Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Rizaldi Boer

Pemanasan Global Setelah Konferensi Bali

Edisi 614 | 24 Des 2007 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita sekarang sangat khusus berada disini untuk isu yang sangat khusus, tapi sebetulnya adalah isu global yang sangat besar dan seharusnya juga isu nasional yang paling besar yaitu isu perubahan iklim atau pemanasan global (global warming). Pada saat wawancara ini diadakan, di Bali baru saja selesai Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change - UNFCCC) yang dihadiri 190 negara untuk membicarakan tindakan terhadap pemanasan global. Selain itu, UNDP juga telah mengeluarkan suatu laporan khusus bernama Human Development Report dan satu laporan khusus untuk Indonesia. Dalam laporan khusus untuk Indonesia itu terlibat para ahli Indonesia, antara lain tamu kita sekarang yaitu DR Rizaldi Boer. Dia merupakan sarjana bidang agro climatology dari Institut Pertanian Bogor dan meraih gelar Doktor dari University of Sydney dalam bidang agriculture dengan fokus pada analisa risiko iklim yang akan datang pada pertanian.

Rizaldi Boer mengatakan Konferensi Bali dan berbagai organisasi dunia sudah mengakui dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor sangat significant, khususnya di sektor pertanian. Perubahan iklim telah menurunkan produktivitas tanaman berkisar 10 - 30% per ton per hektar tergantung dari lokasi dan kondisi tanah. Itu belum lagi ditambah adanya ancaman kegagalan panen akibat bencana yang ditimbulkan dari pemanasan global. Jika tidak ada upaya-upaya adaptasi maka kegagalan panen akan makin sering terjadi dan pada akhirnya berdampak pada ketahanan pangan nasional.

Rizaldi Boer mengharapkan semua pihak termasuk pembuat kebijakan dan masyarakat memahami pemanasan global ini dan upaya-upaya adaptasinya dengan cara kita menjaga lingkungan. Misalnya, menjaga kebersihan sungai-sungai. Itu merupakan langkah-langkah adaptasi. Jadi kalau hujan tinggi maka arus air lancar sehingga tidak terjadi banjir.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Rizaldi Boer.

Menurut Anda, apa yang paling penting dari sisi Anda, yaitu pengaruhnya terhadap pertanian, dari hasil konferensi Bali kemarin?

Yang jelas, Konferensi Bali dan berbagai organisasi dunia, baik lembaga swadaya masyarakat (Non Government Organization NGO) maupun lembaga pemerintah, sudah mengakui dampak perubahan iklim terhadap berbagai sektor sangat significant, khususnya di sektor pertanian. Akhir-akhir ini kita juga sudah makin merasakan dampak dari bencana perubahan iklim. Ini bisa kita perhatikan dari meningkatnya kehilangan produksi padi nasional pada era 1990 sampai 2000 hingga tiga kali lipat dibandingkan era 1980 1990. Jika frekuensi intensitas bencana akibat pemanasan global makin sering dan tanpa ada upaya-upaya adaptasi maka kegagalan panen akan makin sering terjadi dan pada akhirnya berdampak pada ketahanan pangan nasional.

Sejauh mana kita dapat memastikan bahwa gangguan produksi pangan itu memang akibat dari global warming?

Sebenarnya kekurangan pangan itu banyak problemnya. Pertama, konversi lahan pertanian kita sudah banyak sekali. Dari hasil survei Badan Pertanahan Nasional (BPN) menunjukkan sekitar 3,5 juta hektar lahan padi kita itu sudah dalam perencanaan untuk dikonversi. Itu suatu problem.

Itu masalah yang serius. Yang kami sorot adalah seberapa besar pengaruh global warming terhadap bencana itu?

Kalau dampak dari pemanasan global adalah produktivitas tanaman pangan menurun. Dengan suhu udara meningkat tentu akan berakibat peningkatan respirasi sehingga mengambil sebagian besar hasil fotosintesis. Berdasarkan kajian yang kita lakukan dan dari modelling-modelling yang dilakukan berkaitan dengan simulasi dampak pemanasan global, penurunan produktivitas berkisar 10 - 30% per ton per hektar tergantung dari lokasi dan kondisi tanah. Jadi itu cukup signifikan. Selain akibat pemanasan global, produktivitas tanaman menurun itu juga akibat terlalu sering frekuensi kejadian iklim ekstrim. Jadi ada dua hal dampak dari pemanasan global ini yaitu menurunnya produktifitas untuk tanaman-tanaman tertentu, dan juga meningkatnya kemungkinan kegagalan panen akibat semakin seringnya iklim ekstrim.

Jadi iklim ekstrim seperti badai hurricane, banjir, kemarau panjang itu ada hubungannya dengan pemanasan global.

Jelas sekali itu ada hubungannya. Itu ada di laporan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). Ini bukan dramatisasi karena itu bisa kita lihat dampaknya. Misalnya, di Indonesia perubahan iklim itu seringkali berasosiasi dengan fenomena El Nino, yaitu meningkatnya suhu permukaan laut di kawasan pasifik. Akibat pemanasan global, suhu rata-rata permukaan laut juga akan meningkat. Jika semakin meningkat maka intensitas dan dampaknya juga akan semakin besar terhadap keanekaragaman hujan di Indonesia.

Bagi awam, pemanasan global itu adalah sesuatu yang seram tapi tidak jelas. Yang jelas dampaknya kemana-mana. Banyak bukti ilmiah termasuk Rizaldi Boer juga ikut menulisnya bahwa yang paling merasakan dampak pemanasan global itu orang miskin. Nah, di Indonesia banyak orang miskin dan juga lebih banyak daerah rural, dan pertanian. Selain kesepakatan yang kompleks, apakah dari konferensi Bali ada hal-hal yang bisa memberi harapan bagi orang miskin dan pertanian.

Pertama, harapan dari sana walaupun tidak besar yaitu sudah disepakati bahwa negara-negara berkembang dan terbelakang akan mendapat prioritas baik bantuan finansial, alih teknologi, maupun pengembangan sumber daya manusia. Harapannya tidak besar karena jumlah dana adaptasi yang disediakan untuk membantu negara berkembang hanya US$ 60 juta. Padahal kalau dari kajian teman-teman di NGO Oxfam, untuk urgent action saja dibutuhkan dana US$ 1 2 billion.

Apakah dana itu untuk mengatasi bencana saja?

Betul, jadi untuk yang sifatnya urgent action sudah sebesar itu. Karena itu perdebatannya adalah dana adaptasi itu tidak hanya dari Clean Development Mechanism (CDM) saja. Selama ini sumber pendanaan nya dari perdagangan karbon saja, yaitu dari setiap perdagangan itu diambil 2% pajak sebagai dana adaptasi. Nah, jumlah itu jauh dari cukup untuk bisa membantu negara berkembang dan terbelakang agar mereka bisa melakukan adaptasi terhadap kemungkinan perubahan iklim ini. Tapi harapannya adalah sudah ada komitmen di sana. Tinggal sekarang ini bagaimana pelaksanaan komitmen itu.

Saya dengar ada satu perjanjian khusus dalam bidang kehutanan yang disepakati. Apa itu?

Kalau di bidang kehutanan yang sudah disepakati adalah negara-negara mampu menurunkan emisi dengan cara melakukan pencegahan konversi hutan yang tidak terkendali dan juga mencegah emisi dari degadrasi hutan.

Negara yang mampu membantu mengendalikan emisi negara berkembang. Apakah itu artinya Indonesia akan diawasi oleh negara mampu?

Tidak diawasi. Nah ini yang seringkali keliru pemahaman tentang hal ini. Jadi seolah-olah Reduction Emission from Deforestation and Degradation (REDD) berarti mengurangi emisi dari konversi hutan dan degradasi. Jadi seolah-olah kalau kita menghindari emisi dari konversi hutan artinya kita tidak bisa ngapa-ngapain lagi hutan kita. Sebenarnya yang dijadikan dasar adalah bagaimana kita bisa menurunkan emisi dari apa yang sudah terjadi selama ini. Kalau selama ini katakanlah konversi hutan kita tidak terkendali sehingga deforestasi mencapai 2,8 juta hektar per tahun. Deforestasi atau konversi hutan kita tersebut ada yang ilegal dan ada juga yang legal. Apakah sekarang kita bisa menurunkan jumlah yang ilegal itu? Nah kompensasi itu diberikan berdasarkan sejauh mana kita mampu menurunkan emisi dari yang sudah terjadi selama ini. Jadi kalau kita bisa menghilangkan yang ilegal saja maka itu akan mendapatkan kompensasi.

Saya dengar kalau menghilangkan yang ilegal ataupun legal itu juga ada konsekuensi finansialnya, bukan pada orang yang korup tapi pada perekonomiannya. Apakah negara mampu sekarang ini bersedia untuk menyediakan dana penyangga untuk menghindari ekonomi kolaps tersebut?

Nah itu yang menjadi persoalan sekarang ini. Itu tergantung dari mekanismenya. Dalam negosiasi ada dua mekanisme yang ditawarkan, yaitu berdasarkan market base (ekonomi pasar), atau fund base. Jadi bentuknya seperti bantuan dana yang selama ini dilakukan kepada negara-negara berkembang. Perbedaannya, kalau kita market base maka jumlah dananya mungkin akan besar. Tetapi kalau fund base, maka jumlahnya tidak akan besar karena namanya juga bantuan. Kalau kita masuk ke market base, itu akan sangat ditentukan apakah akan ada komitmen kedua. Alhamdulillah, di Bali sudah terjadi kesepakatan bahwa pada tahun 2012 akan ada komitmen kedua bagi negara maju untuk menurunkan emisinya jauh lebih rendah lagi dibanding yang dilakukan sekarang.

Apakah ini hal yang baru? Apakah ini sesuatu yang kalau tidak ada Konferensi Bali maka tidak akan terjadi, sehingga itu manfaat langsung dari konferensi Bali?

Sebenarnya tidak secara langsung. Itu sebenarnya suatu proses yang sudah mulai terjadi di Montreal, Kanada. Ide pertamanya muncul karena kontribusi emisi dari sektor kehutanan ini akibat dari konversi dan degradasi hutan ternyata mencapai 20% dari total emisi dunia. Jadi kalau upaya menurunkan emisi dari sektor ini berhasil kita lakukan, maka itu akan memberi kontribusi besar terhadap upaya meratifikasi dampak dari pemanasan global ini. Karena itu kita mengetahui emisi terbesar paling banyak berasal dari negara-negara tropis terkait hutannya banyak. Kalau seandainya tidak diciptakan mekanisme insentif, kompensasi terhadap negara-negara seperti tadi tentu tidak akan mungkin itu bisa terjadi. Lalu bagaimana opportunity costnya? Itulah yang sulit sekarang ini. Pasar sulit diprediksi, harga juga sulit diprediksi, itu tergantung pada supply and demand. Itu juga seandainya negara maju nanti setelah pasca Kyoto sudah sepakat menurunkan lebih jauh dari yang sudah disepakati di komandemen pertama dimana targetnya mencapai 30% - 40% yang dicapai sampai 2020. Tapi sekarang hal itu belum akan disepakati karena Amerika Serikat, Australia, Kanada, dan Jepang menolak.

Apakah Australia menolak itu dulu atau sekarang?

Masih menolak. Australia belum setuju. Yang mendukung itu adalah Uni Eropa (European Union - EU) saja. EU mendorong sekali supaya angka itu ada di dalam keputusan Bali kemarin. Tapi karena dua kubu ini bertentangan, akhirnya Presiden Conference of Parties (CoP) yaitu Rahmat Witoelar mengatakan, "Oke, kita drop saja angka itu dulu, jangan kita tentukan angka, tapi kita tetap merujuk kepada laporan IPCC". Sebenarnya sudah dijelaskan bahwa kalau ingin aman dari dampak yang berbahaya dari pemanasan global ini, kita harus sudah mampu menurunkan emisi 20% - 40% pada tahun 2020 dari tingkat emisi tahun 1990. Secara tidak langsung, sebenarnya sudah merujuk ke sana. Nah sebenarnya harapan itu sudah dibuat. Dalam CoP selanjutnya di Polandia diharapkan itu dapat disepakati. Apabila belum sepakat juga mungkin di Copenhagen, Denmark. Tapi semua sudah konsensus pada tahun 2009 angka itu sudah harus diadopsi. Kalau ternyata tidak maka gagal.

Saya tadi kaget tadi karena saya tidak mengikuti detail. Jadi Australia tetap tidak mau komit pada angka. Saya pikir sewaktu pemerintahan Australia berganti maka Australia berada di barisan seperti orang Eropa.

Australia sudah ikut meratifikasi Kyoto Protokol. Ratifikasi Kyoto Protokol itu sudah sepakat untuk menurunkan emisi pada 2008 sampai 2012 yaitu 5% di bawah tingkat emisi tahun 1990. Sekarang ini pembicaraannya adalah untuk komitmen yang kedua, setelah Pasca Kyoto. Semua orang belum ada kesepakatan untuk itu. Jadi itu bedanya. Jadi Australia sudah meratifikasi Kyoto Protokol artinya sudah satu biduk dengan negara-negara maju lain, kecuali Amerika Serikat belum untuk periode komitmen pertama 2008 sampai 2012. Australia juga akan mencoba untuk memenuhi target penurunan emisi 5% dibawah 1990 secara rata-rata untuk negara maju. Australia itu 6% dibawah tingkat emisi 1990, Jepang 6% dibawah 1990, Amerika Serikat 8% dibawah 1990.

Apakah itu sukarela atau dipaksa?

Itu adalah kesepakatan di dalam pertemuan para pihak (CoP) tadi. Jadi musyawarah di tingkat global.

Saya baca di koran bahwa negara-negara maju agak kesulitan melaksanakan beberapa bagian dari hasil Bali ini dan ingin melakukan pertemuan lanjutan. Apakah ini bisa dikatakan bahwa hasil Bali ini belum komplit?

Yang dicapai di Bali ini sebenarnya sudah cukup bagus. Itu sudah maksimal yang bisa kita capai. Nanti setiap CoP akan ada pertemuan antar Subsidiary Body for Scientific and Technological Advice (SBTA), tapi sebelum itu adhoc working group seperti expert working group yang juga akan melakukan pertemuan. Di dalam SBTA itu yang akan memberikan advise tentang perkembangan sains dan teknologi yang berkaitan dengan masalah konvensi ini. Nah di situ nanti dibicarakan sampai seberapa kesepakatan-kesepakatan tentang penurunan emisi ini akan dicapai.

Ini pertanyaan awam, apakah Protokol Kyoto masih ada dengan adanya kesepakatan Bali? Apakah akan ada Protokol Bali?

Kita belum mengetahui nama Protokolnya. Hasil Bali itu baru road map, yaitu baru menyusun perencanaan kerja antara lain akan ada CoP ke-14 di Polandia, CoP ke-15 di Denmark. Kita tidak mengetahui dimana protokolnya terwujud

Jadi Kyoto Protokol adalah sesuatu yang besar yang memang belum tergantikan sampai sekarang..

Kyoto Protokol itu berlaku sampai 2012. Setelah 2012 akan ada nama yang lain.

Anda sebagai Ilmuwan dan tentu mengerti politik, apalagi presiden kita sekarang alumni dari universitas Anda, IPB. Kalau dalam Pemilu di Australia banyak membicarakan Global Warming bahkan ada yang mengatakan itu menjadi isu kampanye yang riil. Menurut Anda, apakah kesadaran Global Warming di Indonesia meningkat di kalangan orang non akademis sekarang dibandingkan sejak Anda mulai menekuninya?

Sebenarnya kita sudah mulai isu perubahan iklim ini sejak 1990-an dan terus terang kita sudah lelah meminta agar orang memperhatikan isu ini. Sampai kita akan menjadi tuan rumah pun masih sedikit orang yang memperhatikannya. Setelah kita menjadi tuan rumah, baru semua orang terbangun. Syukurnya. di kalangan pembuat kebijakan ini sudah menjadi perhatian. Jadi dari segi tingkat kesadarannya, kita menjadi tuan rumah sangat bermanfaat. Tapi kalau kita melihat sisi grassroot, masyarakat awam, saya masih belum bisa menilai apakah sudah terjadi pemahaman yang baik mengenai pemanasan global. Kalau kita bertanya ke mereka, masyarakat selalu bercerita mengenai apa yang dialami sekarang seperti kondisi cuaca yang tidak menentu membuat nelayan sering tidak bisa melaut karena badai makin sering terjadi. Jadi kami sangat merasakan bahwa sekarang peluang masyarakat untuk mencari pendapatan atau melakukan kegiatan ekonomi dengan melaut makin jarang. Di pertanian, mereka juga menyebutkan sering dihadapkan kepada False Rain yaitu hujan tipuan.

Kalau orang Sunda mengatakan itu hujan poyan.

Ya, hujan poyan istilahnya. Nah hujan itu semakin sering juga terjadi. Dulu biasanya itu banyak terjadi di kawasan Indonesia Timur. Kalau kawasan Indonesia Timur, hujan itu sangat biasa sekali, sehingga mereka menanam sampai dua kali. Mereka mulai menanam karena sudah turun hujan sehingga dikira sudah masuk musim hujan sehingga mereka menanam. Tapi tidak tahunya hujan hanya 2 3 saja akhirnya gagal tanam sehingga mereka harus menanam lagi. Sekarang hujan ini sudah mulai bergeser ke Indonesia Barat juga. Jadi artinya iklim sudah tidak bisa diprediksi lagi. Hujan itu random sebenarnya, tetapi keragaman ini semakin besar.

Tetapi pada diri Anda secara kajian matematis hujan itu sudah tidak random lagi akibat pengaruh global warming. Sekarang semakin populer isu itu semakin banyak yang memberi counter theory bahwa sebenarnya tidak separah itu?

Banyak yang mengatakan itu adalah hanya proses alami saja. Untuk melihat perubahan iklim, kita selalu bercerita dari data historis yang panjang. kita bisa melihat dari trendnya dengan jelas, yaitu suhu sangat jelas meningkat dari waktu ke waktu. Tetapi untuk hujan itu sangat tergantung dari wilayah. Jadi ada yang trendnya menurun, trendnya tidak berubah, dan ada yang trendnya menaik. Itu hasil kajian yang dilakukan banyak pihak, baik nasional maupun internasional. Salah satunya, ternyata ada perubahan pola hujan khususnya di Indonesia. Pada daerah selatan garis khatulistiwa pada curah hujan pada musim hujan cenderung makin tinggi, sedangkan curah hujan pada musim kemaraunya semakin rendah.

Saya suka berpikir banyak orang yang beritikad baik seperti NGO yang mengatakan untuk mengatasi pemanasan global maka kita harus buang sampah pada tempatnya dan jangan membiarkan sungai tersumbat. Apakah pemanasan global merupakan isu yang bisa diatasi individu atau itu massive industrialization yang mengeluarkan karbon sehingga individu hanya bisa membantu dengan menekan pemerintahnya?

Itu berhubungan secara tidak langsung. Sampah-sampah non organik itu sumber emisi. Seandainya itu dibuang dengan baik dan dikelola di tempat pembuangan akhir (TPA) dengan baik maka akan menjadi energi. Itu upaya-upaya kecil yang bisa kita lakukan, tapi pemerintah tetap harus ditekan juga. Yang kedua, dengan cara kita menjaga lingkungan seperti menjaga kebersihan sungai-sungai. Itu merupakan langkah-langkah adaptasi. Jadi kalau hujan tinggi maka arus air lancar sehingga tidak terjadi banjir.