Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Arianto Patunru

Pertumbuhan Ekonomi Setelah Krisis

Edisi 865 | 21 Nov 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Indonesia telah mengalami kemajuan ekonomi yang cukup pesat sejak krisis ekonomi besar yang terjadi pada 1997. Kita akan membicarakan bagaimana meningkatkan daya saing ekonomi Indonesia dengan Arianto Patunru, Research Associate Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPEM-FEUI).

Menurut Arianto, kemajuan ekonomi Indonesia cukup baik terutama di sektor makro seperti pertumbuhan ekonomi, rasio utang, inflasi, dan defisit. Di sisi makro, Indonesia bahkan yang terbaik di regional. Namun Indonesia masih memiliki berbagai tantangan yang harus dihadapi seperti di bidang logistik dan infrastruktur yang mempengaruhi daya saing Indonesia.

Arianto mengatakan pemerintah telah memiliki dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) untuk menghadapi tantangan tersebut. Namun kalau kita melihatnya banyak yang ingin dilakukan. Sebaiknya ambil saja satu atau dua poin dan dikerjakan secara tuntas, sehingga investor melihat bahwa kita bisa melakukannya dengan baik dan berarti poin-poin lainnya seharusnya bisa dilakukan juga. Misalnya, jika kita sudah mempunyai akses kereta dari Bandara ke Stasiun Kota yang dikerjakan sampai selesai, maka hal tersebut akan memberikan sinyal ke investor bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang serius, sehingga hal lain juga bisa dilakukan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Arianto Patunru.

Kemanakah ekonomi Indonesia berjalan dalam 5 hingga 10 tahun terakhir? Secara lugu dan dari sudut pandang orang asing bahwa ekonomi kita baik-baik saja namun mengapa banyak sekali keresahan dalam masyarakat?

Jika dilihat dari segi makro, ekonomi kita bagus bahkan mungkin salah satu yang terbaik di regional saat ini. Misalnya, pertumbuhan cukup tinggi rata-rata 6%, inflasi terkendali di bawah 5%, dan defisit anggaran kurang dari 2%. Semuanya tampak bagus, apalagi utang sebagai rasio terhadap produk domestik bruto (PDB) kurang dari 25%. Kita bisa membandingkannya dengan negara-negara yang terkena krisis kemarin, misalnya Eropa. Indonesia bagus sekali dilihat dari angka-angka seperti tadi. Akhir-akhir ini juga ketika krisis mulai masuk ke regional seperti ke East Asia, South East Asia, South Asia, dan seterusnya memang pertumbuhan mulai agak melambat. Namun secara agregat Indonesia masih menunjukkan posisi yang cukup baik. Misalnya, dilihat dari investasi terus mengalir masuk. Namun kita juga harus fair melihat masih ada beberapa tantangan, salah satunya di aspek ketimpangan. Angka-angka ketimpangan masih cukup tinggi. Sedangkan aspek sosial lain seperti kemiskinan dan pengangguran sudah mengalami penurunan. Memang sudah ada perkembangan di hal tersebut, namun ketimpangan masih tinggi termasuk ketimpangan yang tidak bersifat uang atau nonmoneter seperti akses sanitasi dan air bersih. Hal-hal tersebut masih menjadi tantangan sekarang.

Apakah masalah-masalah itu merupakan akibat pilihan politik yang kita lakukan ataukah masalah yang memang muncul dalam perjalanan ekonomi suatu negara? Apakah ada keputusan-keputusan salah yang telah kita ambil, dan apakah keputusan yang benar menghasilkan kestabilan ekonomi?

Jika kita melihat ke belakang pada 1997-1998 ada Asia Financial Crisis (AFC). Pada saat itu pertumbuhan kita drop hingga negatif, dan merupakan salah satu yang paling jelek. Angka -13% merupakan yang paling jelek di regional dan dunia. Kebetulan krisisnya di Asia. Namun belajar dari sakitnya saat itu, pemerintah kemudian melakukan perbaikan di kebijakan.

Apakah perbaikan yang dilakukan karena waktu itu pemerintahnya juga berganti?

Waktu itu pemerintah berganti lalu keadaan diperbaiki, misalnya kebijakan di bidang perbankan, fiskal, dan iklim investasi menjadi lebih bagus. Ketika terjadi krisis kembali yang disebut Global Financial Crisis (GFC) pada 2008 dari Amerika. Yang mengejutkan ternyata kita mempunyai daya tahan yang lebih. Ekonomi Indonesia pada 2008 masih tumbuh 4,5%. Pada saat itu hanya tiga negara yang bisa bertahan dengan pertumbuhan ekonomi yang impresif yaitu China, India dan Indonesia. Negara-negara lain bahkan minus pertumbuhannya. Jawaban yang sering saya berikan jika ditanya orang luar mengenai penyebab Indonesia bertahan ada dua faktor, yaitu good policy dan good luck. Jadi memang tidak bisa dipungkiri juga ada beberapa blessing in disguise.

Good Policy dilakukan oleh good people, betulkah?

Ya, ada good people dan kemudian ada faktor good luck. Good luck itu seperti ketergantungan kita kepada perekonomian internasional secara relatif dengan negara lain masih sedikit, kurang dari 30%. Sementara negara-negara lain misalnya Thailand sebaliknya mencapai 70%, dan Singapura 200%. Angka sebesar itu karena ada re-export dan hal-hal lain. Banyak orang mengatakan bahwa krisis yang masuk ke Indonesia kecil karena perdagangan yang dilakukan juga kecil. Banyak juga yang kesimpulannya terlalu jauh. Mereka berargumen bahwa kalau demikian maka kita kurangi saja perdagangan dengan negara lain. Saya kira hal tersebut misleading. Setiap kita berbicara dengan pengusaha manufaktur dan berbagai pihak di Jakarta, mereka selalu mengeluh bahwa transportasi dan logistik jelek. Itu berarti sebenarnya mereka ingin ekspor lebih banyak. Ekspor kita kurang bukan karena kita tidak mau ekspor tapi karena kita tidak mampu. Ketidakmampuan itu merupakan masalah inefisiensi, logistik, dan infrasturktur, sehingga ketika di sisi makro bagus kemudian ada masalah di mikro berupa ketimpangan yang sehari-hari kita lihat.

Inefisiensi ada di birokrasi dan infrastruktur. Infrastrukturnya terbagi dua yaitu infrasturktur kasar berupa jalan, jembatan, dan pelabuhan. Infrastruktur kedua yaitu infrastruktur halus berupa sumber daya manusia. Jadi kita masih mempunyai tantangan di situ. Kita berhasil mengatasi krisis yang terjadi belum lama ini dengan cukup baik. Saya kira kita bisa berbangga namun kemudian jangan terlena karena kita masih mempunyai banyak sekali tantangan yang harus kita hadapi dan saya kira yang paling penting saat ini adalah logistik dan infrastruktur.

Tadi disinggung krisis 2008 disebabkan adanya kelebihan utang dalam pasar uang dan pasar real estate Amerika. Namun ada yang mengatakan krisis 2008 terjadi karena persoalan Bank Century?

Saya kira itu tidak benar. Saya pernah menulis di salah satu Koran. Kita memang tidak bisa menghitung dengan pasti berapa nilai rupiahnya tapi kalau dibandingkan dengan yang kita lakukan pada 1997-1998 dan 2008-2009 seolah-olah secara tidak langsung kita menyelamatkan perekonomian hampir sekitar 4 atau 5% dari GDP. Itu angka yang besar. Apakah karena kita pemerintah pada saat itu melakukan bailout terhadap Century? Itu tidak bisa kita buktikan. Tapi kita bisa buktikan bahwa kita selamat. Jadi ada kemungkinan itu disebabkan kita bailout Bank Century. Cuma pertanyaannya kemudian adalah apakah itu kebijakan yang tepat? Anda bayangkan saja ada orang berbaris di anjungan tunai mandiri (ATM). Apa yang Anda pikirkan? Pasti kalau orang berbaris panjang di ATM maka saya harus ambil uang juga. Itu kemudian berangsur-angsur bukan hanya di ATM itu saja namun hingga di bank lain pun orang melakukan hal sama. Itu yang dimaksudkan sistemik, termasuk juga melalui transfer. Hal itu berbahaya karena negara-negara sebelah kita sudah mulai melakukan penjaminan 100%. Pada saat itu kita tidak sampai 100% lalu kemudian banyak uang yang mengalir ke luar. Itu membahayakan perekonomian pada saat itu. Yang dilakukan pada saat itu sebenarnya, menurut saya, analoginya sama dengan di perkampungan ada satu kebakaran maka harus diselamatkan dahulu, terlepas siapapun yang ada di dalam perkampungan itu.

Pelakunya juga sudah kabur dan ditangkap.

Benar sekali. Kalau keadaan tidak diselamatkan dulu, yaitu dengan analogi tadi tidak dihilangkan apinya, maka nantinya akan menjalar kemana-mana.

Di mana sebenarnya faktor krusial daya saing kita karena kita harus mulai bersaing?

Saya membawa data dari laporan daya saing dunia paling baru. Di sini kita agak turun 4 point, dari 50 pada tahun lalu sekarang menjadi 46. Namun kita tidak usah gusar dengan angka ini, yang penting kita lihat apa saja komponen-komponennya sehingga kita bisa mengetahui target yang harus diperbaiki. Jika kita melihat komponen-komponennya di sini, yang paling bagus justru seperti yang kita bicarakan selama ini yaitu di segi makro seperti pertumbuhan dan inflasi terjaga, lalu defisit terkendali, di samping utang yang kecil. Itu bagus semuanya. Jadi itu yang memberikan kita point tinggi. Yang memberikan point jelek masih infrastruktur kemudian labour market yang tidak efesien. Misalnya, di sini kita sekarang wawancara. Ada yang mewawancarai, ada yang menangani kamera, dan ada yang berada di komputer. Itu sebenarnya out source. Tidak bisa semua dilakukan sendiri. Tapi sekarang kemudian ada yang namanya resistensi terhadap outsourcing atau yang kita kenal sekarang sebagai alih daya. Menurut saya, dalam hal ini kita harus hati-hati karena alih daya sebenarnya justru menguntungkan mereka yang baru mau kerja, dan kita mempunyai masalah pengangguran.

Apakah itu karena tenaga kerja yang sudah ada di dalam negeri menjadi susah ditingkatkan karena masuknya tenaga kerja dari luar?

Bukan begitu maksudnya. Misalnya, sebuah perusahaan memiliki tenaga kerja 50 orang. Jumlah 50 ini sudah mencapai efesiensinya, artinya mereka bekerja bagus semua secara optimal. Kemudian saya mau melakukan ekspansi. Ketika saya mau ekspansi, saya ingin yang bekerja di departemen A orang lain lagi. Itu saya ambil orang dari luar. Ini sebenarnya out source. Hal ini sebenarnya bagus karena menunjukan dinamika efesiensi dari perekonomian dan juga sekarang menjadi penting. Itu karena Indonesia mulai masuk apa yang disebut sebagai jaringan produksi regional, bahkan global. Salah satu karakteristik dari jaringan ini adalah outsourcing. Contohnya di Amerika, jika menelepon customer service credit card maka yang menjawab adalah tenaga kerja di India. Begitu juga di China. Itu karena sekarang untuk Indonesia kita tidak bisa lagi mengatakan keunggulan kita adalah upah buruh yang murah. Seharusnya kita bangga karena upah buruh mulai naik, artinya produktivitasnya harusnya mulai naik. Kalau kita masih mengatakan kita masih unggul karena upah buruh yang rendah, saya kira hal tersebut sudah tidak. Faktanya saja upah kita sudah empat kali dari Bangladesh. Kita tidak bisa lagi fokus ke upah buruh yang rendah. Hal tersebut juga dialami Malaysia beberapa puluh tahun yang lalu ketika upah naik sehingga untuk tingkat yang paling bawah tidak ada orang Malaysia yang mau kerja di sektor itu. Kemudian mereka out source ke orang Indonesia. Sehingga sebenarnya saling menguntungkan.

Bukankah di negara seperti Brunei hal tersebut lebih ekstrim?

Benar, namun kita harus takut juga. Kita harus memperjuangkan untuk pekerja berupa kesempatan kerjanya, asuransinya dan segala hal yang seperti itu. Namun juga menurut fleksibilitas pasar kerja yang telah membuat daya saing kita rendah. Ini juga harus dicari solusinya. Misalnya, membuat pekerja lebih mobile, lebih mudah berpindah antar sektor. Bahasa Inggris juga salah satu yang menjadi isu. Kemudian juga ada masalah infrastruktur seperti kualitas pelabuhan, listrik yang sering padam.

Faktor lainnya cukup bagus seperti sektor makro yang paling bagus. Setelah itu di sektor pendidikan juga lumayan meningkat, dan di sektor kesehatan juga ada peningkatan. Di sisi institusi juga banyak tantangannya. Misalnya dalam berhubungan dengan pelayanan publik di pelabuhan. Waktu yang dibutuhkan untuk klarifikasi impor atau ekspor masih kurang efisien. Bukan berarti progresnya kurang karena kalau kita bandingkan dengan tahun-tahun lalu ada perkembangan. Jadi secara garis besar kita sudah lumayan walaupun di laporan terakhir kita turun ke peringkat 50. Hal itu bukan berarti buruk sekali karena ada beberapa komponen yang bagus

Mana negara Asia yang berada di bawah posisi 50 dan juga di atasnya?

Di Asia kita di bawah Singapura berada di nomor 2, Malaysia nomor 25, Brunei 28, China 29, Thailand 38, kita 50. Di bawah kita ada Filipina nomor 65, Vietnam 75, Kamboja 85, India 59. Biasanya kita membuat perbandingan negara besar yaitu Indonesia, China, India. Ekonomi di antara tiga negara ini juga agak mirip. Pertumbuhan mereka lebih tinggi, namun India sama dengan kita mengalami masalah kemiskinan. Dalam hal daya saing China masih di atas kita tapi India masih di bawah kita.

Kelihatannya semua perlu waktu terlalu lama terutama infrastruktur. Apa sebenarnya yang bisa menjadi akseleator strategis kalau perbaikan ingin dipercepat?

Sebenarnya pemerintah telah memiliki dokumen Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). Namun kalau kita melihatnya banyak yang ingin dilakukan. Menurut saya, ambil saja satu atau dua poin dan dikerjakan secara tuntas, sehingga investor melihat bahwa kita bisa melakukannya dengan baik dan berarti poin-poin lainnya seharusnya bisa dilakukan juga. Jadi kalau kita sudah mempunyai akses kereta dari Bandara ke Stasiun Kota yang dikerjakan sampai selesai, maka hal tersebut akan memberikan sinyal ke investor bahwa kita bisa melakukan sesuatu yang serius, sehingga hal lain juga bisa dilakukan. Saya kira fokus dari MP3EI sudah sangat tepat yaitu infrastruktur dan logistik.

Apakah itu perkembangannya untuk 25 tahun ke depan?

Iya, namun banyak yang dibutuhkan. Kapasitas pemerintah hanya 30%, berarti 70% seharusnya bantuan swasta. Swasta akan masuk dan akan melihat return on investment. Saya kira itu halal hukumnya. Jadi, yang perlu dilakukan pemerintah adalah membuat skema yang menarik bagi mereka. Namun sebelum itu memang harus diberikan semacam contoh yang quick fix bahwa kita bisa melakukan sesuatu. Jadi mereka percaya bahwa ketika mereka masuk tidak ada lagi masalah pembebasan tanah, misalnya. Mereka tinggal menaruh investasi dan setelah menunggu beberapa tahun lagi mereka mendapatkan hasilnya.