Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Berthy Ibrahim

Arsip Film untuk Warisan Budaya

Edisi 871 | 30 Nov 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Koleksi film Indonesia tidak bisa dipandang sebelah mata. Selain sebagai sebuah karya seni, film juga merupakan dokumentasi dari sejarah bangsa. Film yang saat ini ditayangkan di bisokop akan menjadi bagian dari sejarah di masa depan. Kita akan membicarakan pengarsipan film Indonesia dengan Berthy Ibrahim, yang berkecimpung di Sinematek Indonesia.

Berthy Ibrahim mengatakan kehadiran Sinematek Indonesia karena kepekaan seniman kita yang luar biasa untuk mengarsipkan film-film Indonesia. Mereka juga sadar bahwa cara mengukur sebuah bangsa adalah ukurlah kearsipannya dalam segala bidang. Berkat adanya pengarsipan yang baik maka film "Lewat Jam Malam" yang dibuat tahun 1954 bisa mendapatkan penghargaan internasional Festival Film Cannes. Penghargaan tersebut membuat Indonesia Raya berkumandang di sana.

Menurut Berthy, berdasarkan Undang-Undang (UU) No.4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan, maka semua yang punya rights harus diserah simpan. Namun ini yang belum pernah dipedulikan khusunya oleh dunia bisnis. Misalnya film, mereka berpikir hanya dilihat untuk hari ini saja, bukan 20 tahun lagi juga bisa dilihat.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Ansy Lema sebagai pewawancara dengan narasumber Berthy Ibrahim.

Apa visi awal dibentuknya Sinematek Indonesia?

Sebenarnya ini bukan gagasan baru karena sudah muncul sekitar 30-an tahun lalu dari Asrul Sani yang membawa oleh-oleh dari Perancis. Ketika di Prancis, Asrul Sani melihat ada museum film dan ingin membuat museum seperti itu di Indonesia, tetapi dia sadar bahwa itu tidak mungkin dilakukan sendiri. Lalu dicarilah siapa orang yang paling mampu melakukan pekerjaan pengarsipan ini, maka ditunjuklah Misbach Yusa Biran yang luar biasa bekerja tanpa pamrih. Dulu Sinematek Indonesia tidak pernah ada anggaran, jadi semua berangkat dari tekad bagaimana caranya memiliki sebuah lembaga arsip film.

Jadi ini berangkat dari panggilan masing-masing orang untuk melakukan pengarsipan film, betulkah?

Ya, ini memang ide yang tidak terpikir sebelumnya. Tapi ada satu catatan yang perlu saya sampaikan, rupanya yang dilakukan Misbach adalah satu hal yang jauh ke depan karena Indonesia tiba-tiba menjadi pemilik Sinematek pertama di Asia Tenggara dan Pasifik.

Keberadaan Sinematek ini menjadi menarik karena orang-orang seperti Misbach Yusa Biran memahami betul bahwa film penting bagi bangsa ini. Apa sebetulnya manfaat konkret mengarsipkan film bagi bangsa ini?

Ini berawal dari berdirinya sekolah seni yang bernama Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta, sekarang bernama Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Jadi, lahirnya Sinematek Indonesia untuk membuat pembelajaran secara formal dan verbal tentang perfilmaan Indonesia. Para pendiri Sinematek tidak berfikir sampai sejauh mana Sinematek akan berkembang. Pada masa itu bioskop masih sulit ditemui karena jumlahnya belum banyak. Kemudian bioskop tiba-tiba berkembang. Pada tahun 1970-an pertumbuhan perfilman luar biasa sampai kita bisa berproduksi di atas 100 judul film per tahunnya. Saya pikir ini karena kepekaan-kepekaan seniman yang luar biasa, dan mereka juga sadar bahwa cara mengukur sebuah bangsa adalah ukurlah kearsipannya dalam segala bidang.

Jika hari ini Sinematek Indonesia sudah berusia 37 tahun, apakah itu berarti sudah mengalami perkembangan sangat luar biasa?

Ya, kalau dikatakan luar biasa. Salah satu ukuran luar biasanya, dulu ruangan Sinematek hanya 4 meter x 6 meter sehingga ruang kerja sekaligus gudang. Sedangkan hari ini ruangannya sekitar 1.600 m2.

Apa saja arsip yang disimpan dalam Sinematek ini, apakah hanya film dengan kategori tertentu?

Film yang kita koleksi adalah film-film bioskop nasional, itu yang menjadi target utamanya. Jadi kita mengkoleksinya. Koleksi kita yang paling tua adalah film berjudul Tie Pat Kai Kawin produksi tahun 1935.

Apakah film kita juga sudah sempat mendapat penghargaan di forum internasional?

Iya, di Cannes Film Festival dengan film "Lewat Jam Malam" produksi tahun 1954. Setelah film diperbarui dan sempat diputar kembali di bioskop, penontonnya juga lumayan bagus.

Saya membayangkan seandainya tidak ada pengarsipan maka film "Lewat Jam Malam" yang dibuat tahun 1954 bisa hilang begitu saja. Kita pasti kita tidak mendapatkan apa-apa, termasuk penghargaan dari forum Internasional. Bagaimana proses mendapatkan penghargaan internasional?

Penghargaan tersebut membuat Indonesia Raya berkumandang di Cannes Film Festival, yang merupakan festival film paling tinggi, paling terhormat, dan tertua di dunia. Kebetulan saya 2,5 tahun lalu menjadi kepala Sinematek Indonesia. Saya berpikir, "Apa iya saya harus duduk mengurusi barang-barang tua seperti ini saja." Tiba-tiba terbesit oleh saya untuk masuk ke Cannes karena ada kategori film klasik. Saya mulai mencari tahu karena saya tipe orang yang tidak bisa diam.

Saya mencari info ditemani oleh beberapa teman muda dari Konfiden dan Kineforum. Saya lantas mengatakan, "Yuk, kita lakukan sesuatu." Alhamdulillah, gayung bersambut. Ternyata gerakan yang kita lakukan akhirnya disambut pihak National Museum of Singapore. Hal itu yang akhirnya membuat dunia melihat film Indonesia.

Apakah semua film yang disimpan di Sinematek adalah film cerita nasional?

Semuanya film cerita nasional.

Lalu, bagaimana mekanisme untuk mendapatkan film tersebut? Apakah ada peraturan yang mengharuskan bahwa setiap film yang diproduksi harus diberikan kepada Sinematek?

Kalau bicara peraturan, ada Undang-Undang (UU) No.4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan. Yang dinamakan serah simpan itu termasuk cetakan buku, rekaman suara, dan rekaman film.

Jadi, semua yang punya rights. Nah, inilah yang menurut saya tidak pernah dipedulikan oleh dunia bisnis, khususnya. Misalnya film, mereka berpikir hanya untuk dilihat hari ini saja, bukan 20 tahun lagi juga bisa dilihat.

Apakah itu maksudnya yang dilihat adalah hanya profit oriented?

Betul, profit oriented yang sangat temporary. Sudah begitu celakanya adalah short temporary.

Siapa sebenarnya pengguna dari arsip-arsip yang ada ini?

Ini paling menarik. Kalau kita bicara dari segi akademik, banyak pelajar dan mahasiswa, memakai bahan dari arsip Sinematek. Dari tingkat S1 sudah lebih dari 1.000 orang, berarti 1.000 telah menjadi sarjana. Kalau S2 sudah 3 digit yaitu sudah lebih dari 100 orang. Yang lebih menarik, begitu saya menjadi kepala Sinematek, jika sebelumnya hanya ada lima orang dari tingkat S3 tapi hari ini sudah menjadi 13 orang.

Apakah itu semua dari dalam negeri atau juga ada orang asing?

Justru 25% adalah orang asing. Yang terakhir adalah mahasiswa S3 dari Yale University, itu luar biasa. Saya dengar dia lulus cumlaude.

.

Berbicara mengenai pengarsipan, barang tersebut tidak bisa disimpan begitu saja dan harus ada perawatan. Bagaimana mekanisme perawatan dari arsip film-fim tersebut?

Tentang perawatan ada handbook atau buku pedomannya. Contohnya, jika orang menyimpan klise foto maka banyak yang isinya sudah rusak karena tidak dirawat. Setiap klise maupun film dalam bentuk pita seluloid harus dicuci setiap empat bulan sekali.

Berapa biaya yang dibutuhkan untuk pencucian film tersebut?

Kita hitung rata-ratanya saja karena durasi atau panjang C pendek film berbeda. Kalau kita hitung rata-rata sekarang ada 400 - 600 judul film dengan biaya mencuci rata-rata Rp 500.000/satu film, dan setahun harus dicuci tiga kali setahun berarti ada 1.800 pekerjaan pencucian. Jika 1.800 pekerjaan dibagi 12 bulan, maka ada 150 pekerjaan setiap bulannya. 150 pekerjaan per bulan kita kali biaya pencucian Rp.500.000/film, maka berarti biayanya sekitar Rp 75.000.000/bulan.

Berapa sebenarnya dana idealyang dibutuhkan Sinematek?

Biaya Rp 75.000.000 itu hanya untuk merawat film. Sementara Sinematek mempunyai koleksi lain, seperti poster film, foto-foto adegan film. Kami juga mempunyai perspustakaan film dan buku-buku. Jika ditanya berapa minimal biaya yang dibutuhkan, idealnya setelah kita hitung-hitung kira-kira Rp 150 juta per bulan. Itu belum termasuk biaya operasional untuk membayar gaji pegawai.

Dari mana Anda mendapat dana selama ini, apakah ada kontribusi pemerintah?

Dulu Dewan Film Nasional (DFN) pernah membantu Sinematek secara berkala, tetapi jumlahnya saya tidak tahu persis. Setelah DFN berubah menjadi Badan Pertimbangan Perfilman Nasional (BP2N), tiba-tiba dana itu hilang.

Sekarang teknologi sudah makin maju. Apakah ada kemungkinan koleksi film tersebut dikonversi menjadi digital, sehingga dari sisi ketahanannya memungkinkan untuk lebih tahan lama?

Alhamdulillah, hal ini sudah dijawab pemerintah dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara C Perubahan (APBNP) tahun 2012. Tahun ini ada alokasi dana dari pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya dapat budget hampir Rp 4 milyar untuk digitalisasi. Kita melakukan digitalisasi agar film-film nasional menjadi sangat mudah untuk diakses masyarakat.

Mungkin tidak banyak masyarakat awam yang mengenal Sinematek, dan mungkin hanya berpikir bahwa ini semacam gudang film, sesuatu yang tidak berharga. Bagaimana mengubah pola pikir agar ini menjadi sesuatu yang penting dan harus kita pedulikan?

Kepala Sinametek harus memiliki pengetahuan dari dua kutub berbeda. Kutub pertama, bisa merawat barang yang kesannya tua dan berkarat. Kutub kedua, harus mengetahui teknologi informasi dan komunikasi yang paling mutakhir agar masyarakat bisa mengakses film Indonesia.

Setelah bicara dengan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kita mendapat anggaran untuk digitalisasi 30 film. Kalau ingin digitalisasi semua koleksi yang ada sebanyak 600 film berarti dibutuhkan 20 tahun. Ini terlalu lama. Tapi saya pikir ini satu langkah maju bahwa pemerintah mulai mengapresiasi.

Selain kontribusi pemerintah, kita juga bisa mengandalkan partisipasi publik. Apakah ada upaya menggugah hati publik agar berkontribusi memberikan donasi untuk kelangsungan hidup dari arsip film Indonesia?

Teman-teman kreatif muda seperti Riri Riza dan Nia Dinata cukup peduli dengan situasi ini. Tapi memang tidak banyak karena kebanyakan orang membayangankannya jika melakukan dealing, maka saya dapat apa. Saya memberikan sekian, maka saya harus dapat apa. Nah ini yang tidak terjadi. Contohnya saat kita merestorasi film "Lewat Jam Malam", biaya merestorasinya lebih dari Rp 2 milyar bahkan bisa mencapai Rp 3 milyar. Namun pihak National Museum of Singapore menyanggupi dan hanya meminta satu copy sebagai arsip mereka, dan tidak untuk dikomersialisasikan.

Tidak komersial karena mereka sadar bahwa dokumentasi dan arsip ini penting bagi bangsa.

Justru mereka yang hari ini lebih "galak" dari kita. Film "Lewat Jam Malam" yang diputar oleh pihak National Museum of Singapore adalah versi digital.

Apa catatan penting terakhir yang ingin Anda sampaikan?

Saya mengucapkan terima kasih kepada masyarakat secara luas, dan juga untuk orang Indonesia yang masih peduli dengan film Indonesia walau jumlahnya terlalu kecil. Perlu diketahui bahwa arsip film ada yang namanya plasser vision copy dan screaning copy. Yang aslinya menjadi plasser vision copy yaitu copy yang hanya dirawat. Sedangkan yang kita putar untuk ditonton adalah screening copy. Jadi digitalisasi sangat perlu dilakukan dan kita sedang melakukan itu dengan anggaran dari APBNP. Tahun ini akan mulai kami lakukan.