kritis sekali. Ada pertanyaan dari seorang anak yang ikut lomba kemarin, "Om, sekarang kalau jalan-jalan ke puncak tidak ada cemara ya Om".Iitu dikritisi. Karena itulah saya bersama mas Tantowi Yahya bicara bersama dengan Ibu Mari Elka Pangestu. Kalau membuat lagu-lagu sekarang yang realitis seperti lagu Tomat, realitis sekali. Penciptanya mba Lala, ibu muda yang punya anak 2, anak home schooling, salah satu anaknya tidak doyan tomat, dia ceritakan di situ.

Kemudian kami memilih anak usia yang baru 6 tahun untuk membawakan lagu itu, pipinya gembul. "Kenapa kamu dipilih? Karena pipi kamu gembul." "Tapi Om, saya tidak suka tomat". Begitu dia menyanyi ekspresinya sangat bagus, sehingga orang-orang mengapresiasikan cocok buat dia lagunya. Saya ingat sekali pesan AT Mahmud, kalau buat lagu hendaknya liriknya tidak terlalu panjang, dan range vokalnya tidak terlalu lebar, tetapi disertakan pesan moral dan pesan sosial. Tomat itu salah satunya contoh di antaranya.

Bagaimana membuat lagu anak yang realistis sesuai keadaan Indonesia sekarang dan pengalaman juri kemarin?

Ada lagu lain yang temanya cinta tanah air yang menceritakan suasana Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Jadi lomba itu hendaknya dibikin suatu tema yang kira-kira bisa menyentuh dari anak¨Canak usia TK hingga katakanlah usia anak-anak SD. Seingat saya lagu tersebut dibuat oleh Koko Tole, dan kami juri awalnya tidak tahu bahwa itu Koko Tole, karena dia menggunakan nama dari KTP-nya. Tapi yang namanya Rahayu Kertawiguna kupingnya sakti sekali, karena menurut dia karakternya kuat sekali, dan dibukalah kontak ke Koko Tole. Ternyata lagu yang sudah lulus 10 besar tersebut adalah lagu dari Koko Tole. Kesimpulannya menyusun dewan juri tidak bisa main-main karena mereka harus mengerti bagaimana psikologis anak, mengerti tema layak pasar, bagaimana memilih penyanyi untuk perfomance nanti akan bagus atau tidak. Karena dari seluruh Indonesia kemarin, seleksi untuk tingkat nasional masuk grand final 10 besar Jakarta, kami uji live di depan juri di Jakarta.

Untuk pemenangnya dari mana?

Kebetulan pada grand final ada namanya "Udin sedunia" yang populer dari NTB, dan ada dari Semarang serta Jakarta. Penyanyinya juaranya dari Surabaya usia 8 tahun yang bernama Musa, rupanya latar belakangnya modeling juga, sehingga blocking panggung juga bagus sekali. Kami didukung mba Atik Ganda sebagai koreografer yang bisa menata gerak sehingga panggung yang luasnya 40 meter dikuasai anak-anak Indonesia. Di grand final kami hadirkan paduan suara yang baru saja menang di Barcelona sebagai juara 2 tingkat dunia, karena kompetisi ini ingin menunjukkan bahwa anak-anak Indonesia sebetulnya tidak jago di lokal saja tapi juga di dunia.

Ini semacam langkah awal yang tidak berhenti di sini saja tetapi akan terus disosialisasikan. Kira-kira apa setelah ini?

Saya senang sekali diwawancara saat ini yang didengar di seluruh nusantara, karena hal ini merupakan salah satu langkah yang bagus untuk mensosialisasikan karya-karya ini. Dan yang kedua, kalau Kementerian Pendidikan sampai tidak menindaklanjuti kompetisi kedua di tahun depan, maka kami bersama kawan-kawan sepakat untuk membawa lomba kedua ini di tahun 2013..