Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Chrisbiantoro

Pelanggaran HAM Masih Tetap Dibiarkan

Edisi 822 | 23 Des 2011 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Sekarang kita akan bicara mengenai hal yang sangat penting. Dua minggu lalu kita diguncangkan oleh kejadian seorang pemuda aktifis bernama Sondang Hutagalung membakar diri di depan Istana Negara sampai meninggal. Kita akan membicarakannya dengan Chrisbiantoro, Staf Divisi Advokasi di Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS)

 

Chrisbiantoro mengatakan bahwa dari ketidak-adaan pesan, tidak ada kata-kata sebelum aksi Sondang Hutagalung membakar diri di depan Istana Negara, maka kami menyimpulkan bahwa sahabat kami ini melakukan aksi bakar diri karena dilatarbelakangi oleh profesi dia sebagai aktifis mahasiswa dan terutama kekecewaan dia terhadap pemerintahan SBY dan Boediono atas ketidakmauan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Itu karena sebelumnya Sondang termasuk orang yang paling “getol” mendampingi korban melakukan aksi dalam bentuk apapun, termasuk mendampingi aksi setiap hari kamis di depan Istana Negara. Kemudian kami menyimpulkan bahwa itulah bentuk kekecewaan seorang sahabat kami yang melihat tidak ada lagi celah bagi kita, bagi para korban untuk memperjuangkan keadilan.

 

Menurut Chrisbiantoro, kalau kita membandingkan situasinya dengan beberapa presiden setelah Soeharto, memang HAM sempat memiliki harapan yang cukup tinggi sewaktu era Gus Dur. Ketika itu Gus Dur berani mengadili Kasus Tanjung Priok. Kemudian juga berani mendorong beberapa kasus pelanggaran HAM untuk diselidiki oleh Komnas HAM. sejak pasca era Gus Dur grafik penegakkan HAM menurun tajam sampai hari ini. Salah satu indikasinya adalah HAM tidak kunjung menjadi kebijakan politik. Sepanjang pemantauan kami, isu HAM  muncul ketika mendekati Pemilu, ketika ada gesekan-gesekan antar kekuatan politik kemudian butuh pencitraan.

 

Berikut wawancara Perspektif  Baru dengan Wimar Witoelar dan Chrisbiantoro.

Banyak yang mengomentari peristiwa Sondang Hutagalung membakar diri di depan Istana Negara. Kebetulan saya pribadi belum mengomentarinya. Rasanya susah mengomentari kejadian yang sangat kompleks. Ada yang menganggap Sondang itu pahlawan, dan ada yang menganggap ia terganggu jiwanya. Ada yang menganggap itu pernyataan politik dan mencoba ditafsirkan ke dalam garis politik yang dikehendaki. Saya baru melihat satu orang yang menjelaskan ini secara jernih di suatu pagi di stasiun TV. Saat itu Chrisbiantoro menjelaskan apa sebetulnya menurut dia makna atau latar belakang dari bunuh diri tersebut. Chrisbiantoro juga tidak lancang menafsirkan secara mutlak, saya senang satu kalimat yang saya dengar di situ, “Kalau Anda tidak kenal baik dengan Sondang, tolong jangan coba menafsirkannya sebab sangat tidak baik memanfaatkan tragedi ini untuk kepentingan orang. Silakan Anda menjelaskannya.

 

Meskipun peristiwa ini sudah berlalu, kami masih dalam situasi berduka. Tentu saja kami juga terus memberikan semangat kepada keluarga yang ditinggalkan agar diberikan kekuatan. Pada awalnya ketika peristiwa bakar diri yang menimpa kawan kami yaitu Sodang Hutagalung  terjadi, kami memang tidak langsung mengetahui peristiwa ini. Kami baru mengetahui satu hari setelah itu. Ada salah satu kawan dekatnya yang bernama Putri, yang biasa dipanggil Puput,  memberitahu Ibunya Sondang kalau dia mendapat informasi bahwa Sondang berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kemudian Ibu Sondang, Saur Dame Sipahutar menelepon ke Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS). Kebetulan saya yang mengangkat waktu itu, dia bertanya apakah Sondang ada di KontraS? Ibu Sondang bertanya ke kami karena memang sudah satu setengah tahun, selain aktifitasnya berkuliah di Universitas Bung Karno, Sondang menghabiskan waktunya bersama keluarga korban di KontraS, dan berdiskusi dengan saya. Ia kebetulan bergabung dengan komunitas sahabat Munir. Komunitas ini berisi anak muda dari berbagai latar belakang.

 

Setelah kami mengetahui bahwa benar Sondang pelaku peristiwa itu dari identifikasi keluarga, yaitu dari giginya, alis matanya, kakinya yang masih utuh termasuk sepatunya yang dibelikan oleh kakaknya belum lama ini, kami kemudian mencari tahu apa kira-kira motif dia. Karena kita mengenal Sondang  bukan tipikal orang yang emosional, yang meledak-ledak, bukan yang sangat permarah. Dia dikenal sebagai orang yang cukup kreatif. Dari berbagai aksi demonstrasi yang kurang lebih sudah satu setengah tahun dia ikuti, demonstrasi selalu hidup kalau ada Sondang. Dia seorang yang kreatif. Dia membuat teatrikal, dia sendiri bermain di situ. Dia juga membuat alat-alat kampanye yang menarik perhatian publik.

 

Setelah peristiwa itu, kami mencoba mencari tahu lewat keluarganya. Apakah ibunya ada masalah dengan Sondang? Ibunya menjawab tidak ada, bahkan satu minggu yang lalu sebelum kejadian, dia pergi ke gereja bersama. Lalu saya bertanya kepada pacarnya (Puput), dia juga mengatakan tidak ada masalah. 

 

Kami juga sempat kebingungan, lalu apa motif sahabat kita ini karena tidak pernah ada pembicaraan apapun sama kita. Lalu kami mencoba menyimpulkan bahwa ada sinyal, ada titik terang yaitu Istana Negara sebagai tempat yang dia pilih merupakan simbol untuk menyampaikan pesan dia yang sangat kuat. Kami coba buka-buka lagi lembaran  bersama dia, diskusi bersama dia. Memang ada beberapa hal yang membuat dia sangat kecewa terhadap pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Klimaksnya ketika pada 16 Agustus 2011, waktu itu Sondang bersama sekitar 50 keluarga korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM),  membawa 1.000 surat dari Aceh sampai Papua. Kami memasukkan surat itu ke dalam amplop raksasa. Kemudian ketika bermaksud mengantarkan surat itu ke istana, kami dihadang oleh polisi di Monas. Polisi menolak memberikan akses ke kami untuk mengantarkan surat itu. Polisi mengatakan, “Istana sedang sibuk, Sedang ada persiapan untuk 17 Agustus.” Dari situ Sondang kemudian orasi menumpahkan kekecewaannya. Nazaruddin saja yang sudah terbukti sebagai tersangka korupsi, diterima suratnya oleh presiden bahkan dijawab. Ini ada korban HAM dari Sabang sampai Merauke mau kirim surat, mengapa tidak di terima. Lalu ia mulai lebih insentif untuk terlibat dalam diskusi mencari celah kira-kira masih adakah harapan untuk penyelesaian kasus-kasus HAM di Indonesia.

 

Dari situ, dari ketidak-adaan pesan, tidak ada kata-kata sebelum ia melakukan bakar diri, maka kami menyimpulkan bahwa sahabat kami ini melakukan aksi bakar diri karena dilatarbelakangi oleh profesi dia sebagai aktifis mahasiswa dan terutama kekecewaan dia terhadap pemerintahan SBY dan Boediono atas ketidakmauan menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Itu karena sebelumnya Sondang termasuk orang yang paling “getol” mendampingi korban melakukan aksi dalam bentuk apapun, termasuk mendampingi aksi setiap hari kamis di depan Istana Negara. Kemudian kami menyimpulkan bahwa itulah bentuk kekecewaan seorang sahabat kami yang melihat tidak ada lagi celah bagi kita, bagi para korban untuk memperjuangkan keadilan.

 

Kita sekarang mengisi perspektif ini dengan beberapa detail supaya menjadi hidup. Anda di KontraS berada di divisi advokasi. Apakah Sondang berada di KontraS juga?

 

Sondang sebetulnya bukan KontraS, tapi dia bagian dari Sahabat Munir karena KontraS membentuk komunitas yang bermana Sahabat Munir.

 

Berapa lama Sondang dan Anda menjadi aktifis karena hubungan Sondang dengan Anda  unik agar pembaca memiliki gambaran jelas?

 

Saya di KontraS kurang lebih  sudah lima tahun. Sedangkan Sondang sudah 1,5 tahun karena dia mulai kenal dengan KontraS pada akhir 2009. Waktu itu saya bersama beberapa kawan berinisiatif mendirikan organisasi untuk mewadahi anak muda dan mahasiswa yang juga masuk di dalam sahabat Munir, Wadah itu bernama Himpunan  Aksi dan Studi Mahasiswa Marhaenis untuk Rakyat dan Bangsa Indonesia (Hammurabi).

 

Apakah Anda sebagai inisiator di situ?

 

Saya membuat organisasi itu tiga tahun lalu. Sondang mulai kenal dengan HAM dan politik ketika ia berminat masuk ke Hammurabi.

 

Jadi, Apakah tidak ada hubungan langsung dengan korban HAM?

 

Tidak ada.

 

Bagaimana Anda bekerjasama dengan Sondang, bagaimana Anda bisa paling mengenal dia?

 

Waktu itu setelah mengenal Hammurabi, dia berminat untuk masuk. Dia mulai terlibat dalam diskusi setiap Jumat bersama dengan mahasiswa dari beberapa universitas lain. Dari diskusi itu kita mengulas tentang korban, pengalaman negara lain, bisnis militer yang sampai sekarang belum selesai. Tentang pelanggaran HAM di Papua, kita juga membahas beberapa laporan tahunan dari beberapa organisasi HAM. Jadi, dia intens terlibat di situ. Kemudian dari berbagai upaya demonstrasi yang kita buat, tapi tentu saja demonstrasi damai karena KontraS organisasi anti kekerasan, dia juga terlibat. Tiga bulan setelah dia mengenal KontraS, Hammurabi, dan Sahabat Munir, dia kelihatan paling aktif dan setiap demonstrasi dia selalu berada di garis depan.

 

Apakah dia memang memiliki bakat kreatif, atau karena didorong semangat saja dalam dia melakukan pagelaran teatrikal, dan sebagainya?

 

Sebelum dia mengenal KontraS, dia sudah ada bakat seperti itu karena sebelum dekat dengan Kontras Sondang banyak mempelajari ideologi seorang Soekarno, seorang Marhaenisme. Dia pernah bercerita ke saya beberapa kali untuk membuat teater dengan teman-temannya guna mempromosikan ajaran Soekarno.

 

Selain aktifisme itu, apakah Sondang mempunyai perhatian terhadap kuliahnya?

 

Tentu, itu terlihat dari nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) dia. Sondang termasuk mahasiswa yang cukup cerdas dengan memiliki IPK tiga koma ke atas. Dia mahasiswa, yang sepanjang saya berkenalan dengan beragam mahasiswa, termasuk pandai mengatur waktu antara kuliah dan aktifitas lainnya di luar kuliah.

 

Apakah dia lebih tertutup dari orang rata-rata seusianya sampai pacarnya sendiri tidak mengetahui rencananya?

 

Satu hal yang sampai sekarang membuat saya masih penasaran dengan dia adalah dia tidak pernah berbagi soal masalah. Dia pandai menyimpan masalah. Dia orang yang sangat peduli ketika kawannya ada masalah. Itulah Sondang. Dia ada masalah dengan keluarga atau pacar, kita tidak pernah tahu.

 

Ini jelas bukan karena putus asa karena pacar.

 

Bukan. Saya sudah bertanya ke ibu dan bapaknya, pacarnya, dan kampusnya. Semuanya tidak ada masalah. Bahkan ia sedang menyusun skripsi masuk dan sudah masuk ke bab dua.

 

Apakah dia tidak meninggalkan surat atau pesan politik?

 

Kebetulan saat mau melakukan aksi bakar diri, dia baru terpilih menjadi ketua Hammurabi tiga bulan lalu. Dua bulan sebelum non aktif, dia sempat pamit ke kita. Dia mengatakan dia mau menyusun skripsi. Dia juga mengatakan seperti itu kepada teman-temannya.

 

Jadi, aksi dia bakar diri terjadi pada masa non aktif, betulkah?

 

Ya, non aktif di KontraS. Dia terakhir kali ikut demonstrasi pada 21 September 2011 ketika kita memprotes penembakan karyawan Freeport di DPR. Waktu itu dia memerankan sebagai TNI saat mengintimidasi rakyat Papua, dan dia sempat ikut terlibat dialog dengan kaukus parlemen Papua di DPR pada waktu itu. Tapi sebulan sebelum dia melakukan aksi itu, dia kirim layanan pesan singkat (short message servis/SMS) ke beberapa kawan di Hammurabi bahwa dia “titip” Hammurabi.

 

Darimana kira-kira ide bakar diri tersebut?

 

Itu yang membuat kita masih kebingungan sampai sekarang, apa yang melatarbelakangi dia sampai melakukan aksi nekat seperti itu. Sondang sebagai aktifis anti kekerasan cukup clear memahami filosofi anti kekerasan selama ini. Kalau untuk peristiwa di negara lain seperti di Tunisia, Korea Selatan, Vietnam Selatan bahkan di Tibet, itu sekadar wacana pernah terlintas dalam beberapa kali obrolan kita. Tapi tidak ada sinyal sama sekali bahwa dia akan melakukan aksi senekat itu.

 

Kita pernah berdiskusi dengan Sondang. Dia pernah terlintas memiliki pikiran itu dalam beberapa obrolan kita, tapi tidak ada pertanda bahwa ia akan melakukan aksi senekat itu. Dia pernah mempelopori aksi yang sangat nekat yaitu menggembok pagar Komisi Nasional (Komnas) HAM karena pada waktu itu kita kecewa berat dengan Komnas HAM yang tidak mau melakukan penyelidikan di Puncak Jaya ketika terjadi penyiksaan di video Youtube.

 

Kita, sondang, bersama dengan beberapa mahasiswa dari Papua yang ada di Jakarta pergi ke Komnas HAM. Saat tidak mendapat jawaban yang memuaskan, Sondang dan kawan-kawan menggembok pagar Komnas HAM kemudian membuang kuncinya ke got. Sondang juga pernah membuat satu aksi nekat lainnya yaitu menggembok kaki dan tangannya di depan Kejaksaan Agung karena waktu itu dia kecewa dengan Kejaksaan yang tidak mau menindaklanjuti  kasus Munir. Hanya itu saja aksi-aksi yang saya pikir cukup nekat dilakukan oleh Sondang. Itupun dengan penuh perhitungan dan tidak melakukan kekerasan.

 

Waktu dia mengikat diri ke pagar Kejaksaan Agung, apakah itu dirundingkan?

 

Ya, dia mengatakan, “Saya mau mencoba aksi ini Bang.

 

Apakah aksi itu beda dengan yang sekarang?

 

Kalau yang sekarang kita mengetahuinya tentu kita akan cegah.

 

Apakah dia mempunyai gagasan politik, yang juga menemukan jalan buntu seiring dengan kelambanan penanganan HAM. Misalnya, dia tentu mengarahkan aksinya sebagai bentuk ketidak puasan kepada pemerintah SBY-Boediono. Tapi dia baru aktif pada 2009 dimana memang presidennya hanya SBY. Sedangkan kelambanan penanganan HAM terjadi pada semua pemerintah sebelumnya. Apakah itu sikap politisnya?

 

Saya pikir satu setengah tahun belum cukup untuk membuat dia mempunyai satu gambaran politik bagaimana ke depan negara ini memperlakukan isu hak asasi manusia. Tapi satu setengah tahun waktu yang tidak sedikit bagi dia untuk banyak menyerap aspirasi dari korban. Saya pikir sebagai gambaran mengapa dia melakukan aksi itu, saya mencoba merefleksikan dengan beberapa kali kami berinteraksi dengan dia, yaitu dia selalu mengatakan, “Saya itu merasa bahagia kalau saya bisa membahagiakan orang lain. Saya ingin ke depannya, Indonesia tidak lagi menembak rakyatnya, tidak lagi melakukan pelanggaran HAM, saya ingin ke depan tidak ada lagi orang yang dibunuh di Papua.

 

Pandangan politik dia sebenarnya se-simple itu. Dia selalu mengatakan saya ingin berbuat sesuatu sebagaimana yang Cak Munir lakukan dulu. Jadi dia belum membuat semacam skenario politik yang mungkin levelnya cukup tinggi.

 

Kita mengetahui Munir adalah orang yang paling jelas, konsisten dalam perjuangan HAM, tidak mempunyai keinginan parsial dalam politik. Saya ingin mengalihkan fokus pada Anda, tidak bicara soal Sondang. Menurut Anda, apakah saat ini penegakkan HAM  memburuk atau tetap, kalau tetap juga sudah cukup jelek?

 

Sebetulnya kalau kita membandingkan situasinya dengan beberapa presiden setelah Soeharto, memang HAM sempat memiliki harapan yang cukup tinggi sewaktu era Gus Dur. Ketika itu Gus Dur berani mengadili Kasus Tanjung Priok. Kemudian juga berani mendorong beberapa kasus pelanggaran HAM untuk diselidiki oleh Komnas HAM.

 

Tetapi ketika Gus Dur lengser, kenyataannya grafik itu menurun tajam. Ketika pemerintahan  SBY, grafiknya juga menurun cukup tajam. Itu karena dengan sekian banyak peraturan dan sekian banyak komisi yang dimiliki oleh negara, tapi tidak satupun yang berguna untuk penyelesaian kasus pelanggaran HAM. Bahkan dari sekian janji, termasuk kita ketemu langsung dengan Pak SBY pada 26 Maret 2008, tidak ada satupun janji dia yang direalisasikan. Salah satunya adalah memprioritaskan penyelesaian kasus pelanggaran HAM masa lalu, dan mengakui keberadaan korban, tapi itu tidak pernah direalisasikan sampai sekarang.

 

Saya pikir sejak pasca era Gus Dur grafik penegakkan HAM menurun tajam sampai hari ini. Salah satu indikasinya adalah HAM tidak kunjung menjadi kebijakan politik. Sepanjang pemantauan kami, isu HAM  muncul ketika mendekati Pemilu, ketika ada gesekan-gesekan antar kekuatan politik kemudian butuh pencitraan.