Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Subagio Danuningrat

Gerakan Tanam Sejuta Pohon

Edisi 659 | 03 Nov 2008 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita Subagio Danuningrat termasuk sosok luar biasa yang melalui Rotary Club mengadakan gerakan penanaman sejuta pohon. Dia juga mantan Presiden Rotary Club Kebayoran, Jakarta.

Subagio Danuningrat mengatakan gerakan menanam sejuta pohon adalah salah satu kegiatan untuk melestarikan bumi. Dalam kegiatan ini juga diupayakan masyarakat terutama generasi muda ikut berpartisipasi sehingga dia memberikan penyuluhan kepada anak-anak agar tahu bagaimana mendapatkan benih, menyemai, menyebarkan benih, kemudian merawatnya menjadi pohon sebagai pelindung, Selain melakukan penanaman satu juta pohon untuk penghijauan kembali, Subagio dan kawan-kawan melakukan gerakan membuat sawah organik sehingga bebas dari kimia, mengkampanyekan lobang biopori dan sumur resapan.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Subagio Danuningrat..

Kami sangat tertarik sekali mendengar gerakan penanaman sejuta pohon yang dilakukan Anda dan kawan-kawan di Rotary Club. Bagaimana awalnya gagasan ini?

 

Mungkin saya akan jelaskan dahulu mengenai Rotary Club, yaitu suatu organisasi yang anggotanya berjiwa sosial dan mempunyai kepedulian terhadap lingkungan. Karena itu tidak pernah berhenti untuk berbakti dan melakukan berbagai usaha untuk mensejahterakan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan. Sedangkan gerakan menanam sejuta pohon adalah salah satu kegiatan Rotary terkait pelestarian bumi atau preserve planet earth. Kita melakukan penanaman kembali lahan-lahan hutan atau lahan-lahan terbuka di bumi Indonesia. Kegiatan penghutanan kembali atau reforestation ini adalah bagian dari aktivitas Rotary di masyarakat atau disebut juga community service. Jadi penghijauan kembali di berbagai lokasi tersebut diharapkan dapat mengurangi proses pemanasan global karena pohon menyerap gas buangan CO2 dari industri, pembangkit listrik, juga kendaraan bermotor. Pada akhirnya akan mengurangi terbentuknya efek rumah kaca di atmosfir bumi.

 

Apakah gagasan awal Anda dan teman, yang tergabung dalam Rotary Club di daerah Kebayoran, Jakarta Selatan  merupakan bagian dari kegiatan Rotary Club secara keseluruhan?

 

Rotary Club kami disebut distrik 3400. Rotary mempunyai 100 club di seluruh Indonesia mulai dari Banda Aceh sampai ke Flores. Salah satu kegiatannya yaitu bila ada musibah seperti banjir maka Rotary mengulurkan tangan memberikan bantuan-bantuan berupa pangan. Beberapa tahun lalu terjadi suatu musibah tanah longsor di Banyumas dan Pasuruan, Jawa Timur, yang memakan puluhan korban  meninggal dunia. Saat itu Rotary mencoba menggalang dana dan bantuan berupa bahan pokok. Namun kami menyadari hal itu sebetulnya bukan solusi untuk menghindarkan terjadinya longsor lagi. Pada waktu musim hujan yang akan datang bisa terjadi longsor lagi. Karena itu akhirnya kita berpikir mengapa harus mengeluarkan uang yang habis hanya untuk saat itu saja, dan mengapa kita tidak memberikan bibit pohon supaya daerah itu bebas dari tanah longsor. Jadi itu awalnya, kemudian kami mengajak seluruh Rotary Club di Indonesia untuk berusaha mencoba menanam banyak pohon di daerah-daerah yang tanahnya kritis. Selain menghindari bencana, sebetulnya dengan tidak adanya pohon juga mengakibatkan berkurangnya air tanah yang sebetulnya disimpan oleh akar-akar pohon. Kalau tidak ada pohon-pohon maka akan terjadi kekurangan air di daerah tersebut. Karena itu sangat penting diingat bahwa pohon bukan saja untuk penghijauan serta menyerap CO2 dan mengeluarkan O2, tapi juga untuk penyimpanan air tanah.

 

Apakah gagasan seperti itu susah atau tidak untuk disosialisasikan kendatipun di dalam organisasi Anda sendiri?

 

Sebetulnya kami sudah bergerak di beberapa komunitas mulai dari murid sekolah sampai ibu-ibu termasuk yang ada di pedesaan. Kami juga mengajak mereka untuk sedikit mandiri, tidak harus menunggu bantuan pemerintah. Misalnya, mengajak mereka untuk menanam dan memelihara pohon buah. Tapi yang sekarang kami usahakan adalah Rotary bisa menanam sejuta pohon dan mengupayakan masyarakat terutama generasi muda ikut berpartisipasi. Jadi kami juga memberikan penyuluhan kepada anak-anak agar tahu bagaimana mendapatkan benih, menyemai, menyebarkan benih, kemudian merawatnya menjadi pohon sebagai pelindung, atau disebut juga sebagai reforestation (penghutanan kembali). Salah satu program yang kami lakukan adalah memberikan bibit atau benih gratis kepada anak sekolah di seluruh Indonesia. Anak sekolah tersebut bisa mengambil media tanahnya dari mana saja seperti dari rumah mereka lalu dibawa ke sekolah. Mereka bisa menaburkan benih itu untuk dijadikan sebagai bibit, kemudian  bibit itu dipindahkan ke lokasi yang perlu diadakan penghijauan.

 

Mengapa Anda dan kawan-kawan memilih media sekolah sebagai sasaran target utama?

 

Itu karena kita harus menyelamatkan bumi ini untuk mereka juga, sedangkan kalau kami ini sudah berusia tua. Selain itu justru bumi ini akan diselamatkan oleh generasi muda.

 

Bagaimana kegiatan tersebut dilakukan di Jakarta?

 

Dalam hal ini Jakarta meliputi kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Kalau kita melihat dari Pesisir Pantai Utara Jakarta, banyak pantai yang sudah terkena abrasi laut,  pencemaran, dan sebagainya. Salah satu benteng dari pantai itu adalah pohon bakau. Namun pohon itu sudah mulai habis. Kira-kira satu juta pohon bakau rusak setiap tahunnya. Terutama di Jakarta Utara  mulai dari Muara Angke, Cilincing, dan seterusnya. Salah satu manfaat dari pohon bakau atau mangrove adalah bisa menahan desakan ombak yang besar kalau terjadi bencana seperti tsunami. Sewaktu terjadi tsunami  di Aceh, hutan bakau yang ada di dekat lapangan terbang mampu menahan begitu derasnya terjangan ombak, sehingga lapangan terbangnya selamat. Coba bayangkan kalau lapangan terbangnya ikut hancur pada waktu itu maka akan lebih berat lagi kondisi Aceh.

 

Di Jakarta ada suatu daerah bernama Taman Wisata Angke. Kami mencoba untuk menanam 100.000 pohon di daerah tersebut. Namun itu tidak mudah karena pohon ditanam di rawa yang kedalaman airnya setinggi dada manusia tapi kita tidak harus menyelam. Caranya, sebelum bibit itu ditanam kita harus menanam dahulu bronjong (anyaman bambu) yang ditutupi dengan satu karung berisi lumpur. Di situlah kita tanam bibitnya. Dalam kegiatan ini kita dibantu masyarakat dan banyak juga generasi muda yang berminat ikut. Pada saat itu saya mengirimkan pemberitahuan ke beberapa milis. Saya mendapatkan masyarakat yang berminat dari milis, sedangkan saya mendapatkan benih dari pengelola Taman Wisata Angke.  

 

Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar benih bakau hidup dan berkembang?

 

Untuk membenihkan bakau, kita mengumpulkan dulu bijinya kemudian memasukkan ke dalam karung selama kira-kira enam bulan. Kalau sudah tumbuh empat lembar daun maka kita baru bisa menanamnya. Masyarakat generasi muda secara sukarela betul-betul antusias menanam bakau yang dinilai seperti petualangan karena ini bukan menanam di darat tetapi di air. Ini juga suatu hal yang lain karena lumpurnya hitam pekat, kadang-kadang di bawah lumpur terasa seperti ada binatang. Mereka yang pernah turut menanam mengetahui bahwa semuanya harus mengalami hal-hal seperti itu. Lucunya, setelah mereka menanam,  mereka berminat lagi.

 

Masyarakat ternyata memiliki antusiasme tinggi terhadap proses penghijauan, hanya kita tidak tahu saja cara menggerakkan tenaga potensial semacam ini. Contohnya, Anda melalui milis saja sanggup menggerakkan masyarakat. Menurut data Rotary Club, di mana daerah di Indonesia yang paling kritis?

 

Sebetulnya, tanah yang paling kritis ada di Jawa. Tanah di Jawa sudah rusak karena dirusak oleh manusia juga. Tapi mohon maaf, mungkin kita dulu salah mendapat petunjuk dalam mengelola tanah sehingga hara tanah yang disebut organik sudah makin berkurang, makin kecil. Kita harus menyelamatkan tanah ini sebetulnya. Untuk menyuburkan tanah, kita harus mempunyai cadangan air yang cukup. Tanah harus dikembalikan lagi menjadi organik. Tadi saya cerita mengenai bakau di laut, sekarang saya cerita mengenai di daratan. Kalau di daratan, banyak cara yang dulu dalam mengelola tanah malah mengakibatkan tanah menjadi rusak, seperti akibat penggunaan pupuk kimia. Sebetulnya ada cara lain seperti dengan membuat pupuk organik, atau alami, atau non kimia. Jadi itu penting.

 

Apakah cara-cara lain atau alternatif itu lebih mahal?

 

Sementara ini boleh dikatakan mahal, tapi hasilnya akan menambah produksi pertanian. Contohnya, melalui penggunaan System of Rice Intensification (SRI). Dulu, orang kadang-kadang menanam di sawah  boros, seperti airnya tergenang, benih atau bibitnya ditanam sebanyak-banyaknya sampai kadang-kadang dibuat berjarak 15 – 17 cm. Namun sekarang dengan SRI, airnya tidak harus tergenang, cukup di sekelilingnya dibuatkan selokan sehingga tanahnya lembab. Kemudian penanaman benihnya dibuat berjarak 30 cm satu sama lain. Jadi kita menghemat benih dan air tapi produksinya bisa lebih banyak daripada yang tradisional.

 

Selain itu, cara alternatif lainnya adalah kita membuat sawah organik sehingga bebas dari kimia. Kita harus mengingatkan bahwa organik pestisida sudah ada. Kalau menggunakan pestisida kimia, hamanya belum tentu mati, malah hidupnya bisa makin imun. Jadi sebaiknya kita coba dengan teknologi. Saya kebetulan mempunyai satu teknologi yaitu menanam padi di sawah jangan asal menggenjot akarnya saja untuk mencari makanan tapi daunnya juga perlu. Daunnya itu memproduksi glukosa, pati, dan sebagainya. Kita selalu berfikir ke akarnya saja, padahal di balik daun itu ada lobang-lobang yang bisa kita berikan semacam tonikum. Saya sedang mencoba untuk meningkatkan kapasitas produksi padi lebih baik melalui cara tersebut.

 

Bagaimana cara menularkan gerakan penanaman sejuta pohon supaya masyarakat lainnya memiliki kesadaran bahwa bumi ini sedang kritis dan perlu kerja bersama untuk menyelamatkannya?

 

Sebetulnya yang harus disadari juga oleh masyarakat di dunia termasuk Indonesia adalah pemanasan global makin menipiskan lapisan ozon dan sebagainya sehingga juga akan menyulitkan  tanah bisa sesubur seperti beberapa ratus tahun lalu. Itu juga karena dirusak oleh kita sendiri. Jadi masyarakat harus mengerti bahwa hari depan kita tergantung pada upaya kita memperbaiki bumi ini. Memang kadang-kadang sedikit sulit untuk mengajak masyarakat tapi kita harus berkomunikasi yang benar, kita harus memberikan informasi-informasi yang saling  menguntungkan. Kita juga harus konsisten dalam melaksanakan suatu proyek, dan jangan lupa juga edukasi itu perlu. Sebaiknya di sekolah-sekolah mulai ditanamkan pemahaman mengenai arti lingkungan. Lingkungan itu bisa mencakup masalah kebersihan juga, misalnya, anak sekolah diajarkan cara mendaur ulang kembali, cara pembibitan, penyemaian, dan pemeliharaan.  

 

Apakah Anda ada kerjasama dengan pemerintah? 

 

Sama sekali tidak ada.

 

Jadi ini murni dari masyarakat. Bagaimana kegiatannya berjalan dan di mana saja penanaman sejuta pohon itu untuk di Jakarta?  

 

Kami mendapatkan sumbangan beberapa pohon dari salah satu organisasi wanita bernama Aliansi Pemberdayaan Perempuan Berkelanjutan (APPB). Namun jumlah pohon yang diberikan tidak sesuai dengan yang kita minta. Kita meminta satu juta pohon tapi kita hanya mendapat 32 ribu pohon. Pohon itu sudah kami bagi-bagikan agar menambah penghijauan seperti ke beberapa rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Angkatan Udara di Halim, Jakarta Timur. Kemudian juga ada  ke masyarakat  yang tinggal di  Jakarta Barat, Bintaro, kemudian Karawaci, Banten. Untuk di Jakarta Selatan, kami memberikan tanaman buah di Melawai. Di Bogor juga. Jadi sebenarnya sudah banyak untuk di Jabodetabek, Dengan janji kita akan menanam sejuta pohon maka kita berinisiatif mendapatkan bibit. Kebetulan anggota Rotary di Purwokerto bisa mengumpulkan benih sebanyak 30 kg. Benih tersebut benih albasia (sengon) yang per kg bisa menghasilkan 40 ribu pohon. Jadi kalau 30 kg benih maka bisa mencapai 1,2 juta pohon. Pelaksanaan ini harus serentak dilakukan. Jadi kami mencoba memberikan benih gratis melalui Rotary Club, dan kawan-kawan di Rotary Club harus menyemai sendiri.  Kami juga bekerja sama dengan sekolah-sekolah terutama murid SD dan SMP, bahkan diharapkan wali kelasnya turut memberikan penyuluhan arti pentingnya penghijauan. Selain memberikan penyuluhan dan benih gratis, kita juga meminta agar anak-anak sekolah menyadari bahwa lingkungan itu perlu penghijauan karena kita bernafas dengan oksigen. Mereka juga harus mengetahui bahwa menebang satu pohon berarti membunuh juga.

 

Dari kegiatan Anda selama ini, apa yang perlu diperhatikan oleh pemerintah?

 

Pemerintah harus menjaga lahan-lahan kritis, terutama daerah rawan banjir, rawan longsor, dan kekeringan. Untuk daerah kekeringan, pemerintah seharusnya sudah bisa mengatasinya sejak dulu karena  limpahan air hujan yang cukup besar di bumi kita seharusnya ditampung. Kalau di lahan-lahan sawah dibuat sumur resapan, barangkali tanah tidak retak-retak kering seperti sekarang. Juga kita harus menerapkan sistem organik untuk menanam tanaman. Menurut saya, sekarang pemerintah sebaiknya harus menyadarkan  masyarakat mengenai pentingnya resapan air.

 

Apakah yang dilakukan oleh pemerintah selama ini kurang efektif?

 

Kekeringan terjadi akibat tidak ada program yang disebut sumur-sumur resapan. Mungkin itu sudah ada tetapi tidak intensif dilakukan.

 

Apakah sulit untuk mengaplikasikan hal itu di Jakarta karena setiap tahun yang muncul di Jakarta justru bangunan di tengah daerah-daerah resapan air?

 

Kalau penyebab di Jakarta adalah gedung-gedung yang tinggi mengebor tanah sampai kedalaman 200 meter sehingga tanah sampai menjadi cekung dan interupsi dari laut juga masuk. Sekarang  sudah dimulai upaya yang disebut biopori yaitu pembuatan lobang berdiameter 30 cm di tanah untuk bisa menyerap air.

 

Namun kalau untuk sawah agar jangan terjadi gagal panen dan sebagainya maka harus dibuatkan sumur resapan. Seharusnya air berlimpah turun dari langit tidak begitu saja dibuang ke laut dan membawa semua hara-hara sehingga tanah menjadi rusak. Air itu harus ditampung tapi menyimpan air hujan untuk musim kering belum menjadi semacam budi daya kita.

 

Tadi Anda mengatakan menggerakkan masyarakat untuk terlibat melalui milis-milis. Apa milis Anda? Mungkin ada pembaca yang ingin bergabung juga.

 

Saya lupa nama milisnya, tapi kalau mau bertanya ke saya maka saya siap untuk menjawab. E–mail saya  sbd@cbn.net.id sedangkan untuk situs bisa melihat situs Rotary kami di  www.rotaryd3400.org  Kemudian di Rotary, kami juga mempunyai beberapa milis seperti reforesration milis, holticulture and gardening, terus ada juga fellowship.

 

Kalau seandainya penanaman satu juta pohon sudah tercapai, apakah kegiatan tersebut berhenti atau itu sebetulnya kegiatan jargon saja?

 

Masih banyak. Kalau sejuta pohon sudah ditanam maka kita bisa melihat hasilnya 10 tahun mendatang sebagai suatu penghijauan yang berhasil. Di dunia ada semacam yang disebut kompensasi untuk negara-negara miskin yang mempunyai penghijauan. Jadi kita bisa mengklaim bahwa Indonesia sudah mengadakan penghijauan kepada negara-negara yang industri yang mengotori dunia karena karbonnya.

 

Apalagi sekarang kesepakatan bernama Kyoto Protocol yang di dalamnya ada carbon credit. Barangkali setelah 10 tahun bisa diklaim, apalagi satu ton karbon bisa dinilai 10 ribu dolar. Coba bayangkan, kalau kita menanam satu juta pohon maka itu sudah bisa menjadi pendapatan. Satu lagi tambahan supaya menjadi pemikiran semua masyarakat Indonesia bahwa tanah kita subur. Pohon-pohon di Papua, Kalimantan, dan Sulawesi bisa besar-besar tanpa ada yang memberi pupuk, dan hidup sendiri secara alami ratusan tahun karena di bawah tanahnya ada karbon. Itu bukan karbon yang akibatkan dari emisi buang, tapi dari tanahnya sendiri yang memberi makan kepada pohon besar-besar itu.