Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Triana Dharmayanti Akbar

Semua Harus Dukung Dokter Kecil

Edisi 854 | 06 Aug 2012 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Setiap 23 Juli kita memperingati Hari Anak Nasional. Satu kegiatan anak-anak yang membanggakan adalah Dokter Kecil, yaitu mereka menjadi kader pejuang cilik kesehatan. Mereka berperan penting untuk turut mensosialisasikan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) yang menjadi satu elemen utama dalam mendukung terwujudnya masyarakat Indonesia yang lebih sehat. Kita akan membicarakan Dokter Kecil dengan dr. Triana Damayanti Akbar Sp.A, Wakil Sekjen II Ikatan Dokter Indonesia periode 2009-2012.

Triana mengatakan dengan melihat angka kesakitan penyakit pada masyarakat Indonesia terutama anak-anak, maka PHBS harus kita biasakan di masyarakat. Jadi harus kita bentuk dan kita ajak untuk bersama-sama melakukannya. Kami sadar kalau orang dewasa akan sedikit sulit untuk mengubah perilakunya, walaupun sudah ada keinginannya. Yang kita anggap paling efektif adalah melatih mereka sedari kecil, dan yang paling mudah untuk mengajak anak-anak adalah lewat teman sebaya (peer group) dalam hal ini program Dokter Kecil yang merupakan bagian dari Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Menurut Triana, kegiatan ini sebetulnya sudah berjalan cukup baik, tetapi di setiap provinsi memiliki perbedaan dalam hal pemberian dukungan. Jadi kami sangat berharap otonomi daerah tidak menjadi alasan atau kendala program yang sangat bagus bisa menjadi tidak merata kualitasnya di seluruh Indonesia. Kami juga berharap teman-teman Dokter Kecil mendapat dukungan dari sekolahnya. Mereka memerlukan dukungan berupa bimbingan dari guru-gurunya. Jadi dia tidak berjuang sendiri di sekolah. Jangan lupa, dia tidak hanya kita harapkan berbicara di sekolah atau menjadi teladan di sekolah, tetapi di lingkungan keluarganya, minimal itu yang paling membantu.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Jelaswari Pramodhawardani sebagai pewawancara dengan narasumber Triana Damayanti Akbar. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar dan usulan.

Saat ini masih sedikit yang mengetahui Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) 2010 menunjukkan persentase rumah tangga yang memenuhi kriteria perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) dengan kategori baik secara rata-rata nasional hanya 35,68%. Sedangkan persentase penduduk yang berperilaku benar dalam cuci tangan yaitu memakai sabun dan air mengalir secara rata-rata nasional hanya 24,48%.

Yang membuat kita cemas dalam hal ini adalah saat kita merujuk ke data statistik, yaitu ternyata 31,8% siswa sekolah dasar (SD) mengalami kecacingan di Indonesia. Kasus cacingan terbanyak justru pada anak berumur 5 14 tahun. Tingkat kejadian cacingan bisa dicegah dengan PHBS seperti cuci tangan pakai sabun (CTPS). Sebagai upaya edukasi dan sosialisasi PHBS kepada siswa SD ada program Dokter Kecil Award yang digiatkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Apa yang melatar belakangi diadakannya Kegiatan Dokter Kecil Award ini?

Kami sebagai bagian dari Pengurus Besar IDI menyadari bahwa dengan melihat angka kesakitan penyakit pada masyarakat Indonesia terutama anak-anak, maka PHBS harus kita biasakan di masyarakat. Jadi harus kita bentuk dan kita ajak untuk bersama-sama melakukannya. Kami sadar kalau orang dewasa akan sedikit sulit untuk mengubah perilakunya, walaupun sudah ada keinginannya. Yang kita anggap paling efektif adalah melatih mereka sedari kecil, dan yang paling mudah untuk mengajak anak-anak adalah lewat teman sebaya (peer group) dalam hal ini melalui Dokter Kecil. Alhamdulillah, program Dokter Kecil sudah dijalankan oleh pemerintah melalui Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Apakah dulu sudah memakai kata Dokter Kecil?

Sebetulnya sudah, seingat saya dari zaman saya SD pun sudah mendengar ada Dokter Kecil. Hanya saja di sekolah saya tidak ada. Mungkin juga sekolah yang melaksanakannya belum sebanyak sekarang. Namun program tersebut memang ada dan itu bagian dari UKS. Dalam hal ini tidak mungkin kita berharap hanya dari guru UKS. Pasti mereka mempunyai agen-agen atau istilahnya asisten saat di kelas yaitu si muridnya sendiri. Lalu mereka dipanggil sebagai Dokter Kecil.

Jadi sebetulnya IDI hanya ingin membantu mendukung program pemerintah agar program UKS lebih menarik, selain memang program ini sudah berjalan dan sudah bagus sekali. Pemerintah sangat serius dalam melangsungkan program UKS ini, baik dari Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan. Kita berharap award ini bisa membuat anak-anak SD lebih tertarik untuk menjadi Dokter Kecil, dan Dokter Kecil juga lebih tertarik menjadi Dokter Kecil yang mumpuni. Yang tidak sekadar mempunyai nama Dokter Kecil tapi memang karena dia mampu. Jadi kalau ada award, mau tidak mau dia harus berusaha lebih baik sebagai Dokter Kecil.

Jadi Dokter Kecil Award itu sebetulnya sasaran atau targetnya di SD-SD. Apakah ada kriterianya, seperti batas usia atau lainnya?

Kami hanya menyelenggarakan lomba. Itu adalah program pemerintah. Yang bisa ikut Dokter Kecil adalah siswa kelas 4 - 5 SD, dan ada seleksi untuk menjadi Dokter Kecil, Dari sekolah juga ada kriterianya, misalnya prestasi akademik dia tidak boleh di bawah 10 besar karena nanti akan ada banyak kegiatan yang mungkin harus meninggalkan pelajaran, atau sebaliknya dia juga harus menyerap banyak ilmu. Kalau dia dalam akademik sedikit lemah mungkin akan sulit.

Kemudian ada pelatihannya, diseleksi kembali, tapi itu tergantung sekolah masing-masing. Biasanya makin serius sekolah tersebut dalam menjalankan program ini makin paripurna juga programnya. Di sana akan semakin berjenjang. Jadi untuk sampai pada tahap mereka menggunakan seragam Dokter Kecil - dan seragam Dokter Kecil se-Indonesia sama akan menjadi suatu kebanggaan bagi mereka karena ada tahapannya untuk bisa menggunakan seragam tersebut.

Apa kira-kira yang diajarkan Dokter Kecil di sekolah dan lingkungannya?

Awalnya kita hanya terlibat pada kegiatan Dokter Kecil Award. Setelah terpilih menjadi Dokter Kecil, mereka mendapatkan materi-materi yang banyak sekali, seperti pengetahuan tentang kantin sehat dan makanan sehat. Tentu saja juga mengenai penyakit-penyakit ringan, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) beserta materi dan praktiknya. Itu adalah sebagian contoh program yang dibekali kepada mereka.

Mereka mendapat jadwal piket untuk bertugas, dan akan bertanggung jawab pada kegiatan UKS dan guru UKS. Bila ada temannya yang sakit, itu menjadi tanggung jawab Dokter Kecil yang bertugas di bawah pengawasan guru UKS. Seperti itulah program-program yang dijalankan di sekolahan sehari-hari. Dokter Kecil diharapkan tidak hanya untuk mereka sendiri tetapi juga dapat mengajak rekannya. Biasanya dokter kecil juga dibekali dengan kemampuan berbicara, seperti layaknya motivator kecil.

Apa saja yang dilombakan di Dokter Kecil Award?

Kegiatan Dokter Kecil Award yang dilaksanakan IDI telah diselenggarakan sejak 2008. Untuk kriteria lomba, kita sudah membuatkan panduannya. Lomba ini tidak langsung di tingkat nasional. Kita bekerja sama dengan IDI wilayah dan cabang. Kita menyurati cabang-cabang mengenai pelaksanaan Dokter Kecil Award.

Kriteria di cabang maupun wilayah sama, walaupun untuk Grand Final di Jakarta lebih kompleks. Kriteria yang utama adalah mereka harus ngelotok betul ilmu mengenai Dokter Kecil karena mereka memiliki buku panduan yang dibuat oleh Kementerian Kesehatan dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Kita pun memiliki buku panduan yang telah dibuat sejak 2009, itu juga dapat dijadikan referensi untuk mereka.

Kedua, tingkat kecerdasan sangat diperlukan walaupun itu bukan yang paling mutlak. Kami mengadakan psikotest karena saat grand final Dokter Kecil Award di Jakarta kita memberikan pembekalan, sehingga mereka harus memiliki daya tangkap, tidak hanya menghafal, dan pada akhirnya diberi ilmu baru yang susah. Selain IQ dan daya tangkap, penilaian mengenai kepribadian juga besar. Ketika psikotest dilangsungkan, hasil yang keluar tidak hanya kecerdasan, tetapi poin-poin kepribadian pun akan muncul seperti kemandirian, leadership, termasuk caring pun dinilai. Poin-poin tersebut kami nilai. Aspek sosial pun dilihat apakah dia peduli dengan sekitar atau tidak. Kami juga mengadakan test pidato dan semacamnya.

Berbagai aspek dinilai, yang mengujinya pun juga banyak. Jadi testnya beragam. Nilainya pun menjadi beragam. Tahun 2008, Dokter Kecil Award hanya diselenggarakan di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, dan kami didukung oleh pemerintah DKI Jakarta. Akhirnya pada 2009 menjadi tingkat nasional. Alhamdulillah ibu negara hadir dan memberikan piala bergilir.

Untuk juara tahun ini, yang grand finalnya diadakan pada Juli, adalah dari Jawa Barat. Tahun lalu dari Aceh. Yang menarik, saat itu Aceh untuk pertama kalinya ikut lomba, dan saya yakin itu membuat daerah lain bersemangat. Artinya, siapapun bisa menjadi juara Dokter Kecil.

Dokter menjelaskan dengan gamblang kepada kami tentang event yang telah di inisiasi oleh IDI tadi. Apa yang menjadi catatan dokter untuk penyelanggaraan Dokter Kecil, yang awalnya diharapkan lahir agen perubahan kesehatan, setidaknya untuk peer group?

Sebenarnya catatan, atau perhatian, atau harapan saya dan mungkin juga teman-teman di IDI adalah bahwa program ini harus dibagi dua. Pertama, untuk kegiatan award maupun juga program Dokter Kecil secara umum.

Khusus untuk event-nya, harapan kami tentu saja ini mendapat dukungan dari pemerintah daerah (Pemda) setempat. Dari pengalaman tahun-tahun sebelumnya, banyak yang berpotensi untuk menjadi Dokter Kecil terbaik tapi ternyata pada saat seleksi tingkat nasional di Jakarta mengalami kesulitan karena pendanaan. Kalau IDI termasuk juga di tingkat wilayah belum tentu bisa mendanainya. Kami adalah organisasi nirlaba dan tidak memproduksi sesuatu, sehingga tidak bisa memberikan dana untuk membantu. Jadi kami memang sangat berharap event ini didukung oleh semua stakeholder. Artinya pemerintah, swasta dan tentu saja seluruh kelompok masyarakat. Kami merasakan sekali hingga tahun ini pun ada Dokter Kecil dari 10 provinsi yang tidak bisa berangkat ke Jakarta.

Apa penyebab hal itu?

Itu karena kendala biaya. Sebenarnya meraka mendapatkan infonya. Meraka mengadakan lomba di wilayahnya, tapi kami tidak bisa mengirimkan wakilnya ke Jakarta. Sementara ada beberapa Pemda yang kami lihat antusias dengan memberikan dukungannya untuk mengantar wakil daerahnya ke seleksi tingkat nasional di Jakarta. Kami berterimakasih sekali kepada Pemda tingkat satu dan beberapa provinsi yang mendukung. Bahkan mereka meminta lebih dari satu wakil untuk dikirim. Akhirnya karena begitu antusiasnya, kami mengakomodasi hal itu pada menit-menit terakhir.

Yang menjadi kendala terbesar adalah saat pegiriman wakil untuk seleksi tingkat nasional. Makin jauh wilayah asal Dokter Kecil maka makin besar biayanya. Jadi belum tentu semuanya bisa. Sementara itu untuk beberapa daerah hanya mengirimkan satu atau dua orang mungkin biayanya tidak seberapa. Itu karena mereka ke Jakarta juga tidak hanya untuk mengikuti lomba bagi dirinya. Mereka akan mendapat pembekalan saat dikarantina. Mereka akan mendapatkan materi-meteri baru lagi. Kami dari pantia dan PB selalu menyampaikan kepada mereka, "Adik pulang dari sini titip ya. Sampaikan materi yang didapat pada teman-temannya, update-update ilmunya".

Di sini yang memberikan materi adalah para ahli, yang belum tentu bisa mereka bisa mendapatkannya di provinsi masing-masing. Kami berharap para stakeholders bisa mendukung catatan dari kami ini, sehingga tahun depan seluruh provinsi dapat berpartisipasi hingga tingkat nasional.

Kemudian untuk program Dokter Kecil, kami ingin mengucapkan terima kasih sebesar-basarnya kepada pemerintah Indonesia terutama Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan juga pihak-pihak lain yang telah membantu seperti Kementerian Agama karena beberapa peserta ada yang berasal dari madrasah ibtidaiyah. Kegiatan ini sebetulnya sudah berjalan cukup baik, tetapi memang di setiap provinsi memiliki perbedaan dalam hal pemberian dukungan. Jadi catatan untuk program kami adalah kami sangat berharap otonomi daerah tidak menjadi alasan atau kendala program yang sangat bagus bisa menjadi tidak merata kualitasnya di seluruh Indonesia.

Khusus untuk sekolah, kami tentu saja berharap teman-teman Dokter Kecil mendapatkan juga dukungan dari sekolahnya. Mereka mereka memerlukan dukungan berupa bimbingan dari guru-gurunya, dan tentu saja tidak hanya dari guru UKS yang paham dan yang mengerti menjadi role model tapi juga semua guru. Jadi dia tidak berjuang sendiri di sekolah. Jangan lupa, dia tidak hanya kita harapkan berbicara di sekolah atau menjadi teladan di sekolah, tetapi di lingkungan keluarganya, minimal itu yang paling membantu.

Kami berharap tentu saja program ini bisa dievaluasi karena kami belum sampai di sana. Tetapi kami mendapat info bahwa Kemenkes sudah mulai menggandeng swasta untuk mengevaluasi hasil dari kegiatan ini.

Selain Kemenkes dan Kemendikbud, siapa lagi mitra IDI bekerjasama untuk membantu kegiatan ini?

Setiap tahun kami selalu mendapat dukungan dari sponsor karena biayanya luar biasa besar. Pada tahun ini adalalah tahun kedua dimana kami mendapat dukungan yang sangat besar dari PT Unilever Indonesia, Tbk.

Kerja sama dengan PT Unilever Indonesia Tbk., melalui lifebuoy?

Ya, jadi ini tahun kedua kerja sama antara PT Unilever Indonesia, Tbk., dan IDI. Jadi mungkin bisa dilihat dimana-mana, corporate image-nya juga sudah sejalan. Kegiatan ini merupakan sinergi dari PT Unilever Indonesia, Tbk., Kemenkes, Kemendikbud, Kementerian Agama, dan IDI.

Apa yang menarik dari catatan Dokter tentang award ini?

Mereka memang sangat unik, pendekatan mereka selalu berbeda setiap provinsi. Cara penyampaian mereka juga berbeda. Biasanya kalau dari Sumatera, bicaranya lebih berapi-api karena pendekatannya memang berbeda. Mereka sudah pintar dalam hal itu.

Bagaiman dari aspek kesehatan?

Kemampuan mereka banyak sekali cirinya. Karakter mereka ke luar selama di Jakarta. Kita tidak mau mereka mempunyai kemampuan yang seragam. Contoh, kita selalu menekankan kepada yang menang dan ini selalu ada pembekalan khusus yaitu kemampuan tanggap bencana. Itu karena berbeda wilayah, berbeda juga bencana yang dialami. Kalau dari Jakarta, meraka harus fasih soal banjir. Kalau dari Yogyakarta harus fasih tentang gempa. Itu contohnya. Mereka yang mengalami bencana-bencana tersebut jauh lebih menguasai dan memang kita berharap begitu. Jadi kita sewaktu menguji melihat juga dari mana asalnya.

Dengan kata lain, ketika Dokter Kecil dari Aceh menang tahun lalu berarti ketika itu dia berbicara juga tentang bencana di wilayahnya, betulkah?

Ya, Ghifari yang menang tahun lalu hadir pada pemberian award tahun ini untuk tradisi serah terima berupa menyerahkan piala bergilir. Ghifari memang luar biasa, terlihat sekali potensinya untuk mengajak teman-temannya dan memang pengalaman bencana itu menjadi salah satu yang dia sampaikan. Tapi sebetulnya bukan hanya itu, kita tetap melihat secara umum yaitu kemampuan mangajak dan teladannya memang luar biasa. Pada tahun ini kita baru mengetahui kalau dia mau menjadi dai. Jadi Ghifari masuk sekolah pesantren karena dia memang mau menjadi ustadz. Saya pikir dengan pembekalan Dokter Kecil dan dia yang akan berbicara dengan banyak orang terlihat potensinya memang sudah mengarah ke sana. Saya pikir, tidak salah waktu itu memilih dan membekali bermacam-macam materi karena nanti dia akan berbicara dengan orang banyak.