Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Cahyana Ahmadjayadi

Mengatur Konten Internet

Edisi 610 | 26 Nov 2007 | Cetak Artikel Ini

Kita akan berbicara mengenai topik yang belum pernah dibicarakan di acara ini sebelumnya, padahal ini sangat berguna, penting, dan menentukan masa depan kita. Kita berada di ambang suatu kemerdekaan dari belenggu-belenggu yang mengikat komunikasi kita. Seiring dengan reformasi sosial politik di Indonesia, juga terjadi revolusi teknis di bidang internet, web teknologi. Ini disambut dengan sangat optimis oleh masyarakat swasta misalnya yang ikut Pesta Blogger pada 27 Oktober 2007, dan pemerintah entah kebetulan atau tidak sudah siap dengan perangkat birokrasi untuk mendukung kemajuan komunikasi dan internet. Tamu kita adalah Cahyana Ahmadjayadi, sekarang menjabat sebagai Direktur Jenderal Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informasi (Depkominfo) dan juga menjabat sekretaris tim pelaksana Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional.

Cahyana Ahmadjayadi mengatakan sumber pengetahuan yang tidak terbatas itu adalah internet tetapi kita harus mengetahui bagaimana cara menggunakannya sehingga nilai-nilai yang tidak sesuai dengan budaya kita dapat dieliminasi dampaknya. Karena itu departemen menggelar kampanye Internet Sehat. Cahyana dan departemennya menginginkan kebebasan individu yang sangat dijamin di Indonesia tetap berada dalam sebuah pemahaman yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang kita anut. Jangan sampai kebebasan menjadi tidak terbatas sehingga para orangtua melihat internet sebagai barang yang mengerikan. Internet Sehat akan memandu bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk para orang tua, remaja, blogger, tapi juga oleh anak-anak.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Cahyana Ahmadjayadi.

Pekerjaan Anda menimbulkan harapan dan pertanyaan. Apa sebetulnya misi Anda dalam pekerjaan sebagai Dirjen Aplikasi Telematika?

Saat ini Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) adalah sebuah departemen yang menghendaki agar perkembangan teknologi, informasi, dan komunikasi yang memungkinkan seseorang mengekpresikan kebebasan berbicara dan pro informasi berada dalam suatu tatanan yang betul-betul sama-sama kita bangun. Ini mulai dari masyarakat swasta, madani, dan umum bersama-sama pemerintah berupaya agar kemajuan teknologi, informasi dan komunikasi bisa dilihat dari segi kemaslahatannya, karena di sisi lain kita mengetahui teknologi juga ada sisi negatifnya.

Di sinilah peran pemerintah menciptakan sebuah ekosistem agar kebebasan individu yang dijamin oleh konstitusi kita, yaitu kebebasan ekspresi, dari rasa takut, beragama, dan sebagainya benar-benar berada dalam sebuah koridor dimana masyarakat lebih bertanggungjawab. Jadi ada yang disebut dengan kebebasan individu yang tetap memperhatikan kepentingan umum.

Bagaimana hal itu bisa dilakukan tanpa bertemu dengan hantu-hantu pensensoran dan keterbimbingan? Bagaimana mempertemukan kebebasan dan arah yang konstruktif?

Istilah kebebasan tentu harus tetap kita junjung karena konstitusi mengatakan demikian. Tetapi di sisi lain kita juga harus bicara mengenai kebebasan yang bertanggungjawab. Artinya ada bagian-bagian tertentu yang harus kita batasi. Sebagai contoh ada orang yang memiliki senjata, dia bisa menjadikan senjata itu bermanfaat seperti pisau untuk ibu-ibu di dapur. Tetapi ada orang yang dengan moralitas tertentu menggunakan pisau untuk kepentingan lain seperti mengancam, membunuh, dan sebagainya. Jadi di sinilah peran pemerintah menciptakan harmoni, bagaimana kebebasan itu tidak memberikan arti pembatasan tetapi sebuah kebebasan yang bertanggung jawab, berisi moral etika.

Saya bertemu Anda terakhir pada acara Pesta Blogger Indonesia 2007, dimana dijunjung suatu kemeriahan merayakan kebebasan ekspresi orang di Indonesia seperti orang di dunia melalui blog. Apa komentar Anda mengenai pertemuan kebebasan dan tanggungjawab? Bagaimana dunia blog Indonesia sekarang?

Dunia blog mencerminkan kebebasan berekspresi dan itu sangat dihargai. Di dalam pertemuan tersebut saya merasakan yang berkumpul adalah representasi komunitas, kelompok, daerah-daerah. Jadi sebetulnya pertemuan blogger pada 27 Oktober 2007, yang dideklarasikan sebagai hari blogger nasional, adalah bentuk miniatur Indonesia. Mereka adalah agen-agen perubahan, mereka adalah miniatur Indonesia yang akan merekatkan kita sebagai suatu bangsa. Jadi kehadiran blogger betul-betul akan mewarnai Indonesia hari ini dan esok. Di sini saya ingin memberikan penjelasan bahwa blogger selalu memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Kalau di dalamnya ternyata kebebasan-kebebasan individu bagi orang-orang tertentu disalahgunakan, maka sudah saatnya juga teknologi mampu mengatasi kebebasan-kebebasan yang "tidak bertanggungjawab". Kami di Depkominfo saat ini sedang mengembangkan suatu aplikasi atau piranti lunak yang mampu membawa para pengguna internet, baik itu anak-anak, dewasa, dan juga para orang tua, yang sangat khawatir dengan perkembangan dunia internet. Ini untuk menjadikan sebuah pemanfaatan teknologi yang betul-betul bisa membimbing para pengguna internet dalam sebuah koridor yang memang berguna dan bermanfaat bagi mereka.

Keprihatinan terhadap kemungkinan negatif internet yang terutama dirasakan para orang tua, pasti menjadi concern seluruh dunia. Apakah yang dilakukan Indonesia sebetulnya usaha khusus negara ini atau bagian dari suatu usaha dunia untuk membatasi kebebasan atau mengarahkan kebebasan yang ada di blog?

Kalau bicara mengenai teknologi internet tentu kita bicara mengenai sebuah jaringan global, yang tidak terlepas dari bagaimana negara-negara lain memanfaatkan teknologi ini. Jadi yang dilakukan Indonesia, sebetulnya juga dilakukan negara-negara lain terutama pemerintahnya. Ini agar teknologi tidak hanya sekadar menjanjikan sebuah kebebasan yang tiada terbatas, tapi ada juga manfaat luar biasa karena terjadi sebuah kolaborasi dengan global network. Ini menjadikan seseorang sebagai bagian dari warga dunia bukan hanya sebagai warga bangsa tertentu. Jadi aspek lintas batas inilah yang menjadi salah satu asas bagaimana hukum-hukum teknologi informasi yang disebut lex specialis di bidang informatika saat ini dikembangkan di Indonesia.

Tolong berikan sedikit gambaran, bagaimana jenis teknologi untuk melakukan hal tersebut? Sebagai awam, saya tidak terbayang karena kalau televisi atau radio mudah untuk dibatasi, tapi bagaimana orang secara teknis memformat koridor-koridor dalam jaringan web (internet)?

Kalau secara teknis sebetulnya sangat mudah. Artinya, seluruh internet service provider semestinya menggunakan satu gateway yang sama untuk ke luar dan ke dalam. Dengan demikian kita dapat melakukan teknologi filtering (penyaringan). Misalnya di Cina, mereka menggunakan filtering dimana kata-kata tertentu yang terkait demokrasi di-bann.

Itu sah-sah saja sebab hasil karya sebuah teknologi dibatasi oleh teknologi itu sendiri. Jadi fair saja. Kalau kita berbicara mengenai intelijen maka ada kontra intelijen. Ada aksi, ada reaksi. Ini adalah hukum alam dimana Tuhan menciptakan keseimbangan.

Sekarang Anda sebagai pejabat pemerintah harus menjaga kepentingan umum. Bagaimana mendefinisikan kepentingan umum dalam blog? Saya tidak dapat membayangkannya.

Ini yang menarik. Tadi saya menceritakan asas lex specialis di bidang informatika yang akan menjadi basis dari peraturan perundangan. Misalnya, ada larangan membunuh, ini juga sama. Ada larangan untuk menyebarluaskan informasi yang tidak senonoh atau larangan memfitnah seseorang melalui fasilitas internet sehingga nama seseorang menjadi tercemar di seluruh dunia. Teknologi dapat mengatasi masalah ini. Asas lex specialis di bidang informatika yang tadi saya sebut selain extraterritorial jurisdiction yaitu melampaui batas-batas negara, ada juga asas yang disebut pembatasan bagi institusi tertentu untuk menyebarluaskan data-data pribadi seseorang.

Sebagai contoh, saya mempunyai penyakit tertentu dan diperiksa di rumah sakit. Penyakit ini barangkali hanya harus diketahui oleh saya sendiri. Tetapi institusi tersebut ternyata memiliki data center yang sangat gampang di-hack oleh seseorang sehingga penyakit saya tersebar ke seluruh dunia. Ini kan memalukan. Dalam aturan perundangan yang disusun harus memuat sebuah larangan bagi institusi publik tertentu untuk menyebarluaskan informasi data pribadi seseorang (personal data protection) misalnya data perbankan seseorang. Rekening seseorang di bank tidak dapat dibuka sembarangan pada masyarakat.

Semua aturan main tersebut sedang disusun dalam sebuah rancangan undang-undang informasi dan transaksi elektronik. Di dalamnya juga memuat pesan untuk ada peraturan pelaksana dalam bentuk penyusunan berbagai macam aturan pemerintah termasuk kode etik content internet/content multimedia. Rancangan ini akan mengatur sebuah masyarakat, karena itu Depkominfo dalam menyusun aturan main dan juga kode etiknya tidak lagi sendirian. Kami bertemu dengan komunitas, lalu kami menampilkannya di website www.depkominfo.co.id, ada running text, flashing, yang isinya rancangan peraturan menteri tentang content multimedia, informasi elektronik. Selama enam bulan website ini dibuka, kami menerima banyak masukan termasuk dari luar negeri yaitu teman-teman kita dari 118 perwakilan Indonesia di luar negeri. Mereka memberikan masukan aturan main di negara lain.

Sampai mana tahap rancangan undang-undang (RUU) tersebut sekarang?

Sudah dibahas bersama Panitia Khusus (Pansus) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Republik Indonesia (RI) karena RUU ini adalah kerja bareng eksekutif dan parlemen. Saat ini sudah masuk tahapan panitia kerja. Ada 287 butir daftar inventarisasi masalah yang tersebar di lebih dari 155 pasal. Sekarang ini 75% sudah selesai. Diharapkan pada sidang berikutnya sudah bisa diundangkan, jadi sudah sangat dekat.

Bagaimana sosialisasinya ke publik?

Kami sudah melakukan sosialisasi kurang lebih ke 25 kota. Pada setiap tahapan yang sedang diproses selalu diadakan sosialisasi. Kami mengundang akademisi supaya ada feedback. Kami juga mengundang para penegak hukum, seperti di Padang, Sumatera Barat, kami mendapatkan masukan dari seorang hakim. Misalnya, ada perbuatan yang dilarang tentang menyebarluaskan informasi yang bersifat pornografi. Dari kejaksaan dan kepolisian juga mengusulkan agar secara spesifik lebih tegas pada kejahatan terhadap anak-anak, yang disebut dengan pedofilia. Sewaktu kami di Bali, ada yang protes sanksi yang cuma empat bulan, padahal dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) lebih berat lagi. Karena itu diusulkan ada kesetaraan sanksi agar ada efek jera sehingga orang tidak melakukan kejahatan seperti itu lagi. Masukan ini justru didapat saat naskah-naskah RUU Informasi dan Transaksi Elektronik sedang dibahas dengan DPR RI.

Para pembaca bisa melihat sosialisasi ini di berbagai media karena ini kesempatan kita untuk memberikan masukan. Saya mendengar ada kampanye "Internet Sehat" yang akan dilancarkan. Apa itu "Internet Sehat"?

Kami ingin kebebasan individu yang sangat dijamin di Indonesia tetap berada dalam sebuah pemahaman yang sesuai dengan nilai-nilai budaya yang kita anut. Jangan sampai kebebasan menjadi tidak terbatas sehingga para orangtua melihat internet sebagai barang yang mengerikan. Internet Sehat akan memandu bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan tidak hanya untuk para orang tua, remaja, blogger, tapi juga oleh anak-anak. Contoh, seorang murid kelas empat sekolah dasar (SD) saat menyusun makalah dapat memperoleh referensi bukan hanya dari dalam negeri saja. Ia bisa melihat ke situs informasi wikipedia, dan lain-lain. Kalau kita membicarakan lingkungan hidup, misalnya, pernyataan-pernyataan dari tokoh GreenPeace dapat menjadi bagian dari makalah anak-anak SD. Inilah peran kita mencerdaskan masyarakat. Dunia sekarang ini sudah tanpa batas. Persaingan tidak lagi antar negara, persaingan ditentukan oleh kemampuan individu dan kecerdasan masyarakatnya. Peran negara, masyarakat, komunitas adalah mencerdaskan bangsanya. Sumber pengetahuan yang tidak terbatas itu adalah internet tetapi kita harus mengetahui bagaimana cara menggunakannya sehingga nilai-nilai yang tidak sesuai dengan budaya kita dapat dieliminasi dampaknya. Inilah pesan kunci dari kampanye Internet Sehat yang akan dilancarkan oleh pemerintah.

Apakah kampanye ini dalam bentuk penyadaran, seruan-seruan, atau ada bentuk aplikasi softwarenya, atau ada hal-hal yang secara teknis menyertainya?

Sesuai tugas kami di Depkominfo, bukan sekadar jargon-jargon atau tagline yang dimunculkan oleh tokoh-tokoh atau kaum selebritis yang bisa menjadi panutan. Namun ada juga solusi teknologi berupa software yang memungkinkan seseorang apabila mengakses website-website tertentu dapat diarahkan kepada website-website yang memiliki kesetaraan dari segi informasi, tapi dijamin tidak ada unsur-unsur yang negatif di situ.

Selain kampanye, sosialisasi, dan ada software development, apakah akan ada di website, atau dijual secara langsung, atau lainnya?

Tugas kami mencerdaskan masyarakat, kami tidak hanya berkampanye Internet Sehat. Kami memiliki repository server yang memungkinkan orang untuk men-download open source software. Kami sekarang sudah bisa melakukan mirroring dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang menyediakan content-content untuk open source software. Dengan teknologi mirroring, orang tidak lagi harus menggunakan bandwith internasional untuk akses sebab sekarang servernya ada di Indonesia. Karena itu kita sebagai pemerintah dan juga swasta harus bisa memperkaya content dalam negeri. Content lokal adalah kunci kita untuk bisa berkontribusi kepada dunia bahwa kita memiliki budaya pengetahuan, dan bukan hanya menjadi negara yang hanya bisa mengunduh data (download nation), kita dapat menjadi negara yang memberikan data (upload nation), kita memberikan kontribusi pada dunia.

Dua minggu yang lalu saya dapat masukan dari peserta industri kreatif di Inggris. Dia menjadi juara dunia untuk animasi. Animasi film Lion King dan Superman Return yang terbaru itu adalah buatan orang Indonesia. Saya juga kedatangan tamu dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Malaysia. Ternyata, tidak ada satupun perusahaan informasi teknologi (IT) di Malaysia yang tidak ada orang Indonesianya. Senang sekali orang-orang Indonesia pintar-pintar dan kreatif. Orang Indonesia bukan cuma Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tapi juga orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk mengembangkan software, mobile application di bidang telekomunikasi. Kami luar biasa terbantu oleh orang-orang pandai dari Indonesia. Kebanggaan seperti ini tentu harus kami kumpulkan dalam bentuk sebuah content lokal. Karena itu di dalam repository server yang kami siapkan, tidak hanya berisi content dari sumber pengetahuan, tapi juga content tentang Al Quran, wayang, prestasi olah raga kita. Jadi showcase, betul-betul Indonesian showcase.

Lama-lama tidak perlu membuat misi ke luar negeri, orang tinggal diarahkan ke website.

Beberapa hari yang lalu kami baru saja selesai rapat dengan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) yaitu bersama Prof. Lili Gani yang menjabat Kepala Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Kapusetkom). Kami sudah sepakat akan menjadikan materi ajar atau kurikulum di Depdiknas sebagai e-book, sehingga orang dengan mengakses repository server dapat men-download materi SD, sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan mahasiswa karena sekarang ini harga buku mahal. Ini akan menjadi e-book. Ini terobosan luar biasa setelah kami berjuang selama dua tahun.

Terakhir, apakah Depkominfo merupakan Departemen Penerangan dalam wajah baru?

Sekarang rezim pemerintahan kita yang baru lebih demokratis. Jadi lupakan departemen masa lalu. Ini Departemen Komunikasi dan Informasi, department of communication and information technology, we are dealing with technology terutama teknologi informasi. Jadi jangan takut, apalagi menteri kita menyatakan tidak akan ada lagi pembredelan.