Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dicky Edwin Hindarto

Membentuk Pasar Karbon di Indonesia

Edisi 712 | 15 Nov 2009 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Minggu-minggu ini secara intensif kami menyorot masalah perubahan iklim (climate change) karena pada tahun ini dan ke depan akan menjadi masalah yang menguasai kehidupan kita, dan juga akan menguasai dialog publik termasuk soal politik internasional. Kita mengharapkan itu akan menjadi topik domestik yang sekarang perhatiannya masih tersedot pada hal lain. Saya sangat beruntung karena saat berminat secara pribadi maupun atas dasar peran publik kami dalam persoalan perubahan iklim, kami bertemu secara kebetulan dengan orang yang paling berwenang yaitu Dicky Edwin Hindarto yang menjabat Kepala Divisi Carbon Trading di Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Selain itu ia juga aktif dalam sebagai negosiator, representatif Indonesia dalam konferensi internasional dalam isu climate change (perubahan iklim), terutama dalam United Nation Framework on Climate Change Conference (UNFCCC).

Dicky Edwin Hindarto mengatakankan carbon trading adalah bagian dari mitigasi perubahan iklim. Mitigasi itu bermakna mengurangi atau mencegah terjadinya perubahan iklim. Dalam hal ini bermula dari kesepakatan antar negara di dunia untuk melakukan pengurangan karbon.

Menurut Dicky Edwin, saat ini sudah ada dua bentuk carbon trading yaitu voluntary market dan CDM. Ke depan, akan ada satu jenis pasar lagi yaitu REDD yang akan diciptakan pada 2012. REDD mengupayakan agar hutan mendapatkan insentif karena hutan bisa menyerap banyak karbon. Dalam hal ini akan dihitung jenis hutannya seperti apa, umurnya berapa dan kemudian daya serapnya berapa. REDD akan persis sama dengan CDM. Jadi dibutuhkan usaha, investasi, dan satu komitmen yang kuat untuk membawa hutan akhirnya bisa menghasilkan duit.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Dicky Edwin Hindarto.

Sejauh ini kita bicara secara umum bahwa salah satu mekanisme untuk mengatasi masalah perubahan iklim (climate change) adalah dengan mengupayakan agar karbon yang dikeluarkan ke udara bisa dikurangi. Agar ada insentif untuk orang yang bisa mengatasi efek karbon tersebut maka disusun suatu mekanisme carbon trading dan saat ini mekanisme itu dikembangkan oleh Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI). Apa pekerjaan Anda itu?

Pekerjaan saya adalah pertama melakukan upaya penyadaran masyarakat mengenai carbon trading, kemudian mengembangkannya di Indonesia. Lalu melakukan semacam konsultasi pada calon-calon pelaku maupun pasar yang berminat untuk ikut serta dalam carbon trading. Dalam hal ini memang agak berat karena carbon trading bagi masyarakat Indonesia merupakan satu hal baru walaupun sudah berjalan 3-4 tahun lalu.

Apa yang diperdagangkan dalam carbon trading?

Carbon trading adalah bagian dari mitigasi perubahan iklim. Mitigasi itu bermakna mengurangi atau mencegah terjadinya perubahan iklim. Dalam hal ini bermula dari kesepakatan antar negara di dunia untuk melakukan pengurangan karbon. Jadi ada yang namanya angka komitmen per negara harus menurunkan emisi karbon.

Kalau kita bicara Kyoto Protocol, maka negara yang memiliki kewajiban adalah Annex 1 atau negara-negara maju minus Amerika Serikat (AS) tapi sudah termasuk Australia. Tahun lalu Australia menanda tangani Kyoto Protocol. Dalam hal ini negara-negara tersebut mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi karbon. Untuk penurunan emisi dari negara maju untuk negaranya sendiri maka mereka sudah efisien dan sudah sangat bersih dibandingkan negara berkembang.

Bukankah mereka kotor dari zaman dulu?

Ya, mereka kotor sudah dari zaman dulu. Pada 100 tahun terakhir rekam jejak emisi negara maju sangat kotor, tapi mereka bisa menurunkan emisi tersebut. Kasarnya, mereka bisa memberikan hasil dari proyek di negara berkembang, non Annex. Dalam hal ini seberapa besar penurunannya maka itu yang diperdagangkan. Artinya, sertifikat hasil penurunan emisi di negara berkembang itu yang kemudian diperdagangkan di negara maju.

Bagaimana menghitungnya?

Ada dua cara penghitungan dan ada dasarnya. Untuk proyek-proyek, penghitungannya berdasarkan pada upaya efisiensi energi maka dasar penghitungannya adalah sebelum dan sesudah diadakan upaya efisiensi energi. Jadi diketahui berapa energi yang bisa dihemat dan berapa emisi yang bisa dikurangi.

Anda adalah ahli energi. Apakah semua itu bila dilakukan secara kuantitatif?

Itu melalui pengukuran yang sangat rumit karena ada dua kali penghitungan, yaitu perusahaan yang bersangkutan melakukan perhitungan, kemudian diukur lagi oleh DOE yaitu lembaga independen yang sudah mendapatkan sertifikasi PBB untuk melakukan verifikasi.

Kedua, misalnya, proyek itu untuk energi yang bisa diperbaharui maka yang dasar tolak ukurnya biasanya listrik atau energi yang tersedia setempat. Itu yang menjadi dasar. Misalnya, Anda ingin mendirikan satu pembangkit listrik tenaga micro hydro di pulau Jawa maka yang menjadi baseline itu adalah emisi dari sistem jaringan listrik seluruh pulau Jawa-Bali. Jadi emisinya PLN.

Jadi, kalau awal emisi pabrik mulanya kotor maka penurunan emisinya juga lebih nyata, gampang terasa. Pabrik yang pada awalnya lebih bersih lebih susah mencari carbon point. Kalau saya membuat pembangkit listrik di Padalarang, Jawa Barat maka dihitungnya terhadap sistem jaringan listrik di Jawa Bali?

Ya, seperti itu intinya. Itu karena dasar penghitungannya adalah kalau masyarakat tidak menggunakan energi dari pembangkit listrik micro hydro yang Anda buat, maka masyarakat akan menggunakan energi dari PLN. Jadi penghitungannya di situ. Itu kalau kita bicara energi.

Itu kemudian yang dihitung dan disahkan oleh DOE. Lalu, apa bidang tugas Anda?

Sebelum masuk ke DOE, ada lembaga di masing-masing negara yang berhak untuk melakukan satu verifikasi maupun pendaftaran melalui proyek itu. Kami berada pada tahap awal.

Apakah Pipeline-nya mulai dari situ?

Ya, kami melakukan kegiatan yang dinamakan sustainability criteria dimana kriteria dan indikator pembangunan berkelanjutan yang digunakan untuk menilai suatu usulan proyek Clean Development Mechanism/CDM atau Mekanisme Pembangunan Bersih/MPB dikategorikan menjadi 4 kelompok: keberlanjutan lingkungan, ekonomi, sosial dan teknologi. Jadi berdasarkan empat kriteria itu. Untuk lebih lengkapnya penjelasan mengenai masing-masing kriteria bisa diakses di http://dna-cdm.menlh.go.id/id/susdev/

Bagaimana proyek yang bisa minta perhatian Anda, Dimana batasnya?

Mekanisme Pembangunan Bersih ukuran minimum ini lebih ke arah bisnis. Ini adalah pemanis (sweetener) pada suatu bisnis. Melalui proyek CDM ini maka investasi yang sebelumnya tidak layak menjadi layak. IRR-nya (red: Internal Rate of Return atau tingkat nilai pengembalian yang berasal dari dana yang digunakan dalam suatu proyek atau kegiatan tertentu) akan meningkat dengan adanya proyek CDM. Jika kita bicara tentang proyek-proyek yang kecil, memang ada satu peluang juga karena hal itu bisa dilakukan suatu upaya bundling yaitu dengan mengumpulkan proyek-proyek yang sama. Jadi, kalau cuma satu pabrik tahu memang agak susah untuk mengklaimnya. Tapi kalau kita bicara 1.000 pabrik, maka hal itu bisa melalui bundling atau melalui programatik CDM. Yang menjadi syarat di pasar karbon adalah MRV, yaitu Measurable, Reportable, Verivable (red: terukur, terlaporkan dan terverifikasi). Ini yang menjadi kendala bagi pengusaha-pengusaha kecil. Jadi, kalau kita bicara satu pabrik tahu, yang bahan bakarnya tidak kontinyu atau tidak berulang akan susah, contohnya hari ini membuat tahu sebanyak 20 kg tapi besok 50 kg.

Jadi itu berlaku untuk pabrik yang tadinya kotor lalu dibersihkan. Kalau kita membuat satu pabrik ban baru, maka akan ada index pabrik ban, betulkah?

Tidak, sebenarnya banyak kriterianya. Yang menjadi salah satu kriteria lainnya lagi adalah prinsip additionality di dalam pasar karbon. Artinya, kalau tanpa CDM maka tidak akan bisa jalan. Misalnya, Anda memperkenalkan satu teknologi baru dalam pabrik ban dan teknologi itu bisa mengurangi energi dan emisi di situ. Namun proyek ini tidak akan bisa jalan jika tanpa ada CDM karena IRR-nya akan menjadi berat. Jadi ia bisa masuk proyek CDM. Kalau hal itu adalah business as usual maka tidak akan bisa masuk. Misalnya, mesinnya sama dengan mesin pabrik ban yang lain atau teknologinya sama dengan pabrik ban lain, maka itu tidak akan bisa masuk. Jadi harus mengaplikasikan satu pola operasi yang baru dan lebih efisien untuk bisa masuk pasar karbon.

Apakah ada reward langsung bagi perusahaan atau pabrik yang menghemat emisi karbon secara finansial?

Kalau secara langsung tidak ada. Ini adalah satu pola perdagangan. Jadi kita harus ada investasi juga. Mungkin berupa persiapan kita, waktu yang kita habiskan untuk hal itu, dan memang proyek ini ditujukan untuk ke arah pasar karbon.

Apakah kalau orang mendapatkan carbon point bisa dijual atau tidak sekarang, kemana menjualnya?

Bisa, dijual ke bilateral, bisa ke arah pasar. Nilai pasar carbon point di dunia sudah sekitar US$ 150 milyar. Ini bukan obligation market tapi ini voluntary market. Kalau kita bicara tentang CDM, ini adalah pasar yang wajib untuk antar negara. Kalau pasar yang di Chicago, AS biasanya business to business. Itu lebih mudah

Darimana uangnya untuk pasar karbon antar negara?

Uangnya dari negara-negara yang memang diwajibkan untuk itu. Kalau kita bicara tentang CDM untuk pertemuan di Copenhagen, Denmark pada Desember 2009, maka ini semua akan berakhir pada 2012 atau kira-kira tiga tahun lagi.

Nanti akan dibentuk satu pola pasar yang baru lagi dengan melibatkan lebih banyak negara dan lebih banyak hal yang terlibat. Dalam hal ini termasuk kemungkinan akan bisa masuk mengenai yang sedang ramai dibicarakan yaitu masalah hutan terkait pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi (Reducing Emissions from Deforestation and Degradation/REDD).

REDD adalah satu jenis pasar yang akan diciptakan pada 2012 dan pasar ini sedang dirundingkan. REDD mengupayakan agar hutan mendapatkan insentif karena hutan bisa menyerap banyak karbon. Dalam hal ini akan dihitung jenis hutannya seperti apa, umurnya berapa dan kemudian daya serapnya berapa. Ini akan bisa masuk seperti CDM. Saya sebut seperti CDM karena pasti tidak akan masuk CDM tapi akan merupakan pasar yang tersendiri lagi. Jadi akan terdapat beberapa pasar karbon nanti. Ada voluntary market, ada CDM, dan akan ada pasar REDD.

Kalau kita bicara tentang REDD, terus terang banyak sekali yang salah kaprah terhadap hal ini terutama untuk teman-teman di daerah. Kepala daerah maupun perangkat di daerah menyangka kalau sudah melakukan upaya menjaga hutan dan tidak menebangnya maka duit akan datang dengan sendirinya. Tidak, ini persis sama dengan CDM. Jadi dibutuhkan usaha, investasi, dan satu komitmen yang kuat untuk membawa hutan ini akhirnya bisa menghasilkan duit. Artinya, daya serap karbon di dalam hutan tersebut nanti yang membayarnya negara lain karena bumi kita satu. Menyerap karbon di Indonesia sama seperti menyerap karbon di AS karena kita bicara dengan postur yang sama. Saat ini REDD dalam masa pembicaraan dan kalau Copenhagen berhasil maka REDD akan berjalan mulai 2012.

Apa sebetulnya yang disebut investasi itu?

Kalau kita bicara tentang investasi di REDD maupun di dalam pasar CDM yang sekarang sudah berlaku untuk di energi dan sebagian sedikit sektor hutan adalah investasi manusia, investasi pengetahuan yaitu mulai dari mengenai metodologinya yang mungkin bagi teman-teman bisnis adalah hal yang baru. Semua harus benar-benar melakukan metodologi sesuai dengan metodologi Konvensi Badan PBB tentang Perubahan Iklim (United Nation Framework on Climate Change Conference/UNFCC). Jadi untuk investasi pengetahuan ini bisa dengan menyewa konsultan.

Kalau kita lihat perilaku bisnis sekarang, walaupun voluntary market baru ada pada 2012 tapi orang sekarang sudah pasang kuda-kuda untuk menukarkannya secara dini. Apakah bisa itu dilakukan?

Tidak bisa karena belum ada yang bisa bayar.

Bukankah bank bisa menginvestasikannya?

Iya, bank bisa berinvestasi tapi bank juga harus mengetahui risikonya apa saja. Seperti juga dalam CDM, harus ada juga darimana leakage-atau kebocorannya seperti apa. Kalau kita mempunyai hutan satu juta hektar bukan berarti nanti satu juta hektar dikali tujuh tahun karena pasti nanti ada leakage-nya, degradasinya. Jadi perhitungannya seperti itu.

Apakah mungkin atau tidak bahwa voluntary carbon market itu tidak terjadi sama sekali?

Kalau REDD ini sedang dibahas, tapi kalau untuk voluntary market sudah bisa dilakukan. Itu lebih bersifat business to business. Misal, jika suatu Maskapai Penerbangan Asing berniat mengurangi dosanya karena sudah mencemari udara Indonesia, maka Maskapai tersebut bisa melakukan upaya pembelian karbon atau melakukan penjagaan hutan di suatu daerah.

Apakah kegiatan itu semacam tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR?

Ya, betul. Meskipun nanti hasil akhirnya per ton karbon yang diserap. Kalau untuk CDM, per ton karbon yang dikurangi akan balik lagi seperti double business to business, lebih bersifat pembayaran langsung. Itu lebih cepat tapi terus terang voluntary market dibandingkan pasar wajib jauh sekali perbedaannya. Misal, pasar CDM untuk per ton karbon berharga 16 Euro, sedangkan voluntary market berharga US$ 4 - 5.

Apakah di Indonesia sudah ada yang ikut CDM?

Di Indonesia sudah ada 111 proyek dan yang sudah bisa langsung berjualan karbonnya ada enam proyek. Kemarin ada teman-teman yang melakukan CDM. Ada yang bisa menjual karbonnya di harga US$ 19, tapi ada yang menjual di harga US$ 5 karena ketidaktahuannya.

Apakah ada atau tidak moral hazard terhadap pemanfaatan hutan terkait REDD karena pasarnya belum jelas dan mulai jelas pada 2012 nanti. Misalnya, sejak sekarang orang menebangi hutan sehingga nanti saat waktunya hutan sudah habis. Jadi hanya mencari marjin pembersihan agar kotor dulu sehingga klaim uangnya nanti bisa turun?

Kalau kita bicara soal modal, hutan adalah modal kita untuk mendapatkan duit. Kalau itu digerogoti maka sampai kapan kita bisa jualan. Kita bisa menjualnya atau tidak, itu pertanyaan lain lagi. Yang jelas, hutan ini bisa menjadi salah satunya, tapi bukan satu-satunya karena banyak proyek-proyek energi seperti panas bumi (geothermal).

Apakah betul secara persentase hutan karbon kita sampai 40%?

Betul, tapi ingat Indonesia berada di nomor dua di dunia. Pertama Brazil yang mempunyai 90% dari total luas hutan seluruh dunia. Meskipun nomor dua, jarak Indonesia jauh sekali dengan Brazil. Sisanya terbagi negara-negara lain di seluruh dunia.

Apa artinya kalau di media massa dikatakan Presiden Yudhoyono memiliki komitmen terhadap climate change, apa arti konkritnya untuk Indonesia?

Itu harus diterjemahkan pada pola pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan lebih bisa mengurangi emisi. Tapi sekali lagi, komitmen itu adalah komitmen sukarela karena Indonesia tidak mempunyai kewajiban dalam melakukan pengurangan emisi, malah Indonesia bisa menjual hasil penurunan emisi tersebut dalam skema pasar karbon.