Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Endang Supriyati

Kelamnya Jebakan Prostitusi Anak

Edisi 870 | 27 Nov 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Prostitusi dan perdagangan anak merupakan perampasan hak-hak dan masa depan mereka. Sayangnya hal tersebut terkadang dilakukan oleh orang tua dan kerabat sang anak sendiri. Kita akan membicarakan prostitusi anak dengan Endang Supriyati, Ketua Harian LSM Bandungwangi yang bekerja melakukan pembinaan terhadap anak-anak korban prostitusi anak.

Menurut Endang, prostitusi anak banyak terjadi akibat kesulitan ekonomi keluarga sehingga anak yang menjadi korban. Orang tua yang tidak memiliki pekerjan menjadikan anak mereka sebagai sumber penghasilan dengan membawa anak tersebut ke Jakarta untuk dijadikan pekerja seks komersial. Anak-anak yang berasal dari pedesaan ini dalam keadaan sulit untuk menolak keputusan orang tua mereka. Keadaan anak-anak ini pun sulit untuk keluar dari dunia prostitusi di mana mereka menyadari bahwa pekerjaan mereka dipandang rendah di masyarakat dan mereka menganggap keadaan mereka merupakan isu yang sensitif untuk dibicarakan kepada orang luar.

Endang menceritakan bagaimana upaya-upaya yang dilakukan LSM Bandungwangi, yang sebagian besar anggotanya mantan pekerja seks komersial, dalam melakukan pembinaan kepada para pekerja seks komersial terutama mengenai masalah kesehatan dalam dunia prostitusi dan menguatkan mereka untuk keluar dari dunia prostitusi.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Melda Wita sebagai pewawancara dengan narasumber Endang Supriyati.

Bisa cerita mengenai awal terbentuknya LSM Bandungwangi yang mengkhususkan untuk kepentingan pekerja seks perempuan ini?

Bandungwangi adalah singkatan dari Bantuan Dukungan Perkawanan dan Saling Melindungi. Banduwangi adalah satu-satunya LSM atau yayasan yang didirikan oleh, dari dan untuk kepentingan pekerja seks perempuan. Jadi memang kita fokus untuk pekerja seks perempuan dari usia anak, remaja, dewasa, sampai dengan manula. Kita menemukan juga mereka yang usianya sudah di atas 70 tahun.

Kenapa Anda memutuskan untuk berkerja atau mendampingi para pekerja seks perempuan itu?

Saya dulu kenal Bandungwangi pada tahun 1999, saat Banduwangi pertama kali mengadakan program penyuluhan tentang HIV-AIDS dan kondom di Jatinegara. Kebetulan saya tidak pernah tahu informasi mengenai hal tersebut sebelumnya, dan saat itu saya juga menjadi "cewek malam". Sewaktu ikut penyuluhan saya sempat kaget. Ternyata pekerjaan saya ini selain dihina oleh masyarakat juga rentan terhadap HIV. Saya sempat langsung berbalik bertanya kepada orang tua saya, mengapa mereka tega menaruh anaknya di tempat seperti itu.

Anda dulu sempat menjadi "cewek malam" karena orang tua?

Iya, karena orang tua. Sebelum berada di tempat prostitusi, saya sudah berkerja menjadi pembantu saat berumur 10 tahun. Setelah 1 tahun berkerja menjadi pembantu, orang tua akhirnya memutuskan saya tidak boleh kembali ke Jakarta lagi jika tidak ikut dengan saudara. Saya sempat tidak mau ikut saudara, karena tidak mandiri dan merasa lebih baik ikut dengan orang lain. Ternyata bapak dan ibu tidak menyetujui, dan akhirnya saya memutuskan ikut saudara di Jakarta. Pada saat itu bapak dan ibu tidak menjelaskan apa yang akan saya lakukan di Jakarta.

Saat kembali ke Jakarta untuk kedua kalinya, berapa usia anda?

Dua belas tahun. Akhirnya saya mau ke Jakarta setelah diantar oleh bapak saya. Setelah di Jakarta, sampailah saya di salah satu rumah, lokasinya di daerah Prumpung, Jatinegara. Memang di tempat tersebut banyak perempuan yang seusia saya, menurut perhitungan saya jumlahnya sekitar 25 orang. Saat itu saya bepikir tempatnya menyenangkan, karena banyak teman yang seusia dengan saya. Saat menjelang sore, saya merasa heran mengapa mereka mengantri untuk mandi kemudian berdandan dan memakai baju yang seksi. Saya sendiri juga didandani walau sempat menolak.

Sampai saat itu anda tidak diberitahu akan melakukan apa?

Tidak. Saya sebagai orang kampung tidak mengerti pakaian baju seksi atau rok mini, saya merasa risih sekali, walau kemudian saya mengikuti saja untuk didandani. Pada saat itu bapak saya juga diam saja. Sesudah dandan dan rapi, lalu kita semua diminta yang membawa kue yang isinya kacang dan buah-buahan. Kita dibawa ke depan pinggir Kejaksaan Jakarta Timur. Kita berada di semacam tenda-tenda. Saya sempat berpikir kita melayani para sopir yang haus dan berhenti membeli minuman, namun saya sempat berpikir lagi kenapa harus memakai baju seksi padahal cuma mengambilkan minuman. Setelah setengah jam tidak ada yang mampir, akhirnya saya dibawa menyeberang ke sebuah taman. Setelah sampai di dalam taman, saya merasa heran lagi, ternyata dari luar tempat tersebut tidak terlihat orang karena gelap sekali.. Di dalam ada banyak sekali orang-orang baik laki maupun perempuan, dan di situ saya mulai melihat aksi teman-teman saya dan saya kaget.

Sempat mencoba untuk kabur?

Tidak, saya tidak tahu mau kabur ke mana? Akhirnya saya dibawa ke dalam tenda. Di situ saya sudah mulai berpikir, jangan-jangan ini yang oleh orang kampung disebut "pelacur". Saya berkata, "Pak, saya tidak mau bekerja seperti ini. Saya mau jadi pembantu saja. Saya mau balik lagi ke majikan saya". Tapi bapak diam saja, yang banyak bicara waktu itu adalah paman saya. "Walah, kamu belum saja. Nanti kalau kamu sudah pegang uang banyak dan bisa beli macam-macam pasti kamu betah", katanya. Saya tetap tidak mau tapi bapak tidak berkomentar.

Ketika pertama kali mau bergabung di Bandungwangi apakah orang tua atau paman Anda melarang?

Di situ ada sisi baiknya. Karena yang mengundang pihak RT dan RW, maka masyarakat menghargai pihak RT dan RW, dan menganjurkan saya ikut kegiatan tersebut. Akhirnya saya ikut dan sadar ternyata ada orang yang peduli dengan kita. Saya pikir, selama ini seperti ini tidak ada yang peduli dengan pekerjaan kita. Bandungwangi sudah seperti keluarga di mana kita dirangkul, diajak bicara, bahkan kita bisa cerita apa saja. Dari situ saya merasa nyaman dan berpikir mungkin ini tempat saya untuk keluar dari sini, tempat saya untuk belajar. Paling tidak meskipun saya tidak sekolah, tapi saya punya jalan untuk belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Sejak anda bergabung di Bandungwangi tahun 1999, apakah Anda melihat sendiri ada peningkatan dari kasus trafficking anak atau pekerja seks anak? Dan apakah apa peningkatan jumlah usia?

Jumlahnya naik-turun. Namun, di tempat kita melakukan pendampingan, jumlah mereka cukup banyak. Mereka pasti pendatang baru, dan yang sudah senior akan lari menjadi freelance. Kemudian akan datang lagi anak baru yang usianya masih anak-anak. Jika kita sedang berbicara dengan mereka, saya langsung teringat masa lalu. Ketika diajak berbicara, mereka tidak tahu apa-apa. Ketika saya menanyakan, apa mereka dari kampung tahu jika akan bekerja seperti ini, mereka tidak bicara. Mereka cuma bisa menggelengkan kepala.

Kalau kasus terbaru dan yang membuat dilematis, ternyata ada satu lokasi prostitusi di Jakarta, yang pekerjanya berasal dari satu kampung dimana semuanya masih keluarga. Yang bekerja di situ adalah anaknya, adiknya, anak bibinya, dan anak pamannya. Kita agak bingung bagaimana cara membantu dia keluar karena ikatan keluarga, dipulangkan ke kampung juga tidak mungkin. Dalam kasus itu, justru Bandungwangi lebih menekankan pada anaknya. Paling tidak menekankan pengetahuan tentang resiko, dan lebih menguatkan untuk keluar dari tempat itu. Ini membutuhkan proses penguatan, bagaimana menghadapi orang tua nanti dan bagaimana menghadapi lingkungan. Jadi lebih menguatkan agar niat berani keluar muncul dari hati dia sendiri.

Sosialisasi atau kampanye apa saja yang dilakukan oleh Bandungwangi untuk bisa melakukan pendampingan kepada para pekerja seks perempuan?

Di Bandugnwangi sekitar 99% adalah orang yang pernah bekerja sebagai pekerja seks maupun korban trafficking. Yang kita lakukan setiap hari adalah melakukan pendampingan. Kita datang ke tempat tinggal mereka, jika malam kita juga datang ke lokasi operasi mereka. Jadi kita lebih memberikan penguatan-penguatan tentang kesehatannya, tentang kepercayaan dirinya. Banyak juga yang mau keluar tapi tidak tahu jalan keluarnya seperti apa. Rata-rata mereka pendidikannya rendah dan tak punya keterampilan.

Apakah ada tahapan-tahapan khusus dalam proses pendampingan sehingga pada akhirnya dia memutuskan untuk berhenti?

Tahapannya ada. Pada awalnya pasti mereka akan menghindar terus. Kita juga dulu seperti itu. Orang-orang seperti mereka ini sensitif untuk menerima orang luar, karena mereka berpikir bahwa orang luar itu tidak ada yang peduli. Mereka sendiri juga berpikir, jika mereka memiliki pekerjaan yang dianggap sebagai sampah masyarakat, dinilai agama juga tidak bagus, dan tidak ada orang yang peduli dengan mereka. Maka kami faham, ketika pendekatan awal mereka menolak kita.. Memang diperlukan proses yang panjang dan terus-menerus untuk meyakinkan mereka, hingga akhirnya mereka mau bercerita terbuka dengan kita.

Ada peran orang tua dalam periwtiwa ini, namun apakah anak punya hak untuk menyatakan penolakan?

Masalahnya, mereka rata-rata adalah anak-anak dari daerah dengan pendidikan yang terbatas. Mereka berbeda dengan anak-anak di kota yang reatif berani berbicara. Jika di Jakarta anak-anaknya masih berani bilang tidak mau, tapi bagi mereka yang berasal dari kampung tidak bisa dan tidak berani bilang tidak mau. Saya lihat di sini justru peran pemerintah di daerah untuk memberikan edukasi dan informasi kepada masyarakat dan orang tua. Kami fokus di tempat prostitusi jadi tidak fokus ke arah tersebut.

Apakah Anda pernah berkerja sama dengan pihak pemerintah atau pihak yang bisa melakukan pendekatan –pendekatan khusus, untuk memberikan informasi kepada orangtua agar anak-anaknya tidak dibawa ke Jakarta untuk berkerja di tempat prostitusi?

Fokus Bandungwangi lebih kepada pendampingan anak yang sudah berada di tempat prostitusi, jadi tidak fokus kepada tindakan pencegahan, seperti bagaimana menarik mereka untuk keluar dari sana. Mengenai pencegahan, dari hasil diskusi bersama teman-teman, terungkap bahwa faktor ekonomi yang dominan. Karena faktor ekonomi, maka orang tua yang mungkin tidak memiliki lapangan pekerjaan, tidak punya penghasilan, kemudian menjadikan anak sebagai ladang penghasilan bagi orang tua. Kita berharap, peran pemerintah di daerah untuk bisa memberikan informasi, pengarahan-pengarahan, dan kemudian bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan untuk orang tuanya. Orang tua memiliki lapangan penghasilan supaya anak juga tidak dijadikan ladang penghasilan, dan anak juga bisa tetap bersekolah.

Menurut anda sendiri apakah sebaiknya prostitusi dan lokalisasi itu dilegalkan?

Kalau melihat kondisi sekarang dari sisi kesehatan, HIV dan AIDS sudah semakin merajalela. Mengenai lokalisasi, dulu di Jakarta ada Kramat Tunggak sehingga lebih terorganisir. Ketika kita mau buat peraturan, prosesnya itu lebih mudah. Dari sisi anak-anak, tidak mungkin anak-anak akan masuk sebagai pelaku prostitusi karena ada peraturan. Mungkin hal tersebut bisa mencegah anak tidak akan ke tempat tersebut.

Pada tanggal 26 Juli lalu telah disahkan RUU tentang Ratifikasi Protokol Opsional Konvensi Anak mengenai anak, prostitusi anak dan pornografi anak. Apakah ini perkembangan positif melihat ada hukum yang bisa menjerat para germo atau para mucikari yang memanfaatkan anak-anak?

Sebenarnya dari dulu sudah ada ya UU perlindungan anak dan segala macam. Namun kalau kita lihat justru pelaksanaannya yang masih lemah. Jadi adanya hanya pembentukan UU belaka, namun tidak terjadi pelaksanaan yang efektif. Hal itu yang justru disayangkan, jika benar-benar serius maka pelaksanaannya yang harus diperhatikan.

Khusus untuk para pendengar di Jakarta yang ingin menggapai atau bisa melakukan konseling langsung ke Bandungwangi, bisa ketemu Anda dimana?

Kita berada di daerah Pisangan 5 dekat Pasar Enjo, Jakarta Timur. Jika sudah sampai bisa bertanya ke masyarakat sekitar, mengenai tempat Yayasan Perempuan, masyarakat sudah tahu. Jika ingin telepon, kami bisa dihubungi di 021-47863238 .