Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Anies Baswedan

Mempertemukan Semangat Belajar dan Kebutuhan

Edisi 766 | 29 Nov 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kami berterima kasih atas kedatangan Anies Baswedan, warga negara kelas satu dan sudah mendapatkan berbagai award di Indonesia maupun luar negeri. Andaikata Anda belum tahu, terakhir pada 2010 dia menerima Nakasone Yasuhiro Award, mantan Perdana Menteri Jepang, dan juga masuk daftar tokoh-tokoh global. Dia adalah ahli hubungan internasional dan juga Rektor Universitas Paramadina, serta aktif sebagai pengamat politik. Namun, yang menarik perhatian kami sekarang adalah suatu usaha khusus yang dilakukan bersama kawan-kawannya di Yayasan Indonesia Mengajar.

Anies Baswedan mengatakan pendidikan adalah kunci transformasi. Kalau kita lihat realita pendidikan maka ada banyak sekali masalah. Namun, di balik semua masalah tersebut, orang yang berada paling ujung dan yang senyatanya menyampaikan proses belajar – mengajar adalah guru. Pengajar atau guru adalah kunci karena dia yang berada di depan kelas.

Menurut Anies, saat kita melihat guru maka realita yang ada di Indonesia adalah kualitas guru yang rendah. Kedua, distribusi guru yang tidak merata. Jadi anak-anak Indonesia yang terdidik dan berkualitas didorong untuk menjadi guru di daerah pelosok. Tapi sekarang siapa yang mau menjadi guru? Sulit sekali rasanya untuk seseorang yang sudah sekolah begitu tinggi dengan meraih nilai begitu baik, lalu diminta menjadi guru di pelosok tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Di sini kita thinking outside the box, mengapa dia harus selalu menjadi guru seumur hidup? Maka muncullah program Indonesia Mengajar, yaitu seseorang yang lulus seleksi dan telah mendapat pelatihan menjadi guru selama setahun di daerah pelosok lalu bergantian dengan orang lain menjadi guru.

Berikut wawancara Anies Baswedan dengan Wimar Witoelar.

Pembaca mungkin telah mengetahui juga dari berbagai koran mengenai suatu program yang sangat unik yaitu Indonesia Mengajar. Silakan Anda menjelaskannya terlebih dahulu?

Pertama, saya apresiasi sekali mendapat kesempatan mendiskusikan ini panjang lebar dengan Pak Wimar di sini. Spirit dari Gagasan Indonesia Mengajar sebenarnya adalah Let’s Not Curse the Darkness and Light a Candle (Jangan hanya memaki kegelapan, tapi nyalakan sebuah lilin – Red). Itu karena memang saat ini situasi kita gelap, tapi kalau kita hanya curse the darkness,maka nothing is done.

Nah, kalau kita perhatikan bahwa yang membuat kita menjadi maju dan berkembang seperti sekarang adalah pendidikan. Pendidikan menjadi kunci transformasi. Kalau kita lihat realita pendidikan maka ada banyak sekali masalah. Tanpa perlu menggunakan seminar panjang lebar akan langsung muncul 5 - 10 masalah pendidikan. Namun, di balik semua masalah tersebut, siapa yang paling ujung yang senyatanya menyampaikan proses belajar – mengajar? Jawabannya guru.

Mengapa pengajarnya?

Pengajar atau guru adalah kunci. Seperti piramida terbalik, dari semua persoalan pendidikan mulai dari undang-undang (UU), sistem pendidikan, dan seterusnya, posisi guru paling di ujung piramida karena dia yang berada di depan kelas. Saat kita melihat guru maka realita yang ada di Indonesia adalah kualitas guru yang rendah. Kedua, distribusi guru yang tidak merata. Kalau kita dikatakan kekurangan guru, jawabannya adalah tidak juga karena rasio murid dan guru cukup, tetapi distribusinya tidak merata. Di kota-kota mengalami over supply, sedangkan di daerah kekurangan. 66% sekolah di pelosok mengalami kekurangan guru, banyak kelas yang harus digabung. Melihat realita ini membuat kita berpikir, apa yang bisa dikerjakan?

Yang bisa dikerjakan adalah mencoba untuk merangsang hadirnya guru berkualitas. Jadi anak-anak Indonesia yang terdidik dan berkualitas didorong untuk menjadi guru di daerah pelosok. Tapi sekarang siapa yang mau menjadi guru? Sulit sekali rasanya untuk seseorang yang sudah sekolah begitu tinggi dengan meraih nilai begitu baik, lalu diminta menjadi guru di pelosok tanpa listrik, tanpa sinyal telepon. Di sini kita thinking outside the box. Mengapa dia harus selalu menjadi guru seumur hidup, mengapa tidak menjadi guru setahun saja lalu bergantian dengan orang lain menjadi guru? Why not? Begitu dibuat menjadi satu tahun, maka muncullah supply begitu tinggi.

Jadi orang tidak takut menjadi guru bila ini bukan lifetime, betulkah?

Ya, bukan lifetime. Di sisi lain yang dibutuhkan sekolah-sekolah tersebut juga adalah kehadiran guru, bahwa mereka hadir satu tahun, dua tahun, atau 20 tahun tidak masalah. Selama kita melihatnya begitu, kemudian munculah gagasan Indonesia Mengajar. Tujuannya ada dua yaitu mengisi kekurangan guru, dan kemudian kita berharap dapat merekrut anak-anak terbaik agar kelak mereka bisa menjadi pemain-pemain kunci di berbagai bidang. Mereka memiliki kompetensi world class tetapi memiliki pengetahuan dan pengalaman di akar rumput (grass root). Dengan begitu harapannya adalah kita bisa membantu menyelesaikan persoalan pendidikan, tetapi di sisi lain kita menyiapkan masa depan anak-anak terbaik ini kuat ke-Indonesia-annya, kuat ikatan kebangsaannya, tetapi memiliki kompetensi global.

Mengapa dikirim ke daerah pelosok atau terpencil?

Sebenarnya masalah kekurangan guru ada di semua kabupaten kecuali di urban. Kemudian kita memilih tempat-tempat yang secara tantangan sulit tetapi tidak ekstrim sulitnya. Artinya, masih bisa bekerja. Untuk akses yang paling jauh dan paling sulit adalah Halmahera Selatan (Maluku Utara). Jadi, dari tingkat kesulitan, daerah itu berat. Sebagai gambaran daerah Halmahera Selatan, kalau dari Jakarta harus terbang dulu selama tiga jam ke Ternate, lalu dari sana pada sore hari naik kapal selama delapan jam ke pulau. Lalu dari pulau satu pindah ke pulau yang lebih kecil lagi memakan waktu empat jam perjalanan dengan kapal.

Menjadi guru di sana bukan untuk orang yang home-sick, betulkah?

Ya, karena ke daerah tersebut sulit, tetapi itu masih belum ekstrim. Kalau mau ekstrim di pedalaman Papua. Itu jauh lebih ekstrim lagi sehingga tingkat kesulitannya tinggi. Selain itu, faktor kedua adalah dukungan dari kalangan pendidikan lokal harus tinggi. Mulai dari bupati, kepala dinas, maupun kepala sekolah semua harus memiliki respon yang positif. Kemudian kita sebar mereka di lima provinsi di Indonesia. Kelima wilayah tersebut adalah Bengkalis (Riau), Tulang Bawang Barat (Lampung), Pasir (Kalimantan Timur), Majene (Sulawesi Barat), dan Halmahera Selatan (Maluku Utara). Wilayah-wilayah tersebut yang menjadi pilihan untuk 51 anak menjadi guru di sana.

Mengapa 51 orang tersebut terseleksi menjadi guru di daerah tersebut?

Ketika memulai program ini, kami menargetkan ada sekitar 500 pendaftar. Dalam perjalanannya ternyata hampir 1.400 anak yang mendaftar dan kita terus terang sulit dalam memilih mereka. Angka 51 adalah angka yang agak ganjil karena targetnya 50. Kita memilih lebih dari 51, waktu itu ada 55 orang terseleksi tetapi karena alasan kesehatan tidak dapat diteruskan. Jadi yang bertahan tinggal 51 karena tidak bisa dikurangi lagi. Mereka yang dipilih adalah yang memiliki akademik kuat, ada pengalaman kepemimpinan, aktif organisasi, bisa berkomunikasi, dan mau untuk berjuang di ujung sana. Banyak anak-anak yang mau menjadi guru, tetapi mereka adalah anak-anak yang mempunyai potensi dan bahkan sebagian sudah bekerja di tempat-tempat yang nyaman dan mapan. Mereka meninggalkan itu semua untuk menjadi guru.

Jadi bukan baru lulus (fresh graduate)?

Bukan fresh graduate. Persyaratannya adalah berusia di bawah 25 tahun, memiliki indeks prestasi (IP) di atas tiga, lalu sudah berpengalaman bekerja maksimal dua tahun. Itu persyaratannya secara garis besar. Kita menginginkan anak muda Indonesia yang mau berjuang ke sana.

Apakah pembagian tugas guru yang terseleksi berdasarkan mata pelajaran atau lainnya?

Nah, pembagiannya juga menarik. Ketika di sana mereka tidak bisa lagi kaku. Misalnya, ketika di sini mereka dibekali matematika, tapi ternyata ketika sampai di sana yang dibutuhkan adalah guru kelas. Jadi harus bisa macam-macam pelajaran. Kalau di daerah guru kelas juga banyak, misalnya kelas 2, 3, 4 dalam satu ruangan. Ini realita karena tidak ada guru yang cukup. Lalu, Anda harus mengajar 80 anak karena memang tidak cukup gurunya. Di tempat lain hanya mengajar 20 anak. Mereka disiapkan untuk sanggup menghadapi situasi apapun juga di lapangan.

Mereka mendapat pelatihan (trainning) dulu selama dua bulan sebelum berangkat, dan selama trainning pada pukul 22.00 listrik dipadamkan. Jadi tidak ada listrik sama sekali sebagai bagian dari trainning mereka. Mereka tidak membawa handphone selama trainning, ada jam-jam tertentu saja dalam satu minggu dimana mereka bisa berkomunikasi dengan pihak luar. Ini bagian dari persiapan, dan mereka juga mendapat trainning di Resimen Induk Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Rindam Jaya) untuk bertahan hidup (survival).

Apakah trainning tersebut juga berlaku untuk laki-laki dan perempuan?

Ya, laki-laki dan perempuan karena mereka akan berada di ujung sana yang sepi, tidak banyak interaksi dengan dunia, dimana waktu adalah sangat loose. Mereka akan mengalami Indonesia yang berbeda, tetapi justru ini yang kita ingin tunjukkan kepada anak-anak Indonesia terbaik. Indonesia itu bukan hanya Jakarta, Indonesia itu bukan hanya Jawa. Jika suatu saat nanti mereka menjadi pimpinan dimanapun juga, saya selalu mengatakan kepada mereka, pengalaman ini akan selalu menjadi bagian dari dirinya, tidak akan lepas.

Saya tertarik sewaktu bincang-bincang tadi Anda menjelaskan mengenai di Indonesia banyak orang pandai dan punya leadership, serta banyak orang yang sangat mengenal rakyat. Apakah program ini juga dimaksudkan untuk mempertemukan ketiga hal tersebut?

Ya, Benar. Kini Indonesia masuk era baru, dimana standarnya tidak lagi hanya domestik tapi harus bisa menjadi world class. Anak-anak Indonesia yang world class itu memiliki kompetensi dimana jika ditaruh di Jakarta, London, Tokyo, Singapura, mereka bisa bersaing. Namun kebanyakan mereka yang world class itu tidak memiliki pengetahuan grass root. Sebaliknya, mereka yang berada di grass root yang senyatanya mendorong kemajuan tidak memiliki kompetensi world class. Melalui program ini, kami berharap anak-anak memiliki pengalaman di daerah, di pelosok. Jika setelah program ini mereka bekerja di institusi-institusi yang establish, maka harapan jangka panjangnya kita akan punya anak-anak Indonesia yang kompetensinya world class tetapi pemahamannya atau akarnya ada di Indonesia yang di pelosok sana.

Konsep excellence yang di pakai di sini sangat menarik sebab Anda bukan bicara di awang-awang. Majalah Foresight, semacam majalah foreign policy di Jepang, memasukkan Anies Baswedan dalam daftar 20 orang yang perlu diamati dalam waktu 20 tahun dan dari 20 orang tersebut kalau tidak salah yang dari Indonesia hanya Anda. Sedangkan dari negara lain ini jangan kaget ada nama Vladimir Putin dari Rusia, David Milliband (mantan menteri luar negeri Inggris), Hugo Chavez, Rahul Ghandi, dan anak presiden Libya Muammar Khadafi. Betulkah?

Iya, betul.

Informasi ini perlu saya sampaikan untuk menunjukkan bahwa orang-orang yang luar biasa bisa dilahirkan di Indonesia. Terus satu lagi karena Anda tadi di luar acara ini mengatakan bahwa program ini terinspirasi oleh suatu program di Indonesia juga yang dilakukan orang luar biasa. Tolong bicara mengenai bagaimana bibit-bibit excellent itu lahir?

Di masyarakat kita, spirit untuk mengabdi sangat tinggi. Tetapi sering tidak ada saluran yang tepat untuk mereka mengabdi. Saya sering mengatakan kehadiran 51 anak ini seakan-akan mengingatkan kita bahwa ibu-ibu kita masih melahirkan pejuang karena kita sering kewalahan (overwhelmed) dengan kenyataan koruptor dimana-mana. Kehadiran mereka mengubah hal itu.

Kalau kita melihat pada 1950-an, (Alm) Koesnadi Hardja Soemantri (mantan Rektor Universitas Gajah Mada) saat menjadi mahasiswa berhadapan dengan kondisi berupa pemerintah membangun sekolah menengah atas (SMA) dimana-mana, tetapi tidak ada guru. Lalu sebagai rakyat, mahasiswa menawarkan diri menjadi guru sehingga ada program bernama Pengerahan Tenaga Mahasiswa (PTM) pada 1952. Saat itu berangkat delapan orang untuk menjadi guru di berbagai tempat. (Alm) Kusnadi memilih menjadi guru di Kupang, NTT karena saat itu paling jauh dan paling sulit. Pada waktu itu Papua belum menjadi provinsi di Indonesia sehingga kondisi paling sulit adalah ke NTT. Dia mengajar selama dua tahun di sana, dan pulangnya membawa tiga orang anak yang waktu itu dipandang pandai untuk meneruskan kuliah. Anak tersebut, satu anak tidak diketahui namanya, anak kedua menjadi rektor Universitas Satyawacana di Salatiga, anak ketiga menjadi Gubernur Bank Indonesia yaitu Adrianus Mooy.

Sewaktu saya menceritakan program ini kepada Jonathan L. Parapak, dia mengacungkan tangan dan berkata, "Bung, saya bisa kuliah karena ada anak ke tempat kami." Suatu ketika saya di Paramadina dan ada seseorang sedang sholat Jumat di tempat kami, lalu dia bertanya apa kegiatan saya. Saya menjelaskan sedang mengerjakan program ini. Dia menengok, "Apakah seperti PTM?" tanya dia. Lalu, dia menyatakan dirinya berasal dari pedalaman Sulawesi dan tidak ada guru. "Saya tidak dapat kuliah ke Universitas Hasanuddin, jika tidak ada mahasiswa yang datang ke SMA kami dan si mahasiswa itu sampai akhir hayatnya tinggal di pedalaman Sulawesi, menikah di sana, dan menjadi guru seumur hidup." Begitu katanya.

Jadi, pada 1950-an ada 1.400 mahasiswa yang menjadikan dirinya eskalator bagi begitu banyak anak muda Indonesia. Ledakan jumlah mahasiswa tahun 1960-an dilatar belakangi oleh hadirnya para guru di SMA-SMA di pelosok Indonesia. Kita semua mengambil manfaat dari program itu.

Siapa sebenarnya orang-orang yang terlibat di sini secara detail?

Waktu itu kami berkeliling kelima kota yaitu Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta, dan Surabaya untuk mengajak anak-anak muda terjun ke program ini. Lalu hadir 1.383 pendaftar. Semua anak yang mendaftar harus menuliskan essay. Kita punya 1.383 esai yang menuliskan tentang mengapa saya ingin mengajar, dan esai-esai itu sangat inspiratif. Sebagian menceritakan tentang keinginan mereka mengajar. Kita mau menerbitkan esai tersebut dalam sebuah buku. Judulnya kira-kira "Aku ingin Mengajar" yang isinya adalah kumpulan tulisan anak-anak Indonesia yang ingin menjadi guru. Setelah mereka diseleksi, kita mendapatkan 51 anak yang dikatakan "cream de la cream". Ada 16 alumni Institut Teknologi Bandung (ITB), 13 alumni Universitas Indonesia (UI), sembilan dari Universitas Gajah Mada (UGM), dan tujuh dari Universitas Pajajaran (Unpad).

Mengapa dari universitas besar pada umumnya?

Iya dari universitas besar. Padahal tidak ada kriteria harus universitas negeri atau swasta. Dari Universitas Paramadina juga ada dan dari mana-mana yang mendaftarnya. Tetapi yang menarik dari semua anak-anak ini, mereka memiliki kompetensi yang kira-kira kalau saya sendiri daftar belum tentu diterima jika waktu itu kita ada program ini. Bayangkan, ada anak memiliki IP 3,7 dan pernah menjadi ketua pramuka, serta aktif di organisasi lainnya. Dengan aktif di banyak organisasi, dia masih memiliki IP 3,7. Bagaimana menjelaskan ini?

Kemudian, ada salah satu anak yang kita terima sudah bekerta di Procter & Gamble di Singapura. Dia menjadi manajer dengan bergaji dolar dan tinggal di Singapura, namun dia tinggalkan pekerjaan itu untuk menjadi guru di Halmahera Selatan. Tempat yang saya ceritakan tadi lokasinya seperti a place of no where karena tidak ada listrik dan tidak ada sinyal telepon. Kalau mau kirim SMS maka HP dimasukkan ke kantong plastik dulu kemudian ditaruh di perahu yang ada di kampung tersebut. Saat perahu itu jalan nanti HP akan mendapatkan sinyal. Jadi proses send and receive pesan berlangsung sepanjang perahu itu berjalan. Perahu tersebut kembali lagi pada sore hari, dan orang-orang pada ke perahu untuk mengambil HP masing-masing.

Jadi kita bisa mengatakan 51 anak tersebut adalah anak-anak terbaik. Kita katakan kepada mereka, pekerjaan Anda di sana bukan hanya mengajar, pekerjaan Anda menjadi inspirator di daerah itu. Biarkan anak-anak Sekolah Dasar (SD) di sana melihat Anda sebagai contoh bahwa saya ingin seperti Anda. Guru-guru SD di sana juga melihat mereka datang dengan teknik mengajar yang berbeda, baru, dan bisa menjadi inspirasi untuk mereka. Bagi orang tua di kampung sana, anak-anak ini menjadi visualisasi konkret atas mimpi yang mereka miliki. Saya ingin anak saya bisa seperti mereka. Sekarang hal-hal seperti ini hilang atau tidak muncul. Karena itu kita merasa harus yang terbaik yang berangkat ke daerah terpelosok karena tujuannya dia harus bisa menginspirasi.

Selama tujuh minggu mereka trainning di Ciawi, Jawa Barat. Sebagian dari bentuk trainning untuk mereka adalah dibawa ke sekolah-sekolah untuk mengajar. Guru-guru di tempat mereka mengajar pun yang sudah berpengalaman menjadi guru, namun mereka melihat anak-anak ini mengajar dengan cara yang sangat berbeda. Sekolah tersebut menjadi sangat fun karena mendekatinya sangat berbeda. Kemudian gurunya mengatakan kini berat bagi kami karena mendadak bench mark mengajar menjadi tinggi karena kehadiran anak-anak ini yang dekat sekali dengan murid-murid.

Saat selesai praktek dan pulang, anak-anak tersebut memperlihatkan video yang dibuat dan dokumentasi lainnya. Anak-anak SD di tempat mereka praktek menangis melihat mereka selesai praktek mengajar, padahal kegiatan tersebut hanya enam hari. Bayangkan, ketika nanti mereka tinggal selama satu tahun untuk menjadi guru, kedekatan yang terbangun akan luar biasa. Jadi, gambaran untuk 51 anak ini adalah anak-anak yang kita bangga bahwa di Indonesia sebenarnya masih banyak anak-anak seperti itu. Hanya selama ini tersebar-sebar, tidak terkumpulkan. Begitu terkumpulkan, kita optimis karena di pundak mereka kita titipkan masa depan.