Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Anak Menteng jadi Presiden

Edisi 765 | 22 Nov 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Topik kali ini adalah kedatangan Obama. Setelah sempat dua kali tertunda, akhirnya beberapa hari lalu Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama datang ke Indonesia. Kedatangannya tersebut membawa dampak luar biasa. Kita akan membicarakan kunjungan Obama tersebut dengan Wimar Witoelar.

Menurut Wimar Witoelar, kedatangan Obama ke Indonesia merupakan public relations (PR) yang baik bagi negara kita, walaupun hal itu tidak dilakukan secara terbuka (eksplisit). Contohnya, saat dan setelah berpidato di UI, Obama disambut riuh sekali, semuanya tertawa, dan rebutan foto. Hal itu diliput semua stasiun televisi internasional dan menumbuhkan kesan bahwa Indonesia adalah negara ramah, senang kepada Presiden AS, bukan teroris, kelihatanya baik-baik, dan pintar-pintar.

Wimar mengatakan Obama mengangkat nama Indonesia melalui liputan internasional dari kunjungan dia yang sukses. Itu sangat terlihat dari liputan semua stasiun televisi internasional yang menyatakan bahwa ini second honeymoon Obama dengan Indonesia. Jadi itu sukses dari segi PR.

Berikut wawancara Theresia Puspita dengan Wimar Witoelar.

Anda termasuk salah satu yang diundang hadir untuk menyaksikan pidato Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama di Universitas Indonesia (UI). Siapa saja yang hadir di sana?

Saya termasuk satu diantara 6.500 orang yang diundang melalui berbagai saluran. Setahu saya ada yang diundang dari komunitas blogger dan internet, kalangan mahasiswa, dan ada yang diundang langsung dari Kedutaan Besar (Kedubes) AS. Saya termasuk yang terakhir itu.

Bagaimana pendapat Anda mengenai kedatangan Obama di Indonesia?

Saya jawab melalui cerita. Sejak 1998 sewaktu orang bersatu melawan Soeharto, saya belum pernah berada di satu ruangan besar dengan 6.500 orang dan mendapatkan suasana yang sangat kompak diantara hadirin. Tidak ada yang saling mencaci, saling meledek, dan tidak ada yang mencemohkan pembicara. Sekarang sudah menjadi model kalau orang berbicara maka ada yang mencemohkan dan ada yang memuji. Namun saat itu semua orang mendengar dengan sangat tenang seakan-akan kalau ada buku yang jatuh akan kedengaran. Selain itu setiap Obama berbicara sesuatu yang penting, atau bersifat nostalgia, atau lucu membuat hadirin ketawa bergemuruh sampai ke atap-atap ruangan. Itís a happening seperti rock star, semua mendengarkan. Itu ajaib, saya belum pernah mengalaminya. Pengalaman yang luar biasa.

Masa kecil Obama sempat di Indonesia. Menurut Anda, apakah itu membawa dampak luar biasa atau tidak, dan mengapa akhirnya dia begitu dielu-elukan di Indonesia?

Tidak semua orang yang berada di satu tempat akan mendapat pengaruh besar dari lingkungannya. Saya mengenal orang yang saat sekitar tragedi Mei 1998 meninggalkan Indonesia karena mencari perlindungan di Australia atau Hongkong sambil menunggu untuk balik lagi, bahkan ada yang sempat menjadi intern 2-3 tahun di sana. Kalau ditanya sendiri apa saja yang dilakukan di sana? Jawaban dia, menunggu untuk pulang, dia tidak meresap nilai-nilai Australia atau Hongkong. Namun Obama selama di Indonesia sangat meresap. Buktinya, dia menulis buku yang sangat lengkap mengenai kehidupan di sini berjudul, "Dreams From My Father". Di Indonesia, dia hidup bersama ibunya yang menjadi pengaruh terbesar dalam hidupnya. Ibunya seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan juga antropolog. Ibunya memiliki pendidikan strata tiga (S3), bahkan ibunya di Indonesia selama 20 tahun. Sedangkan Obama di sini hanya empat tahun. Pada akhir tahun keempat, ibunya memulangkan dia ke AS untuk dibesarkan oleh kakek-neneknya.

Di buku itu ada penjelasan mengapa ibunya memutuskan Obama harus menjadi orang AS sebab sebenarnya dia bisa menjadi orang Indonesia. Namun yang lebih mengena bagi saya adalah banyak bukti masa kecil dia berkesan. Saya sempat bertemu dan mewawancarai teman-teman sekelasnya di SD Besuki dan di sekolah satunya lagi. Semua teman-temannya sangat ingat, tidak mengatakan, "Siapa yah dia waktu itu?" Mereka sangat ingat karena Obama merupakan leader, seperti leader saat bermain bola, leader dalam bercanda, mengerjai orang, dan fun. Saya pribadi walaupun tidak menjadi presiden, tapi mengalami empat tahun di negara lain, yaitu Skandinavia pada saat saya berumur seperti Obama yaitu 7-11 tahun serta dengan situasi ibu dan ayah yang dekat dengan saya. Hubungan keluarga yang sangat dekat membuat saya bisa mengalami Denmark-Swedia dengan bantuan penghayatan orang tua. Saya jadi tidak bengong. Kalau saya lihat ada kejadian seperti petani mengumpulkan susu untuk dibuat menjadi keju, maka ayah saya menjelaskan bahwa pertanian itu tidak ada yang punya, itu adalah milik bersama. Saya menjadi mengerti bahwa itu namanya koperasi. Saya juga masuk ke pantai dimana orangnya tidak pakai baju, jadi saya tahu apa itu nudism. Tidak hanya cekikikan mendengar orang telanjang. Jadi saya punya sedikit nilai-nilai Skandinavia, hal itu belum lagi mengenai demokrasinya. Walaupun saya di sana umur 7-11, sampai sekarang saya merasa banyak sekali pikiran saya yang terbentuk oleh Skandinavia sehingga sewaktu Denmark heboh mengeluarkan karikatur Nabi Muhammad, saya tidak percaya bahwa itu adalah masyarakat Denmark. Saya merasa itu adalah orang gila aja yang membuat kartun. Obama juga begitu, dia tidak pernah percaya bahwa Indonesia itu teroris. Dia juga tidak percaya bahwa orang Indonesia korup semua karena dia mengetahui banyak orang baik di sini. Jadi Obama tidak perlu public relations (PR) mengenai Indonesia, dia adalah PR Indonesia.

Anda adalah orang yang berkecimpung di dunia public relations. Anda mengatakan Obama adalah PR Indonesia, dan kedatangan Obama ke Indonesia pasti membawa dampak positif dan negatif. Menurut Anda, bagaimana dampak kedatangan Obama ke Indonesia dari segi PR?

Ada kedua-duanya. Kalau kita rajin buka internet, ada artikel saya di The Jakarta Post dalam bahasa Inggris yang menyatakan Obama datang disambut oleh passionate welcome, selamat datang yang mesra. Artikel di The Jakarta Post tersebut menerima banyak komen dari AS, seperti ada yang mengatakan, "Loe wimar, mau aja dikibulin Obama." Terus saya mengatakan dia berkorban untuk menghasilkan healthcare bill. Dijawab lagi, itu sosialisme yang menjerumuskan negara kita. Jadi justru di AS dia mendapat banyak tentangan termasuk pengalamannya di Indonesia juga dicela di AS oleh orang-orang sayap kanan. Namun karena dia menang Pemilu maka sebagian besar rakyat AS mendukung dia.

Respons orang terhadap suatu kampanye PR atau tokoh PR dibentuk oleh dua hal, yaitu persepsi orang mengenai apa yang dikatakan atau pandangan orang dan praduga sebelumnya. Bagi orang AS yang tidak senang keterlibatan presidennya di Indonesia maka responnya sangat negatif. Kalau orang yang tidak senang Indonesia tampaknya tidak ada karena kebanyakan sih tidak tahu Indonesia. Namun mereka banyak yang resah atau kurang senang memiliki presiden yang sepertinya mencintai negara lain. Jadi ada semacam dua loyalitas. Kemudian negara lainnya itu dalam presepsi mereka juga dianggap negara Islam garis keras. Obama sendiri nama tengahnya Husein dan dulu suka dibilang Islam sehingga bagi Obama ke-Indonesia-annya itu di AS bukan aset tapi adalah sesuatu hal yang menghambat. Jadi selama kampanye untuk menjadi presiden AS, dia sembunyikan teman-temannya yang orang Indonesia dan saudara-saudaranya. Saudara tirinya baru dimunculkan sewaktu dia sudah menang. Sebelumnya dia 100% Indonesia. Jadi dia tidak bisa mengkampayekan Indonesia secara terbuka apalagi sebagai presiden, dia adalah Presiden AS bukan presiden dunia atau Indonesia.

Jadi, orang Indonesia yang mengatakan Obama kurang menunjukkan dukungannya terhadap Indonesia hanya menunjukkan ketidak-tahuan orang tersebut. Itu sama kalau saya menjadi presiden kemudian mengatakan kita harus seperti Denmark dan Swedia, maka itu tidak masuk akal. Jadi PR-nya bukan secara terbuka (eksplisit).

Satu contoh, sewaktu di UI setelah berpidato dia disambut riuh sekali, semuanya tertawa, dan rebutan foto. Saya melihat di CNN hal itu menimbulkan kesan bagi orang yang melihatnya adalah orang Indonesia ramah sekali. Ada saudara saya di AS mengatakan dalam satu show itu membuat orang jadi terbangun bahwa Indonesia adalah negara ramah, senang kepada Presiden AS, bukan teroris, kelihatanya baik-baik, dan pintar-pintar. Jadi dari situ menunjukkan bukan yang dia ucapkan, tapi dia dengan pidato yang cerdas bisa mendapatkan dukungan. Setiap dia bicara pluralisme dan demokrasi disambut tepuk tangan keras sekali. Di AS orang sudah cuek mengenai hal-hal itu. Jadi dia mengangkat nama Indonesia dengan mengizinkan liputan internasional dari kunjungan dia yang sukses.

Sebagai orang media saya tahu bahwa CNN, Al-jazeerah, ABC, dan semua stasiun televisi internasional cenderung lari ke berita negatif kalau mau laku. Di sini juga begitu seperti berita bencana letusan Gunung Merapi. Namun dalam hal kunjungan Obama ke Indonesia, mereka mengaksenkan bahwa ini second honeymoon Obama dengan Indonesia. Jadi sukses dari segi PR.

Tadi Anda juga sempat menyinggung tentang pluralisme yang dibahas dalam pidato Obama di UI. Bagaimana pandangan Anda mengenai pluralisme?

Pluralisme sesuatu hal yang tidak dinikmati semua orang. Banyak orang yang takut terhadap perbedaan dalam asal usul etnis, agama, bahkan berbicara. Saya beruntung tidak punya beban itu. Kalau saya melihat Theresia Puspita maka pembaca mungkin akan tahu dia orang dengan ciri etnis Tionghoa. Bagi saya, itu bisa membuat saya jatuh cinta dengan Anda, sama seperti saya jatuh cinta dengan orang Sunda atau orang Jawa yang dibesarkan di Jakarta. Jadi tidak ada beda bagi saya, hanya kualitas manusianya saja. Di Indonesia ada yang pluralis dan ada yang tidak. Kita tidak bisa mengubah itu tapi yang bisa kita ubah adalah perilaku publik. Jadi kalau orang sentimen sama orang China maka jangan ditunjukan apalagi dilembagakan dalam peraturan negara. Zaman Soeharto ada diskriminasi terhadap keturunan Tionghoa seperti tidak boleh memakai nama asli, imlek tidak dirayakan dan sebagainya. Namun sejak ada Gus Dur hal itu berubah. Sekarang malah malu kalau orang mau sentimen sama orang China, dan orang Arab kita terima dengan rangkulan terbuka. Di AS sebetulnya lebih parah dari kita karena kita masih ditutupi oleh urusan lain seperti kemiskinan. Di AS setelah mereka menjadi negara kaya pun mereka tidak rela membagi seluruh kenikmatan negaranya. Orang hitam itu baru bisa duduk di restaoran dengan orang kulit putih pada 1954. Jadi dengan terpilihnya Obama terbukti bahwa pluralisme sudah terjadi di AS. Ini bukan berarti orang itu tidak plural kalau mengkaji menantu seperti tidak akan terima kalau agama atau sukunya berbeda, itu sifat pribadi tidak apa-apa. Namun orang tidak boleh memisahkan sekolah, hari libur, nama dan sebagainya karena pluralisme menghargai budaya yang berbeda-beda.

Apakah betul Obama terlihat sangat menghargai sekali pluralisme di Indonesia?

Sangat, apalagi dia secara pribadi menikmati itu. Di Indonesia dia betah sekali karena dicintai, disukai. Dia pernah menaksir perempuan Indonesia di sini.

Kalau tidak salah, Obama terpaksa untuk pindah karena harus sekolah di AS, betulkah?

Dalam buku "Dreams From My Father" hal itu diungkap lebih mendalam. Awalnya, Stanley Ann Dunham (Ibunya) yaitu wanita berkulit putih membawa dia ke Jakarta setelah menikah dengan Lolo Sutoro (warga negara Indonesia) karena dia merasa budaya Indonesia lebih bagus dari pada budaya AS yang banyak pertentangan dan sebagainya. Dia menilai Indonesia lembut, sopan dan sebagainya tapi setelah di sini beberapa tahun yang dia lihat di sini banyak korupsi, bahkan dia cerai dengan Lolo Sutoro karena suaminya yang dulu low profile dan rajin bekerja, setelah di sini menjadi materialistis. Saat suaminya mendapat jabatan tinggi di perusahaan asing lupa teman yang lama dan berlomba dalam kekayaan. Bagi Ann Dunham, itu mengawatirkan dan dia tidak mau Obama tumbuh menjadi mental anak pejabat begitu. Sedangkan untuk anak-anak tumbuh baik dibutuhkan suasana yang lebih lembut karena itu dia menyuruh Obama pulang ke AS, sedangkan dia sendiri sudah punya nilai-nilai yang kuat untuk tinggal di Indonesia.

Dalam pidato di UI, Obama membahas sedikit mengenai perdagangan antara Indonesia dan AS. Bagaimana pandangan Anda mengenai hal ini?

Dia menganut aliran yang hampir semua orang di AS menganutnya yaitu perdagangan bebas. Jadi perdagangan itu antara orang dengan orang, bukan pemerintah dengan pemerintah. Pemerintah hanya mengatur saja supaya jangan satu orang menguasai yang lain. Kepentingan politik negara yang menjadi produsen dalam perdagangan bebas adalah supaya barangnya bisa dijual. Kalau tidak bebas nanti barangnya hanya berputar di AS, tidak bisa tumbuh. China sekarang bisa besar karena barangnya dijual ke negara lain. Jadi sebetulnya dia ke sini untuk kembali mengambil inisiatif dari China sebagai orang AS murni.

Lalu, ada juga mengenai pertukaran pelajar dari AS ke Indonesia, begitupula sebaliknya. Apakah itu salah satu trik Obama untuk menyatukan antara AS dan Indonesia?

Trik atau usaha tergantung yang memandangnya. Saya tidak pernah menganggap presiden manapun cukup rendah untuk membuat trik macam-macam. Itu sih usaha dia saja. Setiap negara menginginkan pertukaran pelajar yang deras supaya aliran pemikirannya dikenal. Pemerintah Australia mendorong beasiswa untuk orang Indonesia di Australia, dan juga mendorong mahasiswanya dari Australia untuk datang ke Indonesia dalam rangka membuka dunia.

Jadi memang maksudnya Obama begitu. Dia mengatakan mulai saat ini beasiswa untuk mahasiswa Indonesia dilipat gandakan dua kali. Kemarin jumlah beasiswa dari AS sempat menurun karena Indonesia mengikuti rezim penindas hak azasi manusia, kaum ekstrim, teroris dan sebagainya. Jadi sekarang Obama ingin mengatakan Indonesia itu aman sebagai mitra, dan kita mengundang pertukaran pelajar. Ada dua kegunaannya yaitu, menambah generasi muda yang nantinya akan kenal AS di samping juga membuat orang Indonesia percaya bahwa AS memiliki itikad baik. Kalau negara yang itikadnya tidak baik itu adalah hanya menjual senjata, seperti itu. Kalau pertukaran pelajar pasti niatnya baik. Saya termasuk orang yang mendapat manfaat dari pertukaran pelajar dan senang sekali kalau orang lain sekarang bisa mendapatkan kesempatan itu juga.

Anda selaku praktisi Public Speaking, bagaimana melihat public speaking dari seorang presiden AS yang banyak sekali menggunakan bahasa Indonesia?

Itu jelas menarik simpati di Indonesia. Kalau di Jerman maka dia tidak pakai bahasa Indonesia. Di Indonesia dia khusus memakai bahasa Indonesia karena jarang ada presiden negara lain yang bisa bahasa Indonesia. Dia bisa bahasa Indonesia bukan pura-pura. Di rumahnya dan di Gedung putih kalau ia bicara sama adiknya sering separuhnya memakai bahasa Indonesia semacam loe-gue, loe-gue. Jadi Presiden AS yang bisa bahasa Indonesia jarang dan aneh, dan itu dia ingin tunjukkan. Dia mengatakan, "Indonesia adalah bagian dari diriku." Lalu ada lagi yang terkenal, "Terima kasih untuk baksonya, nasi goreng, emping dan kerupuk. Semuanya enak." Jadi kita merasa hangat. Untuk PR itu penting mendekatkan kita pada lawan bicara. Jadi kita berusaha menjembatani budaya.

Apakah itu suatu yang luar biasa?

Belum tentu hebat, tapi aneh. Dia mengatakan suatu catatan yang lucu mengenai masa kecil. "Dulu saya meninggalkan Indonesia saat berumur 11 tahun, meninggalkan sekolah dengan memiliki sudah cukup banyak teman. Saya rasa diantara teman-teman saya dulu tidak ada yang menyangka bahwa saya akan kembali sekarang sebagai Presiden AS". Mungkin itu termasuk orang-orang yang tadinya menyiksa dia. Jadi dia menang.