Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Robertus Robet

Kerusuhan Mei 1998 Terencana dan Sistematis

Edisi 868 | 09 Nov 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Empat belas tahun sudah berlalu sejak terjadi peristiwa Mei 1998. Peristiwa tersebut merupakan peristiwa yang memilukan dengan berbagai kerusuhan dan banyak korban materi, perkosaan, bahkan korban jiwa. Kita akan membicarakan peristiwa Mei 1998 dengan Robertus Robet, mantan anggota Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang pernah dibentuk pemerintah untuk melakukan penyelidikan terhadap peristiwa Mei 1998.

Robertus Robet mengungkapkan TGPF merumuskan satu kesimpulan bahwa Kerusuhan Mei 1998 terjadi secara terencana, sistematis, dan terbuka. Jadi bukan pemberontakan rakyat atau perbuatan preman. Di situ terdapat dimensi-dimensi tragis yaitu bagaimana rakyat terutama rakyat miskin di perkotaan dimobilisasi oleh kelompok. Ada kelompok-kelompok untuk memulai terjadinya kerusuhan yang datang dari luar area dimana kerusuhan terjadi. Mereka yang memobilisasi rakyat, misalnya, dengan melakukan pelemparan, pemukulan toko-toko sehingga membuat orang berkumpul. Kemudian ketika orang-orang sekitar berkumpul maka mulai terjadi penjarahan. Setelah penjarahan terjadi pembakaran. Jadi peristiwa itu terencana dan sistematis.

Peristiwa Mei 1998 tidak berdiri sendiri. Peristiwa itu satu rangkaian dari peristiwa-peristiwa akhir pada masa–masa reformasi penjatuhan Soeharto. Jadi, itu harus dilihat dalam satu rangkaian termasuk penculikan mahasiswa yang terjadi sebelumnya. Satu rangkaian dalam arti bahwa peristiwa-peristiwa itu ada dalam satu setting proses perubahan politik yang sangat penting di Indonesia. Pada saat itu memang sudut pandang analisa politik tertentu kejatuhan satu rezim politik yang basisnya militer memang melibatkan konflik dalam tubuh militer terutama Angkatan Darat pada waktu itu.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Robertus Robet.

Sudah 14 tahun berlalu sejak terjadi peristiwa tragedi Mei 1998. Isu tragedi Mei 1998 ini agak dilupakan. Saya mengundang Robertus Robet karena dia yang paling mengetahui dan juga paling berwenang membahas peristiwa itu. Dia terpilih oleh pemerintah Indonesia masuk ke dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) yang waktu itu berada di Lembaga Bantuan Hukum (LBH). Mengapa Anda tergabung dalam tim tersebut?

Saya ada di tim itu karena pada waktu itu saya bekerja untuk Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Pasca Kerusuhan Mei 1998, pemerintah membentuk satu tim gabungan yang berisikan beberapa unsur. Terdapat lima lima unsur pemerintah termasuk Departemen Pertahanan dan Keamanan, Departemen Kehakiman, dan Kejaksaan Agung. Unsur-unsur lain diambil dari lembaga swadaya masyarakat (LSM), salah satunya YLBHI dan Tim Relawan untuk kemanusiaan, yaitu Romo Sandiawan dan kawan-kawan.

Jadi komisioner atau anggota tim waktu itu terdapat beberapa orang dari kalangan masyarakat sipil yang cukup kita kenal pada saat itu. Dari Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) terdapat Marzuki Darusman, Asmarana Nababan (alm), Mulya Lubis, dan Bambang Wijayanto. Dari LSM terdapat Romo Sandiawan Sumardi dan Organisasi Kesatuan Bangsa yang dipimpin oleh Rosita Noer. Lalu dari unsur pemerintah diwakili beberapa kementerian seperti dari Departemen Kehakiman, Departemen Pertahanan dan Keamanan, serta Kejaksaan Agung.

Timnya dibentuk pada saat pemerintahan Presiden Habibie. Namun yang terlibat dalam manajemen pengorganisasian TGPF pada waktu itu yang menonjol dari unsur pemerintahan, Departemen Kehakiman dan Komnas HAM. Di situ terdapat pimpinan lembaga-lembaga semacam Komisi Ad Hoc. Kemudian dibentuk tim-tim seperti tim analis, tim penyelidik. Kita adalah tim peneliti karena hasil temuan kita punya kekuatan mengikat dari sisi hukum.

Apa hasil temuan tim tersebut?

Sejauh yang saya ingat tim itu merumuskan satu kesimpulan bahwa Kerusuhan Mei 1998 terjadi secara terencana, sistematis, dan terbuka.

Jadi bukan pemberontakan rakyat atau perbuatan preman?

Bukan. Di situ terdapat dimensi-dimensi tragis yaitu bagaimana rakyat terutama rakyat miskin di perkotaan dimobilisasi oleh kelompok. Jadi, ditemukan ada kelompok-kelompok untuk memulai terjadinya kerusuhan yang datang dari luar area dimana kerusuhan terjadi. Mereka yang memobilisasi rakyat, misalnya, dengan melakukan pelemparan, pemukulan toko-toko sehingga membuat orang berkumpul.

Ada unsur perencanaan pada masa itu. Orang-orang yang tidak dikenal melakukan mobilisasi tersebut. Kemudian ketika orang-orang sekitar berkumpul maka mulai terjadi penjarahan. Setelah penjarahan terjadi pembakaran. Jadi peristiwa itu terencana dan sistematis.

Apakah kerusuhan Mei ditujukan pada golongan etnis tertentu?

Sebelum terjadi perusakan, ada ungkapan-ungkapan kebencian terhadap etnis tertentu. Itu muncul di tembok-tembok, tulisan-tulisan, dan teriakan-teriakan. Kelompok-kelompok yang memulai kerusuhan itu melakukan penyebaran kebencian kepada etnis-etnis tertentu itu.

Seperti apa tingkat kerusuhan yang terjadi di Jakarta?

Yang harus diingat adalah Kerusuhan Mei 1998 tidak hanya terjadi di Jakarta. Kerusuhan itu terjadi di lima kota yaitu Solo, Jakarta, Lampung, Palembang, dan Medan. Kerusuhan yang terbesar terjadi di tiga kota, yaitu Solo, Jakarta, dan Medan. Yang paling besar terjadi di Jakarta jika dilihat dari skala kerusahan dan jumlah korban. Jadi peristiwa itu beruntun. Yang saya ingat terjadi di Medan dulu pertama kali. Dari Medan lalu Solo kemudian Jakarta. Dari Jakarta baru terjadi di Lampung tapi dalam skala yang kecil dan di Palembang.

Semua kerusuhan di Jakarta saat itu terjadi di pusat perdagangan Cina, misalnya Glodok dan Hayam Wuruk. Betulkah?

Ya, terjadi di pusat-pusat perdagangan. Dilihat dari segi mental hingga sekarang masih terlihat sisanya. Peristiwa itu mengubah modus kehidupan warga Jakarta. Satu contoh, dulu kampung-kampung atau pemukiman-pemukiman penduduk Tiongkoa di Jakarta itu tidak memiliki pagar-pagar yang tinggi. Setelah Kerusuhan Mei 1998, orang-orang mulai membuat pagar-pagar. Demikian juga portal-portal di perumahan. Jadi itu mengubah modus kehidupan warga sehari-hari setelah Kerusuhan Mei. Suasana malam pun jadi berubah. Beberapa tahun sempat terjadi sesudah pukul 21.00 kehidupan lebih sepi. Ada aspek traumatik di situ.

Temuan Tim Relawan mengenai korban menunjukkan korban terbesar dalam Kerusuhan Mei di Jakarta justru adalah warga miskin perkotaan. Banyak kisah-kisah yang sangat memilukan terjadi seputar Kerusuhan Mei itu. Misalnya ada warga yang anaknya baru pulang sekolah namun belum sampai 10 menit anaknya sudah tidak ada. Ternyata anaknya menjadi korban ikut terbakar bersama warga yang lain.

Di manakah terjadi kebakaran-kebakaran tersebut?

Salah satunya terjadi di mall-mall Jatinegara. Di situ banyak anak-anak meninggal dan menjadi korban. Ada banyak kisah-kisah tragis. Ada banyak cerita mengenai mengapa korban-korban tidak lari ketika mall-mall dibakar. Cerita ini didapat tentu dari wawancara dengan masyarakat dan para korban yang sempat diwawancarai. Proses pembakaran mall-mall dimulai dengan pola yang tadi saya sebut. Pertama, toko-toko dipukuli kemudian dibuat keributan dulu. Lalu massa datang, mereka diprovokasi untuk membongkar. Pembongkaran dimulai dulu oleh orang-orang tidak dikenal ini. Setelah toko-toko itu dibongkar massa masuk dan menjarah.

Tidak ada alat negara yang mencegah pada waktu itu. Di situlah terjadi pembakaran. Banyak temuan yang mengatakan mall-mall itu sengaja dibakar. Orang-orang yang berada di lantai satu dan dua mall-mall itu yang terjebak api kebakaran. Ada kesaksian misalnya banyak orang yang mencoba melompat dari lantai dua ke bawah sehingga cedera. Banyak kasus-kasus semacam itu terjadi di Jakarta pada hari-hari tersebut.

Apakah ada temuan mengenai siapa perencana kerusuhan itu?

Satu-satunya yang disebut dalam temuan TGPF berkaitan dengan Kerusuhan Mei 1998 adalah pertemuan di Makostrad yang saya lupa tanggalnya.

Apakah pertemuan itu untuk mencegah Kerusuhan Mei 1998?

Bukan. Pertemuan itu terjadi sebelum Kerusuhan Mei. Kira-kira di awal-awal kerusuhan berlangsung.

Apakah pertemuan itu dicurigai sebagai pertemuan perencanaan?

Bukan pertemuan perencaan itu. Saya ingat, ketika itu saya masih di YLBHI. Waktu itu kantor penuh karena orang masih berdemonstrasi di jalan-jalan. Suasana sudah mulai panas di jalan-jalan sebelum kerusuhan terjadi. Waktu itu Adnan Buyung Nasution kalau tidak salah menerima panggilan untuk diajak bertemu Prabowo di Makostrad. Buyung Nasution dipanggil karena katanya ada pertemuan. Kita tidak tahu persis untuk apa Adnan Buyung dipanggil. Lalu pada waktu itu Adnan Buyung mengajak Bambang Wijayanto agar tidak sendirian.

Saya tidak tahu secara persis pembicaraan yang terjadi di situ. Namun yang jelas TGPF merekomendasikan untuk meneliti lebih lanjut pertemuan di Makostrad tersebut. Dokumen TGPF merekomendasikan seperti itu. TGPF merekomendasikan demikian dengan satu konteks tertentu. Buat para pembaca yang berasal dari generasi pasca reformasi perlu juga memahami bahwa peristiwa Mei 1998 itu memang tidak berdiri sendiri. Peristiwa itu satu rangkaian dari peristiwa-peristiwa akhir pada masa–masa reformasi penjatuhan Soeharto. Jadi, itu harus dilihat dalam satu rangkaian termasuk penculikan mahasiswa yang terjadi sebelumnya.

Apakah itu yang sudah diakui oleh Jendral Prabowo bahwa bahwa dia yang melakukan penculikannya?

Jadi, satu rangkaian dalam arti bahwa peristiwa-peristiwa itu ada dalam satu setting proses perubahan politik yang sangat penting di Indonesia. Pada saat itu memang sudut pandang analisa politik tertentu kejatuhan satu rezim politik yang basisnya militer memang melibatkan konflik dalam tubuh militer terutama Angkatan Darat pada waktu itu.

Pada waktu itu Prabowo adalah salah satu jendral pimpinan militer yang sangat menonjol dalam political game. Dalam struktur kekuasaan pada waktu itu bila masyarakat menyorot persoalan-persoalan ke arah dia, maka itu tidak bisa dihindari.

Apakah sesudah itu Prabowo pernah memberikan keterangan lengkap untuk menghilangkan keraguan tersebut?

Saya tidak ingat persis apakah Prabowo sendiri secara pribadi pernah memberikan keterangan. Walaupun kita melihat ada sejumlah dokumen buku yang ditulis oleh teman-temannya yang berupaya untuk memberikan semacam bantahan.

Rekomendasi TGPF tersebut diserahkan kepada siapa dan diberikan tindak lanjut oleh siapa?

Di situlah kemudian kritik sejumlah orang mengenai TGPF bahwa temuan–temuan TGPF tidak punya implikasi langsung secara hukum positif. Namun rekomendasi TGPF itu sendiri cukup kuat sebenarnya terutama dalam rangka menunjukan apa yang terjadi pada Kerusuhan Mei 1998. Pada Waktu itu karena diinisiasi oleh badan-badan pemerintahan yang juga kuat, maka rekomendasi TGPF diberikan kepada presiden untuk mengambil tindakan. Pada masa itu yang menjabat sebagai presiden adalah Habibie. Jadi, saya kira TGPF juga yang melatarbelakangi salah satu keputusan Habibie pada waktu itu, misalnya meratifikasi atau mengusulkan satu produk hukum yang melindungi minoritas.

Di sini, saya singgung sedikit tentang perkosaan. TGPF menemukan ada perkosaan meskipun tidak sebanyak sebagaimana disebutkan oleh media dan beberapa LSM.

Kalau LSM Solidaritas Nusa Bangsa menyebutkan angka 150. Berapa kira–kira menurut estimasi TGPF?

Kalau temuan TGPF, yang berhasil diverifikasi oleh TGPF lebih sedikit dari jumlah tersebut. Jadi satu perdebatan yang menarik selama TGPF adalah otoritas memverifikasi perkosaan itu. Pemerintah yang berpikir sangat legalistik dan formalistik maunya pihak berwajib yang melakukan verifikasi. Namun berdasarkan pandangan HAM, tidak mungkin korban mau diajak bicara apalagi oleh aparat negara. Lalu diatur satu prosedur yang kemudian disebut Protokol Jakarta. Protokol Jakarta adalah kewenangan verifikasi itu bisa dilimpahkan kepada keluarga atau pendamping spiritualnya. Kesaksiannya bisa dicatat oleh mereka dan dianggap sah.

Hal tersebut yang dilakukan oleh kelompok-kelompok relawan masyarakat sehingga ada macam-macam angka. Namun tidak bisa disangkal bahwa pembunuhan, pembakaran, dan perkosaan itu benar ada. Yang menjadi pernyataan hanya berapa banyak dan berapa besar fenomenanya, serta siapa yang melakukannya? Pelakunya jelas, namun banyak pelakunya yang kemudian mati juga dibakar barangkali seperti yang masuk mall dan dibakar.

Sebenarnya mereka bukan pelaku. Mereka orang-orang yang digiring untuk masuk ke dalam satu peristiwa sosial tertentu. Mereka ikut menggedor tetapi bukan mereka aktor sebenarnya. Aktor-aktor yang sebenarnya tidak ditemukan. Kita ingat bahwa pada malam itu ada rombogan orang yang didrop dengan menggunakan truk-truk.