Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Jemima Walker

Antara Dua Budaya

Edisi 869 | 19 Nov 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah seorang anak muda yang pernah tinggal di dua negara berbeda secara kultur dan budaya, dan saat ini aktif secara politik di Indonesia. Dia adalah Jemima Walker yang biasa dipanggil Jihan. Dia sudah tinggal selama 17 tahun di Arab Saudi, dan saat ini memilih untuk tinggal di Indonesia. Jihan memiliki bapak asli dari Arab dan ibunya berasal dari Jawa, kedua orang tuanya kini tinggal di Arab Saudi.

Pengalaman tinggal di dua negara memperkaya pengalaman Jihan. Banyak perbedaan yang ia rasakan antara Arab Saudi dan di Indonesia terutama mengenai kebebasan berekspresi. Jihan merasa nyaman dan senang tinggal di Indonesia karena dirinya sebagai perempuan muda lebih mudah berekspresi, lebih kreatif, dan bisa melakukan segala macam aktifitas termasuk politik, fotografi, bahkan permodelan. Selain itu, partisipasi politik bagi orang yang mempunyai keturunan yang ragam seperti dirinya sama sekali tidak ada perbedaan dan tidak ada diskriminasi. Jihan juga menyukai pluralisme di Indonesia. Perbedaan agama itu indah, tetapi kalau di Indonesia sering terjadi pertempuran berlatar belakang agama. Saya pikir itu sesuatu yang tidak bagus.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Jemima Walker.

Bisa diceritakan sedikit asal usul Jihan?

Bapak saya adalah orang Arab, Ibu saya orang Jawa. Kedua orang tua saya tinggal di Arab Saudi, sedangkan saya tinggal di Jakarta saat ini. Saya pernah tinggal di Arab Saudi selama 17 tahun.

Mengapa tidak tinggal di Arab Saudi?

Saya merasa nyaman tinggal di Indonesia

Berbicara mengenai Arab Saudi, apakah kondisi sosial di sana kira-kira tidak akan berubah?

Saya pastikan tidak akan berubah,

Apakah itu karena latar belakang agamanya?

Itu karena hukum negara dan agama sudah disatukan

Apakah bisa berbahasa Indonesia, dan merasa tidak nyaman dengan banyaknya keragaman budaya di sini yang memiliki sekitar 150 kota?

Tentu saya bisa bahasa Indonesia. Saya lebih merasa senang di Indonesia karena saya sebagai perempuan muda lebih mudah berekspresi, lebih kreatif, bisa melakukan segala macam aktifitas termasuk politik, fotografi, bahkan permodelan.

Apakah dengan merasa nyaman tinggal di Indonesia, itu bukan berarti Anda tidak suka kehidupan di Arab Saudi?

Di setiap negara ada positif dan negatifnya. Saya mengambil contoh positifnya mengenai ibadah, seperti beribadah atau berdoa di dekat Kabah rasanya begitu indah. Yang saya rasakan di Arab suasananya lebih religius.

Bagaimana perbedaan rasa hidup di negara dimana suatu agama yang besar dilahirkan dengan hidup di negara sekuler dimana ada berbagai agama dan berbagai orang yang bahkan tidak menjalankan agama, apa itu membuat kenyamanan di sini berkurang ?

Perbedaan tersebut tidak mengurangi rasa kenyamanan untuk tinggal di Indonesia, dan itu bukan masalah bagi saya dengan perbedaan yang terjadi di antara dua negara tersebut.

Anda cukup menikmati hidup di Indonesia, mulai dari pergaulan, kebebasan hingga kehidupan berpolitik. Apakah nilai-nilai yang Anda anut di sini dapat Anda bawa ke Arab Saudi, misalnya mengenai keaktifan perempuan dalam dunia politik?

Secara pribadi saya tidak bisa karena peran wanita di Arab Saudi sangat dibatasi, dan tidak mungkin wanita dapat aktif di sebuah partai politik.

Apa partai tempat Anda aktif berpolitik saat ini, mengapa Anda memilih partai politik tersebut?

Saya aktif di Dewan Pimpinan Daerah (DPW) Partai Serikat Rakyat Independen (SRI) sebagai ketua bidang komunikasi. Saya memilih partai tersebut karena rasa kesatuannya ada dari semua level dan tidak ada pandangan yang berbeda. Dengan aktif berpolitik, saya dapat berpartisipasi dalam suatu negara.

Bagaimana reaksi Anda mengenai Partai SRI tidak bisa ikut Pemilu 2014 karena tidak lolos verifikasi KPU?

Selama ini kami berjuang bersama-sama di partai. Misalnya ketika dalam proses verifikasi, kita bersama-sama sebagai kader membawa box-box meskipun harus"panas-panasan". Itu benar-benar penuh perjuangan. Ketika mendengar gagal, saya merasa ini bagian dari proses tetapi kita tetap tumbuh dan bersama, dan tidak ada salahnya Partai SRI tetap aktif.

Berbicara soal Arab Saudi, apakah ada kemungkinan kondisi sosial di sana dapat berubah?

Saya pastikan tidak akan berubah karena hukum negaranya.

Bagaimana Anda melihat partisipasi politik bagi orang yang mempunyai keturunan yang ragam, bukan hanya Indonesia tapi Arab Saudi, dibandingkan dengan orang yang 100% ayah ibunya Indonesia dan keluarganya tinggal di Indonesia, apakah Anda merasa ada perbedaan?

Sama sekali tidak ada perbedaan dan tidak ada diskriminasi. Mungkin kalau di negara Arab Saudi ada sedikit perbedaan pandangan, di sana juga tidak ada partai politik.

Lalu, bagaimana kalau mau partisipasi kegiatan politik, apakah bentuknya hanya seperti grup diskusi?

Di Arab Saudi rasanya tidak ada forum untuk grup diskusi. Ada juga wanita yang berdemostran, tapi biasanya untuk menuntut agar dapat bekerja dan tidak hanya tinggal di rumah. Demontrasi ini sempat dilarang oleh pemerintah tetapi masih tetap berjalan.

Bagaimana penerapan agama di masyarakat Indonesia dengan di Arab Saudi?

Yang pasti kalau di Indonesia, agama digabungkan dengan adat istiadat. Sedangkan di Arab Saudi penerapannya sangat sederhana. Misalnya Idul Fitri, di Arab Saudi seusai Sholat Ied kita cukup bersalaman dengan orang di samping kita walaupun kita tidak mengenal orang tersebut. Di Arab Saudi tidak ada tradisi ke luar kota, menjinjing-jingjing barang bawaan, bermacet-macet di jalan.

Kalau agama dari sisi ritual lebih simpel, mungkin akan lebih mudah melaksanakannya. Sedangkan pengertian pluralisme barangkali juga akan susah untuk orang yang tinggal di Arab Saudi. Pengertian pluralisme itu bahwa masyarakat kita beragam dari sisi agama maupun jender, dan semua pihak diberikan kesempatan yang sama. Apakah ada masalah dengan hal tersebut?

Saya tidak memiliki masalah dengan pluralisme. Menurut saya, perbedaan agama itu indah, tetapi kalau di Indonesia sering terjadi pertempuran berlatar belakang agama. Saya pikir itu sesuatu yang tidak bagus. Kalau di Arab Saudi, perempuan memang dibatasi karena memang perempuan dilarang untuk menjadi pemimpin. Di Indonesia saya pribadi setuju perempuan menjadi pemimpin.

@