Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Benvica

Satwa Liar Bukan untuk Sirkus

Edisi 872 | 10 Des 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan berbicara mengenai satwa liar yang jarang menjadi perhatian publik. Padahal sering kita lihat di arena sirkus. Kita akan membicarakannya dengan Benvica dari Jakarta Animal Aid Network (JAAN).

Menurut Benvica, dalam kehidupan ini antara manusia dan mahluk hidup memiliki keterkaitan. Jika salah satu rantai kehidupan ini putus pasti semua akan berantakan. Indikator hancurnya bumi atau kehidupan adalah punahnya satwa liar. Artinya, penyelamatan satwa liar bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem antara habitat dan mahluk hidup.

Benvica mengungkapkan satwa liar tidak boleh dijadikan sirkus. Sebenarnya di balik keceriaan atau ketawa dari masyarakat yang menyaksikan sirkus, ada penderitaan dari satwa itu. Kalau dikatakan itu adalah bentuk edukasi, maka edukasi yang semu. Lumba-lumba di alam tidak mungkin melompat ke lingkaran api, tidak mungkin bermain bola, tidak mungkin naik ke darat, lumba-lumba ke darat hanya kalau terdampar. Sebagai sirkus, lumba-lumba diperlakukan tidak sewajarnya. Mereka memakai pelatihan dengan sistem kelaparan. Jadi lumba-lumba dibuat lapar terlebih dahulu. Mereka hanya dikasih makan sekali dalam sehari, dikasih minum dalam sehari, benar-benar mereka diperlakukan dengan sangat kejam.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Ansy Lema sebagai pewawancara dengan narasumber Benvica.

Mengapa satwa liar harus diselamatkan?

Dalam kehidupan ini antara manusia dan mahluk hidup memiliki keterkaitan. Jika salah satu rantai kehidupan ini putus pasti semua akan berantakan. Indikator hancurnya bumi atau kehidupan adalah punahnya satwa liar. Artinya, penyelamatan satwa liar bagian dari upaya menjaga keseimbangan ekosistem antara habitat dan mahluk hidup.

Beberapa waktu lalu kita melihat ada lumba-lumba dan paus yang terdampar di pulau kemudian masyarakat langsung mengonsumsinya. di Jakarta pun kita sering lihat melihat ada topeng monyet dan lain-lain. Bagaimana persisnya perlakuan masyarakat terhadap satwa liar di Indonesia?

Di Jakarta saya melihat masih banyak masyarakat yang ingin memiliki atau memelihara satwa liar. Dari sudut pandang mereka, satwa-satwa liar tersebut eksotik dan juga untuk kehormatan. Mungkin saat mereka memiliki suatu satwa yang makin langka, maka mereka akan merasa terhormat.

Ada nilai prestisenya, betulkah?

Ya, ada nilai prestise di sana. Pada 2012 memang banyak kejadian mamalia laut terdampar. Salah satu kemungkinannya akibat aktivitas bawah laut, misalnya pengeboran minyak atau lainnya. Yang juga lebih parah, saat mamalia ini terdampar banyak dari masyarakat kita yang karena ketidaktahuan mereka mengkonsumsi daging dari mamalia laut tersebut. Sebenarnya paus atau lumba-lumba ini bukan termasuk ikan. Mereka adalah mamalia yang sama seperti kambing atau sapi, sehingga saat satwa ini mati berarti mereka memakan bangkai daging dari satwa tersebut. Kalau ikan walaupun sudah mati terkadang masih segar, tetapi berbeda dengan mamalia.

Bicara soal satwa liar, yang paling sering kita lihat adalah pemanfaatan atau penggunaan satwa liar untuk tujuan hiburan dan sirkus sebagai salah satu contohnya. Bagaimana dengan hal tersebut karena kabarnya di sana juga ada nilai-nilai edukasi kepada anak-anak dan masyarakat?

Sebenarnya di balik keceriaan atau ketawa dari masyarakat yang menyaksikan sirkus, ada penderitaan dari satwa itu. Kalau dikatakan itu adalah bentuk edukasi, maka edukasi yang semu. Lumba-lumba di alam tidak mungkin melompat ke lingkaran api, tidak mungkin bermain bola, tidak mungkin naik ke darat, lumba-lumba ke darat hanya kalau terdampar.

Apa bentuk dari penderitaan tersebut?

Monyet-monyet yang menjadi hiburan topeng monyet di jalan-jalan lampu merah mengalami penyiksaan yang luar biasa, ini sangat–sangat kejam. Juga untuk lumba-lumba, mereka memakai pelatihan dengan sistem kelaparan. Jadi lumba-lumba ini dibuat lapar terlebih dahulu.

Mengapa yang dilakukan saat melatih lumba-lumba atau topeng monyet seperti tadi tidak dilihat oleh masyarakat?

Tadi saya mengatakan di balik tawa ceria dari masyarakat yang menyaksikannya ada kekejaman. Jadi melalui informasi ini mungkin masyarakat akan tahu bahwa mereka diperlakukan tidak sewajarnya. Mereka hanya dikasih makan sekali dalam sehari, dikasih minum dalam sehari, benar-benar mereka diperlakukan dengan sangat kejam.

Tentang pemanfaatan ataupun penggunaan satwa liar untuk sirkus terdapat motif ekonomi di baliknya. Sejumah perusahaan besar bahkan menggunakannya kemudian melakukan roadshow ke sejumlah kota atau tempat dengan membawa satwa-satwa liar tersebut. Apakah ini sebenarnya cukup konstruktif di kehidupan sehari-hari?

Ya, namanya travelling circus. Memang mereka mempunyai semacam izin peragaan. Menurut saya, izin peragaan ini seharusnya hanya on the spot dalam artian tetap di tempat, tidak melakukan travelling circus. Kalau travelling circus dari mulai trasnportasinya saja sudah kejam, dimana banyak yang tidak memenuhi syarat. Misalnya lumba-lumba, mereka dari kota ke kota hanya dengan menggunakan truk atau pesawat. Belum lama ini ada perusahaan dari Philipina ke Singapura membawa lumba-lumba yang akhirnya mati. Di Indonesia juga pernah mengalami hal serupa saat lumba-lumba harus menempuh perjalanan dari Jawa ke Bekasi pada waktu itu. Jelas sebenarnya lumba-lumba tidak tahan dibawa dari kota ke kota seperti itu.

Demi tujuan profit oriented atau mengakumulasi keuntungan sebanyak mungkin kerap mengorbankan kepentingan kehidupan satwa liar. Apa yang Jakarta Animal Aid Network (JAAN) lakukan untuk "memaksa" perusahaan-perusahaan ataupun oknum-oknum tertentu yang terus menerus memperkosa hak hidup dari satwa liar ini?

Ya, sebenarnya memang mereka mempunyai izin yaitu sebagai yang namanya Lembaga Konservasi (LK). Setiap warga negara memang berhak untuk mendapatkan izin memelihara, tapi di dalam memelihara ada aturan-aturannya. Di dalam LK ada aturan dalam menggunakan satwa itu, jadi jangan sampai akhirnya aturan ini disalah artikan. Awalnya izin peragaan untuk edukasi, akhirnya hanya edukasi semu yang didapat oleh masyarakat. Kedua, fasilitas satwa di LK juga harus diperhatikan.

Bagaimana policy atau regulasi pemerintah terkait satwa liar ini, apakah cukup memberikan proteksi pada satwa liar?

Sebetulnya Undang-Undang (UU) No.5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya sudah tegas mengaturnya. Hanya implementasinya di masyarakat saja yang tidak ditegakkan. Tidak usah jauh-jauh, di Jakarta saja beberapa Pasar Burung yang terbesar masih menjual satwa-satwa liar.

Apa visi dan misi yang melatar belakangi dibentuknya JAAN, bagaimana keperihatinan ini muncul?

Awal keperihatinan kita adalah saat melihat di Jakarta masih banyak anjing dan kucing jalanan yang harus disejahterakan atau dilindungi. Nah berawal dari situ, muncul pemikiran mengapa di Jakarta kita tidak membuat suatu organisasi untuk menyatukan satwa-satwa domestik. Awalnya seperti itu, tapi memang kita berangkat bahwa orang-orang di JAAN merupakan orang pemerhati satwa liar. Akhirnya kita juga membuat divisi yang namanya White Life. Jadi memang visi dan misi kita hanya untuk animal walfare, kesejahteraan satwa.

Kalau di luar negeri kita melihat anjing atau kucing liar yang terlantar biasanya ditangkap dan dicarikan pemiliknya. Namun di Jakarta, anjing dan kucing liar dilepas begitu saja di jalan tol. Apa hal itu ada kaitannya dengan konsep kesadaran masyarakat yang masih minim?

Ya, sebagian besar masyarakat masih menganggap bahwa, "Ah ini hanya binatang". Padahal di balik itu mereka mempunyai hak yang sama. Tidak usah jauh-jauh, mereka mempunyai hak hidup, mereka mempunyai nyawa yang sama dengan kita. Jadi mereka mempunyai hak yang sama juga untuk hidup. Ini yang masyarakat harus tahu bahwa anjing atau kucing atau satwa liar sebenarnya satu sama lain mempunyai keterikatan. Jadi, saat masyarakat ingin memelihara satwa peliharaan, maka harus komit bahwa binatang peliharaan ini harus dipelihara dengan sejahtera.

Bicara perihal kucing dan anjing, kedua binatang itu mengembangbiaknya relatif cukup cepat. Sementara pada sisi lain, tidak banyak masyarakat yang mau untuk memelihara mereka. Bagaimana upaya untuk melakukan penyejahteraan dan pengaturan tingkat kelahirannya sehingga tingkat populasinya tidak terlihat tinggi?

Sebenarnya ada aturan-aturan, apalagi di Jakarta ada ketentuan Jakarta Bebas Rabies. Kadang-kadang pemerintah daerah ketakutan, sehingga agar Jakarta tidak terkena rabies maka anjing dan kucing harus dimusnahakan, misalnya seperti itu. Tapi ada hal yang menurut kami ada sisi perikehewanannya, dalam artian lebih hewani. Lebih hewani untuk anjing dan kucing bisa ditekan kelahirannya dengan program-program strerilisasi, dalam artian pemberian KB terhadap anjing dan kucing jalanan.

Apakah itu secara hewani cukup etis?

Itu cukup etis. Yang namanya anjing atau kucing, hanya dua aktifitasnya yaitu makan dan kawin. Setelah punya anak, dia tidak menghiraukan lagi mau kemana nanti anaknya. Jadi memang ada program-program yang lebih hewani dengan cara distrerilisasi daripada dimusnahkan.

Apakah yang dilakukan oleh JAAN untuk membangun kesadaran dan pemahaman masyarakat supaya mereka paham cara yang tepat dan etis dalam memperlakukan satwa liar?

Kita tidak segan-segan untuk memberikan edukasi ke sekolah-sekolah dan masyarakat bahwa satwa liar sangat penting dan kesejahteraan satwa-satwa domestik juga sangat penting. Hal ini yang membangun awareness di masyarakat bahwa ayo mari kita bersama-sama untuk sejahterakan satwa. Kalau satwa sejahtera maka otomatis manusianya lebih sejahtera, seperti itu.

Salah satu satwa liar yaitu populasi elang bondol sudah makin memprihatinkan kita. Apa yang dilakukan Anda dan kawan-kawan untuk menyelamatkan burung tersebut?

Iya kita sangat ngenas sekali. Pada saat elang bondol menjadi maskot Jakarta tapi keberadaannya di Jakarta sudah makin langka di alam. Sedangkan di pasar-pasar burung sangat banyak. Program yang kita lakukan mulai dari 2004 adalah membuat program penyelamatan dan rehabilitasi elang bondol. Kita sudah berhasil melepas sekitar 70 ekor. Berdasarkan data kami yang setiap tahun survey, beberapa dari mereka telah berhasil menurunkan keturunan. Jadi mudah-mudahan elang bondol dan elang laut yang ada di kepulauan seribu akan kembali marak kembali.

Itu menjadi upaya konservasi dan menjaga sustainabilitas dari satwa–satwa liar. Apa nilai-nilai konservasi yang sebenarnya mau diperjuangkan oleh JAAN?

Kita perjuangkan satwa liar agar tetap liar dan ada di alamnya karena satwa liar akan lebih indah jika di alamnya. Untuk masyarakat yang ingin memelihara anjing dan kucing harus komit demi kesejahteraan hewan peliharaannya.

Untuk melakukan proteksi dan penyelamatkan terhadap satwa liar itu tidak bisa dilakukan hanya oleh JAAN. Apakah selama ini ada kerja sama dalam bentuk bersinergi dengan institusi atau komunitas masyarakat lain? Lebih konkretnya jika bicara soal elang bondol, apa sih yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta lima tahun belakangan ini?

Sejak terbentuk sampai saat ini kita tidak mendapat bantuan sama sekali dari Pemprov DKI. Namun kita ada kerjasama dengan Taman Nasional Kepulauan Seribu dalam artian kita dibantu mereka hanya untuk yang bersifat birokratis. Saat ini dari Pemprov belum memberikan bantuan

Sebenarnya perusahaan swasta mempunyai program yang namanya corporate social responsibility (CSR). Apakah tidak terpikir oleh Anda dan kawan-kawan untuk mensinergikan agenda menyelamatkan satwa liar dengan CSR perusahaan swasta?

JAAN lebih memilih CSR yang ramah lingkungan sehingga lebih selektif. Kita tidak sembarangan menerima bantuan dari perusahaan-perusahaan besar, tapi di balik itu mereka merusak lingkungan. Jadi kita benar-benar selektif menerima itu.

Visi besar JAAN adalah konservasi alam dan makhluk hidup. Kita sempat mendengar bahwa ada budaya masyarakat, misalnya berburu ikan paus di Halmahera atau kepulauan Flores. Bagaimana perspektif Anda, apakah hal tersebut juga bisa dibenarkan karena kita tahu ikan paus adalah satwa liar yang harus dilindungi?

Mungkin ini budaya. Budaya atau adat itu juga ada yang memiliki nilai konservasi. Kita tidak pungkiri bahwa di masyarakat Indonesia atau dalam asas konservasi ada namanya asas pemanfaatan. Menurut JAAN, budaya atau adat tadi sebenarnya tidak animal welfare, disitu jelas ada kekejamannya. Tetapi kita melihat bahwa kebutuhan adat dan kebutuhan budaya juga ada nilai konservasi, misalnya mereka hanya berburu paus yang jantan dewasa. Sedangkan yang betina, paus muda atau masih kecil tidak diburu, dan itu dilakukan setahun sekali serta hanya satu ekor.

Apa yang perlu dilakukan agar satwa liar lebih dilindungi?

Pertama, ada kesadaran masyarakat bahwa satwa liar harus hidup di alamnya. Kedua, aturan main atau perundang-undangan di Indonesia mengenai kehidupan satwa liar harus ditegakkan. Saya yakin dengan ditegakkan UU dan keberanian instansti terkait menindak perburuan atau penjualan atau orang-orang yang memelihara satwa liar maka satwa liar akan tetap ada.

Apa catatan penting terakhir yang ingin Anda sampaikan?

Pertama, mengajak masyarakat Indonesia agar tidak menyaksikan atau menonton sirkus karena di balik sirkus ada kekejaman terhadap satwa. Kedua, saya mengajak masyarakat agar tidak memelihara atau tidak berburu satwa liar.