Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Yayuk Basuki

Atlet Nasional Menghadapi Problem Mendasar

Edisi 561 | 11 Des 2006 | Cetak Artikel Ini

Pembaca yang baik, Perspektif Baru kembali menjumpai Anda bersama saya Wimar Witoelar. Hari ini kita bicara dalam konteks peristiwa yang besar, tapi pada zaman sekarang tampaknya tidak terlalu mendapatkan perhatian besar di media seperti dulu yaitu Asian Games. Saat ini pada 1- 15 Desember berlangsung Asian Games XV di Doha, Qatar. Pada Asian Games kali ini kita juga ikut berpartisipasi karena masih mempunyai atlet-atlet yang baik. Tapi yang akan dibahas di sini adalah atlet yang baik barangkali kurang diimbangi oleh pembinaan yang sepadan.

Untuk membicarakan ini, kami beruntung bisa mengundang seseorang yang bagi saya adalah kawan pribadi yang sangat baik, tapi bagi dunia adalah salah seorang bintang. Sedangkan bagi Indonesia adalah petenis terbesar yang pernah dimiliki dengan pernah mencapai ranking 20 besar di dunia dan berprestasi besar di Wimbledon. Dia adalah Yayuk Basuki.

Yayuk di Asian Games sudah mendapatkan empat medali emas yang diraih dalam rentang waktu yang sangat lebar. Itu luar biasa. Pertama kali mendapatkan medali emas pada 1986 yaitu di ganda putri bersama Susanna Anggarkusuma dan terakhir kali emas tunggal puteri pada 1998. Saya kira itu satu rekor tersendiri. Tapi kita akan mewawancarainya karena pemerintah dalam hal ini menteri pemuda dan olah raga telah menunjuk Yayuk menjadi salah seorang anggota tim untuk memantau olahraga.

Apa tugas yang diberikan pemerintah kepada Yayuk sekarang?

Saya sekarang masuk dalam tim monitoring yang berada di Kantor Kementerian Negara Pemuda dan Olah Raga. Tim ini dibentuk oleh Menteri Pemuda dan Olah raga karena melihat kegagalan kontingen Indonesia di ajang SEA Games di Filipina pada 2005. Setelah mengevaluasi kinerja tim Indonesia, Menpora menilai perlu membentuk suatu badan yang akhirnya dinamakan tim monitoring. Tugas kita adalah memonitor dan mengawasi seluruh pelaksanaan program maupun pembinaan khususnya pemusatan latihan di Tanah Air. Kita juga memprediksi seberapa besar peluang kita di Asian Games 2006 ataupun di SEA Games 2007. Sebenarnya banyak tugas-tugas kita termasuk mengefisiensikan anggaran dan memonitor penggunaaan anggaran supaya tepat guna dan pembinaannya berlanjut.

Tugas tim monitoring ini begitu banyak. Karena itu saya ingin fokus pada satu hal yaitu mengapa di banyak cabang, termasuk di cabang olah raga Anda tenis, sering ada gejala secara individu, yaitu banyak atlet yang berprestasi tapi kalau sudah terjun ke dalam gelanggang multi event atau yang besar tidak berprestasi?

Kalau saya perhatikan dan ini juga saya lihat setelah saya mendunia atau masuk profesional, atlet-atlet kita memiliki perbedaan dengan atlet negara lain. Perbedaan yang menyolok yaitu faktor mental. Faktor mental ini benar-benar yang harus diperbaiki oleh seluruh atlet di Indonesia. Dampak faktor mental ini sangat luas. Contoh kecilnya seperti saat bertanding biasa di dalam negeri mencatat hasil bagus. Misalnya, seorang pelari mencatat waktu yang bagus. Tapi setelah kita adakan uji tanding di luar negeri maka mungkin catatan waktunya akan berubah.

Jadi prestasinya tidak stabil. Betulkah begitu?

Bisa dikatakan kadang-kadang mereka akhirnya tidak konsisten. Kita kilas balik sedikit. Seorang karateka bernama Umar Syarif pernah juara dunia junior di Denmark. Dia salah satu karateka terbaik di dunia saat ini. Walaupun kini sedang mengalami cedera tapi saya dengar Umar sudah siap kembali lagi. Saya ingat sekali saat terjun di Asian Games 1998, tangan Umar Syarif berkeringat dingin. Jadi dari sisi pribadinya sendiri ada keraguan, mentalnya ternyata belum terasah.

Jadi walaupun sewaktu menjadi juara dunia mentalnya kuat tapi di tempat lain seperti Asian Games mentalnya bisa lemah.

Ya benar. Ini karena Asian Games adalah multi event dimana kita membawa nama negara. Kalau kejuaraan dunia mungkin masih membawa nama individu. Itu perbedaannya. Kedua, di sisi lain kurangnya pertandingan. Barangkali untuk satu-dua kali pertandingan ok tapi itu belum mencukupi. Atlet-atlet kita seharusnya banyak mengikuti uji tanding. Jadi setiap bulan mereka harus ada uji tanding supaya prestasi mereka bisa konsisten. Kalau kita lihat saat ini masih naik-turun gelombang prestasinya.

Kalau Yayuk pribadi saat bertanding di Wimbledon sebagai individu dan bertanding di Asian Games atau SEA Games yang membawa nama negara, mana paling berat tekanannya?

Bisa dikatakan terjun di arena Asian Games itu lebih stress karena tanggung jawab kita kepada negara. Saya tidak bertanggung jawab terhadap pribadi tetapi pada negara. Tapi di situ seninya buat saya walaupun saya sampai dikatakan aneh. Saya benar-benar mencintai tantangan.

Beban karena stress membela negara tapi ada dukungan (support) dari negara juga. Ini berarti saling mengimbangi. Kalau di Wimbledon, kadang-kadang saya lihat saat latihan tidak ada yang tahu, tidak ada support juga.

Iya, benar sekali seperti saat kita berangkat maka berangkat sendiri. Kalau multi event itu seluruh mata masyarakat olah raga tertuju ke kita dan kita juga menjadi tumpuan untuk mengharumkan nama negara. Tapi di situ timbul suatu semangat buat saya karena satu motivasi saya adalah mengharumkan nama bangsa. Jadi berbuat yang terbaik. Jadi buat saya terjun di arena Asian Games betul lebih stress karena kita dibutuhkan konsentrasi yang ekstra tapi saya adalah orang yang mencintai challenge.

Jadi ada faktor masing-masing individu, yaitu ada yang senang challenge dan ada yang menjadi goyah. Pasti selalu ada variasi antar individu terhadap hal itu. Apa yang bisa dilakukan oleh organisasi olahraga untuk membantu atlet yang beragam itu?

Kita mendidik dari awal. Jadi betul-betul kita menciptakan suatu sistem organisasi secara lebih sistematis dimana sekarang ini sudah banyak penyandangnya, salah satunya termasuk ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Jadi kita harus mengombinasikan itu semua dengan perkembangan Iptek sekarang yang luar biasa. Kita tidak bisa seperti dulu tergantung kepada berdasarkan pengalaman saja. Maaf saja untuk sekarang itu tidak akan mampu bertahan lama. Pengalaman itu harus kita sinergikan dengan Iptek. Itu saya rasa akan lebih baik. Hanya saja cara kerjanya memang harus sistematis. Kadang-kadang organisasi kita maunya tetap instan. Kadang-kadang dari langkah pertama maunya langsung ke langkah kelima tanpa ke langkah kedua, ketiga, dan keempat dulu. Saya lihat beberapa organisasi masih seperti itu sistem kerjanya. Jadi saya rasa perlu kita revitalisasi supaya pada masa depan pembinaan menjadi lebih langgeng, lebih panjang, dan atlet pun akan berprestasi lebih lama.

Kalau saya lihat, di beberapa organisasi ada psikolognya. Apakah memang jawabannya ada di situ atau dalam aura organisasi yang lebih luas?

Psikolog adalah salah satu penyandang juga. Sebetulnya ada beberapa tenaga ahli yang kita perlukan salah satunya adalah Iptek tadi. Tapi di sisi lain kita juga sudah pasti membutuhkan seorang psikolog. Walaupun tidak semua cabang olahraga percaya akan fungsi psikolog. Saya pribadi sangat menyetujui dan psikolog ini adalah yang kita butuhkan. Saya lihat di nasional belum banyak organisasi yang memanfaatkan psikolog.

Apakah atlet pada umumnya mempunyai support sistem sendiri secara mental seperti orang tuanya, temannya atau lainnya?

Saya rasa tidak. Seharusnya orang yang paling dekat dengan atlet adalah pelatih. Pelatih ini akhirnya yang akan memberikan masukan. Jadi pelatih adalah panutan atlet. Pelatih membuat laporan ke organisasi atau manajer. Pelatih ini yang paling tahu kondisi dan kebutuhan atlet. Maaf, pelatih kita belum banyak mengetahui teknologi keolahragaan itu tadi. Jadi semua memang rata-rata masih berdasarkan dari pengalaman. Contohnya, mereka yang dari mantan atlet jika tidak mengikuti Iptek olah raga maka belum tentu akan menjadi pelatih yang baik.

Ada yang mengatakan kalau olah raga beregu (team sports) kita lemah tapi olah raga perorangan (individu sport) kita kuat seperti terlihat dalam tenis, badminton, tenis meja. Apakah itu betul atau tidak? Apa bedanya team sport dan individu sport dalam konteks tadi yaitu kelemahan mental atlet?

Sebetulnya kalau itu dianggap perbedaan tidak juga. Belakangan ini memang saya rasa cabang-cabang olahraga tadi secara individual yang kelihatan lebih menonjol seperti badminton dan juga catur. Tapi kita juga mesti berterus terang bahwa cabang-cabang strategis kita saat ini baru mengalami kemerosotan yang sangat di bawah sekali. Itu mungkin benar-benar tanpa terprediksi sebelumnya termasuk cabang strategis seperti renang, atletik, dan senam.

Kita biasanya berharap atletik ini bisa menyumbangkan 8-17 medali emas di SEA Games. Tapi dalam SEA Games lalu atletik hanya bisa meyumbangkan satu medali emas. Jadi saya rasa sangat jauh sekali kemerosotannya. Renang juga sama. Dari sekitar 50 medali emas yang diperebutkan, renang hanya menyumbang 1-2 medali emas. Jadi sangat merosot karena biasanya renang menyumbangkan puluhan medali emas sejak zamannya Lukman Niode, Elfira Rosa Nasution, dan lain-lain.

Saya rasa kita memang harus mengatasi hal ini mencari tahu mengapa cabang olah raga tersebut sangat merosot. Salah satunya tadi seperti saya katakan bahwa perlu ada revitalisasi dari sisi pembinaan karena cabang-cabang olahraga ini sekarang rata-rata tidak berbasis pada Iptek. Karena itu kita coba memasukkan agar basis utama setiap cabang olah raga dari Iptek dulu. Contoh kecil, di bidang olah raga saya yaitu tenis. Di tenis kita juga mesti paham mengenai bio mechanic. Misalnya, seorang Yayuk Basuki yang bertubuh kecil tapi bisa melakukan servis dan forehand keras. Dari mana Yayuk bisa melakukan itu bisa diteliti. Barangkali dari rotasi tubuh dan itu bisa dilakukan penelitian dari body rotation. Anak-anak sekarang pikir agar pukulan keras maka pukul dengan keras sehingga mengakibatkan tangan bisa cedera. Kalau dulu bagaimana cara meminimalisasikan cedera ini, tapi sekarang kok malah lebih banyak cedera. Itu dianggap karena turnamennya lebih banyak. Padahal sebetulnya kerawanan cidera ini bisa kita sedikit redam. Itu memang bisa dari tubuh si anak, bisa juga dari over training, atau seorang pelatih yang tidak begitu memahami.

Agar tidak melebar sekarang kita melihat tenis dulu. Sekarang banyak sekali turnamen setiap minggu dibandingkan dulu dan bisa melihat secara detail dan close up. Orang awam saja bisa mendapatkan informasi itu. Apakah atlet sekarang tidak lebih cenderung ke Iptek dengan mengamati perkembangan tenis dunia?

Atlet kita itu kadang-kadang tahunya pokoknya saya masuk lapangan dan latihan.

Jadi atlet kurang memperhatikan yang di luar lapangan?

Iya, saya perhatikan ada beberapa atlet di luar waktu latihan malah mereka tidur. Padahal waktu kosong tersebut mungkin bisa kita isi dengan aktifitas lain seperti kursus satu mata pelajaran atau bahasa atau belajar komputer. Sebetulnya sisi otak atlet ini juga perlu kita asah supaya mereka tetap aktif. Sekarang, atlet setelah capek latihan maka istirahat tidur saja dan tidak ada aktifitas lain. Padahal mereka juga kita tuntut untuk mengetahui sisi tadi yaitu perkembangan Iptek. Maaf, saya bukan menghakimi tapi saya rasa ini yang perlu kita selamatkan dan perlu kita programkan untuk ke depan. Ini supaya atlet-atlet kita ini saat menghadapi lawan bukan hanya kondisi tubuh segar dan tidak hanya bermodal power saja, tapi juga bermodalkan skill dan isi kepalanya.

Yayuk sebagai warga negara juga seperti kita mengalami kondisi Indonesia yang berubah-ubah seperti mengalami krisis moneter, susah, bahkan sekarang susah minyak segala. Artinya, karena ekonominya susah boro-boro mau main olahraga. Tapi saya ingat dulu zaman susah sehingga antri beras, kita di Asian Games tahun 1962 menduduki peringkat empat. Jadi sebetulnya apakah ada pengaruh ekonomi terhadap prestasi atlet?

Kalau saya katakan untuk saat ini sangat berpengaruh karena atlet sekarang beda dengan dulu. Kalau dulu, atlet kita benar-benar mau maju demi Indonesia, sedangkan atlet sekarang kalau tidak ada biaya maka tidak mau maju. Jadi terus terang saja, perbedaannya di situ.

Jadi kondisinya sudah beda. Kalau begitu sekarang adalah bagaimana menggabungkan motif pribadi dengan kebesaran negaranya. Jadi apakah prestasi atlet kita akan naik?

Terus terang saja dan ini bukan karena saya pesimis, tapi memang peluang atlet kita di Asian Games XV ini sangat berat. Salah satunya karena Cina menurunkan seluruh atlet juara dunia. Jadi kita bisa mencapai target 4 emas, 7 perak, 13 perunggu rasanya sudah bagus, walaupun kita berharap bisa melampauinya.