Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dharsono Hartono

Pemanasan Global sebagai Peluang Bisnis

Edisi 815 | 07 Nov 2011 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita Dharsono Hartono, perintis dalam bisnis yang mengubah paradigma dari perusakan hutan ke pelestarian hutan. Saat ini ada satu skema yang diluncurkan secara international yaitu Reducing Emission from Deforestration and Degradation (REDD+). Ini upaya mengurangi emisi karbon dengan mengurangi deforestrasi dan perusakan hutan.

 

Dharsono Hartono mengatakan saat melihat hutan, kita harus melihat asetnya bukan hanya kayunya. Kini kita harus melihat lingkungannya sebagai aset utama dan aset jangka panjang dari hutan. Kalau kita menjaga hutan, tata kelola airnya berjalan, biodiversitas binatang-binatangnya juga ada, maka bisa menghasilkan uang. Ini merupakan peluang bisnis baru saat munculnya pemanasan global atau perubahan iklin. 

 

Dia mencontohkan, jika ada hutan seluas 1.000 hektar dan pohon-pohonnya tidak dijaga dan dirawat maka 20 tahun lagi hutan itu bakal hilang dan terbakar. Itu akan memberikan emisi yang cukup tinggi dalam 20 tahun ke depan. Kalau kita punya kegiatan untuk menjaga hutan agar tidak hilang, maka kita menurunkan emisi yang akan direncanakan oleh dunia. Jadi, yang kita perjualkan itu namanya service (jasa) karena kita menjaga hutan. Dalam hal ini ada pihak ketiga yang bernama validator. Mereka yang memvalidasi dan memverifikasi. Secara scientific itu sudah bisa. Di internasional sudah ada standarnya yaitu Verified Carbon Standard (VCS).

 

Berikut wawancara Wimar Witoelar dan Dharsono Hartono

Apa persisnya REDD+?

 

Ini adalah bisnis baru, paradigma baru. Sebenarnya, bisnisnya bukan kegiatan yang aneh. Kegiatannya banyak yang sudah dilakukan masyarakat khususnya oleh komunitas yang tinggal di hutan yaitu menjaga hutan. Masalahnya adalah selama 100 tahun terakhir, di masa industrialisasi, manusia boros dalam mengeksploitasi sumber daya mineral dan lain-lain sehingga mengakibatkan pemanasan global atau perubahan iklim. Masalah ini sudah berlangsung. Jadi berterima kasihlah kepada Al Gore, yang mendapatkan Hadiah Nobel, karena mengangkat perubahan iklim menjadi isu yang diperbincangkan di internasional.

 

Kita mengetahui efek dari perubahan iklim ini nyata. Lihat saja perubahan suhu yang ekstrim sudah terjadi, dan ini benar-benar mengganggu kehidupan manusia di masa depan. Kalau kita lihat sebenarnya sudah tidak asing lagi masalahnya, dan ini sudah mulai dibicarakan oleh internasional, termasuk Indonesia. Itu karena Indonesia mempunyai sumber daya hutan yang sangat besar. Indonesia memiliki hutan tropis termasuk terbesar di dunia. Nomor 1 adalah Brazil, nomor dua Kongo, dan nomor tiga Indonesia. Indonesia memiliki keunikan tersendiri yaitu memiliki lahan gambut yang tidak dimiliki kedua negara tadi.

 

Lahan gambut mengandung karbon tinggi sekali. Mungkin ada pembaca yang mengetahui bahwa pernah terjadi kebakaran besar-besaran pada 1997 - 1998 di Kalimantan Tengah, di zaman Presiden Soeharto ingin membuka lahan gambut 1 juta hektar. Waktu itu  Soeharto mempunyai ide ingin swasembada pangan khususnya beras. Ada lahan yang diidentifikasi 1 juta hektar, dan lahan itu adalah lahan gambut. Menurut advisornya, hutan itu bisa dibuka dan dikonversikan menjadi sawah. Namun mereka tidak memperkirakan bahwa pembukaan lahan tersebut menimbulkan emisi karbon akibat kebakaran. Emisi karbon kebakarannya sampai sekarang masih berlanjut.

 

Jadi proyek itu gagal sama sekali, betulkah?

 

Gagal sama sekali. Inilah yang kita harus cegah. Jadi sebenarnya ada inisiatif dan ada bisnis yang lebih berorientasi berjangka panjang untuk menjaga hutan. Ini bisnis baru dan sesuai paradigma baru bahwa kita bisa berbuat baik untuk lingkungan, bermanfaat untuk masyarakat, dan ada untungnya untuk pemerintah.

 

Dulu kalau orang mempunyai hutan maka cara yang paling jelas untuk menjadi kaya adalah menebang hutannya dan dijual kayunya. Sekarang hutan itu justru harus dipelihara. Bagaimana orang tanpa menebang hutan, tanpa menjual kelapa sawit, atau membuat kertas bisa menjadi kaya melalui suatu bisnis memelihara keutuhan hutan?

 

Kita kembali lagi pada istilah REDD+ tadi, yaitu penurunan emisi dari deforestasi dan degradasi. Seperti kita ketahui sebenarnya hampir 20% dari emisi gas rumah kaca dunia berasal dari sektor yang kita namakan land use, land-use change, and forestry (LULUCF), yaitu pengunaan lahan, perubahan pengunaan lahan, dan kegiatan kehutanan. Jadi kalau kita melihat dari profil dunia, upaya kita untuk menurunkan emisi karbon yang paling murah adalah dari sektor hutan.

 

Jadi mengurangi emisi karbon dengan menjaga atau menumbuhkan hutan, tapi darimana uangnya?

 

Ini karena perusakan dan kebakaran hutan merupakan 20% penghasil emisi gas rumah kaca di dunia. Untuk Indonesia hampir 80% dari emisi gas rumah kaca berasal dari sektor hutan. Jadi  anggaplah satu bumi ini adalah satu gas rumah kaca. Yang mau diusahakan dunia adalah menurunkan emisi dan tetap ada perkembangan ekonomi. Itu yang dipikirkan, dan itu yang harus dilakukan.

 

Contohnya, kalau Indonesia bisa menurunkan emisi, sedangkan emisi di negara maju tetap maka emisi secara netto masih okay. Kompensasinya adalah negara maju yang membuat polusi bisa membayar negara berkembang yang menjaga hutannya.

 

Jadi, uangnya dari negara maju dialirkan pada orang yang menjaga hutan di Indonesia, Brazil dan Kongo. Apakah pengertian menjaga hutan itu adalah hutan yang sudah ada atau yang kosong ditanami? Kalau yang sudah ada, bagaimana bisa dikatakan berkurang karena emisi karbonnya tetap segitu?

 

Begini, ada yang namanya menjaga hutan dan ada juga menanam pohon. Skenarionya, ada suatu areal anggaplah 1.000 hektar. Kalau pohon tersebut tidak dijaga dan dirawat sekarang maka 20 tahun lagi hutan itu bakal hilang dan terbakar. Jadi itu memberikan emisi yang cukup tinggi dalam 20 tahun ke depan. Kalau kita punya kegiatan untuk menjaga hutan agar tidak hilang, maka kita menurunkan emisi yang akan direncanakan oleh dunia.

 

Apakah perhitungannya dilakukan ke depan juga?

 

Selalu ada yang namanya Business as Usual. Jadi, bagaimana untuk ke depannya dibandingkan dengan kegiatan yang akan dilakukan sekarang. Kalau kegiatannya tidak beda maka itu tidak menurunkan emisi. Kalau kegiatannya bisa menurunkan emisi, maka Anda akan dibayar.

 

Ada perhitungan yang menyangkut proyeksi ke depan. Lalu, siapa yang menentukan bahwa hitungan kita benar?

 

Jadi ada pihak ketiga yang bernama validator. Yang kita perjualkan itu namanya service (jasa) karena kita menjaga hutan. Jasanya harus bisa dikuantifikasikan. Secara scientific itu sudah bisa. Kalau arealnya tidak dirawat dan dijaga maka 20 tahun lagi bakal hilang. Jadi berapa emisi karbonnya bakal naik secara ilmiah sudah ada perhitungannya. Cuma harus ada jurinya. Di internasional sudah ada standarnya yaitu Verified Carbon Standard (VCS). Standar tersebut termasuk bagaimana metode menghitung karbon di areal 1.000 hektar tadi, dan apa yang akan terjadi 20 tahun kemudian. Itu satu standar yang dilakukan oleh internasional secara independen. Dalam hal ini mereka yang memvalidasi dan memverifikasi.

 

Kegiatan Anda di PT. Rimba Makmur Utama persisnya adalah merawat dan menjaga hutan. Itu adalah usaha bisnis utama Anda. Jadi kalau Anda gagal di sini bisa jatuh miskin. Mengapa Anda anggap risikonya bisa dipikul dalam bidang yang baru ini. Apa ada garansi-garansi dari lembaga lainnya dan apa yang menjamin Anda tidak akan bangkrut?

 

Jadi tidak ada garansi kita akan bangkrut, dan tidak ada garansi juga kita bakal kaya. Ini suatu risiko dari segi perusahaan yang kita ingin berkecimpung di bisnis ini. Tetapi selama empat tahun dari 2007, kita lihat sudah ada perubahan paradigma. Kami termasuk generasi muda, kami mencoba bisa membuktikan bahwa perusahaan tersebut merupakan investasi jangka panjang. Kita melihat lingkungan bisa menjadi aset jangka panjang. Jadi kita jangan melihat kayunya saja. Kalau kita menjaga hutan, tata kelola airnya berjalan, biodiversitas binatang-binatangnya juga ada, maka bisa menghasilkan uang.

 

Apakah hutan itu sampai kapanpun kayunya tidak akan ditebang?

  

Tidak akan. Jadi kita harus melihat asetnya bukan kayunya. Paradigmanya di situ.

 

Lupakanlah pohon untuk ditebang. Lalu, bagaimana kalau orang mau membuat kertas, meja makan?

 

Kita juga tidak mungkin menyuruh untuk menjaga semua hutan. Tidak akan ada pertumbuhan ekonomi, itu tidak mungkin. Dalam hal ini presiden telah menargetkan mereduksi emisi 26% dengan tetap menjaga pertumbuhan ekonomi 7%. Masalah di Indonesia adalah banyak areal hutan masih bagus yang semestinya dikonservasi. Selain itu, ada sekitar 30-40 juta hektar lahan terlantar yang bisa kita olah menjadi hutan tanaman industri dan kelapa sawit.

 

Jadi ada bagian-bagiannya, betulkah?

 

Ya, ada bagian-bagiannya. Kalau kita bisa menjaga hutan yang masih ada, sedangkan hutan yang memang sudah tidak berhutan, maka kita bisa buat menjadi hutan industri untuk industri pulp and papper.

 

Jadi  REDD tidak akan menghilangkan kelapa sawit, pulp and papper, betulkah?

 

Ya, saya rasa justru ini yang sebenarnya menjadi pelengkap untuk pertumbuhan ekonomi kita.

 

Sehebat-hebatnya Anda, Anda tetap adalah satu perusahaan individu. Bagaimana peran  perusahaan konglomerat, perusahaan besar, dan badan usaha milik negara (BUMN) di dalam industri REDD+?

 

Saya melihat sebenarnya banyak kesempatan bagi industri-industri besar untuk ikut terlibat di  REDD+. Dalam arti kata tidak harus REDD+ untuk menjaga hutan. Yang kita ubah adalah tata kelolanya agar menjadi good coporate governance. REDD+ sebenarnya bisa menjadi pintu masuk untuk mengubah tata kelola kita agar ada perubahan paradigma baru. Semuanya masih benar-benar baru, sehingga kasarnya kita mulai dari nol. Jadi kita bisa membuat disain yang lebih baru lagi agar kita bisa ubah tata kelola kita. Itu sudah bisa diakui bahwa perubahan iklim ini dengan pendanaan yang dijanjikan oleh negara maju seperti Norwegia bisa mengubah cara kita mengelola hutan.

 

Apakah tanpa ada kerjasama internasional tidak akan jalan karena banyak orang yang mulai bersikap anti asing?

 

Saya rasa sebenarnya tidak perlu anti seperti itu. Seumpama kita dibayar untuk menjaga hutan kita, memang sudah tugas kita menjaga hutan kita. Sedangkan kalau dibayar maka ini berkah sebetulnya, bukan karena disuruh. Cuma, yang perlu selalu diwaspadai adalah jangan negara asing itu memberi uang sampai mereka mengubah cara pikir dan cara hidup kita juga. Itu yang penting.

 

Juga pertanyaan orang adalah jangan sampai asing kerja sama dan keuntungannya  terdistribusi hanya ke asing. Bagaimana Anda bisa mengusahakan supaya distribusi keuntungannya jatuh ke dalam negeri, bahkan ke masyarakat yang berkepentingan terhadap hutan itu?

 

Kembali ke konsep REDD, kita akan dibayar kalau hutan kita tidak ditebang dan tidak dibakar. Jadi sangat vital untuk melibatkan masyarakat. Soalnya, komunitas yang tinggal di hutan juga  penting. Dalam hal ini jika ada financial benefit maka harus disalurkan kepada masyarakat. karena mereka menjadi ujung tombak kita. Sebagai perusahaan, kami siap. Kita selalu bekerja sama dengan masyarakat dan pengembang kapasitas. Kita mengatur benefit sharing, yang suka dibicarakan orang, ke masyarakat. Dalam waktu yang sama, kita juga harus berpikir sebagai perusahaan yang berorientasi profit. Itu yang harus bisa kita kembangkan.

 

Yang paling penting juga adalah keadilannya. Masing-masing mempunyai tugas. Pemerintah memiliki tugas sendiri, mahasiswa punya tugas sendiri, masyarakat juga. Ini akan dibayar kalau kita bisa menurunkan emisi. Ini bukan dana hibah, dan ini merupakan bisnis baru yang masih perlu dibuktikan.

 

Apakah tidak ada subsidi dari lembaga internasional atau nasional untuk start up usaha ini?

 

PT. Rimba Makmur Utama tidak pernah menerima apapun. Seharus ada terobosan juga dari negara maju atau lembaga internasional karena biaya untuk pengembangan proyek ini tidak kecil. 

 

Barangkali itu karena jangka waktunya lama. Bagaimana kalkulasi untuk  rate of return (RoR), berapa tahun RoR?

 

Wah, kita sudah mulai investasi sejak 2007, sampai sekarang pun belum ada penjualan. Kami sudah empat tahun berkecimpung di sini. Kenyataannya mungkin tiga atau empat tahun lagi kita  belum ada pembelinya juga. Kita mesti siap.

 

Apakah banyak perusahaan yang melakukan hal seperti Anda, baik perusahaan dalam negeri maupun luar negeri?

 

Kalau perusahaan yang inisiatifnya benar-benar dari lokal, maka kami yang awal. Saat ini ada beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) internasional yang sudah berkecimpung di sini, termasuk LSM lokal juga. Ada beberapa perusahaan swasta juga dari negara lain. Semua masih bisa dihitung dengan jari.

 

Saya kebetulan bertemu dua orang Inggris di Sekretaariat Kampanye Sri Mulyani Indrawati. Saya pikir dua orang Inggris tersebut datang mau mendengarkan kampanye, tahu-tahu dia ingin menawarkan proyek REDD+. Dia mengatakan berasal dari London dan ada hutan yang dia kelola di Zanzibar untuk mendapatkan karbon kredit di sini, serta sedang mencari partner. Bagi saya ini agak aneh, jadi saya belum layani. Apa memang betul, kalau ada pengusaha dari luar negeri datang ke sini merupakan pengusaha bonafid atau ini merupakan sesuatu yang mungkin bisa dimanfaatkan?

 

Jadi setiap peluang baru ada peluang untuk memanfaatkannya dengan baik atau tidak baik. Kalau kita lihat 3-4 tahun terakhir sudah ada yang namanya carbon cowboys. Carbon cowboys sudah masuk sejak 2007, namun masalahnya ini adalah bisnis baru dan butuh waktu lama. Sedangkan  carbon cowboys berorientasi jangka pendek. Mereka masuk bisnis ini, dan kalau dia lihat setengah tahun tidak menguntungkan pasti dia ke luar.

 

Barangkali mereka membeli dengan cara mark up kemudian menjualnya di secondary market, betulkah?

 

Betul. Itu sebenarnya yang terjadi di Papua Nuigini. Di sana mereka banyak sekali mendekati masyarakat lokal, dapat tanda tangan dari masyarakat adat dan lain-lain, lalu mereka menjual karbon kreditnya dan ada yang beli. Itu yang menarik.