Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Maylaffayza

Menggerakkan Gairah Hidup Dengan Biola

Edisi 576 | 26 Mar 2007 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali dengan saya Wimar Witoelar pada hari yang gembira di tengah suasana yang sebetulnya sangat penuh ketidakgembiraan, tetapi life must go on. Jadi kita lupakan tragedi transportasi, tragedi lumpur, dan sebagainya. Kita lihat inspirasi yang ada dalam masyarakat dengan tamu kita sekarang Maylaffayza yang diharapkan bisa memberi inspirasi kepada kita.

Kalau dalam bahasa Inggris, Maylaffayza barangkali bisa dikatakan sebagai pop classical crossover violinist. Dia berusaha seluas-luasnya dalam bermusik selama masih bisa menjiwainya. Dia senang menjadi selebritis bahkan glitterati namun itu bukan untuk memalsukan diri. Misalnya, suatu malam dia show di hotel bintang lima dengan para sosialita dan segala macam, saat pulang dia mengganti pakaian dengan celana pendek dan kaos serta harus mencuci baju-bajunya. Itu bagian dari dirinya. Dia mempunyai banyak kehidupan dan menjadi glitterati merupakan salah satunya.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Maylaffayza.

 

Kita mulai dari kegiatan Maylaffayza sebagai seorang pemain biola (violis), apa jenis musik Anda dan apa yang sekarang Anda lakukan?

Sudah kurang lebih tujuh tahun aku bekerja di showbiz. Sekitar dua tahun terakhir, aku berhasil membuat tim sendiri. Aku menjadi produser dan music director untuk pembuatan albumku. Nah pada saat itu aku menggandeng teman bernama Bobby Suryadi. Jadi kita membuat musik bersama, khusus untuk biolanya aku meminta Idris Sardi, guruku, membuat aransemennya berdasarkan struktur yang sudah dibangun.

Kapan Anda mulai belajar dengan Idris Sardi?

Aku belajar sejak umur 10 tahun dengan Om Idris. Sebenarnya pertama kali aku belajar biola pada umur sembilan tahun dengan ayahnya Didit (seorang violis juga red). Jadi ayahnya yang kini almarhum mengajari aku pertama kali saat umur sembilan tahun. Saat berusia 10 tahun, aku dipertemukan dengan Om Idris Sardi.

Saya pernah membaca berita bahwa Fayza juga pernah belajar atau bekerja sama dengan Catherine Leimena. Betulkah?

Benar, tapi itu sambil main biola. Menurut aku, biola itu memang sangat sulit dan a lot of times I have got frustated karena untuk bisa bunyi saja susah. Jadi aku perlu hal lain di musik. Jadi aku belajar menyanyi dengan Catherine.

Bukankah Catherine itu penyanyi opera?

Benar. Pertama kali, saya belajar menyanyi sama Bang Elfa, lalu Bertha, kemudian Catherine Leimena. Terakhir aku belajar dengan sahabat saya sendiri itu namanya Ivonne Atmodjo. Jadi dengan ibu Catherine itu memang belajar.

Kalau bicara mengenai Catherine Leimena, dia orang murni sekali di bidang opera. Apakah Fayza memang punya ketertarikan mendengar opera atau classical music?

Kalau mendengarnya sih iya, tapi bukan berarti menjadi sangat mendalam, misalnya, tiba-tiba show menjadi opera. Aku hanya ingin mengetahui teknik dasar menyanyi, jadi belajar yang classical, sangat dasar.

Pavarotti tidak mau menyanyi kalau bukan opera, Mick Jagger tidak mau menyanyi kalau bukan rock, tapi kalau kayak Bocelli mau menyanyi apa saja. Bagaimana dengan Anda, apakah ada titik berat antara classical dan rock, atau apakah yang penting bagi Fayza dalam bermusik?

Oh, kalo aku seluas-luasnya dalam arti selama aku masih bisa menjiwainya. Dulu aku pernah mencoba dangdut, waktu itu pernah ada permintaan untuk membiolakan dangdut. Tapi aku tidak bisa menjiwainya, im not feeling it. Jadi selama aku masih bisa menjiwainya maka tidak masalah.

Maylaffayza seorang violinist dan performer. Menurut banyak koran dan website, dia juga seorang glitterati, yaitu kata yang lebih keren daripada selebriti yaitu orang yang dikejar oleh paparazzi. Do you enjoy being glitterati? Apakah Anda senang menjadi orang yang terkenal, glamorous, dan fotonya ada dimana-mana?

Ya, aku senang, dalam arti itu bukan untuk memalsukan diri. Pada suatu malam aku show di hotel bintang lima dengan para sosialita dan segala macam, saat aku pulang aku mungkin mengganti pakaian dengan celana pendek dan kaos serta harus mencuci baju-baju aku. Itu bagian dari diriku. Aku mempunyai banyak kehidupan dan menjadi glitterati merupakan salah satunya.

Kembali pada musik Fayza. Setelah belajar musik dari berbagai guru yang top di Indonesia, dimana pertama kali Fayza tampil?

Pertama, sewaktu kecil. Waktu itu aku belajar di Bina Musika, di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan yang saat itu menterinya Fuad Hassan. Dia suka musik. Saat itu aku yang masih anak-anak muncul dengan orkestra untuk acara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Lalu, setelah di Bina Musika, aku berduet dengan Om Idris untuk acara Universitas Indonesia. Itu untuk mengenang pelukis Basuki Abdullah pada sekitar tahun 1994-1995.

Sekarang, dimana kegiatan utama Anda di bidang music performance?

Masih seperti biasa. Kita masih tetap show dan kebanyakan off air.

Dimana pertunjukannya, tolong contohkan satu-dua saja?

Misalnya, di Four Seasons. Jadi memang lebih banyak off air. Kegiatan utama aku adalah show, latihan di rumah, dan mengerjakan recording.

Bagaimana bentuk shownya, apakah solo atau dengan ada kelompok pendukung?

Aku solis, tunggal. Kalau untuk musiknya sendiri, aku biasanya sudah menyediakan dari cd sehingga tinggal memasangnya. Terkadang penyelenggara menyediakan band, atau DJ, atau apa saja. Tapi aku pribadi sudah menyediakan CD.

Saat Anda tampil solo, apakah memang tidak ada suara lain?

Ada, musiknya dari CD. Dari CD itu orkestranya.

Apa contoh lagu terakhir yang Anda mainkan?

Aku masih suka membawakan lagu Bond atau Secret Garden. Namun belakangan ini aku sudah membawakan lagu-laguku sendiri. Ini mungkin karena aku sangat membanggakannya dan ini membutuhkan banyak kerja keras. Sejak aku membawakan sesuatu yang baru bagi masyarakat, aku sangat bangga terhadap itu. Jadi sudah bisa membawakan lagu- lagu sendiri juga sekarang ini.

Saya mendapat informasi, Fayza akan menerbitkan album. Apa aliran musik dalam album tersebut?

Aliran musik dalam albumku disebutnya pop crossover, mungkin kalau dalam bahasa Indonesianya campur-campur.

Apakah campur-campur tersebut dalam satu lagu atau lagu-lagunya?

Elemen musiknya sih sebetulnya.

Elemen musiknya. Oh, berarti sudah tercampur dalam satu lagu. Jadi selain seorang komposer, Anda juga seorang arranger?.

Ya, semacam music director juga. Kalau untuk biola, semua beatnya dinamis karena pada dasarnya aku tidak melankolis, banyak groovenya. Beatnya banyak dari rhythm, hip-hop, R&B.

Bukankah kalau biola cenderung melankolis, tapi barangkali itu biola konvensional. Saya baca Anda menggunakan biola elektrik. Apakah Fayza tidak pernah menggunakan biola standar?

Sebetulnya dari dulu sampai sekitar hampir sekian belas tahun aku memakai akustik, bahkan latihan sampai show dan segala macamnya. Tapi sejak aku melakukan pertunjukan kebanyakan memakai musik elektrik. Jadi kita harus memakai biola yang elektrik.

Apakah tidak pernah terpanggil untuk menjadi violinist untuk satu simfoni orkestra atau dengan suatu chamber music?

Mungkin suatu saat iya. Kalau dulu, kehidupan aku berorkestra itu di bawah orkestranya Idris Sardi.

Apakah sekarang Anda bisa main yang klasik?

Sekarang ini bisa sih bisa, tapi aku tidak terlalu perform tentunya. Itu bukan titik beratku karena aku main musik lebih ke pop crossover. Kendati demikian saat pulang ke rumah, aku belajar klasik lagi karena dasarnya memang tetap harus klasik.

Kembali mengenai selebriti. Apakah Anda memang tidak keberatan menjadi selebriti? Apakah Anda memilih pop crossover karena potensi untuk menjadi glitterattinya lebih besar atau ini naluri musik saja?

Ini lebih dari sekadar naluri musik saja. Pada dasarnya dari kecil aku suka menari, jiwa menariku sangat besar sejak kecil. Sewaktu SMA aku menjadi pemandu sorak (cheerleader) dan segala macamnya. Walau sejak kecil aku dilatih musik klasik, panggilan jiwaku lebih ke dance music. Jadi memang jiwaku di situ dan pembawaan aku lebih energik. Aliran musikku pop crossover, penampilan di panggung, dan segala macam itu lebih karena panggilan jiwaku. Aku tidak yang melankolis, aku ingin sesuatu yang lain.

Nah, apakah Anda merasa mendapat apresiasi di Indonesia, mempunyai audiens? Apakah Anda mempunyai audiens atau you wish you were somewhere else dimana musik Anda itu lebih dikenal?

Separuh-separuh. Dalam arti, apresiasi itu ada walaupun mungkin orang Indonesia tidak bisa mengekspresikannya. Itu tidak masalah buat aku. Kadang-kadang penonton itu memang lucu, masih bingung bagaimana bersikap pada saat menonton. Tiba-tiba mereka kaku sementara aku main biola sambil menari dan segala macam. Padahal tidak harus begitu juga, santai aja. Jadi apresiasinya sebetulnya ada, tapi di sisi lain memang aku ingin juga bisa ekspansi. Siapa tahu jika tidak bisa besar di Indonesia, kita bisa besar di negara lain.

Idealnya sih berbasis di Indonesia dan lebih dikenal di negara lain.

Iya, semestinya. Tapi pada dasarnya jalan hidupku memang berbeda. Aku pikir sesuatu yang berbeda memang harus berjalan secara berbeda juga. Anda tidak bisa melakukan sesuatu yang pada dasarnya beda disamakan dengan hal yang lainnya.

Ya, karena sekarang dunia itu global. Kita duduk di Jakarta atau Amsterdam sama saja kalau audiens kita itu ada dan terutama bisa diakses melalui internet. Nah ini bidang lain yang mau saya tanya sedikit saja yaitu internet karena saya mengenal Maylaffayza sebetulnya dari blognya. Apakah Anda mengunakan blog secara serius untuk memperluas audiens atau hanya hobi?

Awalnya sekali hanya hobi karena ingin mempunyai banyak teman saja. Tapi lama-lama aku sadar sekali ada hal yang di luar sana bekerja dengan begitu cepatnya. Jadi akhirnya setelah awalnya pertemanan dan bersenang-senang dan segala macamnya ternyata untuk memperluas audiensku juga bisa sangat baik sekali. Jadi sekarang ini memang banyak sekali blog bahkan ada di the violinist.com dan lain-lain.

Apakah Anda mendapatkan respon melalui blog? Apakah ada yang menemukan Fayza itu melalui website?

Ya banyak sekali, apalagi karena blog sudah ada komunitasnya. Kalau website itu lebih ke orang yang tahu Anda, baru mampir ke rumah Anda. Sedangkan kalau blog, kita sudah mempunyai teman bahkan yang tidak kenal pun akhirnya kenal.

Itu satu komunitas. Blog disebut juga web 2.0. Bagi saya yang susah berjalan, kalau mau punya banyak teman maka bisa lewat blog. Jadi silahkan anda visit Maylaffayza di blog http://maylaffayza.multiply.com atau Anda membuka saja dulu www.perspektifbaru.com. Lalu bagaimana kalau orang awam ingin mendengar musik Anda selain album yang akan keluar itu?

Sebetulnya caranya sama. Di blog aku ada link untuk mendengarkannya Waktu itu aku pernah siaran di BBC, tapi dalam bahasa Indonesia. Jadi kalau linknya di klik maka kita bisa mendengarkan wawancaranya dan lagu-lagunya juga.

Apakah tiket performance Anda mahal sehingga kalau orang awam sekali agak susah bisa masuk?

Tidak juga. Misalnya, aku terkadang suka tampil untuk peluncuran suatu produk yang digelar di mal dan segala macamnya. Kalau digelar hotel maka itu karena sifatnya lebih corporate event, tapi ada juga saat-saat dimana memang bisa ditonton.

Apakah ada kalender kegiatan Anda di salah satu blognya Fayza?

Iya, biasanya ada. Biasanya kita taruh schedule, Nanti wawancara kita ini juga aku pasti taruh kok. Nanti fotonya langsung ada di blog terus langsung link ke www.perspektifbaru.com

Nah begitu donk. Kita sudah dari dulu ingin ikut terkenal. Kalau kita ikut glitterati, Kita juga dianggap glitterati. Jadi saya kira dunia internet, dunia pergaulan jaringan komunitas. Dari mulai yang bisa main violin sampai yang cuma bisa mendengarkan. So, what do you do in your spare time, if you have any spare time?

Baca buku. Karena itu aku senang sekali Bung Wimar memberiku buku. This would be my next book to read.

Terima kasih. Apakah masih ada perjalanan karier yang ingin dicapai atau sekarang hanya konsentrasi pada perluasan audiens?

Perluasan audiens pasti berjalan terus. Tapi untuk musiknya, sekarang aku lebih ke rekaman bagaimana mewujudkan supaya album aku ini keluar.