Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Syafiq Hasyim

Mempertahankan Hubungan Antara Agama dan Kehidupan Sosial

Edisi 611 | 03 Des 2007 | Cetak Artikel Ini

Tamu kita sekarang Syafiq Hasyim, seorang intelektual muda yang menjadi salah satu pengelola lembaga bernama International Centre for Islam and Pluralism (ICIP). Dia juga menjadi konsultan untuk beberapa lembaga besar lainnya.

Syafiq Hasyim berpendapat Ijtihad jangan didominasi dan jangan hanya dimaknai sebagai persoalan fiqih semata, tapi harus dimaknai sebagai persoalan yang global. Persoalan yang menyeluruh yang menyangkut hajat dasar kehidupan manusia sesuai dengan tujuan agama itu sendiri sebagai pemenuhan atas kebutuhan dasar manusia. Ijtihad pada dasarnya adalah mekanisme untuk mempertahankan hubungan antara agama dengan kehidupan sosial. Kalau ijtihad mati maka kehidupan sosial menjadi kering karena agama tidak ada di sana. Karena itu Ijtihad juga harus menyangkut kehidupan sosial seperti penebangan hutan, lumpur Lapindo, pemanasan global, dan sebagainya.

Menurut Syafiq Hasyim, setiap orang boleh dan memiliki hak untuk melakukan Ijtihad. Penilaian terakhirnya adalah bagaimana masyarakat menanggapinya. Kalau mereka setuju maka silakan ikut, kalau tidak maka sudah ditolak saja. Dalam artian, tidak harus memukuli mereka, tidak harus menyiksa mereka, tidak harus menimpuki rumah mereka, dan sebagainya. Tolak saja dengan argumen, buku, atau tulisan. Tidak harus dihukum juga karena kita tidak bisa menghukum pikiran orang. Pikiran orang itu sesuatu yang abstrak

Berikut wawancara Faisol Riza dengan Syafiq Hasyim.

Beberapa waktu lalu banyak ulama dan orang Islam marah karena menilai kelompok bernama Al-Qiyadah sebagai ajaran sesat, menganggu, dan merusak tatanan tauhid umat, bahkan mengajak orang tersesat. Kita pernah mendengar juga kelompok lain seperti Al Quran Suci, Al Hallaj, dan Syech Siti Jenar tetapi semua itu fenomena. Sesuatu sedang terjadi dan bergeser. Apakah Anda merasa ada sesuatu yang bergeser atau sedang terjadi dengan fenomena itu?

Itu sebetulnya tergantung cara pandang kita. Kita melihat kemunculan Al Qiyadah, Al Quran Suci, Ahmadiyah, dan sebagainya merupakan pengulangan saja (repetisi). Kalau kita melihat sejarah Islam selalu ada kelompok seperti itu. Sebetulnya kalau kita melihat secara mendalam tidak selalu agama yang menjadi penyebab mengapa mereka tampil ke permukaan. Mungkin kita bisa mengatakan di sini ada faktor-faktor lain di luar agama, seperti situasi ekonomi, politik, dan sebagainya sehingga menyebabkan mereka menjadi semacam kelompok sempalan.

Jadi agama hanya merupakan pelarian dari masalah-masalah seperti itu.

Saya tidak mengatakan seperti itu. Mungkin ada motivasi agama, tapi ada motivasi lainnya juga. Kalau orang merasa sudah tidak bisa berkompetisi pada ruang publik, tidak mendapatkan kesempatan dan akses pada sumber-sumber ekonomi, sumber daya politik, dan sebagainya, maka dia merevitalisasi yang dimiliki dan dekat dengan dirinya selama hidupnya yaitu agama.

Jadi dia sebenarnya mencari sesuatu dan tidak menemukannya di ruang politik, ruang publik. Lalu dia kembali pada diri sendiri, kembali pada agama yang selalu dikatakan ada pintu yaitu ijtihad. Mereka berijtihad. Apakah di dalam Islam ijtihad itu diberi ruang?

Ijtihad sesuatu yang didorong oleh Islam. Setelah begitu lama umat Islam mendeklarasikan sebagai umat yang tertutup - karena menurut beberapa kalangan ulama pintu ijtihad itu ditutup yaitu pada abad tiga setelah hijriah - sekarang ada semacam dorongan yang kuat di kalangan umat Islam untuk melakukan ijtihad. Kalau kita mengaitkan gerakan sempalan atau non mainstream seperti Al Qiyadah, Ahmadiyah, dan sebagainya mungkin kita bisa mengatakan sebagai cara ijtihad mereka untuk memahami Islam. Islam dengan 'I' besar tetap membuka peluang untuk menampung islam dengan 'i' kecil, berbagai islam. Kelompok ini melihat bahwa Islam yang direpresantasikan dengan model keberagamaan yang menganut imam dalam bidang fikih, atau imam dalam bidang teologi, menurut mereka mungkin perlu penyempurnaan lagi sehingga muncul aliran-aliran sempalan seperti itu.

Mengapa Anda menyebut kelompok tersebut dengan sebutan sempalan, bukan sesat atau kelompok yang tersesat?

Kalau mengatakan kelompok sesat berarti melakukan penilaian terhadap mereka. Dalam negara seperti ini yang demokratis dan menggunakan dasar-dasar katakanlah sekuler, kita tidak bisa mengatakan bahwa sesuatu sebagai aliran sesat dan sesuatu dikatakan sebagai aliran benar, kecuali kalau kita menggunakan mahkamah atau pengadilan agama. Pengadilan agama yang membuktikan sesat atau tidak. Kalau pengadilan memutuskan dia itu sesat mungkin tidak benar juga karena apa mekanisme yang digunakannya untuk menilai sesat atau tidak. Sedangkan kita tidak menggunakan sistem agama, atau mahkamah syariah, atau sistem ahlul halli wal adli. Kalau kita menyebutnya dengan aliran sempalan atau non mainstream maka itu lebih netral.

Kembali soal Ijtihad. Informasi yang saya dapat dari buku atau internet, memang meletakkan akal tidak di atas agama. Akal ditempatkan di satu tempat yang cukup istimewa sehingga memungkinkan terjadi suatu discourse antara akal dan nas. Ini menarik karena nas terbatas, sementara seberapa luas akal tidak ada yang mengetahuinya. Interpretasi terhadap nas Al Quran atau nas keagamaan seringkali dimuati oleh kedalaman berpikir manusia. Kemana kita harus berpegang untuk mengatakan ijtihad?

Perdebatan dari awal memang ada yang disebut pendekatan aqliyah dan pendekatan naqliyah. Namun kalau kita pikir-pikir lagi yang disebut pendekatan naqliyah itu sebetulnya pendekatan aqliyah juga. Naqliyah artinya mendasarkan diri pada sumber-sumber tekstual dan menarik kesimpulan berdasarkan bunyi teks itu atau intertekstualiti (melakukan pemaknaan antar teks). Untuk menarik kesimpulan dari teks itu terintervensi nalar atau akal. Karena itu, menurut saya, yang paling mungkin digunakan adalah akal. Teks itu sebagai bahan, bukan sebagai sumber karena teks tidak bisa berbicara. Kalau kita ingat perkataan Sayidina Ali bahwa yang disebut dengan Al Quran itu apa yang terletak di antara dua sampul (mushaf). Al Quran tidak akan bisa bicara, yang bicara itu manusia. Karena itu kalau kita menginginkan agama sebagai sumber inspirasi dan sumber kehidupan, kita tidak bisa membiarkan agama diam begitu saja. Al Quran tergeletak, tidak bisa mengubah apapun kalau tidak diintervensi oleh manusia. Artinya diintervensi oleh manusia, kalau dia tidak dibaca oleh manusia. Pembacaan ini tidak lain menggunakan nalar. Di situ nalar akan bernegosiasi juga dengan pengertian yang ada di dalam teks. Tidak mungkin nalar bisa berpikir bebas begitu saja karena dia berhadapan dengan realitas teks. Yang paling penting di sini adalah terjadinya proses dialog antara pembaca dengan apa yang dibaca.

Jadi Anda mengatakan pintu berijtihad sebenarnya tidak pernah tertutup.

Tidak, pintu ijtihad tidak pernah tertutup. Ulama yang mengatakan pintu ijtihad tertutup, tetapi pada saat itu memang terjadi krisis besar dalam bidang keintelektualan dan kekuatiran yang besar pula di kalangan ulama kalau terjadi perkembangan-perkembangan keagamaan yang tidak mereka inginkan. Misalnya, kemunculan aliran-aliran non ahlul wa sunnatul jama’ah sehingga ulama membuat batasan, "Oke, kita menjaga ortodoksi sampai batas ini, pada masa kita ini, tiga abad setelah Hijriyah, tidak semua orang boleh mengakses apa yang kita sebut dengan ajaran agama."

Ini masalahnya adalah treatment diantara kelompok-kelompok hegemoni, katakanlah Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah terhadap Islam dengan "I" besar. Bagaimana mekanisme yang semestinya terjadi sehingga tidak ada intervensi negara dalam kasus ini kemudian tidak ada penghakiman sewenang-wenang terhadap yang disebut ajaran sempalan?

Saya berharap organisasi-organisasi Islam di Indonesia, seperti Muhammadiyah dan NU, sudah tidak mempersoalkan lagi persoalan-persoalan yang sebetulnya tidak fundamental. Yang saya maksud dengan persoalan-persoalan tidak fundamental itu persoalan yang tidak mempunyai implikasi luas terhadap kehidupan umat manusia dalam pengertian yang riil, bukan persoalan luas seperti merusak akidah, merusak moralitas orang. Itu susah untuk diukur. Yang saya maksud persoalan yang mempunyai implikasi luas dan riil adalah apakah peran mereka mampu membawa kesejahteraan bagi kaum atau umat mereka. Jadi itu keinginan dan perhatian saya.

Kembali lagi ke persoalan yang Anda sebutkan tadi, apakah ini merupakan hegemoni dari organisasi-organisasi besar di Indonesia? Saya kira iya, ini merupakan bentuk kooptasi organisasi-organisasi besar seperti NU dan Muhammadiyah. Tapi yang lebih bahaya buat saya adalah peran pemerintah itu sendiri yang melakukan penyelundupan terhadap organisasi-organisasi yang mereka anggap memiliki otoritas seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), dimana majelis ini dimanfaatkan atau memanfaatkan untuk kepentingan menjaga ideologi atau integritas kelompok mainstream. Karena itu segala sesuatu yang muncul dan menurut mereka tidak bersesuaian dengan perspektif organisasi mainstream, maka dianggap sebagai keluar dari Islam dan diberi label sebagai aliran sesat.

Untung juga kita berada di negara sekuler. Bayangkan kalau sudah menjadi negara beragama, bagaimana berbahayanya. Yang menarik buat orang awam yang dulu hanya ikut saja kepada NU, seperti sholat begini, puasa begini. Kemudian Muhammadiyah juga begitu. Lalu tiba-tiba terbuka ada banyak Islam. Ada Islam begini, ada Islam begitu. Mereka mungkin tidak mengerti banyak tetapi karena didorong oleh sesuatu yang barangkali struktural menjadi terbangunkan emosi, lalu berpikir sempit sehingga menjadikan itu semua sebagai korban. Bagi orang-orang awam seperti tadi, apa yang seharusnya mereka cermati melihat fenomena seperti ini?

Ini bukan salah orang awam. Ini adalah salah dari elit agama. Walaupun banyak kalangan yang mengatakan Islam bukan agama yang hirarkis atau mengistimewakan satu kelompok tertentu, tapi pada dasarnya dan pada kenyataannya di lapangan Islam itu mengenal sistem hirarki. Dalam artian, keagamaan orang awam itu mengikuti keagamaan pemimpin mereka. Kalau pemimpin mereka memiliki perspektif yang agak liberal, dalam pengertian yang positif dan mempunyai perspektif yang progresif maka keagamaan orang awam ini tertolong. Mereka memiliki sifat keagamaan yang terbuka. Tapi kalau para elit agama ini memiliki perspektif sebaliknya, yang sangat sempit, maka umat mereka menjadi sempit. Sekali lagi yang menjadi korban adalah kelompok yang paling lemah di dalam kelompok besar itu. Ini pandangan saya. Bagaimana cara membangkitkan orang awam itu supaya mengetahuinya? Mungkin mendorong mereka untuk melakukan proses pencerahan diri. Tetapi siapa yang bertanggungjawab untuk melakukan pencerahan itu?

Bagi saya yang sering bertemu dengan pandangan-pandangan lain yang agak terbuka, seringkali menghadirkan kritik terhadap diri sendiri dan lingkungan. Satu kalimat yang sering dan terus menerus ada di dalam hati saya adalah pernyataan Ahmad Wahid di catatan hariannya yang mengatakan, "Siapa yang tahu kedalaman hati orang, keluasan pikiran orang, dan apakah Tuhan takut terhadap akal yang luas itu yang diciptakannya sendiri". Maksudnya, Tuhan takut terhadap ciptaanNya sendiri. Ini menarik sekali dan membangunkan satu keinginan untuk memikirkan lagi kira-kira apakah saya sudah sampai ke batas-batas itu. Sudah lama sekali kita tidak mendengar pencerahan-pencerahan baru sebagaimana kita pernah melihat pada saat Gus Dur muda, atau Nurcholish Majid atau jauh sebelumnya Ahmad Wahid. Apa karena ini terjadi kemandekan atau memang karena begitu banyak masalah muncul sehingga sekumpulan intelektual muda Islam juga tiba-tiba banyak sekali kerjaannya dan tidak "outspoken" akhirnya masyarakat lebih banyak mengikuti yang negatif seperti itu?

Saya lebih setuju dengan yang Anda katakan terakhir. Situasinya sudah berbeda dengan zaman Cak Nur Muda, Gus Dur muda, Syafii Ma’arif muda, dan sebagainya. Situasi sekarang mungkin sangat berubah. Pertama, pada masa itu keadaan sosial, ekonomi, dan politik secara relatif mapan. Karena itu tidak begitu banyak wacana keagamaan yang kompleks. Hal-hal yang muncul pada saat itu adalah hal-hal tentang isu-isu dasar. Misalnya, apakah Islam itu sesuai dengan demokrasi, apakah kita memilih negara sekuler atau negara Islam, kemudian apakah pintu Ijtihad itu bisa dibuka kembali, dan sebagainya. Isu-isu dasar ini muncul karena watak pada saat itu memang tidak banyak tantangan. Kemudian elit intelektual masih sangat terbatas sehingga mereka terkonsentrasi pada tokoh-tokoh yang itu juga. Kalau kita melihat 10 atau 20 tahun terakhir ini elit intelektual muda Islam begitu banyak dan begitu bervariasi. Tidak hanya mengurusi hal-hal yang berkaitan pembaharuan keagamaan saja tapi hal-hal yang bersifat praktek, seperti pengurangan kemiskinan, supaya hutan tidak gundul, atau pekerjaan saya yaitu supaya ada kesetaraan jender. Jadi masalahnya begitu banyak, sumber daya manusianya juga sudah begitu banyak. Adanya situasi semacam ini membuat orang kemudian berpandangan, "mana nih suaranya". Ini karena suara menjadi divers, terbagi dimana-mana, tidak terkonsentrasi pada tokoh-tokoh tertentu. Bahkan sekarang kalau kita bicara tentang Islam, orang seperti Gus Dur, Syafii Ma’arif, sudah terpinggir. Dalam pengertian, isu mereka sudah diambil alih oleh kelompok-kelompok muda lainnya. Mungkin yang perlu kita pikirkan saat ini adalah konsolidasi intelektual, tapi itu tidak harus menyatukan. Yang saya maksud dengan konsolidasi itu adalah bagaimana satu sama lain memiliki jaringan yang intensif. Ini karena masing-masing mempunyai spesialisasi, mempunyai akar rumput (grassroot), mempunyai fokus, dan sebagainya. Bagi saya persoalannya kompleks, sumber daya manusianya sudah banyak sehingga membuat masyarakat menjadi memiliki lebih banyak informasi.

Kalau dikaitkan dengan Ijtihad, apakah dengan demikian salah satu bentuk ijtihad juga saat seseorang memaknai hidupnya atau memberi arti pada keyakinannya?

Saya kira itu menjadi salah satu bentuknya karena ijtihad pada dasarnya adalah mekanisme untuk mempertahankan hubungan antara agama dengan kehidupan sosial. Kalau ijtihad mati maka kehidupan sosial menjadi kering karena agama tidak ada di sana. Kalau ijtihad mati maka agama menjadi mati dan tidak ada dimensi kehidupan yang riil di dalam agama. Itu mungkin pengertian Ijtihad yang sangat luas dan komprehensif.

Jadi masalah penebangan hutan, lumpur Lapindo, pemanasan global (global warming) merupakan isu yang seharusnya terkait erat dengan soal-soal ijtihad.

Ya, sudah pasti. Ijtihad jangan didominasi dan jangan hanya dimaknai sebagai persoalan fiqih semata, tapi harus dimaknai sebagai persoalan yang global. Persoalan yang menyeluruh yang menyangkut hajat dasar kehidupan manusia sesuai dengan tujuan agama itu sendiri sebagai pemenuhan atas kebutuhan dasar manusia.

Jadi ijtihad tidak ada hubungan dengan hirarki keagamaan dan setiap orang boleh melakukannya.

Setiap orang boleh dan memiliki hak untuk melakukan Ijtihad. Penilaian terakhirnya adalah bagaimana masyarakat menanggapinya. Kalau mereka setuju maka silakan ikut, kalau tidak maka sudah ditolak saja. Dalam artian, tidak harus memukuli mereka, tidak harus menyiksa mereka, tidak harus menimpuki rumah mereka, dan sebagainya. Tolak saja dengan argumen, buku, atau tulisan.

Apakah itu tidak harus dihukum?

Tidak harus dihukum juga karena kita tidak bisa menghukum pikiran orang. Pikiran orang itu sesuatu yang abstrak