Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Bagus Utomo

Di Balik Schizophrenia

Edisi 770 | 26 Des 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Seratus tahun yang lalu, katanya, orang yang berkecimpung dalam bidang psikoanalisa, neurology dan kejiwaan mulai mengamati bahwa ada satu gejala yang kemudian mereka beri nama schizophrenia. Seratus tahun kemudian orang masih tidak banyak tahu mengenai hal itu tapi gejala dan penderitanya banyak. Kita memerlukan orang yang bisa membawa penyakit ini pada perhatian publik untuk mencegah penderitanya mendapat stigma, perlakuan yang kurang baik dalam masyarakat karena penyakit ini sebetulnya 100 persen memerlukan pengertian dari kita. Kami beruntung mendapat tamu, Bagus Utomo yang sangat peduli pada schizophrenia dan menyebarkan kepedulian itu kepada masyarakat. Harapan Perspektif Baru adalah untuk membantu penyebaran kepedulian itu.

Bagus Utomo memiliki perhatian pada kesehatan jiwa terutama penyakit schizopheria terkait pengalaman pribadinya yaitu kebetulan memiliki kakak yang menderita schizophrenia selama kira-kira 15 tahun. Dia mengimbau agar orang mau peduli mengenali gangguan-gangguan kesehatan jiwa. Bila Anda mengalami perubahan mood, misalnya gembira terus sedih dan itu bisa terjadi satu hari berkali-kali atau Anda mengalami halusinasi suara-suara agitasi atau terus merasa diikuti seseorang, maka segeralah ke psikiater profesional sebab Anda tidak akan dapat menangani itu sendiri.

Dia juga mengimbau agar kita jangan memperlakukan penderita gangguan jiwa dengan cara melecehkan karena ini bisa terjadi pada siapa saja.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Bagus Utomo.

Bagaimana cerita Anda sampai memiliki perhatian kepada schizophrenia?

Pertama, dimulai dari pengalaman pribadi dan keluarga saya. Kebetulan kakak saya menderita schizophrenia selama kira-kira 15 tahun. Kita sempat melalui suatu masa dimana kita tidak percaya bahwa penyakit ini bisa sembuh, bisa pulih kembali, sampai akhirnya kita menemukan pendekatan medis sehingga bisa membuat penderita produktif lagi.

Apakah penanganan medis tersebut memakai obat?

Iya, memakai obat.

Darimana Anda menemukan adanya terapi medis?

Saya melakukan pencarian di internet. Jadi saya mencari informasi sendiri karena pertama kali berobat ke medis tapi sempat beralih ke pengobatan alternatif. Ternyata memang prosesnya demikian di seluruh dunia. Pertama kali, pasti keluarga sudah ke medis kemudian kehilangan kepercayaan karena lelah terhadap medis, akibatnya mencoba ke alternatif. Namun pengobatan alternatif tersebut juga tidak memberi jawaban. Kemudian akhirnya kembali lagi ke medis, setelah fokus lagi ke medis baru akhirnya pulih lagi.

Apakah itu mungkin juga karena pengobatan medis memakan biaya besar?

Luar biasa juga biayanya.

Apakah banyak orang yang tidak sempat memasuki tahap medis karena keterbatasan biaya?

Banyak sekali.

Menurut Anda, apakah di masyarakat banyak kasus schizophrenia yang tidak dikenal sebagai schizophrenia?

Iya, biasanya orang secara awam menyebutnya gila, meskipun itu sebenarnya kurang tepat. Mereka ada di sekitar kita, seringkali di keluarga kita, atau keluarga jauh, atau tetangga. Mereka pikir penderitanya aneh saja.

Seperti apa itu schizophrenia atau bagaimana anehnya?

Anehnya yang paling umum adalah bicara sendiri atau tertawa sendiri. Juga perhatiannya tumpul atau tidak bisa fokus. Dia sering marah-marah, paranoid. Jadi kecurigaan yang berlebihan.

Apakah ada atau tidak variasi kasus-kasusnya?

Masing-masing unik sekali karena tergantung kondisi keluarga juga. Terus ada lagi gejala yang disebut waham, yaitu keyakinan yang salah, tapi dia yakin sekali bahwa itu benar. Jadi dia biasanya merasa sebagai orang pembesar. Jadi bentuknya bisa merasa direktur atau kadang-kadang dia merasa memiliki kekuatan spiritual tertentu atau titisan dari nabi.

Apakah Anda sebagai adik seorang schizophrenia sering menghadapi orang yang kurang pengertian?

Sering sekali. Untuk permasalahan kesehatan jiwa ini, saya bisa dikatakan sudah mengalami sampai nol besar. Jadi saya bisa memahami kalau orang berlaku kurang tepat terhadap penderita gangguan ini.

Apakah bisa terjadi dalam keluarga ada satu orang schizophrenia dan yang lainnya sama sekali tidak? Apakah ini bukan turunan?

Faktor genetik memang ada, tapi itu bukan mengindikasikan suatu faktor keturunan. Jadi yang diturunkan adalah kerentanannya. Jadi orang normal bisa memiliki gennya tapi apabila faktor-faktor lain, seperti psikososial tidak mendukung maka tidak muncul.

Katanya, akar penyakit ini memang ada secara medis. Apakah ini bisa disembuhkan dengan medikasi saja?

Medikasi itu sangat penting khususnya pada saat dia akut, untuk mengembalikan sadar dirinya. Tapi yang paling penting adalah dukungan keluarga. Dukungan keluarga ini diwujudkan dalam terapi-terapi psikososial yang berguna bagi dia. Jadi harus mengubah suasana keluarga menjadi suasana yang penuh motivasi dan saling mencintai.

Medikasi itu pada saat akut dan dibarengi psikoanalisis. Anda bergerak dari kasus riil seperti psikoanalisanya. Tapi, apakah dunia kedokteran jiwa yang berhubungan dengan medikasi itu ada hubungannya dengan Anda?

Saat ini kami mendapat dukungan dari sejumlah dokter. Seringkali kita dan keluarga mengambil kesimpulan berdasarkan pengalaman saja. Tetapi untuk menghadapi penyakit ini harus disertai dengan pengetahuan kesehatan jiwa yang modern. Jadi kita bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Kejiwaan Indonesia (PDSKJI) supaya kita memberikan pesan yang tepat kepada masyarakat.

Sebagai orang yang mengalami kasus ini dan sebagai anggota masyarakat yang sejak kecil juga berhubungan dengan supranatural, mistik, dan tahayul, apakah dengan mengetahui ini Anda melihat bahwa sebenarnya orang yang sering melihat pocong dan memiliki halusinasi pobia bisa dikatakan sakit jiwa?

Kesimpulannya tidak sesederhana itu. Artinya, masalah terjadi apabila memiliki halusinasi dan imajinasi, dan itu tidak sejalan dengan masyarakat di sekeliling kita. Jadi dimana kita bisa menerima perbedaan, berkompromi dengan keadaan, maka lama-lama akan membangun teknik mengelola pada saat konflik ini tidak terlalu besar. Hal itu akan sering bisa diterima di masyarakat sekalipun dia memiliki gangguan jiwa. Ini yang mesti kita pahami bahwa pengetahuan kesehatan jiwa yang modern bisa memahami konflik-konflik yang ada di masyarakat.

Penanganan medis dilakukan kalau orangnya mengalami fase akut, teriak-teriak dan sebagainya. Apakah ada obat untuk menangani kasus ini untuk orang yang normal tetapi memiliki tendensi ke situ?

Sebenarnya yang paling penting adalah pengetahuan kesehatan jiwa yang harus merata di masyarakat sehingga kita bisa membedakan mana yang fenomena spiritual, mana yang sebenarnya gejala-gejala gangguan jiwa berat.

Menurut Anda, apakah ada fenomena spiritual itu?

Dari science sebenarnya ada. Misal, kalau dalam psikologi ada yang namanya psikologi sensorik yang menelaah fenomena-fenomena seperti itu.

Apakah itu bukan schizophrenia namanya? Jika orang masuk ke dalam goa kemudian melihat bayangan, apakah itu inspirasi atau ilusi?

Tidak selalu demikian. Perbedaannya, kalau penderita schizophrenia biasanya gejala itu menetap. Misalnya, selama tiga bulan merasa diikuti dan dia mulai muncul paranoid. Kemudian dia dalam merawat dirinya makin lama makin kurang karena dia terdominasi oleh halusinasinya. Gejala seperti ini akan mudah dibedakan karena dia kesurupan, misalnya.

Apa itu kesurupan menurut sepengetahuan Anda?

Kalau kesurupan hanya sesaat, kalau sudah dibawa ke ahlinya akan hilang. Kalau kakak saya yang schizophrenia itu seperti melihat pocong dan perasaan dia ada hantu-hantu yang mengikutinya, gejala itu menetap dalam waktu yang lama.

Sewaktu Sekolah Dasar (SD) saya juga pernah merasa selalu diikuti oleh seseorang yang berbaju hijau, botak, kacamata hitam, dan kakak saya mengatakan orang itu seram. Berhubung saya masih kecil jadi sering dikatakan itu hanya halusinasi saya. Tetapi sekonyong-konyong hal itu tidak pernah muncul lagi. Apa ya kalau yang seperti itu?

Kadang kala orang memiliki kerentanan gangguan jiwa tetapi ketika situasinya kondusif untuk kesehatan jiwa maka itu bisa hilang.

Bagi awam, terkadang susah dipisahkan gejalanya dengan bipolar disorder yaitu orang yang kadang-kadang mood tinggi kadang rendah. Apa persamaan dan perbedaan dengan schizophrenia?

Kalau bipolar disorder sebenarnya gangguan mood. Untuk teknisnya mungkin saya sarankan bertemu psikiater. Gangguan mood ini ditandai dengan energi berlebih, sering merasa sangat gembira dan di sisi lain dia tiba-tiba menjadi depresi luar biasa.

Katanya, justru orang yang sangat efektif atau yang sangat berbakat mempunyai tendensi ke arah bipolar disorder. Kalau dia cerdas atau brilliant, dia akan terpuruk diam seperti Beethoven atau dia bikin symphony atau dia tidak menyisir rambutnya dan sebagainya. Bahkan katanya tidak ada jenius yang tidak sedikit bipolar. Ada Kurt Cobain memiliki musik yang bagus sekali tapi dia menembak dirinya. Di mana kita bisa mengetahui perbedaannya dengan schizophrenia dan apakah perlu tahu bedanya?

Perlu juga diketahui. Kadang-kadang orang melihat dia aneh, depresif, mengurung diri, penarikan diri dengan selalu di dalam kamar, dan itu mirip sekali dengan schizophrenia. Dia mengalami fenomena halusinasi. Kalau dibawa ke dokter dan info dari keluarga kurang lengkap maka seringkali dia diagnosa schizophrenia.

Nah ini pertanyaan yang paling penting. Misalnya, orang merasa kadang sedih, kadang senang, kadang melihat halusinasi. Pada tahap mana orang harus merasa perlu konsultasi ke dokter, karena di Indonesia kalau orang pergi ke dokter jiwa, ke satu susah carinya, kedua juga sudah dianggap beda?

Biasanya orang agak malu ke psikiater karena dianggap sakit jiwa. Saran saya apabila Anda mengalami perubahan mood, misalnya gembira terus sedih dan itu bisa terjadi satu hari berkali-kali atau Anda mengalami halusinasi suara-suara agitasi atau terus merasa diikuti seseorang, maka segeralah ke psikiater profesional sebab Anda tidak akan dapat menangani itu sendiri.

Di Indonesia jarang orang pergi ke psikiater untuk maintenance. Di Amerika, tiap bintang film punya psikiater dan sekali sebulan mengunjunginya untuk konsultasi. Kalau di sini, dibawa ke rumah sakit jiwa kalau sudah akut. Sedangkan kalau sudah akut sudah terlambat. Menurut Anda, apakah orang tersebut tidak bisa sembuh?

Bisa sembuh, tapi sembuhnya bukan seperti demam berdarah yang kalau sudah sembuh tidak minum obat lagi. Di sini harus ada level maintenance dengan dosis yang paling kecil dan paling cocok dengan dia.

Apakah kakak Anda sekarang di rumah atau di rumah sakit?

Di rumah dan sudah lima tahun terakhir membaik kondisinya, sudah pulih dan sekarang dia bisa dikatakan sudah hampir dosis terkecil 1mg sekali minum.

Mengapa tetap pakai obat?

Untuk level maintenance, produksi dopamine di otak harus dikontrol terus seperti gula darah.

Mengapa perlu mengontrol dopamine?

Perlu sekali, karena dopamine adalah suatu neuro transmitter yang mengatur kegiatan pleasure dan juga motivation.

Jadi orang yang di atas rata-rata mempunyai motivasi gejala awal, betulkah?

Mungkin dia ada kerentanan. Biasanya seringkali orang tersebut merasa sangat yakin terhadap keyakinannya.

Jadi orang yang moderat saja yang aman. Apakah secara fisik itu kelihatan atau tidak?

Secara fisik biasanya tidak kelihatan. Artinya, bisa diterima masyarakat secara umum karena dia aktif, sering berbuat amal dan membantu orang lain hanya levelnya seringkali berlebihan dan dia kadang-kadang akhirnya tidak bisa tidur karena energinya tak tersalurkan.

Setiap orang merasakan beberapa gejala dalam dirinya, jadi kita ingin tahu sampai di mana batasnya. Jadi, kembali pada kasus kakak Anda yang sangat Anda kenal. Apakah kakak Anda punya kehidupan normal sekarang seperti bekerja?

Belum bekerja karena dia ada kesenjangan (gap) selama kurang lebih 15 tahun dimana dia akut. Itu karena penyakit ini muncul di usia-usia produktif sehingga di luar negeri disebut killer of the young people. Di sini kakak saya belum bisa aktif lagi mencari nafkah, jadi secara umum normal sudah bagus sekali, kalau kita pakai persen mungkin sekitar 80-90%.

Cuma dia ada gap saja seperti orang yang tidak sekolah selama 15 tahun, betulkah?

Ya. Tapi dia memiliki pemikiran yang bagus.

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada pembaca sebagai penutup?

Jangan kita memperlakukan penderita gangguan jiwa dengan cara melecehkan karena ini bisa terjadi pada siapa saja andai kata kita yang mengalami rasanya pasti tidak menyenangkan. Kemudian mari kita semua belajar mengenai kesehatan jiwa karena sama pentingnya dengan kesehatan fisik kita.