Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Yulie Rettob'l

Waria juga Sama Seperti Kita Semua

Edisi 667 | 29 Des 2008 | Cetak Artikel Ini

Setiap 1 Desember kita memperingati hari AIDS sedunia. Menurut data Departemen Kesehatan, sampai akhir September 2008 ada 21.151 jiwa di negeri ini yang terinfeksi HIV dan 15.136 jiwa diantaranya sudah masuk dalam fase AIDS. Jika tidak ditanggulangi maka Indonesia bisa bernasib sama dengan Afrika yaitu diperkirakan bakal ada 1- 5 juta orang terinfeksi HIV/AIDS dalam kurun waktu dua tahun mendatang (2009-2010). Bersama kita hadir Yulie Rettob'l atau bisa dipanggil Mami Yullie, seorang praktisi dan ketua Forum Komunikasi Waria Indonesia. Dia dulu pernah mencalonkan diri menjadi Anggota Komisi Nasional (Komnas) Hak Asasi Manusia (HAM) pada 2007. Kita akan mendiskusikan bukan hanya mengenai AIDS namun juga permasalahan yang dialami teman-teman Waria.

Menurut Mami Yullie, pada 2006 terdata sebanyak 7.878.000 waria ada di Indonesia. Jumlah ini bisa berkembang sampai 200% karena banyak diantara mereka yang tidak terbuka dan tidak memiliki identitas resmi seperti kartu tanda penduduk. Namun bentuk diskriminasi masih terus dialami waria dengan yang paling rentan adalah tidak bisa mendapat tempat di publik.

Mami Yullie mengatakan suka atau tidak suka, mau tidak mau karena jumlahnya sangat banyak maka ini adalah tanggung jawab negara. Itu karena waria juga warga negara. Waria berharap agar calon presiden mendatang bisa memberi satu pemahaman atau memberi satu peraturan yang bisa melindungi mereka sebagai warga negara. Walaupun waria, kita juga warga negara yang mempunyai hak kesetaraan hidup dalam masyarakat.

Mengapa Anda bersama teman-teman membuat Forum Komunikasi Waria Indonesia, apa latar belakangnya?

Yang melatarbelakangi pembentukan Forum Komunikasi ini karena selama ini kita tidak mempunyai tempat dan tidak diberi kesempatan tampil di publik untuk dapat berkreasi. Selama ini orang berpendapat kita adalah kelompok minoritas yang tidak perlu diurus dan dipandang sebelah mata serta dianggap sampah masyarakat. Ini terlihat dari kejadian-kejadian yang menimpa teman-teman waria, terutama yang berurusan dengan hukum tidak digubris. Contohnya, ketika ada seorang waria ditembak oleh aparat kepolisian pada 2002 sampai sekarang tidak ada kejelasan hukumnya.

Berapa jumlah waria yang terdata oleh teman-teman di forum ini?

Setelah organisasi atau paguyuban ini terbentuk dan kepengurusannya dilantik pada 2005, kita mendata waria seluruh Indonesia. Pada 2006 saat diadakan kontes Miss Waria di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) terdata sebanyak 7.878.000 waria. Jumlah ini bisa berkembang sampai 200% karena banyak diantara mereka yang tidak terbuka dan tidak memiliki identitas resmi seperti kartu tanda penduduk (KTP).

Itu salah satu bentuk diskriminasi oleh masyarakat. Menurut pendapat saya diskriminasi muncul kadang-kadang karena mereka tidak tahu sehingga mengambil sikap demikian, atau mereka sebenarnya tahu tapi menganggap itu masalah sosial. Apa yang paling Anda rasakan dari penyebab munculnya diskriminasi tersebut?

Kita harus melihat masalah waria tidak bisa dipungkiri lagi. Dalam sejarah, sejak Nabi Luth sudah ada waria. Bagi masyarakat Indonesia, waria bukan baru muncul sekarang tapi sudah ada sejak lama. Menurut saya, yang pertama adalah masalah pemahaman terhadap siapa sebenarnya waria itu. Sampai saat ini mereka belum memiliki pemahaman itu. Kedua, mungkin karena masalah budaya yang masih sangat dominan. Kita harus mengakui budaya Indonesia sangat kental dan di sini mayoritas agama sangat mempengaruhi. Jadi kita melihat pemahaman mengenai waria sangat perlu diberikan kepada masyarakat. Misalnya, waria yang ada di ibukota atau Jakarta ini adalah waria urban dari daerah karena di sana tidak mendapat tempat. Ketika mereka tumbuh menjadi remaja kemudian ada gerakan yang meragukan mereka sebagai laki-laki normal maka dikucilkan. Apabila ada pemahaman khusus tentang yang terjadi pada teman-teman atau ada undang-undang (UU) yang melindunginya, mereka mungkin lebih nyaman tinggal di daerah. Mereka bisa bersekolah dengan tenang di daerah dan akhirnya tidak menjadi masalah sosial di Jakarta. Saat ini Jakarta banyak kedatangan waria dari daerah yang tidak memiliki ketrampilan yang cukup, akhirnya untuk mempertahankan hidup mereka menjajakan diri di jalan-jalan.

Apakah Forum Komunikasi Waria memberi informasi kepada masyarakat mengenai siapa itu waria, bagaimana kehidupan yang seharusnya mereka terima atau ditolelir?

Ya, kita melakukan itu. Kita juga membuat aksi-aksi damai. Kita banyak bersosialisi dengan aparat pemerintah termasuk Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) ke Komisi III dan IX. Kita banyak juga mendekatkan diri dengan tokoh agama. Bagi yang muslim kita sering mengundang kiai untuk memberikan siraman rohani. Bagi pemeluk Kristen, kita membantu mereka dengan mendatangkan pendeta. Dalam hal ini kita melihat bahwa waria itu adalah wanita yang terperangkap dalam tubuh lelaki dan sebenarnya kita juga tidak mau seperti ini.

Diskriminasi tidak hanya datang dari masyarakat, tapi juga datang dari pemerintah apalagi seperti di Indonesia. Apa bentuk-bentuk diskriminasi yang dilakukan pejabat yang Anda dan teman-teman rasakan?

Bentuk diskriminasi yang rentan diterima komunitas kita adalah tidak bisa mendapat tempat di publik. Padahal 20% dari jumlah 7 juta lebih tadi adalah waria yang berpendidikan. Sebanyak 15% berpendidikan sarjana strata satu (S1), S2 dan ada juga S3. Ketika mereka bekerja di sektor formal dan ketahuan berstatus waria maka mereka diberhentikan. Artinya, mereka boleh bekerja asal memakai pakaian laki-laki, sedangkan teman-teman waria menginginkan dapat bekerja dengan penampilan perempuan. Di sektor non formal juga demikian. Kita telah mengupayakan bersama Dinas Sosial agar mereka memiliki ketrampilan, tetapi ketika harus bekerja mereka mengalami kesulitan seperti tadi juga.

Apakah Dinas Sosial melayani teman-teman dengan baik?

Ya dengan baik

Apakah DPR juga menerima teman-teman dengan baik?

Sementara ini kita sedang mengupayakan dan selama ini kita bersosialisi dengan Komisi III dan IX, dimana kita mengharapkan pemerintah membuka ruang agar pemahaman tentang waria secara global itu ada.

Apakah terkait hal Itu Anda mengajukan diri sebagai calon Anggota Komnas HAM?

Saya mengajukan diri untuk menjadi Anggota Komnas HAM karena memiliki beban moral untuk bisa memperjuangkan hak kita sebagai warga negara yang selalu mendapat penindasan. Teman-teman kita yang berhadapan dengan kasus-kasus hukum tidak pernah digubris. Dalam arti ketika berhadapan dengan hukum atau polisi, kita dianggap orang-orang yang tidak perlu diurus. Karena itu kita berusaha mencari solusi agar penghalang-penghalang dan kasus-kasus yang menyangkut waria bisa diselesaikan.

Anda akhirnya tidak terpilih menjadi Anggota Komnas HAM, namun teman-teman tetap memiliki hak asasi mengenai orientasi seksual, maupun kultur, profesi dan sebagainya. Apakah Komnas HAM yang ada sekarang ini memenuhi keinginan kebutuhan teman-teman?

Ketika mengikuti fit & profer test saya meminta kepada Komisi III agar DPR melakukan affirmative action, sehingga kita bisa masuk dan duduk di dalam sistem tersebut untuk bisa mengurusi kelompok kita sendiri. Kita melihat kursi untuk minoritas itu ada, tetapi mengapa kita tidak bisa terwakili. Tetapi kita juga menyadari mungkin itu karena pemahaman dan Indonesia masih sangat dominan dengan budaya. Perjuangan itu juga tidak semudah membalik tangan. Saya berpikir Komnas HAM merupakan salah satu institusi dalam memperjuangkan kelompok minoritas atau kelompok yang tertindas. Namun sejauh ini sampai pelantikan anggota baru Komnas HAM kita melihat janji-janji yang waktu itu disampaikan kepada kelompok kita belum terealisasi. Dalam hal ini kita mengharapkan Anggota Komnas HAM yang mengurusi kelompok minoritas khususnya waria bisa membuktikan janji-janji dulu bukan janji belaka. Kita mengharapkan mereka benar-benar bisa memperjuangkan aspirasi kita selama ini.

Kembali agak mundur kebelakang. Seperti yang Anda sebutkan tadi waria dianggap tidak produktif di mata masyarakat. Apakah Anda bisa menunjukkan bahwa kelompok Anda memiliki prestasi dan profesi yang luar biasa?

Sumber daya manusia yang dimiliki waria sangat luar biasa. Tanpa tangan-tangan waria tidak mungkin artis-artis dan ibu-ibu pejabat bisa cantik, tapi itu semua tidak ditonjolkan. Sebaliknya, ketika waria mencopet di jalan, hal itu yang dibesarkan. Padahal mereka memiliki ketrampilan dan kemauan yang luar biasa. Data kita menunjukkan hampir semua salon yang dikelola oleh waria memiliki jumlah tamu yang lebih banyak dari salon yang dikelola oleh wanita. Ketika aku diundang ke beberapa stasiun TV, penata riasnya banyak juga waria. Jadi waria memiliki memiliki ketrampilan dan kesenian, tapi mengapa hal itu tidak ditonjolkan. Padahal di Thailand, aku melihat waria di sana bisa masuk sebagai omzet negara, dan sebenarnya waria-waria kita tidak kalah.

Pemerintah dan masyarakat tidak melihat ini sebagai potensi. Apa yang dilakukan Forum Komunikasi Waria untuk menyampaikan persoalan mengenai masyarakat semestinya tidak memandang sebelah mata?

Kita melakukan sosialisasi ke Dinas Kebudayaan, Departemen Sosial dan Departemen Tenaga Kerja bahwa kita sudah memiliki komunitas waria yang sudah siap kerja dan bisa ditaruh dimana saja sesuai kemampuan mereka, seperti untuk tata rias rambut dan disainer. Selain itu, lewat pencalonan saya sebagai calon Anggota Komnas HAM, saya ingin membuktikan bahwa kita bisa.

Mengapa Anda tidak menjadi calon anggota legislatif (Caleg)?

Sebenarnya bukan tidak mau, hanya faktor finasial saja yang memang kita tidak punya.

Masyarakat berpandangan penyebaran HIV/AIDS selain bidang prostitusi adalah kelompok waria. Apa yang teman-teman lakukan bahwa kita harus melakukan seks dengan aman?

Kebetulan saya juga bekerja di Yayasan HIV/AIDS (Srikandi Sejati) sebagai koordinator lapangan. Kita sudah melakukan dan mempunyai komitmen bahwa semua waria yang masih melakukan dan menjajakan seks di jalan harus memakai kondom. Kalau tidak memakai kondom maka tidak ada seks. Jika kita melakukan sweeping kondom secara tiba-tiba dan menemukan jumlah kondom di bawah tiga di dalam tasnya maka mereka akan terkena sanksi dengan harus membayar denda sebanyak Rp 200.000.

Siapa yang melakukan razia?

Yang melakukan razia adalah mami-mami kunci yang menjadi key person. Mereka mempunyai tanggung jawab untuk meyediakan kondom, distribusi kondom, dan juga memiliki komitmen, 'No Condom No Sex'.

Luar biasa, Ternyata anggapan masyarakat tentang teman-teman waria ini berpotensi menyebarkan HIV/AIDS lebih daripada yang lain tidak benar karena mereka sudah menerapkan satu program untuk mereduksi hal itu melalui program kondomisasi. Kalau tadi sewaktu mami-mami kunci melakukan razia, apakah ada atau tidak reaksi negatif dari teman-teman waria yang kedapatan membawa kondom di bawah tiga, seperti mengatakan ini hak saya?

Mungkin ada perbedaan sistem antara waria dan masyarakat umum. Kalau sistem di waria adalah kita sudah mempunyai satu ikatan perasaan. Teman-teman juga sudah memiliki satu persepsi bahwa yang sudah disampaikan oleh pemimpinnya sudah menjadi satu keputusan yang kuat untuk semua. Itu karena rasa persaudaraan dan kekompakkan yang membuat kita berpikir bahwa semua harus mentaati yang sudah diputuskan oleh pemimpin. Kalau ada teman-teman yang tidak mentaati maka dukungan dari teman-temannya juga sudah pasti tidak ada.

Apakah program tadi didukung oleh Departemen Kesehatan?

Kebetulan untuk sosialisasi program semacam ini kita mendapat funding dari program pemberdayaan penanggulangan masalah HIV/AIDS. Namun kadang-kadang lewat Departemen Kesehatan kita menyampaikan perkembangan kondisi karena akibat teman-teman ditinggalkan sampai ada diantara mereka yang terkena infeksi HIV/AIDS. Memang selama ini orang menghakimi seperti itu padahal bukan waria saja yang menyebabkan orang bisa terinfeksi HIV/AIDS. Saat ini dari penghitungan yang kita punya

menunjukkan jarum suntik merupakan faktor sangat dominan dalam penyebaran HIV/AIDS. Selain itu ibu-ibu rumah tangga yang menyusui juga banyak yang sudah terinfeksi. Dulu orang beranggapan waria atau gay atau orang-orang minoritas ini yang pembawa malapetaka HIV/AIDS, padahal sebenarnya tidak. Angka sekarang bisa kita kalkulasikan bahwa orang yang melakukan seks dengan ganti-ganti pasangan atau tidak memakai kondom itu bisa menjadi sasaran utama HIV/AIDS

Ini persepsi masyarakat yang keliru dan seharusnya Departemen Kesehatan menjelaskannya agar persepsi yang keliru semacam ini diubah sebagai upaya untuk melihat bahwa teman-teman pembawa entitas yang semestinya sama dengan lain. Kembali ke program AIDS, apakah ada pendidikan seks yang sudah dilakukan forum komunikasi waria?

Sebenarnya Forum Komunikasi Waria bekerjasama dengan Yayasan Sejati yaitu salah satu yayasan yang diprakarsai oleh waria dan pekerja. Di dalamnya direkrut mami-mami kunci yang ada di pusat-pusat wilayah untuk menjadi key person. Dalam hal ini aku melihat selama lima tahun terakhir sudah jauh berbeda dimana kita mempersiapkan outlet kondom, juga menyiapkan tempat dimana di situ ada mami-mami yang bertanggung jawab untuk mengurus hal itu. Mungkin mereka sekarang yang terinfeksi HIV/AIDS adalah akibat tindakan 10-50 tahun lalu yang istilahnya tidak dimonitor atau tidak ditangani. Namun ke depannya kita berharap bahwa dengan diberlakukan peraturan internal - istilahnya, menjadi tolak ukur kita dan berharap angka yang terinfeksi semakin turun.

Nah, dari semua yang teman-teman lakukan selama ini, apakah persepsi masyarakat terhadap teman-teman waria berubah lebih baik dan pemerintah juga bisa lebih menerima atau sebaliknya?

Aku melihat untuk kondisi lima tahun terakhir sudah jauh berbeda. Pada 10 atau 5 tahun lalu, waria tampil di TV cuma untuk menjadi bulan-bulanan. Namun kita melihat dalam lima tahun terakhir sudah banyak sekali kemajuan-kemajuan dimana waria juga bisa berekspresi. Sewaktu mencalonkan diri menjadi Anggota Komnas HAM, saya juga diundang ke beberapa daerah dan kota di Indonesia untuk menjadi narasumber dimana saya dibiayai gubernur di beberapa daerah untuk menyampaikan bahwa selama ini image masyarakat terhadap waria kurang tepat. Buktinya, ada waria yang sempat mau menjadi perwakilan duduk di Komnas HAM. Jadi sesungguhnya yang bisa kita lakukan banyak. Kita juga melihat saat ini sudah jauh sekali cara penanggapan masyarakat di daerah-daerah terhadap waria. Saya mendapat informasi lebih dari 17 provinsi di Indonesia sudah mulai menerima waria duduk di beberapa kursi pemerintah seperti menjadi guru. Ini juga perjuangan kita setelah mulai mencoba untuk duduk di bangku kuliah dimana mahasiswi sudah mulai bisa menerima teman-teman.

Jadi benar juga ungkapan kalau kita mau berubah maka berjuang sendiri, jangan harapkan sepenuhnya dari pemerintah?

Iya, yang bisa membuat kita berubah adalah kita sendiri. Namun kalau kita tidak memulai dengan perjuangan, itu tidak bisa tercapai.

Kalau teman-teman di Jakarta karena kota ini memiliki mobilitas yang tinggi maka dengan mudah menyampaikan informasi kepada publik sehingga perhatian publik juga bisa muncul. Namun untuk di daerah-daerah sering tidak muncul. Bagaimana teman-teman bisa menangkap informasi itu sehingga publik bisa tahu bahwa terjadi diskriminasi yang berat kepada sekelompok teman-teman waria? Bagaimana komunikasi yang dibangun supaya efektif?

Sebenarnya komunikasi yang dibangun itu soal struktural kita sendiri. Di dalam organisasi sudah dibagi ke dalam tiga bagian. Indonesia bagian Timur memiliki ketua di Ujung Pandang, Indonesia bagian Tengah ada di Bali, dan Indonesia bagian Barat ada di Palembang. Jadi mereka mempunyai jaringan yang cukup kuat, dimana di setiap pembagian wilayah atau ketua waria di tingkat provinsi juga bisa menangani teman-teman

yang ada di kabupaten. Dari kabupaten juga mempunyai lagi anak buah yang ada di kecamatan dan di setiap kecamatan juga mempunyai beberapa anak buah yang ada di desa. Jadi kita untuk merekrutnya tidak susah. Yang kita anggap potensial ini yang kita pegang. Guna menyamakan persepsi, kita juga mengadakan pertemuan enam bulan sekali. Kita mengadakan rapat nasional seperti nanti kita akan ada pertemuan nasional pada 13 - 17 Januari 2009. Kita akan mengundang seluruh waria dari 33 provinsi dan kita akan memberi pengertian dan pemahaman tentang bagaimana mereka bisa menjalankan organisasi yang baik

Nah, ini artinya partai yang kecil kalah jumlah anggotanya dengan waria?

Ya, kalau kita pikir sih sebenarnya untuk 5-6 kursi DPR bisa saja mendapatkannya

Artinya, calon presiden ke depan harus memperhatikan teman-teman yang dianggap minoritas selama ini karena tujuh juta anggota bukan jumlah yang kecil?

Ya karena kalau kita menilainya suka atau tidak suka, mau tidak mau karena jumlahnya sangat banyak maka ini adalah tanggung jawab negara. Itu karena kita juga warga negara.

Apa harapan Anda terhadap presiden mendatang atau perubahan politik mendatang?

Kita berharap agar calon presiden mendatang bisa memberi satu pemahaman atau memberi satu peraturan yang bisa melindungi kita sebagai warga negara. Walaupun waria, kita juga warga negara yang mempunyai hak kesetaraan hidup dalam masyarakat. Kita sama dengan orang lain.

Apakah ada keinginan mengangkat salah satu dari teman-teman menjadi menteri?

Ya, kalau bisa dan memang untuk menyampaikan aspirasi dengan jumlah komunitas yang ada ini tampaknya memungkinkan. Kalau kita tidak duduk di kursi itu, mungkin penyampaiannya akan susah.