Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ezmieralda Melissa

Antara Teori dan Aplikasi: Universitas dengan Kerjasama Internasional

Edisi 764 | 14 Nov 2010 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kali ini kita masuk ke topik yang rasanya belum pernah dibawakan pada acara ini. Topik ini akan diminati oleh orang yang berminat pada pendidikan tinggi dalam suasana internasional dan dengan pola yang sedikit berbeda, baik pola akademis atau pola praktis maupun gabungan keduanya. Tamu kita adalah Ezmieralda Melissa, seorang staf pengajar di Swiss German University (SGU), Serpong, Banten. Dia juga menjabat Sekretaris Departemen di Departemen Komunikasi dan Public Relations di SGU.

Menurut Ezmieralda Melissa, SGU mengambil bentuk university of applied sciences seperti perguruan tinggi di Jerman, Swiss, dan Austria. Dalam hal ini mahasiswa tidak hanya diberikan teori di dalam kelas, tetapi juga diharuskan untuk mengikuti internship. Di SGU, mahasiswa pada semester tiga harus internship di perusahaan-perusahaan nasional. Sedangkan pada semester enam harus internship di Jerman atau di negara-negara lain.

Di Indonesia memang ada beberapa universitas yang menawarkan program serupa tapi kebanyakan internshipnya dilakukan hanya secara nasional saja, yaitu program magang hanya di dalam negeri. Magang di luar negeri memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat bagaimana cara kerja masyarakat internasional. Hasilnya, setelah pulang dari internship di luar negeri mahasiswa terlihat semakin dewasa dari sebelumnya. Mereka paham terlambat satu menit saja akan merugikan mereka.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Ezmieralda Melissa.

Apa ciri spesifik perguruan tinggi yang memiliki ciri situasi internasional?

Mungkin yang perlu diberitahukan pertama adalah kita bukan sekolah internasional. Untuk menjadi sekolah internasional, kita harus mengadaptasi kurikulum dari luar. Sementara kalau kita mengadaptasi kurikulum dari luar, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi tidak akan memberikan wewenang untuk meluluskan mahasiswa. Jadi kurikulum masih menggunakan kurikulum yang diperbolehkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi. Namun, kita berusaha untuk menampilkan strandarisasi pendidikan internasional. Caranya, pertama, dengan menggunakan buku-buku yang berbahasa Inggris dan buku-buku yang digunakan di universitas-universitas di mancanegara. Kedua, dalam proses belajar mengajar kita sehari-hari menggunakan bahasa Inggris, di samping juga para mahasiswa mendapatkan dua bahasa tambahan yaitu bahasa Mandarin dan bahasa Jerman yang bisa mereka pilih.

Apakan Anda pribadi punya background internasional?

Pendidikan saya. Saya pernah satu tahun sebagai mahasiswa pertukaran pelajar di Swiss. Sedangkan pendidikan strata satu (S1) dan strata dua (S2) saya di Australia. S1 saya di Bond University, Gold Coast. Sedangkan S2 di University of Melbourne. Keduanya dalam bidang komunikasi.

Ada satu lagi ciri SGU ini yang kemarin saya lihat menonjol yaitu sifatnya sebagai politeknik, betulkah?

Iya, benar. Para pendiri SGU berasal dari Jerman, Austria, dan Swiss. Di ketiga negara ini politeknik atau di negara mereka disebut dengan university of applied sciences yaitu mahasiswa tidak hanya diberikan teori di dalam kelas, tetapi juga diharuskan untuk mengikuti internship. Di SGU, mahasiswa pada semester tiga harus internship di perusahaan-perusahaan nasional. Sedangkan pada semester enam harus internship di Jerman atau di negara-negara lain.

Apa itu internship dan mengapa harus melakukan itu?

Internship adalah program magang yang dilaksanakan sekitar empat bulan per kali magangnya. Tujuan internship pada semester tiga untuk mengetahui bagaimana operasional industri di dalam negeri. Itu kesempatan bagi mahasiswa kita untuk melihat secara langsung, sehingga dia tahu ingin terjun dalam industri seperti apa saat lulus nanti. Internship pada semester enam terkait karena kita mempersiapkan mahasiswa untuk bekerja tidak hanya di dalam negeri tapi juga di luar negeri sehingga mahasiswa melakukan magangnya di luar negeri, terutama di Jerman dan Swiss kalau mereka ingin mendapatkan double degree dari negara tersebut. Kalau mahasiswanya tidak menginginkan di kedua negara tersebut maka bisa melakukannya di negara lain tapi dengan ketentunan mereka tidak akan mendapatkan double degree.

Apakah internship di luar negeri tersebut atas biaya mahasiswa sendiri?

Termasuk dalam biaya kuliahnya. Jadi tetap saja dihitung sebagai biaya kuliah dan tentunya atas biaya mahasiswa sendiri.

Internship tidak ada uang kuliah. Jadi, apa biaya yang harus di sediakan oleh mahasiswa?

Tiket pesawat, akomodasi dan biaya hidup sehari-hari. Sekali lagi, saya ingin membenarkan bahwa mahasiswa yang internship di Jerman dan Swiss akan mendapatkan double degree karena mereka akan mengikuti kelas di universitas-universitas di sana. Itu hanya berlaku untuk yang di Jerman dan di Swiss saja.

Seharusnya ada tuition (biaya pendidikan). Apakah itu tidak dibayar terpisah?

Sepengetahuan saya tuition dibayarkan ke universitas yang ada di Indonesia.

Apakah semua mahasiswa SGU membayar uang kuliah atau mendapat beasiswa?

Untuk sekarang ini beasiswa diberikan pada mahasiswa yang berprestasi dimulai pada semester kedua. Prestasinya yang dinilai terutama prestasi akademik yang dilihat dari Grade Point Average (GPA) atau Indeks Prestasi. Bila GPA memenuhi kualitas tertentu maka akan mendapat beasiswa sebesar 100% .

Berapa kualifikasinya?

Seingat saya kalau GPA di atas 3,8 maka akan mendapatkan beasiswa 100%.

Apakah ada yang mencapai 3.8?

Ada yang mencapai dan kalau tidak salah kebetulan anaknya pernah internship di InterMatrix Communications. Anak tersebut berhasil mendapatkan beasiswa selama kurang lebih empat semester berturut-turut sebesar 100% .

Saya menangkap bahwa internship merupakan bagian yang penting. Apakah program itu memang tidak ditawarkan di sekolah lain di Indonesia?

Di Indonesia setahu saya ada beberapa universitas yang menawarkan program serupa tapi kebanyakan internshipnya dilakukan hanya secara nasional saja, yaitu program magang hanya di dalam negeri. Mungkin kelebihan kita adalah memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melihat bagaimana cara kerja masyarakat internasional. Itu yang tidak ditawarkan sama program lain.

Apakah mahasiswanya bebas memilih untuk melakukan internship?

Mereka bebas memilih, tapi karena mungkin sebagian besar mahasiswa tidak mempunyai kontak dengan perusahaan-perusahaan di luar negeri maka kami membantu untuk mencarikannya.

Kita bertemu di sini karena saya melihat memang ada suatu peristiwa penting tahun ini yaitu sepuluh tahun SGU. Bagaimana sepuluh tahun pertama tersebut menjadi acuan untuk sepuluh tahun berikutnya, apa rencana selanjutnya yang akan dikembangkan?

Kita universitas baru, jadi yang paling signifikan adalah kita baru saja pindah ke kampus baru yaitu di kawasan Edutown Bumi Serpong Damai (BSD). Sebelumnya kami di German Center jadi kami sekarang mempunyai gedung sendiri. Otomatis dengan adanya gedung ini maka kesempatan untuk melakukan riset dan juga mengembangkan kegiatan-kegitaan mahasiswa, serta kegiatan lainnya akan lebih berkembang ke depannya. Pada tahun ini yang lebih ditekankan adalah restrukturisasi untuk lebih mengedepankan bidang riset. Sebelumnya memang riset masih minim. Di Indonesia juga riset masih minim. Itu yang ingin kami kembangkan lebih lanjut. Sebagai contoh, kita mewajibkan setiap dosen yang penuh waktu untuk melakukan riset paling tidak satu per semester dengan melibatkan mahasiswa. Selain itu juga memberikan fasilitas-fasilitas yang lebih mendukung kepada mahasiswa.

Apa mata kuliah yang Anda ajarkan?

Untuk sekarang saya mengajar mata kuliah introduction to public relations dan event management.

Apa bidang studi yang merupakan kekuatan SGU?

Saya pikir karena terkait mindset orang Indonesia bahwa yang namanya Jerman pasti berhubungan dengan teknik. Jadi yang paling populer pun, program-program studi tersebut. Yang paling populer mekatronika (Mechanical Engineering - Electronic Engineering/Mechatronic) dan life sciences. Minat terhadap program itu sangat banyak, padahal untuk mekatronika, SGU baru menawarkan program tersebut. Kalau tidak salah baru SGU dan ITB yang menawarkan program tersebut. Universitas lain belum ada.

Kalau program studi komunikasi, kita melihat perkembangannya karena sekarang komunikasi dan industri komunikasi semakin berkembang. Kami juga melihat ada signifikasinya dengan jumlah mahasiswa kami yang lebih banyak di program studi komunikasi, tetapi kekuatanya di mekratonika dan life sciences.

Apakah ada hubungan kerjasama dengan industri, perguruan tinggi atau pemerintah di Jerman?

Kebetulan pendiri dan Board of Governors SGU adalah orang-orang yang mewakili perusahaan atau pemerintah Jerman, Swiss dan Austria. Apabila mahasiswa semester enam ingin melakukan program magang di Jerman, kita ada kerjasama dengan universitas di Jerman yaitu University of Ilmenau. Bentuk universitas tersebut seperti kita yaitu university of applied sciences.

Selain itu kami melakukan kerja sama dengan perusahaan di Jerman, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Itu juga alasan mengapa kampus SGU sebelum berlokasi di tempat yang sekarang berada German Centre. Itu karena di tempat tersebut terdapat link perusahaan Jerman yaitu Alcatel, Siemens, dan lain-lain.

Apakah sudah dipantau orang-orang yang kemudian membentuk karier di perusahaan Jerman?

Program studi kami kebetulan lulusannya baru satu angkatan. Dari anak-anak yang lulus dari program studi kami memang tidak memilih bekerja di perusahaan Jerman. Tapi kalau dari jurusan Mekatronika ataupun life sciences dan teknologi informasi, banyak dari mereka yang bukan saja memutuskan untuk bekerja dalam perusahaan Jerman di lingkup perusahaan internasional, tetapi juga kembali ke Jerman setelah internship mereka. Itu karena mereka mendapatkan contact person saat melakukan program internship di Jerman.

SGU merupakan sekolah di Indonesia yang mempunyai kerja sama akrab dengan luar negeri bahkan yang menggabungkan prioritas pendidikan kurikulum yang lazim di sini dengan kurikulum internasional. Apakah itu sudah ada penerimaan penuh dalam sistem pendidikan kita atau masih harus berjuang untuk keabsahannya?

Sepengetahuan kami, tidak ada batasan dari pemerintah untuk melakukan internship dalam program studi selama mata kuliah-mata kuliah inti yang diwajibkan dari pemerintah tetap kami laksanakan. Itu juga yang menjadi alasan mengapa kami tidak bisa mengatakan bahwa kami universitas internasional.

Apakah pendanaan operasional SGU didukung juga oleh yayasan, pemerintah atau development agency dari Jerman?

Board of Governors kami bekerjasama dengan Kedutaan Besar Jerman, Austria dan Swiss, saya kira mungkin sedikit banyak ada bantuan berupa soft loans, pembangunan, atau riset dan lain-lain. Selain itu, yayasan yang ada di kami hanya Yayasan Swiss Jerman.

Oh ya, para founder SGU banyak berasal dari orang industri Jerman. Lalu, bagaimana untuk orang industri dan pemerintah Indonesia, siapa saja yang aktif di sana?

Setahu saya, kebanyakan kami didukung oleh orang-orang industri. Itu sebabnya kami mengadaptasi kurikulum applied of sciences karena bagi orang-orang industri tidak cukup mahasiswa hanya diberikan teori-teori tanpa adanya pengetahuan bagaimana cara operasional profesi tersebut dalam industri.

Mengapa SGU memakai bahasa pengantar bahasa Inggris?

Orang pasti berpikir harus memakai bahasa Jerman. Sepengetahuan saya, kalau sekolah dengan standar internasional di Indonesia hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Kita juga tahu bahwa bahasa Inggris adalah bahasa internasional yang paling umum yang dibutuhkan oleh masyarakat internasional. Nama Swiss-German itu sendiri tidak mengacu bahwa ini adalah pendidikan Jerman, tetapi para founding fathers kami adalah orang-orang dari negara tersebut.

Rektor atau dekannya itu memang orang yang datang dari Jerman, atau orang Jerman yang sudah punya pengalaman di Indonesia?

Kebanyakan orang Jerman yang sudah punya pengalaman di Indonesia. Misalnya, rektor sebelumnya yaitu Prof. Dr. Peter Pscheid dan yang sekarang menjabat yaitu Prof. Jurgen Gruneberg adalah orang-orang Jerman yang berpengalaman untuk menjadi pejabat di universitas di negara tersebut, tetapi mereka sudah lama berkecimpung dalam bidang pendidikan di Indonesia.

Apakah mereka tidak memiliki masalah untuk menghayati mahasiswa dan sebagainya?

Kalau saya pikir tidak masalah. Mereka sudah lama di Indonesia. Mungkin dibandingkan saya, mereka lebih mengerti budaya pendidikan di Indonesia.

Bagaimana bila melihat orang terlambat?

Kalau masalah disiplin, universitas kami sangat concern dengan hal itu. Itu bukan hanya mahasiswanya saja, kamipun sebagai pengajar dan staf harus sangat disipilin.

Apakah ada kesulitan untuk membawa orang yang memiliki 100% pengalaman di Indonesia ke dalam disiplin yang internasional itu?

Untuk mahasiwa kami di semester satu maka dia akan mengatakan, "Oh, miss ini sangat sadis ya. Terlambat satu menit saja tidak bisa masuk kelas." Tetapi pada saat mereka melakukan internship, apalagi di luar negeri maka itu akan terasa sekali manfaatnya.

Bagaimana pengalaman mereka internship di luar negeri?

Sebagian besar mahasiswa setelah pulang dari internship di luar negeri terlihat semakin dewasa dari sebelumnya. Mereka mengatakan, "Ternyata benar miss, kalau saya terlambat satu menit saja, kereta di sana sudah berangkat meninggalkan saya."

Berapa perbandingan mahasiswa dan staf pengajar di SGU saat ini?

Maksimum satu pengajar untuk 35 mahasiswa. Itu terutama untuk program studi yang banyak. Kalau di program studi kami paling tidak satu kelas 35 mahasiswa. Kalau lebih dari 35 maka kami akan pisah menjadi dua kelompok.