Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

M. Chatib Basri

Jangan Pertaruhkan Perekonomian Indonesia

Edisi 718 | 28 Des 2009 | Cetak Artikel Ini

Saat ini Perspektif Baru memberikan fokus pada topik Bank Century karena banyak terjadi kerancuan yang dilontarkan politisi dan beberapa pihak seperti terekam di media mainstream. Guna terus memberikan kejernihan pada publik, kali ini Perspektif Baru membahas Bank Century dengan ekonom dari Universitas Indonesia (UI) DR. M. Chatib (Dede) Basri.

Menurut Dede Basri, isu pokok dalam Bank Century bukan soal membela Sri Mulyani Boediono. Itu terlalu personal. Yang lebih penting adalah kita coba menyelamatkan nasib kita sendiri dalam arti tabungan kita, pendapatan kita, pekerjaan kita, dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi kalau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik yang membahayakan ini.

Dede Basri mengatakan, siapa pun di sana kalau dia melakukan pekerjaan benar maka harus kita dukung. Jangan sampai gonjang ganjing politik itu kemudian membuat nilai tukar rupiah jatuh, bank tutup, orang tidak bisa bekerja, pengangguran naik. Gonjang ganjing politik saat ini membuat semua implementasi dari reformasi menjadi sangat terganggu. Mari kita sama-sama berfikir masih ada satu yang lebih penting ketimbang isu Bank Century yaitu nasib ekonomi Indonesia.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan M. Chatib Basri.

Kalau kita ingat kembali, sewaktu terjadi bail out dan pengambil-alihan Bank Century oleh LPS pada November 2008 tidak banyak yang protes dan itu bukan headline news. Saya gali kembali file-file di internet tidak banyak yang protes, hanya menjadi debat akademis. Kemudian Pemilu Presiden pada Juli 2009 memenangkan salah satu calon dengan suara langsung 60%, tetapi calon yang kalah mengeluarkan uang 60% dibandingkan dengan yang menang 40%. Jadi kita terbayang kekuatan uang yang ada di situ. Kebetulan diantara yang menjadi pimpinan partai lain yaitu orang yang berkepentingan menghindari diri dari pemerintahan yang bersih, masalah pajak, penyalahgunaan pasar modal, dan lain-lain. Jadi tidak semua berkepentingan mempertahankan Menteri Keuangan yang bersih, Wakil Presiden yang bersih. Ada yang lebih senang Menteri Keuangan yang toleran. Jika Sri Mulyani dan atau Boediono diganti dalam keadaan sekarang, apakah memang ada yang rugi di luar pendukung-pendukung beliau?

Ini isu yang besar sekali karena orang selama ini hanya melihat Bank Century hanya sebagai isu Bank Century dan itu terkait kepada Boediono dan Sri Mulyani. Sebenarnya ada yang lebih jauh dari itu karena isu tersebut tidak hanya terbatas pada Sri Mulyani dan Boediono, tapi sebetulnya negara ini dipertaruhkan. Kenapa saya bilang begitu? Sewaktu Century mau diselamatkan (bail out), mungkin Anda ingat pada saat itu banyak sekali tersebar pesan singkat (sms) mengenai bank mana saja yang mau di-rush. Bahkan, ketika ada demontrasi di suatu kantor wilayah (Kanwil) Pendidikan yang kebetulan bersebelahan dengan sebuah bank membuat orang ribut terjadi rush di bank tersebut. Ini hanya untuk menunjukkan bagaimana kepanikan itu terjadi. Dalam situasi seperti itu, kita juga tidak memberlakukan penjaminan penuh terhadap dana pihak ketiga di perbankan (blanket guarantee). Sementara Singapura dan Australia sudah melakukan hal itu. Dalam kurun waktu enam bulan sudah US$ 8 milyar ke luar dari Indonesia. Dalam situasi seperti itu, mau tidak mau yang harus kita lakukan adalah tidak boleh mengambil risiko kalau terjadi bank kolap karena efeknya bisa sistemik. Kemudian keputusan tersebut dilakukan.

Sekarang kalau krisis global terjadi lagi, karena semua orang belum ada yang memastikan bahwa krisis global tidak akan terjadi lagi, kemudian ada bank yang kolap maka yang menjadi pertanyaan saya adalah apakah Menteri Keuangan, siapa pun dia, berani untuk mengambil tindakan penyelamatan. Kalau tidak, saya sebagai investor akan mempertanyakan keuntungan saya menaruh uang di Indonesia. Saya lebih baik menaruh uang di Singapura atau di tempat lain dimana saya mendapatkan 100 persen penjaminan (blanket guaranty). Ini bukan sesuatu yang konspiratif, tapi sesuatu yang rasional saja. Semua orang akan mempertahankan uangnya.

Jika melihat perlakuan terhadap Sri Mulyani dan Boediono seperti saat ini, saya tidak yakin Menteri Keuangan atau Gubernur Bank Indonesia akan berani melakukan tindakan penyelamatan bank lagi untuk menyelamatkan republik ini. Berarti yang terjadi adalah, orang baik di-punish (dihukum), sedangkan yang tidak baik di-reward (diberi angin) dengan kejadian seperti ini.

Orang baik dihukum, orang jahat diberi angin. Jadi kalau sekarang dikatakan ada konspirasi maka sebetulnya konspirasi itu ada pada pihak yang menggonjang-ganjingkan pemerintahan (Departemen Keuangan). Sedangkan yang berkepentingan membelanya adalah semua orang awam karena yang menguasai perekonomian Indonesia adalah rakyat. Selain rush ke bank itu, bagaimana disaster effect dari perubahan drastis tekanan terhadap menteri keuangan?

Sektor keuangan adalah bisnis kepercayaan. Yang paling utama adalah orang percaya atau tidak terhadap Indonesia. Kalau tidak percaya, orang akan meninggalkan Indonesia. Saat ini icon atau anchor (jangkar) para investor baik domestik maupun asing adalah Sri Mulyani dan Boediono. Kita suka atau tidak suka kepada Sri Mulyani, kita harus menerima hal tersebut. Ini kenyataan. Pernyataan itu bukan hanya datang dari orang luar tapi domestik juga mengatakan seperti itu. Kalau kemudian anchor bagi para investor tidak ada lagi maka pertanyaan sederhana dari setiap orang adalah siapa yang akan melindungi kepentingan para investor di dalam ekonomi seperti tabungan, dan segala macamnya. Saya banyak sekali mendapat pertanyaan dari investor besar yang banyak berinvestasi di Indonesia yaitu, "Kalau nanti terjadi apa-apa, menurut Anda, Sri Mulyani akan berani atau tidak melakukan tindakan yang sama?" Tentu saja saya tidak bisa menjawab atas nama Sri Mulyani karena dia yang akan menambil keputusan. Lalu mereka melanjutkan, "Saya tidak yakin karena tindakan yang benar ini di-punish." Padahal di seluruh dunia tindakan tersebut dilakukan dan dipuji. Kalau di sini hal itu malah akan dihukum. Kalau itu yang terjadi dan mereka kemudian menarik uangnya ke luar negeri, maka nilai rupiah kita bisa balik lagi ke angka Rp 12.000 per dolar AS, dan rush di bank bisa terjadi. Kalau ini betul terjadi maka bukan persoalannya Sri Mulyani dan Boediono lagi, tapi semua orang yang mempunyai simpanan di bank akan ada dalam bahaya. Ekonomi Indonesia ada di dalam bahaya. Jadi, yang kita lakukan saat ini secara tidak langsung mempersiapkan Indonesia menuju kerapuhan sistem keuangan. Itu karena yang kita lakukan adalah mencegah orang untuk berbuat baik. Ini yang saya kira membuat persoalan ini lebih krusial ketimbang isu Bank Century.

Kalau pihak yang ingin merusak ini dengan memperluas argumennya seperti mengatakan, "Okay lah Sri Mulyani dan Boediono dianggap pahlawan sebagaimana di Amerika Serikat ada Menteri Keuangan Henry Paulson dan Gubernur Bank Sentral Ben Bernanke yang mendapat penghargaan man of the year dari majalah TIME karena mereka neolib." Apakah dalam hal ini ada kaitannya dengan aliran ekonomi tersebut?

Saya kira ini menarik. Kalau neolib semestinya Bank Century tidak mendapat bail out, dibiarkan tutup saja. Justru orang yang sekarang menyalahkan bail out sangat neolib sebetulnya, kalau kita mau konsisten dengan paham itu. Jadi ini kerancuan di dalam logika, cara melihat dari pernyataan ini.

Apakah itu karena pada hakikatnya orang tidak tahu mengenai neolib, tapi sangat menginginkan perubahan dalam sistem keuangan?

Betul.

Lalu, mengapa kalau semua ini benar masih ada orang yang ingin melakukan perubahan dengan risiko yang begitu besar?

Tadi di awal, Anda mengatakan sewaktu kebijakan ini dilakukan pada Desember 2008 tidak ada yang ribut-ribut. Kita juga tidak pernah terpikir bahwa Bank Century akan menjadi isu seperti ini. Kasus ini mulai pada Agustus 2009 sebelum kabinet dibentuk.

Kalau pembaca ingat, pada awal Agustus 2009 kami melakukan talkshow mengenai Bank Century di TV dan saat itu tidak banyak yang tergerak dan umumnya berpikiran seperti, "Ah ini soal bank, saya tidak mau tahu." Padahal kejadiannya sudah lama terjadi. Jadi jelas ada sesuatu yang diubah pada persepsi publik. Mengapa terjadi seperti itu?

Saya kira di sini aspek politiknya menjadi dominan. Persoalannya adalah kursi dalam kabinet, ini yang saya sayangkan. Kalau memang mau berkelahi mengenai posisi kursi di kabinet boleh saja dan itu sah-sah saja. Namun jangan dong ekonomi Indonesia dipertaruhkan karena korbannya terlalu banyak dan biayanya terlalu mahal kalau ekonomi kita rusak. Saat ini sudah ada berbagai pihak yang mengatakan agar Sri Mulyani dan Boediono non aktif, ini lucu karena ketika kita bicara "Cicak-Buaya" tidak ada statement mengenai hal seperti itu. Namun ketika bicara mengenai Bank Century tiba-tiba semua orang terlibat aktif di sana.

Padahal lebih kompleks Bank Century dan sedikit sekali yang mengerti, betulkah?

Persis. Jadi di sini saya melihat memang isunya lebih kepada soal konspirasi politik. Yang disayangkan adalah bagaimana kemudian persepsi publik dikaitkan dengan tuduhan di belakang ini ada isu korupsi. Sebetulnya buka saja kalau ada korupsi lalu bawa ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) maka itu akan selesai.

Saya tidak mau mendesak Anda. Saya sebagai warga berpikir kalau tidak dibuka maka saya tidak akan tahu masalahnya. Misalnya, ada orang sakit perut maka tidak akan tahu masalahnya jika tidak diperiksa. Dia pikir stres atau masalah lain, padahal kemarin dia diracun. Kalau kita mengetahui jenis racunnya maka bisa diobati. Sekarang di luar soal yang dramatis tadi yaitu mengenai melihat ekonomi tahun 2010. Tentu Anda sebagai ekonom pasti mempunyai proyeksi 2010 yang kalau saya melihatnya cukup optimis. Bagaimana bayangan Anda untuk 2010 dan apa yang paling perlu dipertahankan untuk mencapai harapan-harapan kita?

Pada 2010 ekonomi kita mungkin masih bisa tumbuh sekitar 5,5%. Itu tidak bagus sekali tapi sudah lebih baik dibandingkan 2009. Saya melihat ada banyak hal yang musti diselesaikan di Indonesia. Kalau kita bicara mengenai infrastruktur, maka persoalan tanah harus beres. Kalau kita bicara listrik maka pasokan yang kurang, tarif, reformasi subsidi, dan reformasi birokrasi sudah harus beres. Ini hal yang sensitif secara politik (politically sensitive). Artinya, banyak tindakan yang tidak populer yang harus dilakukan. Kalau pemerintah mau melakukan tindakan yang tidak populer, maka dia harus mempunyai dukungan politik yang kuat. Saya agak khawatir sebetulnya karena dukungan politik ini erosinya begitu cepat. Biasanya hitungannya dalam tiga tahun. Namun kini kita lihat dalam hitungan bulanan tiba-tiba sudah erosi. Kalau ini terjadi maka pemerintah tidak berani melakukan reformasi.

Kalau orang seperti Sri Mulyani-Boediono terus diperlakukan seperti saat ini, maka kapan ia punya kesempatan untuk melakukan reformasi dan menyelesaikan soal-soal ekonomi seperti tadi. Kalau pembangunan ekonomi yang dilakukan tanpa reformasi, kemungkinan kita bisa tumbuh 7% akan susah. Kalau ekonomi kita kemudian stagnan, ke depan hanya tumbuh sekitar 5%, maka kita akan kehilangan kesempatan pada lima tahun ke depan. Saya sempat menulis bertema "Crossing the Rubicon" yaitu kita sudah sampai pada tingkat point of no return, kita sudah tidak bisa lagi mundur dimana pertumbuhan ekonomi stagnan pada level 5%. Reformasi harus dijalankan karena itu dukungan harus dilakukan. Tetapi gonjang ganjing politik membuat semua implementasi reformasi menjadi sangat terganggu. Mari kita sama-sama berfikir masih ada satu yang lebih penting ketimbang isu Bank Century yaitu nasib ekonomi Indonesia.

Crossing the Rubicon maksudnya mencapai satu titik dimana kita harus memutuskan menyeberang atau tidak. Sekarang sedikit di luar ekonomi tapi dasarnya harus wawasan ekonomi juga. Banyak orang mengatakan bahwa masalah ini akan selesai kalau presiden mau mengadakan kesepakatan (deal) politik. Apakah memang masih ada deal politik yang mungkin menyelamatkan sistem ekonomi yang bersih terutama karena barangkali Sri Mulyani - Boediono itu efektif bukan hanya karena kecerdasan mereka tapi kejujuran dan keberanian mereka? Bagaimana formatnya kalau orang tidak suka Sri Mulyani-Boediono tapi kita tidak ingin terjerembab akibat deal politik?

Saya melihatnya begini, kalau Sri Mulyani Boediono mendapat tekanan begitu kencang untuk ditukar. Implikasinya jika hal itu terjadi adalah bukan hanya kepada orangnya tapi bagaimana sebuah pemikiran teknokratis yang benar dikorbankan untuk satu kepentingan politik. Ini bukan preseden yang baik karena nanti ke depan orang tahu kalau dia berbuat benar tidak akan dapat reward, tapi kalau dia melakukan sebuah kompromi politik dia akan mendapat dukungan. Kebijakan ekonomi tidak bisa berangkat dari kompromi politik, seperti keputusan operasi itu tidak bisa melalui sms.

Yang saya mau katakan adalah dalam kondisi ini sebetulnya kita memiliki partai koalisi, dan partai koalisi ini sudah berjanji untuk memberikan dukungan. Sebetulnya pada saat ini yang perlu dilakukan adalah sejauh mana komitment terhadap itu. Kita tidak menentang untuk hak angket tidak boleh dilakukan. Lakukan saja tapi dengan proporsional. Kalau memang isunya mau angkat korupsi, maka buka ke KPK dan buka sekalian siapapun yang terlibat. Namun bila ada hal-hal yang teknokratis seperti bail out maka harus dilakukan secara proporsional. Sekarang ini digabungkan dan diserang. Misalnya, dikatakan ada pernyataan dan ada Robert Tantular (pemilik lama Bank Century) di rapat Komite Stabilitas Sektor Keuangan (KSSK). Namun setelah dibuktikan tidak ada. Lalu, diganti lagi bahwa jangan-jangan itu Robert Marsilam. Ini sudah bukan perdebatan yang mendidik, ini yang saya lihat.

Iya, ketika tuduhan yang mereka lontarkan terbukti salah kemudian menyatakan sudah jangan diomongin lagi mengenai Robert lalu mencari tuduhan lain. Sebetulnya, yang salah bukan sistem politik tapi cara memakainya. Menurut Anda yang bukan anggota partai, apakah di partai-partai koalisi ada suatu kelompok pemikiran ekonomi yang cukup sehat yang bisa melihat realitas ini?

Saya cukup optimis dalam arti kata tidak semua anggota partai demikian. Namun selalu representasi yang muncul di media seolah mewakili semuanya. Padahal kalau kita lihat teman-teman yang muda-muda di Partai Demokrat, PDIP dan lainnya, mereka juga bisa melihatnya secara sensible kok. Namun sekarang dikotomikan bahwa partai politik melihatnya pasti sangat politis. Sementara di sisi lain kemarin ada pernyataan dari kaum profesional yang melihatnya berbeda. Ini juga satu perspektif yang lain untuk melihat persoalan ini dan kalau kita mau lebih tenang saya kira mungkin kita mempunyai pandangan yang lebih jernih mengenai ini. Misalnya, saya melihat di Golkar kini ada istilah Kaukus Bersih Golkar (KBG).

Yah, itu suatu hipotesa bahwa partai seperti kapal. Kalau jalannya oleng maka nakhkodanya harus diganti. Dulu itu terjadi juga ketika masa Jusuf Kalla yang kemudian diganti Aburizal Bakrie. Sekarang bukan soal suka atau tidak suka tapi cari orang-orang yang sadar bahwa kapal ekonomi ini mesti dirawat bersama karena tidak ada yang lolos dari kesulitan kalau sistem perbankan jatuh termasuk yang demonstrasi pun uangnya hilang, betulkah?

Ya, uangnya hilang. Itu seperti yang terjadi pada 1998. Jadi, sebenarnya kita punya pengalaman mengenai hal tersebut. Ingat, sewaktu BCA di-rush akibat 16 bank ditutup. Orang tidak bisa mengambil depositonya kemudian marah menghancurkan bank. Nah yang terjadi kadang ingatan kita pendek.

Kadang-kadang orang seperti di facebook mengatakan jangan ditakuti-takuti karena itu tidak akan terjadi. Padahal sudah sering terjadi setiap ada depresi ekonomi. Lalu, apa saja yang dilakukan para ekonom sekarang, apakah seperti kita menunggu keadaan atau ada yang bisa diperbuat oleh orang baik?

Saya kira yang penting adalah memahami persoalan ini menjadi sangat penting. Jadi isunya bukan soal membela Sri Mulyani atau Boediono, itu terlalu personal. Saya tidak mau bela itu, tapi ada yang lebih penting adalah kita coba menyelamatkan nasib kita sendiri dulu dalam arti tabungan, pekerjaan, dan pendapatan kita dengan mendorong supaya ekonomi tidak diganggu. Jadi, kalau kemudian mau membuat pernyataan atau sikap maka tujuannya adalah bagaimana menyelamatkan ekonomi Indonesia dari tekanan politik yang membahayakan ini. Tidak usah membela Sri Mulyani - Boediono secara personal, siapa pun di sana kalau dia melakukan pekerjaan benar maka harus kita dukung. Jangan sampai gonjang ganjing politik itu kemudian membuat nilai tukar rupiah jatuh, bank tutup, orang tidak bisa bekerja, pengangguran naik. Celaka kita kalau kita harus mengulangi kesalahan itu.

Apakah saat ini kerusakannya (damage) sudah terlalu besar atau masih bisa diperbaiki ataukah ini sudah susah sekali?

Saya kira masih bisa karena kalau melihat situasi sekarang sikap orang masih menunggu terhadap apa yang akan dilakukan dan apa yang akan terjadi. Saya tidak tahu Panitia Khusus (Pansus) Hak Angket Bank Century di DPR akan berlangsung berapa lama muncul di media, mungkin enam bulan. Kalau enam bulan maka orang lama-lama gerah juga untuk melihat apakah ekonomi di sini aman atau tidak. Saya agak khawatir kalau orang mengambil keputusan di kuartal pertama 2010. Nah, kita harus mulai hati-hati. Jadi mumpung situasinya masih di sini, kita buat satu sikap bersama untuk menjaga ekonomi Indonesia. Jangan kita rusak karena selama lima tahun sudah lumayan pertumbuhannya, sayang kalau di ujungnya kita rusak.