Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Jetti Rosilahadi

Pilihan Perempuan adalah Pilihan Politik

Edisi 666 | 22 Des 2008 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru di seluruh Nusantara. Tamu kita Jetti Rosilahadi dipanggilnya Tila. Sejak saya mengenalnya semasa dia aktifis mahasiswa di Institut Teknologi Bandung (ITB) di mana saya dosen yang diseret-seret untuk ikut aktifis mahasiswa. Saat itu Tila adalah anggota Dewan Mahasiswa dan saya simpatisannya, saking bersimpatinya malah saya sampai masuk tahanan. Tila adalah seorang wanita, aktifis jender perempuan, dan macam-macam. Kini Tila memimpin majalah wanita Noor.

Tila mengatakan pilihan perempuan adalah pilihan politik. Itu karena dirinya merasakan dari keputusan paling kecil seperti belanja di warung atau supermarket sampai warna mobil yang mau dibeli ternyata perempuan yang selalu menentukan. Jadi dalam hal ini kalau perempuan-perempuan mau belajar dan cerdas, maka kita bisa ke arah yang lebih baik.

Menurut Tila, setiap orang juga harus mau belajar karena kita biasanya cuma ikut-ikutan. Misalnya, katanya tidak boleh begini, tidak boleh begitu, dan itu tetap diikuti. Jadi kita cuma mengikuti ’katanya’. Akibatnya, kegiatan atau suatu keputusan didasarkan kepada ’katanya’. Selain itu, kita juga masih harus belajar mengakui perbedaaan dan menerima alasan-alasan setiap orang, kemudian just doing what you want to do. Kemudian silakan menghargai pilihan-pilahan masing-masing. Barangkali atsmofir seperti itu dalam setiap lini kegiatan harus kita biasakan.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Jetti Rosilahadi. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.

Cerita mengenai Tila menarik sebab bersama suaminya merupakan aktifis yang sangat cerdas. Suaminya kemudian melanjutkan studi ke Amerika Serikat (AS) lalu mengajar di Australia. Jadi boleh dikatakan dia secara keseluruhan sudah 16 tahun berada di luar negeri. Sekarang dia ada di sini dan sangat berada di tengah masyarakat Indonesia. Saya ingin mengetahui perspektif dia baik dalam maupun luar negeri. Sejak mahasiswa sampai sekarang, ke arah mana perubahan perspektif Anda dikaitkan dengan kewanitaan Anda?

Perspektif saya sejak mahasiswa tidak pernah berubah. Bidangnya memang berbeda tapi tetap yang selalu kami ingin lakukan adalah perubahan ke arah perbaikan bangsa. Saya tidak pernah berpikir tentang wanita, itu pengkotakan. Jadi di dalam perjalanan hidup saya hanya bidang-bidangnya saja yang berbeda. Sewaktu saya di luar negeri dan anak-anak masih kecil maka bidangnya adalah pendidikan. Pada 2003 sewaktu kembali ke Indonesia, saya merasa perempuan Indonesia disodorkan begitu banyak media dari dalam dan luar negeri, serta diedarkan di Indonesia dengan berbagai macam topik dan bahasan. Yang saya rasakan pada waktu itu adalah kita perempuan hanya dijadikan obyek saja. Kita kok tidak mendapatkan ilmunya, tidak belajar. Kalau disuruh memakai kosmetik, hanya pakai saja. Kalau disuruh ikut mode, hanya ikut saja. Kita tidak pernah mendapatkan pengetahuan di balik itu. Sewaktu memutuskan untuk membuat majalah, saya ingin membuat majalah perempuan yang bisa untuk belajar dan mau berbagi. Partner saya menyarankan agar segmennya harus jelas. Kalau perempuan maka apa segmen perempuan yang dibidik. Saya muslimah maka saya membuat majalah muslimah.

Ada sesuatu pada cerita itu yang saya ingin tangkap. Pada bulan Desember ini ada hari Ibu dan ada isu yang menyangkut perempuan seperti undang-undang (UU) pornografi, poligami, dan sebagainya. Saya mulai dari hari Ibu, bagaimana hari Ibu menurut Tila?

Menurut saya, kita salah kaprah mengenai hari Ibu. Sewaktu kita sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), pada hari Ibu ada perlombaan bapak-bapak membuat nasi goreng atau ibu-ibu bebas menjalankan tugasnya dan bapak-bapak menyiapkan sarapan untuk istrinya. Tidak ada yang salah tentang hal itu, tidak ada yang salah menghormati ibu dengan segala kodratnya melahirkan dan mendidik anak. Namun kalau hari Ibu diperingati pada 22 Desember maka kita tampaknya kehilangan sesuatu dan kita harus belajar dari sejarah. Pada 22 Desember ditetapkan sebagai hari Ibu karena pada waktu itu perempuan-perempuan Indonesia berjuang untuk bangsanya.

Apakah yang dimaksud adalah hak politik?

Iya, hak politik sebetulnya, dan itu betul-betul jauh sebelum kemerdekaan yaitu kongres ketiga Wanita Indonesia (Kowani) pada 1938. Kemudian Presiden Soekarno lewat Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 memperkuatnya dengan menjadikan hari Ibu sebagai hari nasional. Nah, sebetulnya spiritnya seharusnya tetap seperti saat itu karena persoalan yang dikemukakan pada waktu itu mengenai penindasan terhadap perempuan, terbelakangnya pendidikan, hak-hak perempuan, kemudian trafficking, dan sebagainya masih terjadi sampai sekarang. Kok kita tidak maju-maju, sudah berapa puluh tahun tapi persoalannya masih ada.

Hari Ibu suatu label yang kadang-kadang dipakai begitu saja. Misalnya, tahun lalu membuat kontes nasi goreng untuk suami maka tahun ini juga digelar. Jadi, apa sebetulnya yang membedakan hari Ibu dengan hari Perempuan?

Hari Ibu yang selama ini kita rayakan sebetulnya lebih mengacu kepada perayaan Mother’s day di Amerika atau negara-negara lainnya.

 

Apakah itu sangat sentimental?

Itu sifatnya sangat sentimental, dan itu jatuhnya pada bulan Mei atau Maret. Jadi kalau kita mau merayakan seperti Mother’s day maka memang bisa disebut hari Ibu atau hari Perempuan. Sedangkan kalau kita mengambil tanggal 22 Desember maka seharusnya hari Kebangkitan Perempuan atau hari Perjuangan Perempuan

Apakah itu sangat beda?

Sangat beda sekali. Pada 1938 dan tahun 1950-an perempuan-perempuan se-Nusantara bersatu dan semua isu yang mereka angkat adalah untuk kesejahteraan bangsa bukan hanya untuk perempuan. Misalnya, isu pendidikan yang merupakan isu kesejahteran, bahkan mereka memperjuangkan nasib buruh, dan sebagainya. Saat itu mereka mempunyai wadah untuk melakukan hal itu. Nah, kalau sekarang kita sebetulnya mempunyai banyak organisasi perempuan dan banyak hal-hal yang kita perjuangkan, tapi kadang-kadang juga tidak dalam satu kesatuan. Sekarang ada Kowani juga tapi barangkali spiritnya tidak seheroik pada zaman itu. Permasalahan perempuan sampai kini masih ada dan makin besar.

Kalau harus membuat daftar masalah, apa tiga masalah perempuan paling penting di Indonesia saat ini?

Pendidikan, kesehatan, kemudian perlindungan terhadap hak-haknya. Namun sekarang sudah tambah lagi. Kalau pada zaman kita mahasiswa belum terlalu heboh mengenai perempuan berjilbab, misalnya. Kalau sekarang kita melihat di mana-mana banyak perempuan berjilbab, namun itu menjadi suatu yang didiskusikan dan pro-kontra.

Ya, saya ingin mendiskusikannya tapi tidak perlu mempro-kontrakan sebab dulu sewaktu kita bertemu di kampus ITB pada 1978 Anda tidak berjiilbab, atau secara umum jarang sekali orang berjilbab di kampus ITB atau tempat lainnya. Sekarang hal itu barangkali sudah menjadi mayoritas. Mengapa?

Aduh kalau Anda menanyakan hal itu kepada saya, saya tidak bisa mewakili karena setiap orang berbeda alasannya. Kalau kita menjajarkan 10 perempuan berjilbab dan satu-satu ditanya maka masing-masing mempunyai jawaban yang berbeda-beda. Mulai takut kepada Tuhan, takut kepada suami, atau rambutnya sudah beruban, atau hanya lifestyle saja atau personal choice saja. Saya rasa hal ini yang membedakan perempuan-perempuan berjilbab di Indonesia dengan negara lain atau dengan negara Timur Tengah karena penentuan kita berdasarkan pilihan dan ini sangat mengembirakan. Nah itu harus kita hargai.

Itu yang tidak saya ketahui karena awam dan laki-laki sehingga tidak terlalu memperhatikannya. Apakah hal itu tidak bisa dibedakan dari modelnya, warnanya, caranya memakai jilbab, atau motifnya?

Tidak juga. Namun kemudian orang mengkotak-kotakkannya. Jadi kita harus belajar mengakui perbedaaan dan menerima alasan-alasan setiap orang, kemudian just doing what you want to do. Namun mungkin karena dulu di zaman Orde Baru yang kelamaan kita semua harus di-labeling, dimasukan ke kotak-kotak sehingga sekarang mungkin masih keterusan. Jadi kalau ada perempuan yang memakai jilbab model begini maka disebut jilbab gaul, kalau jilbabnya sampai ke dada maka disebut jilbab PKS. Jadi masih ada pengkotak-kotakkan.

 

 

Kalau diucapkan secara ringan lucu saja, khawatirnya orang luar negeri menganggap itu sebagai satu simbol?

Yang harus kita lakukan adalah membiasakan berdialog untuk mengerti mengapa masing-masing orang seperti itu, kemudian silakan menghargai pilihan-pilihan masing-masing. Barangkali atsmofir seperti itu dalam setiap lini kegiatan harus kita biasakan.

Tila ini perempuan yang berjuang tapi di lain pihak mungkin juga ditekan. Saat ini ada isu-isu yang kelihatannya merendahkan perempuan dan ada yang membelenggu. Apakah UU Pornografi termasuk yang melindungi atau menekan perempuan?

Sebenarnya saya sendiri prihatin dengan UU Pornografi ini mulai dari prosesnya. Mulai dari prosesnya kita tidak cerdas untuk bersama–sama duduk. Saya rasa siapa sih orang - baik perempuan, laki, muda, tua - yang ingin anaknya bejat atau tidak bermoral. Semua anti pornografi. Namun yang menjadi persoalan adalah bagaimana hal itu dituangkan dalam peraturan, bagaimana negara menyikapinya, bagaimana kita semua melindungi hal itu. Sewaktu mengikuti debat atau prosesnya, saya melihat masing-masing pihak sudah sudah dibelenggu oleh pengkotakan-kotakkan itu. Misalnya, yang satu berlindung dalam agama, dan yang satu lagi lebih kepada hak azazi manusia (HAM). Namun sewaktu mendiskusikan dan mendialogkan hal itu tidak ada yang mau keluar dari kotak-kotaknya, atau tidak mau melihat satu sama lain dan duduk bersama untuk menaruh persoalan di atas meja. Dengan niat dan tujuan yang sama, saya rasa dialog dan suasananya akan lebih berbeda.

Jadi, angle atau kotak politik rupanya lebih kuat daripada keinginan obyektif?

Saya merasakannya demikian. Di Indonesia dalam banyak hal, baik isu besar maupun kecil, selalu terus berada dalam pengkotakan. Misalnya, itu untuk partai ini atau itu hanya untuk golongan tertentu.

Anda seorang urban planner lulusan dari planologi ITB yang aktif sewaktu mahasiswa kemudian di masyarakat dan sekarang menemukan tempatnya sebagai pemimpin redaksi majalah Noor. Ini menarik untuk saya yang mengenal Anda sebab dulu Anda bukan aktifis Islam, bukan aktifis wanita, dan juga bukan aktifis pers. Namun sekarang Anda berada di ketiga aktivitas tersebut dengan menjadi pemimpin redaksi majalah Noor. Saya ingin melihat pandangan masyarakat terhadap Anda sekarang dan apa yang Anda lakukan melalui majalah itu?

Sebetulnya yang saya ingin lakukan di majalah itu adalah kita mengantar ke gerbang, istilahnya. Di Indonesia sebagian besar penduduknya beragama Islam dan dari sebagian besarnya itu sebanyak 53% perempuan. Selain itu, ini juga buat diri saya sendiri juga. Kalau kita meyakini sesuatu maka kita harus belajar. Selama ini dimana saya dulu juga begitu dan teman-teman di sekitar saya juga begitu, kita biasanya cuma ikut-ikutan. Katanya tidak boleh begini, tidak boleh begitu. Jadi kita cuma mengikuti katanya. Akibatnya, kegiatan atau suatu keputusan didasarkan kepada katanya. Kalau memang menganut Islam maka kita harus mau belajar yang ada di Alqur’an, misalnya, mempelajari sejarah turunnya ayat-ayat Alqur’an dan konteksnya. Kemudian bagaimana konteksnya untuk di zaman sekarang. Jadi memang kita harus mau belajar, kita harus mau tahu, bukan hanya katanya-katanya. Kemudian kalau kita sudah belajar, putuskan berdasarkan nalar kita, berdasarkan yang kita yakini. Setelah itu just do it. Kalau kita hanya berdasarkan katanya-katanya kemudian kita hanya ikut-ikutan maka sayang sekali. Itu mengenai Islam.

Di lain pihak, saya juga merasa perempuan itu sangat powerful, betul-betul luar biasa. Selama hampir lima tahun di majalah Noor, saya merasakan dari keputusan paling kecil seperti belanja di warung atau supermarket sampai warna mobil yang mau dibeli ternyata perempuan yang selalu menentukan. Jadi sebetulnya pilihan perempuan adalah pilihan politik. Kalau perempuan-perempuan mau belajar dan cerdas, Insya Allah kita bisa ke arah yang lebih baik. Tapi kalau perempuan-perempuan cuma ikut-ikutan, misalnya, perempuan itu mesti pakai jilbab untuk menutupi aurat maka harus mengetahui hal itu kata siapa, di mana adanya, di zaman seperti apa, apa alasannya. Saya sering sekali menyatakan dan saya merasa perempuan berjilbab itu bukan artinya lebih soleh daripada yang tidak berjilbab. Itu pilihan dan ternyata yang berjilbab ada juga yang masih membicarakan orang lain. Di dalam Alqur’an dinyatakan jangan suka membicarakan orang lain, berbuat baik dong terhadap sesama. Ternyata hal itu juga belum dilakukan. Jadi ini spektrumnya luas. Kalau yang satu baru melakukan ini tapi belum melakukan itu maka hargai saja. Nah, kalau satu sama lain saling belajar mudah-mudahan makin banyak yang bisa kita lakukan berdasarkan keyakinan dan dalam Islam ini sebaik-baiknya umat adalah yang berguna bagi orang lain. Allah itu menjadikan kita beraneka ragam, tidak semuanya Islam, tidak semuanya hitam, tidak semuanya putih, tidak semuanya perempuan, untuk kita saling menghargai pendapat satu sama lain. Juga kita diajarkan oleh Rasullulah jangan melihat siapa yang bicara tapi lihat apa yang dibicarakannya. Di majalah Noor ada rubrik bernama jendela dunia berisi pemikiran-pemikiran orang yang suka mengeluarkan buku atau penemuan-penemuan dan bukan selalu orang Islam. Jadi silahkan apa pendapatnya, apa yang dipikirkan karena Rasullulah mengajarkan kita untuk bukan lihat siapa yang berbicara tapi pemikiran-pemikiran yang baik untuk umat, bukan hanya umat Islam tapi untuk seluruh umat.

Ini karena saya sudah lama mengenal Anda jadi saya mau tanya terus terang karena saya tahu Anda kualitasnya baik dan saya mengenal beberapa teman Anda. Saya tahu dan saya senang sekali ada orang yang mengaktifkan diri di suatu majalah Islam dan barangkali bisa mengatasi problematik yang terkait dengan kotak perempuan dan kotak Islam. Namun andaikata yang dipercayakan itu bukan orang-orang yang terbuka, apakah majalah yang segmented itu tidak akan mempertebal segmen, misalnya, nanti wanita Islamnya maju tapi wanita Kristen tidak, karena tidak mempunyai majalah serupa?

Kita memiliki teman namanya Meli. Kita selalu mengatakan ayo dong buat majalah sama-sama. Malah tadinya saya mengatakan yuk kita bergabung. Itu karena saya sewaktu SD bersekolah di Ora et Labora, sekolah Kristen. Saya ingat kalau Minggu pagi mereka semua mesti ke gereja dulu, setelah itu ada makan siang beramai-ramai. Sampai sekarang teman-teman saya yang Kristen mengatakan, "Aduh malam minggu begini anak-anak pada dugem, tidak ada yang ke gereja lagi pada Minggu pagi, susah sekali mengajak anak-anak ke gereja." Sebetulnya kalau mereka diberi tahu dengan cara populer, mereka mengetahui valuenya seperti apa dan bagaimana asyiknya kalau mereka melakukan itu, maka itu akan berbeda. Saya rasa ini persoalan bagaimana mengajak yang muda-muda untuk belajar value-value. Sebetulnya yang ada di dalam kitab suci apapun saya percaya bahwa kita diberikan value-value yang sifatnya untuk berbuat baik bersama-sama di dunia ini. Kalau kita hidup di surga tidak tahu bagaimana nanti. Namun karena sekarang kita hidup di dunia maka bagaimana supaya kita bisa hidup bersama-sama melakukan hal-hal terbaik yang bisa kita lakukan.

Sebetulnya kalau di negara lain, misalnya Amerika, sekarang mempunyai harapan dan barangkali akan berubah mengenai pandangan ras, pandangan sempit karena adanya suatu peristiwa politik. Nah di sini tahun depan kita akan ada peristiwa politik. Bagaimana kira-kiranya isu nyata yang Anda sebut tadi apakah bisa masuk ke dalam diskursus politik yang ada atau mungkin sudah menyerah begitu saja?

Aduh, terus terang saya pusing melihat Indonesia sekarang. Waktunya makin dekat tapi hal-hal seperti itu belum banyak partai dan calon yang menawarkannya. Sebelum Pemilu lima tahun lalu dan waktu itu isunya perempuan pilih perempuan, majalah Noor memuat profil masing-masing partai. Para perempuan mau mikir apa terserah. Tahun sekarang kita akan mencoba membuat seperti itu lagi.

Apakah kira-kira kini sikap partai maju atau tidak terhadap isu tadi? Apakah Anda juga tidak bisa endorse partai yang mempunyai pemikiran terbuka?

Belum bisa. Jadi milih masing-masing saja dengan saling mencerdaskan diri dan bertukar pikiran.