Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Herliyana Suharta

Semua akan Hancur oleh Perubahan Iklim

Edisi 710 | 29 Okt 2009 | Cetak Artikel Ini

Kita akan berbincang mengenai orang, binatang, pohon, seluruh alam. Ini tidak berlebihan karena kita berbicara mengenai bahaya perubahan iklim di dunia, yang sering diistilahkan sebagai global warming. Sebetulnya bukan hanya pemanasan global sebab ada bagian dunia yang makin dingin dan berangin. Ini hal yang sangat mengkhawatirkan. Kita akan berbincang mengenai perubahan iklim (climate change) dengan Prof. Dr. Herliyani Suharta. Dia adalah salah satu pakar di Indonesian Renewable Energy dan juga aktif di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) sebagai Tim Penilai Jabatan Peneliti Instansi (P2JPI).

Herliyani Suharta mengatakan dampak perubahan iklim sangat berbahaya. Misalnya, kalau temperatur bumi meningkat akan mengakibatkan es di kutub mencair sehingga akan menaikkan permukaan laut. Ini berbahaya bagi Indonesia yang merupakan negara kepulauan karena orang yang tinggal di pesisir sangat rentan mengalami tenggelam. Selain kenaikan permukaan laut, juga akan meningkatkan temperatur samudera sehingga akan menumbuhkan uap air di angkasa. Uap air ini bisa bergerak oleh angin yang tidak menentu dan bisa terbawa menjadi hujan di suatu tempat yang tidak bisa kita prediksi atau bisa menimbulkan badai yang sangat berbahaya.

Menurut Herliyani Suharta, penyebab utama perubahan iklim adalah akibat peningkatan produksi karbon (CO2) di bumi. Karbon adalah polusi akibat penggunaan energi oleh umat manusia yang terjadi sejak revolusi industri pada 1820-an. Keberadaan karbon di atmosfir bisa sampai selama 200 tahun. Satu cara utama mengurangi CO2 adalah dengan menanam pohon dan menjaga hutan karena pohon dapat menyerap banyak CO2. Jadi orang biasa bisa turut berperan mencegah perubahan iklim dengan menanam pohon sebanyak-banyaknya.

Berikut ini wawancara Wimar Witoelar dengan Herliyani Suharta.

Di suatu event luar negeri, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinyatakan sebagai presiden nomor dua di dunia yang paling aktif dalam mengatasi perubahan iklim (climate change) setelah Presiden AS Barack Obama. Presiden SBY juga mendapat pujian dari Greenpeace, padahal Greenpeace sangat jarang memuji presiden. Mengapa perubahan iklim menjadi perhatian kita semua, apa akibat dari perubahan iklim?

Akibatnya parah sekali. Kalau temperatur bumi meningkat maka akan banyak kejadian yang membahayakan seperti mencairnya es di kutub yang akan menaikkan permukaan laut. Indonesia adalah negara kepulauan sehingga kenaikan permukaan laut berbahaya sekali bagi Indonesia, meskipun belum ada angka pasti mengenai hal ini.

Jika permukaan laut naik berarti orang yang tinggal di pesisir bisa tenggelam, betulkah?

Mereka sangat rentan terhadap hal ini. Pemerintah harus memikirkan bagaimana merelokasi mereka. Namun data itu belum ada angka pastinya sehingga masih merupakan kemungkinan-kemungkinan untuk menjadi penelitian. Selain kenaikan permukaan air laut, perubahan iklim juga akan meningkatkan temperatur samudera sehingga akan menumbuhkan uap air di angkasa. Uap air ini bisa bergerak oleh angin yang tidak menentu dan bisa terbawa menjadi hujan di suatu tempat yang tidak bisa kita prediksi, atau bisa menimbulkan badai yang sangat berbahaya.

Apakah badai yang kita lihat belakangan ini mulai dari Pantai Karibia sampai ke Laut Cina Selatan - Taiwan ada hubungannya dengan perubahan iklim?

Ya, penelitian Massachusetts Institute of Technology memastikan hal tersebut. Jadi keberadaan badai akan lebih sering dan kekuatannya semakin meningkat. Kalau ada kapal yang sedang melakukan distribusi pangan atau bahan bakar terkena badai tersebut maka bisa tenggelam. Apalagi kalau data peringatan mengenai munculnya badai di lautan tidak akurat, maka tentu akan menghilangkan harta mereka.

Saya sering mendengar mengenai karbon. Bagaimana hubungannya dengan pemanasan global?

Karbon adalah emisi, polusi akibat dari penggunaan energi oleh umat manusia. Itu terjadi sejak revolusi industri pada 1820-an. Sejak masa itu manusia telah mengemisikan karbon. Keberadaan karbon tersebut di atmosfir bisa sampai selama 200 tahun. Kalau sekarang kita mengemisikan karbon maka karbon tersebut akan berada di atmosfir sampai 200 tahun mendatang.

Apakah itu dalam bentuk karbon dioksida (CO2)?

Ya. Pada awalnya banyak ilmuwan ragu tentang hal ini. Namun penelitian sejak 100 tahun terakhir membuktikan bahwa itu benar. Al Gore (mantan wakil presiden AS-Red) mencari bukti-buktinya. Akhirnya dia mendapat hadiah Nobel untuk usahanya meyakinkan seluruh manusia di bumi bahwa kegiatan manusia itu telah mengubah temperatur bumi yang menimbulkan akibat sebagai perubahan iklim,

Nanti akan ada Nobel lagi untuk orang yang membalikkan trend emisi karbon. Kalau dulu itu diakibatkan oleh pabrik, maka sekarang pabrik harus diminta untuk mengemisikan karbon lebih sedikit tapi upaya itu lebih banyak ada di negara maju?

 

 

Memang dulu di negara maju tapi belakangan ini mereka juga menuntut negara yang sedang berkembang untuk menurunkan emisinya. Itu karena mereka sudah berusaha mengerem percepatan pembangunannya. Sedangkan negara yang sedang berkembang diharuskan meningkatkan pembangunannya untuk pemerataan seperti upaya mencapai target Millenium Development Goals (MDGs), antara lain 50% kemiskinan harus berkurang pada 2015. Akhirnya mereka mulai mencari cara bagaimana negara berkembang harus menurunkan emisinya. Misalnya, Indonesia diharapkan mengurangi penyusutan hutannya.

Di sini saya ingin memperjelas hubungan antara emisi karbon dengan hutan. Apakah itu barangkali karena kebakaran atau juga karena hutan ditebang sehingga jadi menambah karbon?

Pohon itu menyerap CO2 sehingga pohon bisa mengurangi CO2 yang ada di atmosfir. Jadi diharapkan pohon-pohon di hutan tidak menyusut karena kalau jumlahnya menyusut maka penyerapan terhadap CO2 akan menurun. Negara-negara di dunia sekarang mengupayakan agar jangan menebang pohon lagi.

Apakah pohon yang bisa menyerap karbon itu adalah segala jenis pohon?

Ya, semua.

Kalau begitu, mengapa korang suka menyebut kelapa sawit sebagai hal yang membahayakan padahal itu juga tanaman?

Kalau pohon alam yang ada di Indonesia seperti di Kalimantan masih sekitar 40% berupa dalam bentuk hutan perawan. Itu bagus sekali karena jenis pohonnya berlapis-lapis sehingga kemampuan menyerap CO2 juga lebih banyak. Dari pohon yang tinggi lalu kemudian yang lebih rendah, lalu tumbuhan peredu. Kalau tanaman kelapa sawit hanya satu jenis pohon yang daunnya sedikit dan peletakkannya pun berjarak.

Apakah diversity (kenekaragaman tumbuhan-red) itu penting?

Ya, karena diversity meningkatkan penyerapan karbonnya.

Suatu dilema. Di satu sisi, orang perlu minyak kelapa sawit tapi di sisi lain kita perlu bermacam-macam pohon. Lalu, kita perlu memberantas kemiskinan sehingga memerlukan pabrik yang mengeluarkan karbon. Bagaimana kira-kira penyelesaian hal tersebut secara umum karena saya mendengar pada Desember 2009 ada konferensi di Copenhagen, Denmark mengenai karbon. Apa saja yang akan dibahas di sana?

Yang akan dibahas di Copenhagen adalah persetujuan dari seluruh dunia mengenai upaya mengurangi emisi maupun karbon yang ada di atmosfir. Hal ini sangat sulit karena memang manusia sangat tergantung pada energi fosil yang banyak mengemisikan karbon. Kalau energi fosil dibakar maka emisi karbonnya banyak. Misalnya, minyak dibakar maka sudah jelas menghasilkan banyak karbon. Batubara dibakar untuk pembangkit listrik menghasilkan emisi karbon yang tinggi dibandingkan minyak dan gas. Adapun gas merupakan yang paling rendah menghasilkan karbon diantara ketiga jenis bahan bakar tadi. Jadi disarankan menggunakan energi terbarukan yang sedikit mengemisikan karbon, dalam hal ini termasuk agar lebih memilih biofuel yang lebih sedikit mengemisikan karbon dibandingkan energi dari fosil.

 

Itu bidang Anda yang mendalami energi yang dapat terbarukan (renewable energy). Sebetulnya renewable energy banyak yang potensial tapi banyak juga yang bentuknya masih teoritis. Apa renewable energy yang paling layak untuk Indonesia?

Sebetulnya kita mempunyai potensi solar energy yang luas sekali. Geothermal atau panas bumi bagus sekali. Indonesia memiliki potensi paling tinggi, nomor satu di dunia untuk panas bumi. Jadi kalau pemerintah membuat arah peningkatan geothermal maka itu sudah benar. Kemudian di beberapa lokasi juga memiliki potensi yang baik untuk energi angin. Sedangkan selebihnya hanya memiliki kecepatan angin rata-rata tiga meter per detik. Jadi banyak sekali orang Indonesia tidak mengetahui bagaimana rasanya kalau angin itu tinggi karena mayoritas hanya 3m/detik.

Apakah kincir angin untuk membuat listrik tidak terlalu penting di sini?

Mungkin ada lokasi yang bagus sekali sampai memiliki kecepatan angin 7,6m/detik yaitu di Nusa Tenggara, terutama di Kupang dan Sumbawa. Jadi kalau kita mau membuat percontohan pembangkit listrik tenaga angin bisa di sana. Selain itu juga karena daerah tersebut termasuk yang memiliki rasio elektrifikasi terendah di Indonesia.

Kalau melihat di tempat lain memang energi angin sudah menjadi bagian kehidupan sehari-hari seperti di Belanda. Apa betul kesan mengenai ada peningkatan proporsi energi dari angin?

Memang energi angin diupayakan meningkat pesat seperti yang dilakukan Republik Rakyat China (RRC). Mereka memenuhi 10% dari kebutuhan listrik nasional dari pembangkit tenaga angin. Pembangunan mereka cepat sekali.

Kebetulan China menjadi penghasil karbon yang besar, betulkah?

Ya, sekarang peringkat mereka terbesar nomor dua setelah Amerika Serikat karena jumlah penduduknya yang luar biasa.

Menteri Lingkungan Hidup kita yang baru adalah seorang ahli kehutanan. Ini kebetulan atau tidak, tapi merupakan hal yang bagus sebab hutan punya peran yang banyak dalam mengatasi perubahan iklim. Tolong jelaskan, kalau orang lain ribut soal pabrik sedangkan kita berharap pada hutan, apakah hutan itu memiliki potensi yang besar?

Memang sudah terbukti bahwa tanaman di pulau-pulau di Indonesia tumbuh baik sekali, mungkin karena iklim daerah di garis katulistiwa. Awalnya, perubahan iklim itu terjadi akibat emisi negara-negara industri sehingga kemudian mereka dibebani 100%, tapi mereka berusaha mengelak. Jadi mereka mengalihkan kepada negara berkembang yang memiliki hutan luas seperti Indonesia, Brasil dan Afrika. Kalau Menteri Lingkungan Hidup kita dari ahli kehutanan maka menjadi sangat sesuai dengan era masa kini karena pengetahuan dia mengenai kehutanan tentu sangat luas.

Sekarang ada istilah Reducing Emissions from Deforestation and Degradation/REDD (pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi - Red) yang akan dibahas di Copenhagen. Namun saya kurang yakin bahwa itu akan diputuskan di sana karena banyak hal yang belum jelas. Biasanya kalau sudah masuk dalam mekanisme internasional maka diharapkan semuanya secara logis bisa diterima oleh ilmuwan maupun masyarakat internasional.

Apakah REDD itu diurus oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)?

Ya, masalah itu diurus di bawah United Nations Framework Convention on Climate Change/ UNFCC (Konvensi Badan PBB tentang Perubahan Iklim-Red). Apakah REDD akan menjadi bagian dari UNFCC atau seperti Clean Development Mechanism (CDM) atau menjadi suatu protokol baru, masih akan dibahas.

Apakah betul REDD masih menjanjikan rewards untuk kegiatan yang mengurangi emisi karbon?

Itu jelas. Misalnya, penanaman kembali pohon untuk daerah-daerah yang hutannya telah rusak, itu ada perhitungannya karena kalau menanam pohon memang akan menyerap CO2. Itu termasuk juga untuk menjaga hutan yang ada agar tidak rusak, bagaimana masyarakat di sekitar hutan itu dimotivasi supaya ikut menjaga dan tidak menebang pohon. Jadi diberi imbalan.

Jadi kalau orang berbuat baik dengan hutan maka berdasarkan skema REDD akan ada reward-nya sehingga tidak semata-mata pengabdian?

Ya memang. Nah itu sedang diuji coba. Saat ini ada bantuan dari pemerintah Australia yang melakukan penelitian di Kalimantan Tengah dengan menciptakan suatu sistem yang kemungkinan akan diajukan untuk bisa diadopsi oleh UNFCC.

Apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat umum dalam bidang perubahan iklim?

Katakanlah ada program satu orang menanam satu pohon, maka sudah bagus sekali jika satu orang menanam dua pohon di sekitar halaman rumahnya karena semakin banyak pohon semakin baik. Kegiatan untuk mendapatkan pendanaan bagi masyarakat yang dekat hutan juga kegiatan yang sangat mendukung.

Ke mana mencari informasi masalah climate change?

Kalau kita membuka internet, ketik saja climate change maka informasi mengenai hal tersebut banyak sekali termasuk foto-fotonya. Jadi kita tinggal menentukan ke arah mana fokusnya. Kalau mau fokus ke hutan tambahkan ketik forest. Kalau mau fokus ke laut tambahkan ketik sea. Semua ada di internet.

Apakah semua bagian pemerintahan atau organisasi sadar dan percaya mengenai bahaya climate change karena beberapa tahun yang lalu saya melihat ada suatu gerakan kontra intelektual yang mengatakan presentasi Al Gore itu bohong. Apakah sekarang di Indonesia orang sudah yakin?

Kalau di Indonesia sebagian sudah yakin, sebagian sudah yakin sekali, sedangkan mayoritasnya belum tahu. Itu adalah tugas dari tim The Climate Project Indonesia yang mempunyai misi untuk menyebarluaskan informasi dan menyadarkan masyarakat. Mentor tim tersebut dari Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) di bawah Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI) dimana waktu itu sebanyak 53 orang dilatih oleh Al Gore. Berbagai sponsor perusahaan swasta juga ada yang terlibat di kegiatan tersebut. Kita diberi misi untuk menyebarkan ini. Saya sudah ke Kupang (NTT) dan Pontianak (Kalimantan Barat). Mereka tidak berkedip melihat presentasi saya terutama dengan gambar-gambar visual yang sangat menarik.