Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Maman Suherman

Jangan Mudah Dibohongi Media

Edisi 867 | 02 Nov 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Media memiliki peran penting dalam masyarakat. Media massa merupakan jendela informasi bagi masyarakat. Sayangnya banyak berita-berita yang disajikan media mengenai politik ataupun kehidupan selebritis tidak akurat bahkan menyesatkan. Kita akan membicarakan pemberitaan media dan intrik-intrik dibaliknya dengan Maman Suherman, mantan jurnalis infotainment dan sekarang penulis buku berjudul "Bokis". Buku tersebut berisi pengalaman Maman sebagai jurnalis dan juga berbagai kritik terhadap kerja tidak benar para jurnalis.

Maman Suherman mengajak masyarakat untuk melek media. Masyarakat perlu bersikap jangan mudah dibohongi berita di media terutama televisi. Potensi perselingkuhan di belakang pembuatan berita sangat dahsyat sekarang, dan bisa mempengaruhi kesadaran masyarakat.

Menurut Maman, kalau di zaman Orde Baru kita tahu musuh kita satu yaitu Soeharto dan kroninya. Kalau sekarang kita tidak pernah tahu yang mana teman dan yang mana lawan. Kita tidak tahu yang mana berita benar atau tidak.Di Amerika Serikat televisi bisa mendeklarasikan dia berpihak kepada siapa. Fox jelas berpihak ke Republik sehingga Obama tidak akan dibenarkan di situ. Di Inggris televisi sama sekali tidak boleh dipakai untuk kampanye. Di Indonesia ada undang-undang dan peraturannya namun orang-orang tidak pernah ingin memperlihatkan dia berpihak pada siapa. Namun kemudian justru dimanfaatkan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Maman Suherman.

Tamu kita sekarang adalah Maman Suherman. Kejutan yang sekarang membawa Maman ke perhatian publik adalah bukunya berjudul Bokis. Silakan, Anda ceritakan satu atau dua kisah yang ada di dalam buku tersebut?

Ada satu cerita menarik. Pada suatu ketika seorang kiai yang biasa muncul di layar kaca mengundang sejumlah redaktur pelaksana. Ia tidak ingin yang datang wartawan, namun harus redaktur pelaksana karena katanya ada berita yang sangat bagus untuk diliput. Ketika kami datang yang semua adalah redaktur pelaksana, kami bertanya apa berita bagus yang akan dimunculkan oleh Pak kiai? Dengan tenang dia menjawab bahwa dia mau menikah dan minta tolong diliput acara fitting bajunya. Orang lain menulis beritanya tapi buat saya itu bukan berita sehingga saya tidak melakukan penulisan. Menurut saya, hal itu pekerjaan selebriti dan bukan pekerjaan seorang kiai. Sekarang batasan selebriti dengan kiai sangat campur aduk dan proses pencitraan seperti itu dimanjakan betul oleh media.

Sebagai redaktur tabloid entertainment yang tentunya menghargai selebriti, apakah Anda boleh menolak berita dari selebriti?

Jika saya menganggap berita tersebut bisa memanipulasi kesadaran publik maka pasti saya tolak. Bahkan saya pernah memecat orang yang menulis berita mengenai seorang artis yang datang ke area bencana kemudian ingin diliput dan mengundang puluhan wartawan. Sesampainya di sana dia takut melihat air setinggi leher. Namun ketika muncul di layar kaca dia tetap tampil di dalam air setinggi leher. Kalau ada orang memperhatikan gambar televisi itu secara seksama ternyata di belakang ada "adegan bocor", yaitu anak sekolah dasar lewat dan ketinggian air hanya setinggi lutut anak itu. Praktek seperti itu bohong betul karena itu saya memberi judul buku saya "Bokis".

Jadi, supaya terlihat dramatis maka artis tersebut duduk sehingga airnya terlihat setinggi leher. Yang lebih berat lagi adalah ia mengundang 50 media lalu dia menyumbang hanya empat kardus mie instan, dan di media ia disebut sebagai sosok yang sangat budiman.

Kapan Anda mulai menulis buku itu sebab saya melihat cakup pengalamannya panjang?

Sampai tahun 2011 saya duduk di posisi managing director di sebuah perusahaan komunikasi dan saya merasa terkungkung betul. Saya merasa ada yang saya khianati karena kami memegang beberapa proyek pemerintah, dan ternyata salah satu pekerjaan managing director adalah membawa jatah buat panitia pembuat komitmen dalam tender. Di proyek-proyek bidang komunikasi, informasi, edukasi ada tender sekian miliar yang belum tentu menang tapi sudah harus memfilter 10 - 20%. Sekarang banyak yang tersangkut KPK, bahkan hingga level menteri. Saya merasa betul-betul terganggu dan ketika saya mengetahui ada penipuan –penipuan itu maka saya langsung memutuskan keluar dan tidak mau menerima apapun saat itu.

Mengapa tidak ada keraguan di situ karena Anda harus mencari nafkah juga untuk keluarga?

Ketika mau keluar saya bertanya ke istri dan istri mengatakan siap. Ya sudah, saat itu juga saya keluar dan tidak punya pegangan apa-apa. Tapi saya mengalami satu kebebasan. Beberapa teman begitu tahu langsung mengatakan siap menampung. Tapi saya sudah takut dengan kantor sehingga saya bilang saya mau bebas. Salah satu kebebasan yang muncul adalah tiba-tiba Gramedia bertanya pengalaman saya bisa dijadikan berapa buku? Saya menjawab minimal delapan. Mereka minta dibuat segera. Alhamdulilah, saya menganggap ini sebuah pembebasan. Tujuan pertama saya membuat buku adalah mengajak masyarakat untuk melek media. Saya melihat masyarakat perlu bersikap jangan mudah dibohongi berita media, terutama televisi. Potensi perselingkuhan di belakang pembuatan berita sangat dahsyat sekarang dan bisa mempengaruhi kesadaran masyarakat.

Apakah hal tersebut lebih dahsyat sekarang jika dibandingkan tahun 1990-an?

Kalau di zaman Orde Baru kita tahu musuh kita satu yaitu Soeharto dan kroninya. Kalau sekarang kita tidak pernah tahu yang mana teman dan yang mana lawan. Kita tidak tahu yang mana berita benar atau tidak. Kemarin ketika ke Amerika Serikat (AS), saya belajar bahwa televisi harus mendeklarasikan dia berpihak kepada siapa. Fox jelas berpihak ke partai Republik sehingga Obama tidak akan dibenarkan di situ. Di Inggris televisi sama sekali tidak boleh dipakai untuk kampanye. Di Indonesia ada undang-undang dan peraturannya namun orang-orang tidak pernah ingin memperlihatkan dia berpihak pada siapa. Tapi kemudian justru dimanfaatkan.

Apakah di Indonesia ada aturan undang-undang (UU) yang membatasi stasiun TV untuk memihak politikus?

UU tentang Penyiaran dan kemudian turunannya yaitu Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS) di Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Ada beberapa pasal yang menyatakan tidak boleh untuk kepentingan pribadi pemilik dan tidak boleh untuk kepentingan politik pemilik. Hal tersebut merupakan milik publik.

Ada yang mengatakan karena modal televisi dari pemilik maka materi siaran terserah si pemilik. Jika tidak suka maka jangan melihat acaranya. Sampai mana kebenarannya bahwa itu milik pribadi seseorang dan bahwa publik kalau tidak senang tidak usah menonton dan jangan mengeluh?

Esensinya adalah hal tersebut bukan milik pribadi mereka. Televisi adalah milik negara. Yang paling mereka takutkan dalam revisi UU Penyiaran adalah jika Komisi Penyiaran Indonesia diberi kuasa yang lebih besar oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk mengevaluasi izin siaran. Jika hal tersebut dilakukan maka bisa saja kemudian izin itu dicabut. Hal itu yang paling ditakutkan karena kalau kita melihat hampir semua televisi melakukan pelanggaran, dan paling banyak sekarang di ranah politik.

Jika KPI mempunyai kebebasan, apakah anggota KPI masih memiliki integritas?

Dengan sembilan komisioner dan keputusannya adalah kolektif, saya masih melihat ada semangat untuk bersikap tegas di situ. Di AS bernama Federal Communications Commission (FCC).

Apa mereka tidak langsung dibeli oleh media TV?

Ada isu seperti itu. Mungkin satu, dua, tiga orang bisa dibeli tapi dengan sembilan orang yang mengambil keputusan maka cara itu tidak terlalu efektif. Saya melihat ada yang sangat kuat dengan nuraninya tapi saya tidak yakin akan terpilih lagi dalam tahun berikutnya. Kesempatan untuk terpilih menjadi komisioner dua kali. Mereka dipilih oleh DPR.

Bukankah DPR merupakan "Bad Guys" semua?

Persoalannya terletak di situ dan penyiaran merupakan bidang kerja Komisi 1 DPR. Di komisi 1 saya melihat ada yang sudah menjadi corong pemilik stasiun televisi.

Kecuali kalau partai pemilik TV kalah di Pemilu 2014

Harapan kita seperti itu

Bukankah cerita-cerita di buku "Bokis" tidak banyak yang mengenai politik?

Ada beberapa. Mungkin buku "Bokis 2" saya akan khususkan ke perselingkuhan politik di media

Di buku Bokis malah ada cerita mengenai artis minta difoto dan membuka pakaiannya sehingga Anda gemeteran. Mengapa?

Iya karena waktu itu saya baru pertama kali. Jika sudah lebih berpengalaman menjadi jurnalis mungkin saya akan tidak lebih gemeteran di situ.

Saya sangat tersentuh membaca buku tersebut karena itu pengalaman real dan setahu saya tidak ada yang dikarang. Apakah ada perasaan bahwa menulis buku humor seperti itu membuat Anda dipandang konyol oleh sebagian masyarakat?

Ada beberapa teman yang mengatakan itu karena dianggap mempermalukan diri sendiri dan bahkan mempermalukan profesi jurnalis. Tapi menurut saya, yang paling bagus adalah melakukan otokritik. Saya jurnalis. Mungkin untuk sesama jurnalis lebih mudah menerimanya kalau saya yang menulis daripada orang lain yang menulis. Kenyataannya, begitu saya menulis pembenci saya di twitter makin banyak.

Banyak juga yang sebenarnya mempunyai keinginan dan keresahan yang sama diantaranya teman-teman dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI), sehingga ketika peluncuran pun mereka bersama-sama menyokong. Ada yang menyumbang kue, tempat, dan makanan. Saya hanya datang "bawa badan" sewaktu peluncuran. Itu membuat saya merasa terdukung betul karena mereka mempunyai keresahan yang sama. Melihat bahwa media kita sudah terlalu rancu, terlalu banyak memberitakan sesuatu yang dipabrikasi. Sementara kita sudah menganggap fabricated news atau berita-berita yang dipabrikasi terlalu banyak menipu publik.

Saya senang bahwa ada hero yang menjadi dikenal bukan karena bohongnya, tetapi justru kebersihan dan kejujurannya. Apakah orang semacam Anda yang sudah menjadi hero tidak dirayu oleh partai-partai politik untuk dijadikan ikon mereka?

Sejak lama malah diminta untuk menjadi walikota di Bekasi. Di wilayah yang terdapat pabrik-pabrik dan saya tinggal di daerah situ. Waktu itu saya sempat diminta untuk menjadi salah satu tim sukses. Saya hampir bilang iya karena saya suka dengan nilainya. Tapi di depan mata saya dia memanggil seseorang dan pemilik biro survei lalu mengatakan, "Pak Maman bagaimana cara mengatur peraihan survei menuju ke hari-H?" Hal itu yang membuat saya mundur lagi. Menurut saya, "Kok malah dimanfaatkan untuk kepentingan yang akhirnya menipu lagi." Kemudian saya dimusuhi dan ada stasiun TV yang mengancam bahwa tidak akan menerima lagi kreativitas saya.

Apa profesi Anda sekarang, apakah masih di jurnalistik?

Saya sekarang lebih di dunia penulisan. Saya sedang menyiapkan enam buku lagi dan mungkin akan lebih kelam lagi buku berikutnya. Buku-buku tersebut mengenai pengalaman saya. Misalnya di buku yang ketiga, saya akan mengungkap hasil dari skripsi saya tentang pola pemerasan dalam kepelacuran lesbian di Jakarta. Saya akan membuka dunia gelap. Saya akan membuka lima kisah hidup dengan judul sederhana, "Di mana matahari tidak pernah bersinar" yaitu tentang penjualan anak dan hal lainnya.

Berapa lama Anda mengarungi dunia hitam untuk skripsi dan kelihatannya cukup betah juga?

Selama dua tahun saya sengaja menjadi sopir tanpa ketahuan untuk skripsi saya di jurusan kriminologi tentang pola pemerasan dalam kepelacuran lesbian. Temanya sangat sempit. Komunitas tersebut cukup banyak anggotanya karena harganya tinggi. Korban pemerasan tersebut merupakan perempuan-perempuan muda yang hamil di luar nikah. Mereka awalnya bukan lesbian. Mereka ditampung, dibantu kelahirannya, dibantu pengguguran kandungannya, dan dibantu biaya hidupnya. Setelah itu mereka disuruh membayar hutang-hutang itu dengan cara menjadi pelacur. Mereka lebih menderita dari perbudakan human trafficking. Mereka tidak dikenal dan tidak ada yang mencari. Ketika saya membuat skripsi itu banyak yang ingin memfilmkan tapi takutnya cuma bersifat sensasional.

Anda tidak mencari sensasi walaupun dalam cerita Anda ini sangat sensasional. Bagaimana Anda bisa menggarap topik yang sensasional tanpa menambah sensasi?

Saya selalu belajar dari Anda tentang antara menatap dan melihat. Saya ingat betul itu. Yang paling menarik yang harus kita munculkan adalah jangan pernah mencampur adukkan opini dengan fakta. Biarkan fakta berbicara apa adanya tanpa kemudian kita melebih-lebihkan.

Saya betul-berul merasa mempunyai hutang budi yang sangat besar kepada mereka para narasumber saya karena merekalah saya bisa menjadi sarjana. Saya melihat penderitaan mereka. Saya melihat orang yang sudah terjebak di dalam dunia trafficking seperti itu susah untuk keluar. Pasti mati bayarannya. Ketika saya ujian skripsi dan mereka hadir di tempat saya ujian skripsi, pesan mereka hanya satu yaitu untuk menyampaikan suara mereka. Tidak ada orang yang ingin masuk dan 20 teman itu sudah menjadi korban sia-sia.

Ini yang akan saya munculkan karena ada satu fenomena yang menarik. Misalnya, mengapa tidak pernah lagi ada lokalisasi disetujui di Indonesia? Mengapa tidak pernah ada perjudian yang dilokalisir di Indonesia? Itu justru karena banyak orang yang bisa hidup dari pelacuran terselubung dan perjudian ilegal termasuk aparat. Kalau dilegalkan maka akan menjadi milik negara, termasuk uang yang beredar di sana. Mereka semua kehilangan lapangan pekerjaan. Tapi orang-orang yang terlibat di dalamnya akan menjadi korban yang susah sekali ke luar dan taruhannya nyawa.

Saya akan mencoba berani menulis ini. Mungkin risikonya cukup besar sama seperti ketika menulis bokis. Orang yang saya tulis hampir membunuh rekan saya seorang jurnalis yang lehernya diputus nadinya. Orang itu sekarang adalah salah satu preman besar di Jakarta. Tapi saya mengungkapkan itu karena saya merasa kita harus mengungkap semua penyimpangan yang ada.