Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Bambang Kismono Hadi

Arah Perkembangan Industri Pertahanan

Edisi 768 | 13 Des 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan membicarakan mengenai nilai penting dari industri pertahanan dan kondisi industri pertahanan kita saat ini. Selain itu, juga tantangan dan kebutuhan kita di masa depan dan bagaimana kira-kira postur industri pertahanan yang hendak kita bangun. Untuk itu kita mengundang DR. Bambang Kismono Hadi, seorang ahli dalam studi pertahanan yang sehari-hari mengajar di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan juga Universitas Pertahanan Indonesia (UPI).

Bambang Kismono Hadi mengatakan suara-suara di kalangan pemerintah yang menyatakan bahwa tidak mungkin ada perang dalam waktu 20 tahun mendatang membuat kita terlena sehingga usaha kita untuk mempermodern Alutsista (Alat Utama Sistem Senjata) menjadi berkurang. Apalagi dalam buku putih kita selalu mengatakan bahwa ancaman kita masih ancaman dalam negeri. Itu juga sudah mulai harus direvisi karena benar di dalam negeri masih banyak masalah dengan ancaman-ancaman separatisme dan segala macamnya, tetapi lebih baik kita juga memikirkan ancaman dari luar. Artinya, kita harus tetap mampu mempertahankan kedaulatan kita.

Menurut Bambang Kismono Hadi, industri pertahanan kita perlu ditingkatkan, perlu dipertahankan dan perlu didukung terus. Tetapi jangan lupa ini harus merupakan suatu bagian besar dari security sector reform. Itu yang penting. Jadi tidak boleh berdiri sendiri tetapi merupakan suatu bagian besar dari security sector reform artinya civilian supremacy. Bisnis militer dan segala macamnya merupakan suatu rangkaian besar dan pengembangan industri pertahanan tersebut tidak bisa terlepas sendiri-sendiri.

Berikut wawancara Bambang Kismono Hadi dengan Ansy Lema.

Apa sesungguhnya arti penting dari industri pertahanan ini?

Ada tiga hal yang penting. Pertama, kalau kita melihat di lingkungan strategis kita dan negara-negara tetangga di kawasan Asia Pasifik, perkembangan pertahanan mereka sudah sangat kuat. Misalnya, Australia sudah mempunyai Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) yang sangat kuat, Singapura dan Malaysia juga demikian. Australia punya F35, pesawat terbaru dari Amerika Serikat (AS), begitu juga Singapura dan Malaysia. Jadi kita memang perlu mengantisipasi adanya problematik yang besar. Kedua, tentu saja kita perlu mengurangi ketergantungan kita terhadap luar negeri mengenai Alutsista. Ini yang penting. Ketiga, kita juga perlu mendukung industri pertahanan di Indonesia yang sekarang kelihatannya sudah mulai agak mati suri.

Nah, untuk mengetahui persisnya kita perlu memotret bagaimana sesungguhnya kondisi industri pertahanan kita saat ini. Kita tahu bahwa saat ini di Indonesia memiliki tiga industri pertahanan. Untuk matra darat ada PT PINDAD, untuk matra laut ada PT. Penataran Angkatan Laut (PAL), sedangkan matra udara memiliki PT. Dirgantara Indonesia (DI). Bagaimana kondisi industri pertahanan tersebut?

Dari ketiga matra, yaitu PT PINDAD untuk matra darat, PT. PAL untuk matra laut, dan PT. DI untuk matra udara, barangkali hanya PT. PINDAD yang sampai sekarang kondisinya masih bagus. PT PINDAD baru saja mendapatkan order dari pemerintah untuk membuat lima P2 APC, yaitu pengangkut pasukan bernama panser Anoa APC. Namun PT. PAL dan PT. DI tampaknya dalam kondisi yang tidak bagus. Mereka hidup tetapi tidak terlalu bagus.

Kita kerap menganggap Indonesia sebagai salah satu negara di kawasan Asia Tenggara yang boleh dikatakan menjadi aktor kunci, dari sisi industri pertahanan. Jika dikaitkan dengan konstelasi pertahanan dibandingkan dengan negara-negara tetangga, di mana posisi kita?

Pada zaman dulu barangkali posisi kita cukup bagus, tetapi sekarang saya kira kita sudah mulai kalah. Misalnya, sekarang Malaysia mengembangkan industri dirgantara (aerospace) dengan sangat kuat. Tidak hanya dalam industrinya tetapi juga dibarengi dengan pendidikan infrastruktur dan segala macamnya yang sudah disediakan dari awal. Jadi sangat komprehensif. Bahkan mereka sudah memiliki tiga universitas yang khusus di bidang aerospace. Di Indonesia hanya satu yaitu di ITB. Itu pun hanya program studi, sedangkan mereka sudah punya tiga fakultas.

Apakah mereka sudah punya Universitas Pertahanan (Unhan)?

Iya, mungkin Unhan tidak sampai ke arah teknologi. Mereka juga sudah mulai mengembangkan hal yang lain. Demikian juga Australia yang tentu saja sudah sangat kuat, sedangkan Singapura memang tidak mengembangkan industri manufacturing tetapi ke industri jasa, yaitu maintenance sangat kuat. Pesawat kita C 130 Hercules lebih banyak diperbaiki di Singapura dibandingkan di Indonesia.

Lantas, apa yang bisa kita banggakan dari industri pertahanan kita saat ini?

Tidak banyak tampaknya, dan itu harus diakui secara terus terang. Karena itu perlu usaha yang cukup keras untuk mendorong agar dua industri utama yaitu PT. PAL dan PT. DI yang seakan mati suri bisa bangkit kembali, tetapi itu harus komprehensif.

Apa sesungguhnya pangkal persoalannya sehingga kemudian cerita ini tidak terlalu melegakan bahkan mencemaskan saat kita membicarakan industri pertahanan kita?

Saya kira ada masalah dengan warisan Orde Baru zaman dulu. Mungkin ketika itu, kalau saya lihat, PT. DI terjadi inefesiensi yang besar dan mungkin juga ada dugaan korupsi di sana. Dana yang sangat besar disalurkan terus-menerus tetapi tidak dibarengi dengan pengembangan infrastruktur. Misalnya, PT. DI memiliki tiga program pesawat terbang yang dibuat berturut-turut dan secara cash flow memang akan membuat negatif. Pesawat CN 135 belum sampai ke arah break even point sudah masuk ke jenis N 250, belum lagi sampai ke atas sudah masuk jenis N 2130. Akibatnya, cash flow PT DI sangat negatif kemudian terkena krisis ekonomi sehingga tidak bangkit lagi. Ada peninggalan utang yang sangat besar, ada masalah inefisiensi, dan ada masalah visinya. Ketika itu di bawah Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) tidak di bawah Kementerian Pertahanan (Kemenhan) secara langsung. Jadi ada banyak hal yang harus kita benahi.

Bagaimana tata kelola ataupun governance yang harus kita bangun dalam industri pertahanan kita ini?

Saya kira yang pertama dan memang harus diutamakan adalah lebih banyak ke arah visi bisnisnya. Itu masih kurang. Dulu PT. DI lebih banyak ke arah sebagai agent of translate of technology dan tidak sebagai suatu bisnis. Sebagai suatu perusahaan seharusnya lebih hati-hati dalam soal bisnisnya. Ini perlu dibenahi. Yang kedua, sekarang tinggal bagaimana kemauan pemerintah untuk mereformasinya. Sekarang saya kira sudah mulai benar karena industri pertahanan mulai dikelola oleh Kemenhan dan tidak lagi Kemenristek. Saya kira sudah masuk akal karena kini hubungan antara Alutsista yang dibutuhkan dan industri pertahanannya sudah mulai agak nyambung, sedangkan dulu tidak.

Anda menjelaskan bahwa bisnis juga menjadi hal yang esensial atau vital, tetapi ketika bicara tentang kondisi pertahanan kita maka ini juga harus disesuaikan dengan persepsi atas ancaman. Bagaimana kompleksitas ancaman yang harus kita hadapi saat ini dan bagaimana postur industri pertahanan yang hendak kita bangun?

Nah itu jadi perdebatan yang sangat tidak mudah. Banyak orang mengatakan bahwa dalam 15 atau 20 tahun mendatang tidak mungkin ada perang di Indonesia. Kalau tidak ada perang berarti kita tidak perlu Alutsista. Itu mulai menjangkiti banyak orang. Tiba-tiba kemudian kita ada masalah perbatasan dengan Malaysia dan semua orang kaget karena tampaknya Alutsista kita tidak cukup kuat untuk mempertahankan bahkan dalam solusi yang sangat sederhana yaitu masalah perbatasan. Jadi posturnya memang belum ketemu tapi paling tidak kita harus mulai membenahi kemampuan kita sebagai suatu pattern agar negara-negara sekitar tidak berani. Nah akibatnya kita masih butuh suatu Alutsista untuk melakukan suatu perang atau melakukan suatu perang terbatas.

Bagaimana persisnya kalau untuk postur minimum essential force?

Itu juga persoalan yang tidak mudah. Tentara Nasional Indonesia (TNI) memang sudah mendefinisikan dan Kemenhan juga sudah mendefinisikannya. Namun kita belum ketemu juga sebetulnya posturnya seperti apa. Contoh, kita perlu melindungi perbatasan kita dengan kapal cepat atau pesawat-pesawat yang siap tempur tapi kemampuannya seperti apa. Tentu saja itu akan membuat kita sangat offensive. Sebagai contoh, kalau Australia jelas mereka sudah sangat ofensif karena doktrin perang Australia adalah kalau terjadi perang maka akan dilakukan di luar zona. Jadi jauh sebelum masuk Australia sudah dihancurkan musuhnya. Singapura dan Taiwan juga demikian. Nah Indonesia seperti apa? Paling tidak, kita harus bisa menjaga perbatasan kita dengan baik.

Kalau kita ambil konteks di Asia Timur. Di situ ada sejumlah negara utama besar, yaitu China, Jepang, Korea Utara, dan juga Korea Selatan. Negara-negara ini bisa kita sebut sebagai pemain ekonomi yang utama tetapi masing-masing tidak meninggalkan isu pertahanan mereka. Hari ini modernisasi militer sangat luar biasa dilakukan. Apakah kesadaran yang demikian ada juga di pemerintah kita hari ini?

Susah mengatakannya tetapi seharusnya demikian. Kalau kita ingin menaikkan ekonomi atau ekonomi maju, maka pertahanannya akan maju. Itu jelas dimanapun juga. Tapi sekarang anggaran pertahanan kita kurang dari 1% Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Tapi kalau tidak salah masuk dalam tiga besar dalam APBN?

Iya, benar barangkali. Tetapi 1% dari GDP. Negara lain sudah sampai 2%. Bahkan Malaysia sudah sampai 4%.

Apakah itu berarti masih jauh?

Iya, masih jauh sebetulnya. Memang kita bisa melakukan diplomasi yang lain, tetapi yang kami khawatirkan ada suara-suara di kalangan pemerintah bahwa tidak mungkin ada perang dalam waktu 20 tahun mendatang. Itu kadang-kadang meninabobokan sehingga usaha kita untuk mempermodern Alutsista menjadi berkurang. Apalagi dalam buku putih kita selalu mengatakan bahwa ancaman kita masih dalam negeri. Itu juga sudah mulai harus direvisi karena benar di dalam negeri masih banyak masalah dengan ancaman-ancaman separatisme dan segala macamnya, tetapi saya kira lebih baik kita juga memikirkan ancaman dari luar.

Artinya, ancaman dari luar juga tidak hilang sama sekali walaupun mungkin intensitas atau skalanya lebih kecil, betulkah?

Saya kira tidak berarti hilang. Artinya, kita harus tetap mampu mempertahankan kedaulatan kita. Kalau tidak nanti kita akan seperti pelanduk di tengah gajah yang bertarung.

Apa konkritnya yang kita butuhkan untuk melakukan modernisasi industri pertahanan?

Saya kira pemerintah sudah mulai menyadari hal tersebut dan sekarang sudah dibentuk Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP) yang sekarang di bawah Kemenhan. Saya kira ini sangat positif. Saya tahu teman-teman di Kemenhan sangat serius untuk mengembangkan dan mendorongnya, bahkan berbagai peraturan-peraturan yang dulu tidak ada sekarang mulai dijalankan. Saya kira kita on the right track untuk mencapai itu tapi butuh waktu karena persoalan di PT. DI juga tidak mudah. Sekarang utangnya banyak sekali, tidak solvent (tidak mampu membayar hutang), dan masih perlu dukungan pemerintah. Karena itu program-program yang didukung oleh pemerintah untuk mengembangkan Alutsista mandiri, saya kira perlu tetap didukung.

Kalau kita ambil satu contoh Singapura, negara tetangga ini cukup punya concern terutama dalam sisi maintenance ataupun pemeliharaan terhadap Alutsista. Dia sepertinya sadar betul ini peluang pasar yang bisa dimasuki. Seandainya kita ingin mengembangkan industri pertahanan sebagai competitor ataupun bisa survive ke depan, apa yang harus kita ambil sebagai spesialisasi?

Memang Singapura pintar karena tidak manufacturing dari Alutsista, tapi lebih banyak ke arah service dan maintenance karena negaranya sangat kecil. Indonesia tentu saja negara besar, kita masih punya pasar yang cukup untuk sebagai manufacturing.

Indonesia juga mengekspor beberapa Alutsista ke luar negeri. Jadi ini merupakan modal yang cukup baik karena itu kita tetap harus menggunakan manufacturing meskipun maintenance harus tetap kita kerjakan. Kalau alat itu kita buat sendiri maka maintenancenya tidak perlu ke luar negeri. Kita juga harus membuat agar industri pertahanan tidak lagi menjadi seolah-olah beban bagi anggaran tetapi bisa menjadi penggerak ekonomi. Meskipun pemerintahnya tidak mendukung tetapi industri pertahanan juga bisa menjadi penggerak ekonomi.

Ya, jadi kita bisa mencapai berbagai target. Kita mendapatkan nilai ekonomi sekaligus kepentingan strategis pertahanan dapat kita wujudkan. Ke arah mana sebenarnya panduan pertahanan kita hari ini?

Secara teknologi harus diakui bahwa negara-negara Barat jauh lebih kuat dibanding negara-negara Rusia. Artinya, Amerika Utara dan Eropa masih lebih maju dibanding Rusia. Memang kemarin ada pergeseran sehingga politik luar negeri kita mengatakan daripada ke Barat terus, kita juga ambil dari Timur. Namun itu tidak mengubah konsentrasi secara teknologi bahwa Amerika dan Eropa memang lebih baik.

Mungkinkah kita perlahan-lahan bisa mulai mengurangi ketergantungan kita kemudian kita tidak menjadi bangsa yang secara absolut tergantung pada negara-negara Barat?

Saya kira masih mungkin, artinya harus komprehensif. Salah satunya adalah pengembangan sumber daya manusia (SDM) harus di bidang teknik penerbangan. Kalau Anda pergi ke semua industri penerbangan di luar negeri maka Anda akan menemukan orang Indonesia di sana. Bahkan ada cerita Perdana Menteri Malaysia Mahathir Muhammad mengetahui bahwa Brazil sangat kuat di bidang industri pertahanan. Mereka datang ke Brazil ternyata yang ditemui orang orang Indonesia di sana. Kalau melihat pesawat Brazil CJ 1130 itu persis dengan N 2130 karena yang mendisain adalah teman-teman kita yang pergi ke Brazil.

Sekarang Malaysia dapat banyak kontrak dari Airbus untuk pembuatan sparepart composit. Yang mengerjakan adalah teman-teman kita. Mungkin ada 400-500 orang kita yang ada di Malaysia mengerjakan hal tersebut. Jadi dari segi SDM, kita sangat kuat. Hanya sekarang bagaimana kita menggerakannya lagi sehingga mereka bisa pulang lagi. Itu yang jadi masalah.

Tentu ini membutuhkan komitmen kesungguhan dari pemerintah. Apa konkritnya yang harus dilakukan oleh pemerintah dan apa target 15-20 tahun ke depan untuk industri pertahanan kita?

Saya hanya memberikan contoh di bidang teknik penerbangan. 20 tahun mendatang kita harus segera mengganti beberapa pesawat kita F 16 seri A dan B kita yang sudah mulai tua. Pesawat Sukhoi kita barangkali sudah mulai tua juga. Sementara tantangan lingkungan kita sudah besar. Karena itu pemerintah sekarang dalam tahap mengembangkan pesawat tempur bersama dengan Korea, itu yang saya dengar. Kalau program itu berjalan dan dikelola dengan baik maka engineer-engineer kita yang ke luar negeri saya kira tidak keberatan untuk pulang dan akan mengembangkan lagi PT. DI. Itu merupakan satu awal dari kebangkitan terutama untuk industri pertahanan kita. Kalau itu sudah terjadi mungkin juga PT. PAL bisa jalan.

Tadi Anda mengatakan PT. PINDAD dibandingkan dengan dua saudaramya yaitu PT. PAL dan PT. DI sedikit lebih menggeliat karena ada suntikan dana dan lainnya. Apakah itu juga bisa menjamin kelangsungan hidup PT. PINDAD?

Saat ini sudah dimulai dengan PT. PINDAD mendapat 52 order panser Anoa. Kalau itu berkembang terus seperti sekarang senjata SS1 dan SS2 yang dibuat sudah bisa juga diekspor. Artinya, kalau TNI Angkatan Darat berkomitmen untuk tetap mengambil Alutsista dari PT. PINDAD akan tetap jalan.

Anda sebagai seorang staf pengajar di Unhan tentu mengetahui pemerintah memiliki visi atau misi orientasi dalam membuat sekolah tersebut. Apa yang Anda harapkan dari alumnus Unhan?

Universitas Pertahanan Indonesia (UPI) sangat spesifik terutama di bidang program saya. Mahasiswanya adalah 50% sipil dan 50% militer. Yang kami harapkan ada interaksi antara sipil dan militer di Unhan. Tujuannya adalah mendidik kader-kader ahli di bidang pertahanan baik sipil maupun militer sehingga mereka bisa bicara bareng-bareng merumuskan masa depan Indonesia dengan lebih baik di antara kedua unsur tersebut. Dulu pada zaman Orde Baru, kita ingat militer dan sipil saling terpisah, saling bentrok melulu. Jadi kita ingin membuat agar programnya jalan.

Yang pasti supremasi sipil tetap akan terus dijunjung tinggi, betulkah?

Itu yang terus kita harapkan. Karena itu dibuat UPI supaya kita menyiapkan civilian dan juga pakar military yang tahu bahwa ini adalah civilian supremacy.

Sebagai penutup, apa kira-kira harapan Anda terkait dengan industri pertahanan kita?

Saya kira industri pertahanan perlu ditingkatkan, perlu dipertahankan dan perlu didukung terus. Tetapi jangan lupa ini harus merupakan suatu bagian besar dari security sector reform. Itu yang penting. Jadi tidak boleh berdiri sendiri tetapi merupakan suatu bagian besar dari security sector reform artinya civilian supremacy, penegakan hukum. Bisnis militer dan segala macamnya merupakan suatu rangkaian besar dan pengembangan industri pertahanan tersebut merupakan bagian dari itu tidak bisa terlepas sendiri-sendiri.