Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Budiarto Shambazy

PSSI Perlu Pergantian Rezim

Edisi 609 | 19 Nov 2007 | Cetak Artikel Ini

Satu kehormatan bagi saya, Wimar Witoelar, kembali mengantarkan seorang tamu dengan topik yang sangat aktual saat ini, yaitu Budiarto Shambazy. Dia adalah wartawan dan redaktur senior surat kabar Kompas yang mempunyai keahlian luas. Dia mampu memberikan dan memberdayakan kita dengan informasi. Dulu saya mengenal dia sebagai wartawan olah raga khususnya sepak bola dan sekarang sebagai wartawan politik.

Budiarto Shambazy mengingatkan bahwa Persatuan Sepak Bola Indonesia (PSSI) itu alat perjuangan karena berdiri pada April 1930, jauh sebelum Indonesia merdeka. PSSI sebagai alat perjuangan merupakan alat untuk membangkitkan kebanggaan nasional. Jadi PSSI penting dari nilai historisnya, dan peranannya. Karena itu organisasi tersebut tidak boleh dipimpin oleh koruptor yang masuk penjara.

Menurut Budiarto, kepengurusan PSSI sekarang yang paling bobrok dan saat ini masa yang tidak bisa dibanggakan karena prestasi sepak bola Indonesia menurun. Karena itu dia menilai perlu ada rezim change dalam kepengurusan PSSI, mengganti seluruh pengurus yang ada sekarang. Tidak ada solusi lain. Kalau tidak, maka sepak bola kita akan terpuruk terus.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Budiarto Shambazy.

Saya fans bola, dan saya menilai Anda merupakan satu diantara penulis sepak bola yang paling komprehensif dalam meliput. Berapa kali Anda sudah meliput live Piala Dunia?

Lima kali. Pada tahun 1986 di Meksiko, tahun 1990 di Italia, tahun 1994 di Amerika Serikat (AS), tahun 2002 di Jepang - Korea, dan tahun 2006 di Jerman.

Mudah-mudahan pada tahun 2010 di Afrika Selatan, saya boleh ikut. Saya pernah melihat live satu pertandingan Piala Dunia di Boston, AS, antara Spanyol melawan Italia. Tapi melihat pertandingan di AS kurang asyik karena penontonnya seperti melihat hiburan ringan, tidak ada fanatisme, suasananya kurang, suporter Spanyol Italia duduk bersebelahan, tidak ada omelan. Sedangkan sepak bola di negara sepak bola, seperti Brasil, Eropa, dan Indonesia lebih emosional. Malah Indonesia sangat emosional. Kalau di Brasil dan Eropa emosinya membawa pada energi pengembangan, tapi di Indonesia kadang-kadang ngawur juga. Mengapa dan apakah ini ada hubungannya dengan kepengurusan Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) yang akhir-akhir ini kelihatannya sangat tidak beres karena ada orang yang sudah terpidana korupsi menjadi ketua, tapi tetap tidak mau turun walau dikritik dari kiri kanan bahkan dari luar negeri juga malah dia mempunyai pembelaan?

Berdasarkan pengalaman saya meliput sepak bola khususnya PSSI sejak 1982 walau kini tidak seintensif dulu dan hanya mengikuti dari jauh, masa sekarang yang paling bobrok. Dulu Ketua Umum PSSI Darsono (almarhum) masih ok, Azwar Anas juga mempunyai prestasi. Sebelumnya Sjarnoebi Said (almarhum) juga berprestasi. Sedangkan yang sekarang ini paling bobrok, karena satu hal yaitu dipenjara, itu sudah jelas. Selain itu, saat ini ada tuntutan supaya PSSI ini one and for all, dipimpin oleh ketua umum yang memperkenalkan sebuah (katakanlah) revolusi yang sangat drastis. Dalam arti mengganti seluruh kepengurusan yang sekarang. Tidak ada solusi lain.

Apakah itu seperti rezim change?

Ya, rezim change, tidak ada solusi lain, harus begitu. Kalau tidak, kita akan terpuruk terus.

Kalau semua pengurus PSSI diganti, apakah nanti tidak kehilangan skill teknis organisasi yang sudah tertanam di sana?

Tidak juga. Menurut saya, mereka bertahan sekarang karena satu hal yaitu uang. Kalau kemarin-kemarin masih ada rasa nasionalisme, ada rasa keras kepala, dan lain-lain, tapi sekarang bertahan hanya karena satu yaitu uang karena PSSI itu generate money.

Bagi orang awam, dari mana sebenarnya sepak bola di Indonesia generate money, bukankah uang tiket tidak banyak dan sponsor juga tidak seberapa?

Oh besar, itu dari sponsor, televisi (TV), lalu juga iklan.

Apakah memang besar jika dibandingkan dengan Jepang, Korea, atau Eropa?

Gambarannya adalah kalau Persib bertanding di Jawa Barat, maka TVRI lokal - Jawa Barat berani mengambil siaran langsung karena uang Rp 2 miliar saja datang, semua pasang iklan di TV tersebut. Ini baru dari pertandingan.

Jadi siaran sepak bola termasuk show yang bisa bersaing dengan sinetron, dang dut, dan lain-lain?

Sangat dan generate money. Ini juga karena satu hal lagi yang saat ini masih baru bagi kita yaitu dari agen pemain asing. Itu dalam bentuk dolar. Jadi memang besar. Nah, bagimana bisa mesin uang ini menjadi rugi terus dan tidak berprestasi.

Persepakbolaan Indonesia menghasilkan banyak uang, tapi uangnya itu tidak kelihatan. Apa maksudnya?

Dikorupsi, dan yang lebih penting lagi banyak disalahgunakan. Misalnya, ada ketua umum baru A,B,C,D maka harus membuang uang untuk musyawarah nasional luar biasa (Munaslub) membayar para pemilih yang terdiri dari ratusan klub, pengurus daerah (Pengda), dan pengurus cabang (Pengcab) yang sebagian besar diantaranya tidak pernah memutar kompetisi. Jadi dia masuk sebagai pedagang seolah-olah menanam modal dulu, nanti setelah menjadi ketua umum atau pengurus maka dia mengambil uangnya supaya tidak rugi. Kira-kira sama kayak politik.

Ya, dalam politik hanya ada dua cara. Pertama, cara yang lama, cara Soeharto, yaitu money politics. Kalau orang mempunyai uang maka dia menghabiskan uangnya di situ. Kalau orang tidak mempunyai uang maka dia akal-akalan menawarkan kesempatan investasi. Jadi orang kasih uang ke situ, nanti korupsinya dibagi-bagikan. Tapi sekarang ada kekuatan baru dalam politik yaitu citizen politics atau politik media, opini umum. Bukankah ini juga bisa ikut berbicara dalam memilih seorang ketua?

Ini kesempatan bagi pers, khususnya Kompas, untuk mengelu-elukan calon ketua baru karena kita melihat banyak potensi yang bisa memimpin menggantikan Nurdin Halid. Namun kepentingan kami di Kompas dan pers pada umumnya sekarang memang ingin melihat ketua atau calon ketua umum yang mau melakukan Rezim change tadi.

Itu menarik karena saya juga sedikit banyak memiliki pengalaman dalam organisasi olah raga. Kalau dulu polanya jelas dan yang umum adalah hampir semua ketua asosiasi olah raga harus pejabat, menteri, jendral, dan sebagainya. Sekarang tampaknya bisa ada calon dari dunia yang lain. Apakah itu suatu ide yang romantis atau apakah memungkinkan ketua asosiasi olah raga itu bukan pejabat, tidak terkait partai politik, bukan pejabat militer?

Sekarang sudah mulai berubah. Ketua Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) sekarang perempuan dan sipil. Kalau dulu harus jenderal, atau purnawirawan, atau pejabat. Sekarang sudah banyak yang berubah. Saya kira ini kesempatan. Artinya, kita kembali ke PSSI, calon ketua umum itu harus mau rezim change dan langsung merampingkan organisasi. Sekarang total jumlah pengurus PSSI ada 134 orang. Pengurus sepak bola Inggris (The Football Association FA) memiliki executive board tidak sampai 10 orang, federasi sepak bola Malaysia (FAM) juga tidak sampai 10 orang.

Jadi jumlah pengurus sepak bola di negara-negara Asia pun masih dengan orang sedikit. Apakah itu masih bisa dilawan? Saya khawatir kalau ada orang yang memang revolusioner, progresif maka semua pada mogok semua karena orang biasa dibagi-bagikan uang.

Ya, kita harus lawan. Banyak cara melawannya, antara lain, kalau saya sebagai wartawan maka melalui opini. Masyarakat juga mendukung. Kita melihat demonstrasi meminta Ketua Umum PSSI sekarang Nurdin Halid mundur sudah dimana-mana, seperti di Solo, Semarang, dan Jakarta. Mereka fans - penggemar, bukan pengurus sepak bola. Jadi penggemar sudah marah karena mereka mencintai sepak bola Indonesia.

Setiap reformasi ada resistensinya. Kemarin ada yang berbicara sama saya, "Pak, kita kok mau sih disuruh-suruh FIFA untuk mengganti ketua umum PSSI." Apakah itu bukan intervensi asing, mengapa kita harus memperhatikan surat Ketua FIFA Sepp Blatter? Lalu bagaimana ide nasionalistik dibalik ucapan-ucapan tadi?

Kalau menurut statuta FIFA, FIFA itu organisasi sepak bola dunia yang anggotanya lebih banyak dari anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Jadi ada anggota FIFA yang bukan anggota PBB.

Ya, jadi sangat dihormati. Kekuasaan, legalitas, dan keabsahan mereka luar biasa besar. Mereka kalau mengambil keputusan tidak main-main. Kemarin Federasi Sepak Bola Kuwait dihukum.

Mengapa Kuwait dihukum?

Kurang lebih mirip seperti yang terjadi di Indonesia cuma pengurusnya tidak sampai masuk penjara, hanya ada kongkalikong sedikit. Namun Kuwait dihukum tidak boleh mengikuti kompetisi sepak bola Internasional. Akhirnya masyarakat penggemar sepak bola di Kuwait marah-marah kepada pemerintahnya, marah-marah kepada federasinya. Nah, bahaya ini bisa terjadi di Indonesia kalau Nurdin Halid cs masih tetap bertahan.

Belum lama ini ada pertemuan Federasi Sepak Bola Asia (Asian Football Confederation - AFC) di Kuala Lumpur. Apa hubungannya AFC dengan FIFA?

AFC itu untuk pengurus regional saja, sejalan dengan FIFA. Mereka tidak akan berani melawan FIFA.

Jadi kalau FIFA berbicara jangan dianggap suara orang asing, itu suara sepak bola saja.

Iya, Sepp Blatter itu lebih berkuasa daripada Ban Ki-moon (Sekretaris Jenderal PBB).

Ya, dan itu pasti. Apakah Sepp Blatter menjalankan FIFA secara detail dan dia mengetahui yang terjadi di Indonesia?


Dia mengetahui persis apa yang terjadi di Indonesia, dan dia ingin supaya cepat-cepat berubah sebelum terlambat. Itu informasi yang kami dapat karena ancaman dia bukan pepesan kosong, bukan macan kertas. Kalau kita tidak cepat-cepat berubah maka kita bisa habis.

Anda wartawan senior, saya juga dulu ingat Indonesia pada zaman Soekarno marah-marah kepada PBB dan akhirnya keluar dari PBB dan Bank Dunia. Apa untung-ruginya kalau sekarang Indonesia keluar dari FIFA?

Tidak boleh keluar. Ini karena, pertama kalau kita membuka pedoman dasar, PSSI itu alat perjuangan karena berdiri pada April 1930. Bung Karno memaklumatkan PSSI sebagai alat perjuangan karena sudah ada bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Oh iya, pada masa itu Indonesia masuk Piala Dunia.

Ya, jadi jangan main-main dengan alat perjuangan ini. Kedua, PSSI sebagai alat perjuangan merupakan alat untuk membangkitkan kebanggaan nasional. Tidak ada induk organisasi lain di Indonesia yang mendapat status alat perjuangan. Jadi ini tidak boleh dipakai hanya sebagai induk organisasi belaka. Organisasi ini penting dari nilai historisnya, peranannya. Nah ini kok koruptor yang masuk penjara memimpin alat perjuangan ini. Karena itu pemerintah seharusnya ikut campur tangan. Jadi tidak bisa seperti pernyataan-pernyataan menteri pemuda dan olah raga yang mengambang melulu. Sementara Ketua Umum KONI Rita Subowo lebih jelas, "Kita harus mengikuti FIFA dong." Saya kira pemerintah selalu begitu, kita bingung sendiri. Misalnya, harga minyak sudah mendekati US$ 100 per barel, kita tidak mengetahui strategi pemerintah untuk menghadapinya. Pemerintah itu diam tenang atau diam bingung sih.

Kalau sepak bola itu jelas, saya sangat setuju. Sebetulnya lepas dari apapun, sesuatu yang korupsi itu harus dibasmi. Misalnya, busway mungkin bagus, mungkin jelek, tapi korupsinya tidak bagus. Jadi sepak bola ini korup. Namun terlepas dari korupsinya, misalnya dalam Tiger Cup, ada prestasi nya. Tim nasional sekarang mungkin lebih baik dalam 5 10 tahun terakhir. Apakah Itu bukan prestasi pengurus PSSI?

Itu bukan prestasi. Kalau diukur dengan gelar, kita malah menurun karena kita pernah yang terbaik. Menurut saya pribadi, prestasi yang terakhir itu menjadi semi finalis Asian Games tahun 1986 di Seoul, Korea Selatan. Saat itu kita masuk empat besar, semi finalis, bersama Korea Selatan, Arab Saudi, Kuwait. Itu zaman Ricky Yacob.

Oh jadi sekarang ini bukan masa yang bisa dibanggakan.


Berarti sudah 20 tahun tidak ada prestasi semi finalis Asian Games. Seharusnya sehabis semi finalis Asian Games tahun 1986, kalau melihat target wajar, maka 10 tahun kemudian masuk final, paling tidak juara.

Berbicara dengan Budiarto Shambazy bagaikan menonton sepak bola. Saya fans klub Arsenal. Sekarang ini saya banyak tahu tentang Arsenal, AC Milan sampai Shakhtar Donetsk dan Fenerbahce termasuk para pemainnya. Sedangkan pemain Indonesia sangat sedikit yang saya ketahui. Itu bukan karena kita sentimen kepada pengurusnya akan tetapi karena memang mutunya kurang bagus. Dari segi mutu, sejauh mana kepengurusan yang baik bisa meningkatkan prestasi?

Kalau pengurusnya baik sangat berpengaruh terhadap mutu pemain. Pada zaman Bang Ali Sadikin menjadi ketua umum PSSI, Iswadi Idris bermain di Sydney Suburb, Australia. Junaedi Abdillah test di klub Head Eagle, Liga Belanda. Abdul Kadir dan Risdianto bermain di Liga Hong Kong. Semua liga profesional.

Bukankah pemainnya yang sangat berbakat?

Ya, sangat berbakat tapi pengurusnya juga bagus. Bang Ali sangat lepas dan mempersilakan kalau mau bermain di luar negeri. Setelah generasi Iswadi masih ada beberapa yang bisa bermain di liga Malaysia, Hong Kong, dan Jepang. Sekarang tidak ada lagi, malah sekarang kita banyak menerima pemain dari Afrika.

Zaman dulu sekali Sucipto Suntoro, Yacob Sihasale, masuk All Star Asia. Apakah sekarang ada?

Terakhir sekali yang masuk tim All Star Asia adalah Ronny Pattinasarany, itupun sudah lama juga.

Apakah belum terlambat jika terjadi regime change dalam PSSI ?

Belum terlambat, karena bakat-bakat pesepak bola di bawah sebetulnya banyak tapi mereka kurang penyaluran. Lapangan sepak bola makin berkurang, klub profesional tidak terkelola dengan baik, orang tua juga sudah malas sehingga mereka akhirnya pindah ke basket. Sebenarnya sayang sekali. Sementara sekarang, sekadar informasi saja, Real Madrid sudah menyewa tanah dua hektar di Bali untuk membuka sekolah bola di Asia Pasifik.

Saya mendengar Arsenal juga.

Ya, Arsenal di Jawa Barat. Jadi banyak kesempatan bagi anak-anak kita untuk ikut sekolah-sekolah yang lebih profesional. Kalau PSSI tidak membuat sendiri sayang juga.

Sekarang ada resistensi, pasti ada juga yang mempertahankan Nurdin Halid untuk tidak diganti. Kalau dia diganti apa yang akan terjadi dengan kelompok yang mendukung Nurdin Halid itu?

Harus segera dibersihkan karena saya yakin mereka itu 95% tidak mempunyai klub, tidak mempunyai pekerjaan lain selain di PSSI dan akhirnya menjadi benalu.

Kalau tidak mempunyai klub, apa dasar keanggotaan mereka?

Itu makin ironisnya, mereka bukan pelaku.

Berarti harus ada pendaftaran kembali. Siapa saja anggotanya nanti?

Harus. Klub kita yang profesional di divisi satu ada 60. Mereka seharusnya memiliki masing-masing satu suara dan mereka orang yang berkepentingan, berkompeten untuk mengelola PSSI, dan duduk dalam kepengurusan. Jadi bukan seperti sekarang yang tidak mempunyai klub dan tidak mempunyai kegiatan di kompetisi tapi tahu-tahu nongkrong di kepengurusan dan mengatur-atur. Bagaimana bisa kalian mengatur-atur PSSI sementara kalian tidak mempunyai kepentingan di situ, bukan pemangku kepentingan, bukan chair holder. Nah ini yang harus dikoreksi oleh ketua umum baru. Saya kira itu mudah, konsepnya ada, rekrutmentnya bisa. Saya optimistis bisa, kalau ada calon yang tertarik.

Calon yang memang tertarik membuat sejarah bukan mencari uang. Jadi harus sudah mempunyai uang dari kegiatan halal di tempat lain dan di PSSI hanya untuk berkarya dan mendapatkan nama.

Setuju sekali.

Apakah prosesnya harus melalui Munaslub?

Ya, harus 2/3 dari sekian ratus orang. Kayaknya akan lolos karena Nurdin Halid cs sudah mulai mundur.

Apakah ada orang yang bisa menggantikan orang-orang itu di Indonesia, yaitu orang yang dianggap mempunyai kepemimpin dan dedikasi?

Sejauh ini ada tiga calon yang beredar seperti dilaporkan Kompas. Pertama, Arifin Panigoro. Kedua, Nirwan Bakrie yang merupakan bagian dari pengurus lama. Ketiga, Sutiyoso, mantan gubernur DKI Jakarta. Tiga orang ini disebut-sebut orang yang tertarik.

Pilih yang paling tidak korup saja.

Setuju.

Ada satu pertanyaan yang sangat penting tentang sistem kompetisi. Dulu Persija, Persib, PSM mempunyai kompetisi kota karena dulu orang susah kemana-mana. Kemudian setahun sekali ada kejuaraan PSSI, dimana yang memborong juara adalah PSM. Setelah itu ada klub-klub profesional seperti Pardedetex, Putra Priangan, Tunas Inti dan ada banyak lagi. Lalu ada kedua-duanya. Bagaimana pola kompetisi di Indonesia untuk kedepannya?

Diputihkan karena Persija sebagai anggota perserikatan diminta menjadi klub saja. Yang tidak mau boleh silakan terus tapi kompetisinya amatir.

Apakah itu artinya menjadi klub seperti di Eropa?

Persis seperti di Eropa, semua menjadi klub. Jadi Pengda, Pengcab tidak ada lagi karena mereka hanya membawahi klub-klub. Mereka bukan pemutar kompetisi yang sesungguhnya. Tidak ada artinya. Mereka hanya pejabat di pemerintah provinsi atau kecamatan yang hanya mempunyai anggaran, kekuasaan lalu mengatur kompetisi yang tidak pernah jalan. Ini yang mesti dikoreksi.

Apakah ini berarti kita harus memeluk konsep pragmatis sepak bola dengan aspek komersil?

Seperti yang diterapkan secara universal.

Berarti setiap klub harus mempunyai resources untuk bertanding ke luar kota dan sebagainya.

Selama ini terbukti dari kompetisi liga sepak bola utama (Galatama) yang lahir pada tahun 1978. Jadi bisa.

Jadi uang yang ada dalam masyarakat Indonesia itu cukup banyak bahkan untuk membeli pemain luar negeri.

Ya.

Bagaimana penilaian Anda terhadap pemain luar negeri di Indonesia karena di Eropa sendiri dipersoalkan seperti di Inggris?

Lagi-lagi sejarah berulang sejarah. Indonesia sekarang menjadi pasar yang paling besar di Asia, menjadi tempat persinggahan pemain-pemain Afrika dan Amerika Selatan. Biasanya mereka lari dulu ke sini supaya dilirik oleh liga Singapura, Malaysia, Jepang, Korea Selatan. Ini kesempatan, mereka berani main di sini dulu agar dilihat karena kompetisi kita besar, paling kompetitif. Para pemandu bakat dari negara-negara seperti Jepang, Korea, Malaysia, Singapura juga datang ke sini untuk melihat. Ada transaksi.

Liputan TV-nya juga cukup bagus.

Luar biasa di Indonesia ini. Rating penontonnya besar sekali.

Tadi disebut Malaysia dan Singapura, apakah sepak bola mereka lebih maju dari kita?

Dari segi prestasi, tidak. Dari segi keteraturan kompetisi, iya tapi hanya itu. Mereka gentar dengan jumlah klub, animo penonton di sini yang luar biasa. Sekarang kita sudah tidak ngeri menonton ke stadion karena fans kita makin sopan.