Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wahyu Setyowati

Menemukan Diri Mengurus Anak Terlantar

Edisi 606 | 29 Okt 2007 | Cetak Artikel Ini

Pembaca, kita kembali bertemu pada acara mingguan kita, Perspektif Baru. Di acara ini kita mengangkat segala macam kegiatan yang menarik dan bermanfaat. Jadi hanya good stories yang masuk di sini. Jarang kami bercerita mengenai hal-hal yang buruk karena banyak kesempatan lain untuk hal tersebut. Tapi dicelah-celah kehidupan yang penuh dengan tantangan di Indonesia, sekali-sekali ada kegiatan yang memberikan inspirasi akan kebaikan manusia terhadap manusia dan itu yang kita akan kemukakan sekarang. Salah satunya adalah Dilts Foundation yang diprakarsai, Wahyu Setyowati.

Wahyu Setyowati berasal dari latar belakang bukan pekerja sosial, namun memiliki keprihatinam terhadap nasib anak jalanan. Dia dan sang suami dr. Russel Dilts mendirikan Dilts Foundation sebagai wadah pendidikan untuk anak-anak jalanan, pemulung dan keluarga pra sejahtera. Mereka memberikan memberikan beasiswa untuk sekolah lanjutan, bahkan ada yang sudah sampai universitas. Sedangkan untuk pendidikan non formal dilakukan di shelter, yaitu dengan pendidikan bengkel atau belajar wirausaha. Mereka mengangkat anak-anak jalanan yang berhasil, berkriteria baik dan menjadikan mereka pendamping untuk adik-adiknya.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Wahyu Setyowati.

Anda menjalankan Dilts Foundation bersama sang suami dr. Russel Dilts. Apa itu Dilts Foundation?

Saya menggunakan nama Dilts Foundation intinya adalah ingin memberikan contoh kepada teman-teman masyarakat di Indonesia. Ini karena banyak sekali mix couple, pasangan kawin campur dimana sang suami yang berwarga negara asing sudah mengeruk rezeki di Indonesia, tapi tetap tutup mata dengan keadaan masyarakat Indonesia. Saya dan teman-teman membuat Dilts Foundation sebagai wadah pendidikan untuk anak-anak jalanan, pemulung dan keluarga pra sejahtera.

Kami juga sangat terkesan bahwa pasangan dari latar belakang yang berbeda kadang-kadang memang sangat kuat dan bisa mengatasi tantangan-tantangan yang jarang dihadapi oleh orang lain. Jadi, saya mengucapkan selamat kepada Anda dan Russel. Kapan Anda membentuk Dilts Foundations dan bagaimana tercetusnya kegiatan tersebut?

Ini karena keprihatinan kami. Saat saya dan suami mengontrak rumah di Solo Samping, banyak sekali anak-anak tukang becak yang tidak pernah sekolah. Saat itu belum ada pendidikan gratis. Lalu saya berpikir untuk menangani anak-anak seperti ini. Ketika saya baru setahun menanganinya, saya dibawa ke Jakarta di daerah Pejompongan. Kebetulan di belakang rumah saya merupakan rel kereta api. Di situ banyak sekali anak-anak, bahkan banyak yang tertabrak kereta api. Ternyata mereka memang tidak pernah sekolah, mereka hanya main-main di situ. Dari situlah saya mulai membuat kegiatan untuk mereka.

Apa kegiatan yang pertama kali dilakukan, dan apa yang Anda lakukan untuk menarik mereka yang tadinya main-main di rel kereta api menjadi main-main di tempat Anda?

Pertama kali saya bergerak bukan dari sektor pendidikan melainkan kesehatan. Saat itu ada anak yang tertabrak kereta api dan tidak ada yang menanggulangi biaya pengobatannya. Rumah sakit tidak dapat melakukan tindakan karena korban tidak mempunyai uang. Saya berpikir bukankah ada tunjangan untuk keluarga miskin atau sekarang disebut Gakin. Ternyata mereka anak kumpul kebo, dan tidak memiliki status (sebagai suami-istri atau keluarga - Red) sehingga mereka tidak bisa mengurus Gakin.

Jadi kalau orang itu sangat miskin, memang tidak bisa ditolong sama sekali.

Sepertinya iya karena saya selalu mendapatkan pasien-pasien yang seperti itu. Jadi Dilts Foundation pertama kali bergerak di bidang sosial dengan sektor kesehatan. Sesudah itu mulai ke sektor pendidikan.

Sewaktu masih di bidang kesehatan, apakah kegiatan tersebut dilakukan di Pejompongan, rumah, atau tempat lain?

Di Pejompongan. Kebetulan saya ada sedikit bisnis, dan rezeki dari keuntungan bisnis itu untuk kegiatan sosial ini.

Apakah sekarang bisnis tersebut masih ada?

Masih tapi sekarang bisnis itu bukan untuk saya, namun saya ajarkan untuk anak-anak jalanan dan pemulung.

Berapa orang yang bisa dilayani pada waktu itu?

Kebetulan, pelayanannya tidak menghitung jumlah orang.

Apakah itu karena orangnya keluar masuk?

Ya. Dalam kegiatan ini saya berusaha menjalin kerjasama dengan Rumah Sakit Cipto Mangun Kusumo (RSCM). Saya melobi dokter-dokternya. Jadi kalau ada pasien-pasien berkategori miskin sekali dan tidak memiliki surat-surat, dokternya sudah langsung menghubungi saya. Jadi kalau di RSCM, orang sudah mengetahui bahwa kalau untuk pasien semacam itu berhubungan dengan Bu Wahyu. Padahal saya juga tidak tahu darimana untuk mendapatkan uang pengobatan. Akhirnya saya melobi dokter yang baik tadi sehingga biayanya menjadi gratis.

Lalu, apa peran dr. Russel Dilts, suami Anda, di Dilts Foundation?

Peran dia adalah penasehat. Kalau saya menyimpang atau tidak masuk akal, dia yang menjewer. Juga memberikan jaringan untuk meminta proposal dana.

Jadi semua operasionalnya dijalankan Anda sendiri.

Saya sendiri dengan relawan-relawan.

Setahu saya, Anda dulu sebelum menikah bekerja di hotel. Darimana latar belakang atau bakat untuk bekerjasama dengan anak-anak miskin itu?

Bakat itu datang dari keluarga. Saya anak tentara yang setiap saat diajak ke pelosok-pelosok untuk mengobati orang tidak mampu. Bapak saya adalah seorang dokter. Itulah yang membuat saya selalu tercenung.

Apakah kegiatan ini terus berlangsung dari 1985 sampai 2007, bagaimana perkembangannya?

Perkembangannya sekarang saya sudah mempunyai shelter sendiri di Tanjung Barat Raya walaupun masih menyewa. Sekarang bentuk kegiatannya pendidikan non formal gratis, dan beasiswa formal untuk keluarga pra sejahtera.

Apakah beasiswa formal tersebut maksudnya orangnya bersekolah di suatu tempat, dan disediakan beasiswa?

Orangnya adalah anggota Dilts Foundation yang memiliki dedikasi tinggi dan kepribadian baik terutama budi pekerti. Kami memberikan beasiswa untuk sekolah lanjutan, bahkan ada yang sudah sampai universitas.

Apakah untuk pendidikan yang non formal dilakukan di shelter atau di tempat lain?

Kalau non formal dilakukan di shelter, yaitu dengan pendidikan bengkel atau belajar wirausaha.

Itu berarti Wahyu dan kawan-kawan memiliki tenaga pendamping untuk pengajar.

Memang kami semua di situ adalah relawan yang semuanya adalah pendamping. Kami mengangkat anak-anak yang berhasil, berkriteria baik dan menjadikan mereka pendamping untuk adik-adiknya. Jadi kami hanya menggaji mereka, anak-anak yang sudah dinyatakan lulus.

Berapa lama seorang anak bisa berada dalam lingkungan Dilts Foundation?

Paling lama empat tahun karena setelah itu mereka harus lulus dan mandiri. Jadi tidak harus tetap berada di Dilts Foundation.

Apakah mereka tinggal di situ?

Ada yang tinggal, ada yang pulang pergi.

Apakah mereka mempunyai orang tua?

Ada yang mempunyai orang tua, tapi kategori orang tuanya seperti yang sudah disinggung tadi (tidak memiliki status, dan kartu keluarga - Red), ada yang tinggal dengan neneknya, dan ada yang tidak tahu tinggal dengan siapa.

Jadi tidak ada yang berasal dari keluarga yang utuh.

Kalaupun ada yang berasal dari keluarga utuh, tapi keluarganya di bawah standar kemiskinan alias pra sejahtera.

Dalam hal ada orangtuanya, apakah orangtuanya terlibat, melihat, memberi saran atau diserahkan pada Dilts Foundation?

Kami selalu mengajak berunding keluarganya. Setiap tiga bulan kami mengadakan pertemuan dengan keluarganya untuk memotivasi bahwa pendidikan untuk anak-anaknya itu penting sekali. Jadi orangtuanya tidak boleh menggarisbawahi bahwa anaknya harus menjadi pengemis karena orang tuanya preman atau pengemis juga. Tapi anak-anaknya ini mempunyai hak untuk sekolah dan mencapai cita-citanya.

Apakah sekarang usaha ini sudah ada dukungan dari penyandang dana atau sponsor?

Penyandang dana memang ada, tapi selalu untuk kontrak satu tahun. Nanti bisa diperpanjang. Tapi kalau untuk pemerintah memang dukungannya kurang.

Apakah ada bantuan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau yayasan dari luar negeri?

Kalau yayasan luar negeri, saya mendapatkannya dari Target, yang berasal dari Amerika Serikat melalui program tahunan. Jadi saya membuat program tahunan untuk pendidikan dan ketrampilan, kemudian mereka setuju untuk mendanai selama satu tahun.

Apakah Anda merekrut anak-anak untuk masuk atau mereka yang mendengar program ini?

Ketika saya pindah ke Pasar Minggu, saya melakukan observasi di jalan TB. Simatupang. Kami berbekal tenda dengan anak saya yang masih kecil-kecil, dibantu teman melakukan observasi, pendekatan ke mereka, dan menjadi "mereka" terlebih dahulu. Jadi kami mengetahui kemauan mereka. Ternyata mereka menginginkan bersekolah seperti anak yang lain. Cuma sekarang ini saya baru bisa membuat shelter sekolah yang tidak memakai seragam. Padahal mereka memimpikan seragam. Saya mengatakan seragam tidak penting, yang penting ilmunya ada. Paling tidak bisa membaca dan menulis, sehingga kamu mengetahui informasi.

Sebetulnya usaha ini sangat newsworthy, sangat perlu diinformasikan. Apakah selama ini ada usaha untuk mensosialisikan kegiatan ini?

Selama ini kami memang mengadakan sosialisasi dengan menggelar karya mereka. Kami memang mengajarkan mereka untuk berkarya, terutama dengan seni musik, sehingga mereka tidak kembali lagi ke jalan. Setiap tahun saya mengadakan apresiasi seni anak jalanan se-Jakarta Bogor, Tangerang, Depok dan Bekasi (Jabodetabek) bahkan nasional. Kami menggelar apresiasi seni ini di Gedung Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki. Terakhir kali Mei 2007.

Apakah Anda juga mempunyai website?

Ya, kami juga mempunyai website, tapi mohon maaf kalau agak jelek karena website ini yang membuat ibu-ibu atau para relawan, jadi apa adanya. Alamatnya www.diltsfoundation.org

Saya yakin banyak yang ingin mengetahuinya, atau mungkin membantu. Kalau untuk bantuan, apa yang paling berguna?

Tenaga relawan atau volunteer. Kami memang kebetulan mencari volunteer atau ide-ide dari milis yang kami bicarakan dan kerjakan bersama.

Apakah Anda tidak memerlukan duit?

Duit memang perlu, tapi di zaman sekarang kayaknya susah untuk mendapatkan duit. Selain itu saya juga lebih suka diberi kailnya daripada ikannya.

Apakah ada atau tidak organisasi yang berjaringan (network) atau sejenisnya, yang bukan memberikan uang tapi bekerja sama?

Ada, kami memiliki jaringan bekerjasama dengan yayasan-yayasan lain yang bermitra. Misalnya, mereka mengadakan kegiatan, kami mendukungnya. Demikian sebaliknya, saat kami mengadakan kegiatan lain seperti mini soccer anak jalanan untuk mengambil bibit, mereka mendukungnya.

Apakah bermain soccernya di jalanan?

Nggak, soccernya di lapangan, tapi yang bermain anak jalanan.

Itu sangat menarik sekali. Berapa umur anak-anak ini?

Sasaran saya sekarang adalah "pra" di jalanan. Jadi anak umur 4-6 tahun yang dieksploitasi oleh keluarganya di jalan-jalan. Itu yang akan kami jaring. Kami sudah menjaring yang besar-besar, sekarang yang anak-anak.

Anda pernah menjaring yang besar-besar.

Iya. Karena itu kami mengadakan keterampilan supaya mereka tidak di jalan lagi.

Saya jadi tertarik mendengar menjaring yang besar-besar. Kalau yang besar-besar, bagaimana mereka bisa diyakinkan untuk mengikuti program ini? Bukankah mereka lebih betah di jalan?

Nah, itu dia. Itu melalui pendekatan dan menjadikan mereka sahabat dulu, baru mengetahui kemauan mereka. Rata-rata mereka maunya di bidang musik. Makanya saya selalu mengadakan pagelaran-pagelaran.

Darimana instrumen musiknya karena itu memerlukan modal juga?

Iya. Yang saya lakukan adalah membuat mereka bermain musik dengan musik ala kadarnya. Kami bekerjasama dengan mahasiswa Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Jadi para mahasiswa yang bermain orkestranya, sedangkan anak-anak ini yang bermain teater dengan suara-suara mereka. Yang saya angkat adalah cerita-cerita rakyat supaya mereka juga mengenal tentang budaya.

Apakah pementasannya sekali setahun dan di Taman Ismail Marzuki?

Ya, sekali setahun. Tiketnya saya jual untuk funding kegiatan kita juga.

Apakah pementasan itu laku?

Ya, kebetulan sewaktu tahun 2005 dulu saya menggelar pementasan dengan judul Ande-Ande Lumutan, berkolaborasi dengan artis dan artisnya pun tidak dibayar mahal. 800 tiket terjual habis.

Siapa saja artis-artis tersebut?

Artis-artisnya itu Dede Petet sebagai sutradara, Ria Irawan, Aming, Pretty Asmara, Kelana, Vicky Burky, Nana Krits, Sys N.S, Denny Malik, dan banyak sekali.

Siapa yang memobilisasi mereka itu?

Saya sendiri. Saya tidak mengenal mereka, tanpa referensi siapa-siapa, pokoknya saya mendatangi mereka yang mempunyai kans untuk main. Entah mereka mau memandang saya sebelah mata ataupun tidak, saya ingin menunjukkannya. Tapi terbukti mereka ternyata datang, walaupun pertamanya diremehkan, saya tetap yakin anak-anak jalanan saya mampu. Dan ternyata anak saya memang mampu.

Jadi waktu performance itu sambutannya baik.

Baik sekali. Kalau tidak baik tentu 800 tiket tidak terjual habis