Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Eka Melisa

Dunia Makin Panas

Edisi 562 | 18 Des 2006 | Cetak Artikel Ini

Pembaca yang baik, Perspektif Baru kembali menjumpai Anda bersama saya Wimar Witoelar. Beberapa hari belakangan ini Jakarta mulai diguyur hujan. Tetapi sebelumnya Jakarta sangat panas, lebih panas dari biasanya. Saya tidak tahu di daerah Anda. Saya juga tidak tahu apakah penyebab panas itu bersifat lokal atau sementara. Tapi saat ini memang seluruh dunia secara pelan-pelan tambah panas. Dalam arti, sekarang lebih panas dari tahun lalu, dan tahun lalu lebih panas dari sebelumnya.

Kalau kita melihat foto-foto glacering di pegunungan Swiss, sekarang tanah hijau di sana sudah menjadi tanah tanpa es. Kalau kita melihat permukaan laut juga naik sedikit. Dari beragam bacaan, rupanya ada suatu gejala yang bagi awam itu terasa agak diam-diam tapi kalau secara ilmiah itu bisa dikatakan mengejutkan. Dunia selama sekian ratus ribu tahun mempunyai temperatur yang tetap, tapi sekonyong-konyong dalam 50 tahun terakhir ini temperaturnya naik dan itu tampaknya karena ulah manusia. Untuk membahas perubahan iklim (climate change) atau pemanasan global (global warming) saat ini, kita akan berbicara dengan Direktur Perubahan Iklim dan Energi World Wildlife Fund (WWF) di Indonesia, Eka Melisa.

Eka Melisa meminta masyarakat secara individu untuk turut peduli pada pemanasan global seperti menggunakan peralatan listrik secara tepat guna meredam pemanasan global. Jika tidak ada upaya yang memadai maka kemungkinan suhu di bumi pada tahun 2011 akan naik sekitar 11 derajat celsius dibandingkan rata-rata sekarang. Sebagai perbandingan, dengan kenaikan suhu dua atau tiga derajat celcius saja sudah dapat membuat semua terumbu karang mati. Jadi silahkan bayangkan jika kenaikan suhu sampai 11 derajat celcius.

Betulkah ada climate change atau global warming saat ini?

Ada perubahan atau tidak, itu sebetulnya tergantung dari kita sendiri. Kita melihat atau tidak hal itu. Seperti Bung Wimar katakan tadi bahwa cuaca makin panas, itu sudah jelas. Tapi kalau melihat ke beberapa situs seperti, United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC, http://unfccc.int) yaitu Komisi PBB untuk perubahan iklim atau ke situs Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC, www.ipcc.ch) yaitu kelompok ilmuwan yang sering melakukan penelitian tentang perubahan iklim, kita bisa melihat dulu sebelum tahun 1960 rata-rata kenaikan temperatur setelah 200 tahun itu hanya kira-kira tiga derajat celcius, cuma kira-kira naik 40 parts per million (ppm) untuk konsentrasi CO2. Namun sekarang ini dalam 10 tahun terakhir untuk di Indonesia saja sudah naik 0,3. Bayangkan, sudah naik sekitar 10% dari rata-rata kenaikan temperatur untuk selama 200 tahun. Jadi perbandingannya bisa 1:20 dibandingkan sebelum revolusi industri tahun 1960.

Tadi disebut itu dari CO2. Apakah ada hubungan langsung dengan CO2 atau secara lebih mendasar lagi mengapa ada global warming?

Global warming atau disebut pemanasan global karena adanya efek gas rumah kaca. Kalau kita bicara mengenai efek gas rumah kaca orang agak susah juga orang menangkapnya, termasuk apakah konsentrasi CO2 berbanding lurus dengan efek gas rumah kaca.

Nah untuk gampangnya, kalau ada mobil diparkir dalam cuaca panas kemudian kacanya ditutup semua maka saat kita masuk akan terasa panas. Makin gelap kacanya maka akan makin panas saat kita masuk mobil setelah diparkir. Yang terjadi pada CO2 juga seperti itu. Jadi konsentrasi gas CO2 di dalam atmosfir yang ketinggiannya sekitar enam sampai 15 kilometer makin menebal. Ketika CO2 makin menebal maka itu sama seperti lapisan kaca mobil tadi. Jika CO2 makin tebal maka sinar matahari yang masuk ke bumi yang seharusnya dipantulkan ke luar tidak bisa ke luar. Jadi CO2 bisa masuk tapi tidak bisa keluar.

Mengapa kalau CO2 tebal sinar matahari bisa masuk ke bumi tapi tidak bisa keluar bumi? Apa bedanya?

Jadi sinar yang masuk ke dalam itu sebetulnya radiasinya masih sama dengan yang keluar. Tapi ini kemudian ada hubungannya juga dengan lapisan ozon walaupun secara tidak langsung. Lapisan ozon dengan lapisan gas rumah kaca sebetulnya lapisan yang berbeda. Namun banyak orang yang berpikiran itu sama karena ozon adalah O3 sementara lapisan rumah kaca itu CO2. Keterkaitannya adalah lapisan ozon yang makin tipis membuat radiasi matahari semakin banyak masuk ke bumi. Ketika radiasi matahari masuk ke bumi melewati gas rumah kaca seharusnya dipantulkan lagi tapi tidak kepantul. Jadi efeknya ganda.

Jadi kedua-duanya jelek dan kedua-duanya mengalami kecenderungan yang memburuk. Ozon menipis dan CO2 makin menebal. Apakah betul penebalan CO2 itu salah manusia?

Kalau melihat hasil penelitian IPCC, setelah revolusi industri dimana kita menemukan teknologi, memang ada kenaikan sangat signifikan. Konsentrasi CO2 yang semula hanya 280ppm sekarang menjadi 373ppm. Padahal tingkat 280ppm itu selama 1700 tahun. Jadi kelihatan sekali bahwa pembuangan gas rumah kaca CO2 dari pemakaian energi memang sangat signifikan. Saya tidak mengatakan dan selalu menghindari mengatakan bahwa itu kesalahan teknologi atau mengapa teknologi ada. Sebenarnya teknologi itu cuma membantu manusia. Nah, manusia yang kadang-kadang lupa bahwa dia memakai teknologi tidak efisien dan tidak efektif.

Apakah itu karena tidak tahu atau tidak peduli?

Ada dua faktor. Pertama, itu memang lebih banyak karena orang tidak tahu. Karena itu kita dan juga banyak teman-teman di LSM sekarang mencoba meningkatkan edukasi publik. Jadi agar orang juga tahu adanya perubahan. Tapi banyak juga orang yang tidak peduli, mungkin karena terlalu menikmati.

Mungkin kalau dikatakan karena salah industri maka yang salah adalah terutama negara industri. Apakah Indonesia juga tidak terlalu salah karena industrialisasi di Indonesia masih kecil?

Tergantung. Sebetulnya, Indonesia dari faktor industri jauh lebih kecil tapi kita punya permasalahan lain yaitu kebakaran hutan yang juga melepaskan CO2.

Apakah itu sama jahatnya dalam kaitan global warming?

Ya, karena dalam global warming yang kita lihat adalah banyaknya gas rumah kaca yang dilempar ke luar, terserah dari mana asalnya.

Kalau CO2 yang dihasilkan kendaraan bermotor, kompor, dan lain-lainnya di setiap kota, apakah skalanya berbanding dengan yang di pabrik industri?

Kalau dari skala per unitnya tidak. Tapi kalau dari total bisa saja. Misalnya, penggunaan energi di Indonesia itu 50% datang dari domestik yaitu dari sektor rumah tangga. Jadi meskipun dari skala satu rumah tangga itu kecil, tapi kalau ditotal maka sebetulnya paling besar menghasilkan gas rumah kaca.

Kalau tidak salah, pemerintah AS semasa Presiden Clinton dan Wakil Presiden Al Gore sudah mencoba melakukan beberapa tindakan untuk mengontrol CO2. Tapi kemudian George Bush terpilih sebagai presiden pada tahun 2000. Walaupun dalam kampanye Bush mengatakan akan menghormati itu tapi diam-diam tidak melanjutkannya. Bahkan perjanjian Kyoto tidak diratifikasi. Nah sejelek-jeleknya pemerintahan George Bush pasti ada alasannya tidak mau menggalakkan upaya menjaga level CO2. Menurut Eka, apa kira-kira argumentasinya?

Argumentasi pemerintahan Bush adalah Amerika memang sudah maju tapi mereka masih melakukan pembangunan industri. Jadi dikotomi antara pembangunan dan ekologi. Padahal sebetulnya itu tidak benar karena kita masih bisa melakukan pembangunan tetapi memilih cara yang lebih bersih dan lebih baik.

Kalau melihat film Al Gore berjudul An Inconvenient Truth, belahan bumi Utara dan Selatan sangat beda dalam permukaan tanah dan hutannya. Persoalan ini kelihatannya akibat belahan bumi Utara. Maksudnya, apakah persoalan ini perlu dipikirkan di Indonesia yang tengah dirundung banyak persoalan?

Sebenarnya belahan bumi Utara dan Selatan itu adalah terminologi yang biasanya dipakai di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk politik. Kalau boleh terminologinya yaitu Utara untuk kita menyebut negara maju, kalau Selatan itu untuk negara berkembang. Kalau dari sisi dampaknya sama saja. Itu karena sekarang belahan utara yang justru banyak bermasalah, seperti daerah Antartika paling banyak mengalami es mencair, dan sebagainya.

Bagaimana status perjuangan ini di Indonesia, apakah statis atau ada peningkatan penyadaran atau mendapat prioritas?

Ini sudah banyak kemajuannya dibandingkan saat saya masuk di bidang ini empat tahun lalu. Sudah banyak orang yang mulai sadar. Ini mungkin dibantu juga dengan banyak informasi yang cukup trendi seperti sekarang ini ada film yang bercerita tentang global warming. Juga karena ada orang yang merasakan dampak cuaca panas, perubahan iklim, dan cuaca yang berubah. Itu membuat kesadarannya jauh lebih meningkat. Jadi sekarang sudah lebih banyak yang mulai menyadari dan masuk ke sana.

Pertanyaan praktis kepada ahli, kita menonton An Inconvenient Truth rasanya asyik. Apakah itu bisa dipakai sebagai pegangan?

Ya. Dalam An Inconvenient Truth, Al Gore memakai data dari UNFCCC. Jadi sangat akurat.

Apa yang bisa kita lakukan pada tingkat individu agar dunia kita tidak semakin panas, yang mengakibatkan melelehnya semua es , meluapnya air laut dan berubahnya pola angin ribut?

Banyak sekali yang sebetulnya bisa kita lakukan di rumah sendiri. Memang kecil tapi kalau dihitung bisa menghemat penggunaan CO2. Misalnya, manajemen energi seperti dalam pemakaian AC atau listrik. Kalau pada siang hari tidak perlu memakai AC atau listrik maka jangan dipakai. Kita mengusulkan agar bagi yang sering memakai peralatan listrik dengan posisi stand by apalagi lebih dari 2-3 jam maka lebih baik dimatikan saja. Yang penting juga bagi yang mendengarkan acara ini di radio, membaca di media cetak, atau di situs www.perspektifbaru.com jangan lupa menyampaikan informasi ini kepada orang lain.

Pada tingkat publik di Indonesia, apakah sudah ada pembahasan soal ini seperti di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)?

Kementerian Negara Lingkungan Hidup sedang menyusun climate bill atau rancangan undang-undang (RUU) perubahan iklim. Tapi ini memang belum sampai di DPR.

Apa kira-kira isinya?

Isi RUU tersebut adalah bagaimana sebenarnya Indonesia melihat perubahan iklim ini sendiri, bagaimana menanggulangi dampak yang sudah ada, lalu bagaimana semua sektor bekerja bersama. Jadi masih bersifat policy.

Kita kembali ke asumsi awal, apakah panas kota Jakarta belakangan ini dan gelombang panas (heat wave) di Eropa pada 2003 itu suatu kebetulan atau ada hubungannya dengan global warming?

Ada sekali. Kalau untuk gelombang panas di Eropa, kita ingat 2-3 tahun lalu ada film berjudul The Day After Tomorrow yang menceritakan mengenai gelombang air laut yang terputus. Seharusnya gelombang air panas ke kutub lalu gelombang air dingin kembali ke laut. Karena es meleleh membuat volume air dingin sangat tinggi sehingga air panas yang seharusnya masuk dan dibalikkan lagi menjadi tidak balik, berhenti di situ. Nah ketika itu berhenti di tempat pertemuan arus laut maka udara di sekitar menjadi lebih panas. Jadi ini memang terkait dengan perubahan iklim.

WWF ini organisasi internasional dan Anda juga pasti ikut wacana global. Ini ada masalah yang kedengarannya sangat gawat, yaitu mengapa para pembuat kebijakan di Amerika Serikat dan negara Barat masih menangguhkan keputusannya untuk bertindak drastis?

Ini kembali lagi pada tanggung jawab siapa. Mungkin ada ketakutan di negara-negara Barat bahwa mereka harus menanggung semuanya sendiri. Sementara di beberapa negara berkembang ada peningkatan penggunaan industri yang cukup tinggi seperti India atau Cina. Yang sekarang sedang diupayakan dalam negosiasi internasional adalah bagaimana kalau setiap orang menanggung porsinya sesuai dengan kejahatan yang dilakukannya. Tapi mereka agak ragu untuk maju karena adanya ketakutan harus membayar semuanya sendiri.

Tadi Eka menyebut Kyoto Protocol. Apa isi Kyoto Protocol dan mengapa Bush tidak mau tanda tangan?

Protocol Kyoto itu satu-satunya protokol yang mengikat semua negara untuk melakukan sesuatu dalam upaya menanggulangi perubahan iklim. Di dalamnya ada daftar negara-negara yang harus menurunkan penggunaan emisinya. Amerika itu harus menurunkan sepertiga penggunaan emisinya karena memang secara total mereka yang paling besar penggunaannya. Ini berdasarkan perhitungan IPCC. Mereka ini kelompok peneliti dan ilmuwan dari perubahan iklim dan diakui oleh pemerintah.

Di mana kira-kira posisi Indonesia di daftar tersebut?

Indonesia tidak ada di daftar Kyoto Protocol. Itu semua negara industri. Selain Amerika Serikat juga ada negara-negara Eropa seperti Rusia dan Inggris. Sementara itu Australia sebetulnya masuk tapi mereka tidak mempunyai kewajiban untuk menurunkan emisi. Daftar tersebut dibuat pada 1990 dan saat itu Australia tidak termasuk negara yang mempunyai emisi besar sehingga masih diberi kesempatan melebarkan emisinya. Karena itu Australia tidak mau tanda tangan juga sekarang. Namun mereka sekarang juga takut karena kondisinya beda. Kalau mereka sounding sekarang, mungkin mereka minta diturunkan juga emisinya.

Kalau semua usaha penyadaran tidak berhasil, bagaimana perkiraan terburuk yang akan terjadi pada masa depan?

Kalau dari skenario IPCC ada kemungkinan suhu di bumi pada tahun 2011 akan naik sekitar 11 derajat celsius dibandingkan suhu rata-rata sekarang. Sebagai perbandingan, dengan kenaikan suhu dua atau tiga derajat celcius saja sudah dapat membuat semua terumbu karang bisa mati. Saya tidak bisa membayangkan jika kenaikan sampai 11 derajat celcius.