Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Karim Raslan

Indonesia dari Perspektif Malaysia

Edisi 769 | 20 Des 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan berbicara mengenai Indonesia – Malaysia dengan Karim Raslan, penulis yang sangat produktif. Dia menulis dari pengamatan dia sehari-hari dan cerita orang-orang yang kemudian dituangkan di kolomnya baik di media yang ada di Indonesia maupun Malaysia. Meskipun Karim Raslan merupakan orang Malaysia, tapi kita akan bicara dalam bahasa Indonesia bercampur-campur bahasa Malaysia.

Karim Raslan sebagai orang media dan penulis menilai kebebasan media dan demokrasi di Indonesia sangat penting. Dia banyak menulis tentang ini kepada pembacanya bahwa kebebasan media dan demokrasi tidak menghancurkan negara. Saat ini Malaysia masih dalam situasi yang hampir sama dengan Orde Baru yaitu media-media harus mendapat izin dari kerajaan dan pemerintah agar bisa terbit. Jadi, menurut dia, ini suatu langkah yang harus dibuat di Malaysia.

Menurut Karim Raslan, yang paling penting untuk pembacanya di Malaysia ialah menggambarkan yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bagi pembacanya khususnya politisi, pengusaha dan orang yang berpendidikan tinggi, mereka menyadari Indonesia akan menjadi semacam pemimpin di Asia. Jadi sekarang orang Malaysia harus lebih dekat dengan Indonesia agar kita bisa maju bersama-sama. Indonesia sudah masuk ke G20 (Kelompok 20 ekonomi utama atau kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa - Red). Padahal masih ada banyak kelemahan, itu tidak bisa dipaksakan. Indonesia sudah mulai bergerak menjadi raksasa Asia.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Karim Raslan.

Saya mau cerita sedikit. Sejak saya sangat sadar terhadap kejadian-kejadian di luar kita termasuk kejadian negara dan politik, saya sadar ada negara Malaysia. Sebab waktu kecil tidak ada, yang ada hanya jajahan Inggris-Malaya yang terdiri atas Serawak, Singapura dan lainnya. Kemudian saya amati wilayah itu menjadi negara. Setelah menjadi negara memiliki tim sepak bola tapi kalah terus sama Indonesia. Namun 20 tahun kemudian Indonesia yang kalah terus sama Malaysia, sampai kemarin baru Indonesia menang lagi.

Dalam hal lain kita juga sangat tersusul oleh Malaysia. Dulu saya bergerak di bidang pendidikan menjadi dosen di Institut Teknologi Bandung (ITB). Saat itu banyak orang ITB yang dibawa ke Kuala Lumpur untuk menjadi dosen di sana. Tapi lama-lama sekarang universitas di Malaysia lebih maju daripada universitas yang ada di sini. Singkatnya, Malaysia menjadi suatu negara yang sukses dalam banyak hal. Indonesia suatu negara yang tidak sukses dalam segala hal, walaupun bagi saya Indonesia tanah airku. Jadi menarik untuk mencampuradukan kesan mengenai orang dan kesan mengenai negara.

Terkait kedekatannya, banyak nama-nama yang terngiang di kepala saya kalau mendengar Malaysia. Mulai dari Perdana Menteri pertama Teuku Abdul Rahman, bintang film P. Ramli, dan lainnya. Namun ada dua orang yang melekat di kepala saya yaitu di bidang budaya, kesatu adalah kartunis Lat, satu lagi orang yang lebih serius adalah Karim Raslan, penulis yang sangat produktif. Apakah memang Anda selalu kooperatif? Mengapa Anda semangat melakukan wawancara dengan saya?

Nama Pak Wimar sudah saya kenal agak lama, dan saya sudah membaca tulisan Pak Wimar sewaktu menjadi juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

Okay itu bukan pancingan, terima kasih. Jadi kita sudah saling mengenal dan saya sangat menghargai keberadaan Anda. Di Malaysia, Anda menulis dua kolom seminggu dan di Indonesia menulis dua kolom seminggu juga. Mengapa Anda bergerak di dua negara ini?

Nama kolom saya ialah "Ceritalah". Ini tentang cerita. Saya minta orang cerita dan saya mengutip ceritanya kemudian memasang di dalam kolom saya.

Apakah itu semacam story telling?

Ya, story telling. Bagi saya story telling paling penting. Tidak ada yang paling pokok selain daripada itu. Saya rasa dari perspektif ini, khususnya orang media dan penulis, boleh dikatakan bahwa Indonesia lebih maju daripada Malaysia, ada kebebasan media di sini. Orang Indonesia khususnya media bisa kritik siapapun. Tapi kalau di Malaysia pasti tidak bisa.

Berapa lama sudah Anda bergerak dan menulis di dua negara ini?

Saya baru mulai menulis di Jakarta Globe dalam bahasa Inggris sejak 2009 dan juga sudah mulai dalam bahasa Indonesia di inilah.com dengan kolom yang sama. Menurut saya, kepentingan pembaca di Indonesia beda daripada yang di Malaysia. Untuk pembaca saya di Malaysia, mereka sangat tertarik dengan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sosial politik di Indonesia. Sekarang, maaf, orang Malaysia sudah sadar bahwa Indonesia sudah mulai ada perubahan menjadi negara yang lebih demokratis menjadi satu negara yang kuat, tapi masih banyak orang yang kritik terhadap negara yang kuat ini.

Senang sekali mendengar orang Malaysia melihat hal-hal yang baik di Indonesia seperti demokrasi dan sebagainya. Sedangkan tiap hari kita membaca di Twitter, Facebook, di mana Indonesia betul-betul dihancurleburkan oleh Indonesia sendiri. Kalau melihat tulisan Anda, Anda lebih baik terhadap Indonesia. Jadi, saya bertanya pada Anda yang masih orang luar, apa yang bagus mengenai Indonesia?

Jangan lupa bahwa saya orang media dan penulis. Jadi menurut saya, kebebasan media dan demokrasi di Indonesia sangat penting. Saya banyak menulis tentang ini kepada pembaca saya, bahwa kebebasan media dan demokrasi tidak menghancurkan negara. Saat ini Malaysia masih dalam situasi yang hampir sama dengan Orde Baru yaitu media-media harus mendapat izin dari kerajaan dan pemerintah agar bisa terbit. Jadi, menurut saya, ini suatu langkah yang kita harus buat di Malaysia.

Okay, Anda bicara mengenai Malaysia, saya bicara mengenai Indonesia supaya tidak terjadi krisis diplomatik. Demokrasi di Indonesia, banyak yang merasa eksesnya sangat cepat tercapai dalam 10 tahun. Kebebasan media sudah menghasilkan media yang bisa dibeli, yang sensasionalis, dan sebagainya. Apakah Anda tidak melihat ada efek kebablasan, artinya dari kebebasan media di sini?

Pasti ada yang buruk, tapi juga ada yang baik. Kita harus confident dengan penonton TV, pembaca koran bahwa mereka akan dan bisa membuat pilihan masing-masing. Mereka bisa membuat evaluasi. Misalnya, yang cuma cerita dan tidak ada landasan, saya tidak akan terima karena cuma membicarakan yang buruk dan banyak gosip-gosip. Jadi kita harus confident dengan warga kita. Di Malaysia, kita tidak cukup confident dengan warga Malaysia bahwa mereka bisa handle dengan cara yang cukup terbuka untuk kebebasan media dan demokrasi.

Tapi, di Indonesia pun sampai 1998 sangat tertekan dan orang sangat bersedia ditekan juga. Itu bukan hanya zaman Soeharto. Pada zaman Soekarno pun orang bersedia dilibatkan dalam satu otoritas. Apakah yang sekarang terjadi adalah sifat inti orang Indonesia yang mencari kebebasan, atau seperti murid tidak ada gurunya karena tidak ada pemerintah jadi orangnya bebas ke sana-sini?

Kita harus melihat bahwa pasti ada ekstrim. Yang paling penting untuk pembaca saya di Malaysia ialah menggambarkan yang benar-benar terjadi di Indonesia. Bagi pembaca saya khususnya politisi, pengusaha dan orang yang berpendidikan tinggi, mereka menyadari Indonesia akan menjadi semacam pemimpin di Asia. Jadi sekarang orang Malaysia harus lebih dekat dengan Indonesia agar kita bisa maju bersama-sama. Indonesia sudah masuk ke G20 (Kelompok 20 ekonomi utama atau kelompok 19 negara dengan perekonomian besar di dunia ditambah dengan Uni Eropa - Red). Padahal masih ada banyak kelemahan, itu tidak bisa dipaksakan. Indonesia sudah mulai bergerak menjadi raksasa Asia.

Bukankah menjadi raksasa tersebut karena orangnya banyak saja?

Iya, tapi sekarang jumlah penduduk merupakan satu faktor yang penting.

Ya, betul. Kalau mendengar pandangan begitu, orang Malaysia pasti melihat Anda sebagai Public Relations (PR) untuk Indonesia, betulkah?

Banyak orang yang marah terhadap saya, "Oh, Karim jangan terlalu puji-puji Indonesia." Namun saya mengatakan Indonesia banyak kelemahannya dan banyak masalah khususnya masih banyak orang miskin. Lihatlah kondisi berupa banyak orang yang terpaksa mencari kerja di Malaysia. Itu bukan karena mereka mau bekerja di Malaysia, tapi tidak ada lowongan kerja di sini. Jadi, saya mengatakan masih ada kekuatan di negara ini, yaitu sangat plural dan sangat terbuka. Semua etnis memiliki hak sama sebagai sesama orang pribumi. Hal itu lebih terbuka daripada Malaysia.

Menurut Anda, mengapa Indonesia bisa begitu plural dan cepat meresmikannya di dalam peraturan dan institusi?

Ini mungkin karena kepintaran founding fathers Indonesia yaitu Soekarno - Mohammad Hatta, dan juga waktu Sumpah Pemuda dan Budi Utomo. Mereka sudah membuat keputusan bahwa bahasa negara harus bahasa Melayu, bahasa Indonesia. Jadi bukan bahasa Jawa. Dengan keputusan itu, bahasa Melayu sudah menjadi bahasa pengantar bagi semua orang. Itu sangat egaliter, dan juga saya merasa Bung Karno memiliki hati yang sangat plural sehingga orang Islam, Kristen, dan apa pun harus bergabung. Sedangkan negara Malaysia adalah Kerajaan Melayu. Jadi kalau bentuk kerajaan maka sulit untuk direformasi.

Jadi karena faktor kerajaan. Saya mau tanya mengapa ada perbedaan antara Indonesia dan Malaysia, padahal satu-satunya yang membuat perbedaan hanyalah sejarah kolonialnya saja, sedangkan kepulauan dan segalanya sama. Malaysia pengaruhnya Inggris dan Indonesia pengaruhnya Belanda. Apa itu yang membedakan dan apakah hanya itu yang membedakan?

Kita tidak bisa lari dari sejarah. Indonesia dan khususnya Jawa di bawah penjajahan Belanda selama 300 tahun, jadi pengaruh Belanda sangat dalam. Sedangkan Malaysia khususnya Semenanjung hampir sama dengan Sumatera. Kalau saya ke Riau dan turun ke lapangan, saya pasti merasa ini hampir sama dengan tanah air saya.

Apakah Anda merasa Riau berbeda dengan Jawa?

Pasti ada sedikit perbedaan dari cara mereka bertutur dan sifat mereka. Saya sangat tertarik dengan perbedaan budaya daerah-daerah di Indonesia. Di antara daerah Minang, Riau, Sumatera Selatan, saya sangat tertarik dengan Sumatera Selatan karena sifat Sriwijaya-nya.

Menurut Anda, mengapa orang Indonesia begitu salah menanggapi Malaysia?

Kita harus sadar bahwa dua negara ini hampir sama, tetapi karena sejarah politik maka membuat ada perbedaan. Jadi kita sudah terpisah. Bahasa Indonesia pun jauh berbeda dengan bahasa Malaysia, padahal pokok bahasa keduanya sama. Kemarin di Malaysia saya bertemu dengan Pak Ci’, mereka tertawa mendengar logat saya. "Waduh Karim bahasa Anda nih sudah rusak." Saya mengatakan tidak bisa dipisahkan bahasa Indonesia dengan Malaysia.

Tadi dikatakan Indonesia dan Malaysia sangat mirip, tapi saya tidak tahu konfliknya seberapa banyak. Tiba-tiba banyak percikan-percikan. Mengapa antara Malaysia dan Thailand seperti tidak ada masalah?

Itu karena ikatan antara dua negara Indonesia-Malaysia sangat ketat. Padahal ada berjuta-juta warga Indonesia yang mencari kerja di Malaysia. Kita ramai dengan latar belakang dan keturunan dari Indonesia. Banyak kawan saya yang orang tuanya dari Jawa, Palembang dan Banda Aceh sehingga kita tidak dapat dipisahkan. Padahal sebenarnya kebudayaan, politik dan sejarahnya sangat berbeda. Saya punya kawan yang sekarang menjabat Menteri Pertahanan di Malaysia Ahmad Zahid Hamidi. Orang tua dia berasal dari Jawa, jadi dia bisa bertutur bahasa Jawa dengan kental. Saya pun kaget dan dia mengatakan tidak boleh orang Malaysia berperang dengan Indonesia kalau Menteri Pertahanannya berasal dari Jawa.

Apakah menurut Anda persamaannya hanya sentimental, emosional atau strategis? Apakah ASEAN bisa diharapkan bangkit kembali dengan semacam kekuatan baru Malaysia -Indonesia?

ASEAN bangkit kembali di tangan Indonesia, bukan di tangan Malaysia atau Singapura. Kalau Indonesia benar-benar mau menjadi pemimpin ASEAN, kita harus menunggu orang Indonesia dan pemimpin Indonesia.

Bukankah Indonesia pernah memimpin?

Pernah, tapi sekarang tidak ada choice, Indonesia must lead it.

Apakah itu karena size Indonesia?

Ya, size tapi harus memimpin dengan cara yang benar-benar sederhana dan menghormati hak-hak negara lain. Juga harus memiliki asas dan dilandaskan dengan prinsip sehingga boleh dikatakan nanti respek kepada Indonesia akan meroket.

Kalau kita bicara mengenai Malaysia dan Indonesia, dulu Malaysia mencakup Singapura. Sekarang kalau kita bicara tiga negara, bagaimana dengan Singapura sekarang?

Singapura kecil sekali. Jadi mereka bisa menggambil keputusan strategis dengan cara sangat cepat. Apalagi ekonomi dunia bisa membuat kita melangkah dan berubah total dalam 1-2 tahun. Jadi mereka lincah karena negaranya kecil. Sedangkan Malaysia memiliki pasar domestik yang besar, tapi banyak politik yang sangat sulit.

Ke mana saja Anda pernah berkunjung di Indonesia?

Saya sangat suka berkunjung ke Sumatera dan Jawa. Saya sudah ke Jakarta sampai Jogja lewat darat. Saya juga sangat suka ke Surabaya dan Bali. Kalau ke Jawa Timur, saya suka bertemu para Kyai dan mendengar argumentasi mereka. Padahal saya bukan orang yang memiliki pengetahuan tentang Islam tapi saya sangat enjoy the process, very interesting dan mereka suka bercanda dan ini caranya sangat historis.

Bukankah mereka teman-temannya Gus Dur?

Iya, kalau Nadhlatul Ulama (NU) ada di Malaysia, saya rasa Malaysia pun lebih plural dan lebih terbuka.

Apakah organisasi agama Islam di Malaysia dan Indonesia memiliki karakter yang berbeda?

Beda, sebab kerajaan di Malaysia sangat kuat. Hampir semua organisasi di bawah lindungan kerajaan. Di sini, NU sangat independent. Kalau mereka mau ke sana, tetap ke sana tidak usah perintah dari atas. Itu yang saya suka di sini. Ini negara yang benar-benar tidak bisa semuanya dikontrol.

Apa daerah di Indonesia yang menurut Anda unik, dan susah dipukul-ratakan dengan bagian lainnya di Indonesia? Mungkin kalau Aceh pasti berbeda?

Ya, betul. Mungkin daerah lainnya Jawa Timur. Itu karena saya sangat suka sifat orang Jawa, independent. Mereka sangat terbuka, orang Madura pun sangat terbuka. Saya pikir kota Surabaya sangat menarik. Pada 10 tahun lalu, kalau saya ke Surabaya mungkin sedikit rawan, tidak aman tapi sekarang berbeda. Ada banyak pohon di mana-mana dan ini menunjukkan ada transformasi lewat politik.