Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Sekar Wulan Sari

Hormati Penderita Narkoba dan HIV/AIDS

Edisi 560 | 04 Des 2006 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali pembaca dengan saya, Jaleswari Pramodhawardhani. Pembicaraan kita kali ini sangat istimewa terkait 1 Desember sebagai hari AIDS. Kita akan berbicara dengan seseorang yang begitu kompeten dan segala vitalitas hidupnya sekarang diarahkan untuk mengubah stigma terhadap para dan mantan pecandu serta menanggulangi Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) yang sebagian besar dari kita semua agak takut bersentuhan dengan segala hal terkait HIV/AIDS ini. Dia adalah Sekar Wulan Sari yang bergiat di bidang tersebut bersama kawan-kawannya di Stigma Foundation sebagai direktur program.

Menurut Sekar Wulan Sari, dirinya bersama kawan-kawan memakai nama Stigma karena orang selalu menstigma pecandu terlepas sudah berhenti atau belum. Dia gerah dipandang remeh orang. Orang memberi stigma pecandu atau mantan pecandu tidak produktif, orang mengatakan pecandu atau mantan pecandu tidak bisa sembuh. Saya ingin memutarbalikkan paradigma itu.

Sekar Wulan Sari meminta masyarakat jangan lagi menstigma dan mendiskriminasi mereka. Jadi jika melihat atau menangani pecandu dan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) harus sama seperti melihat atau menangani orang yang sakit lainnya seperti flu atau kanker. Tidak ada yang perlu dibedakan. Jadi harus dengan perspektif yang kosong.

Berikut wawancara Jaleswari Pramodhawardani dengan Sekar Wulan Sari.

Saya membaca laporan dari Departemen Kesehatan (Depkes) bahwa sampai September 2006 korban HIV/AIDS sudah mencapai 11.064 dan ternyata 50% penderitanya adalah wanita. Saya pikir angka ini seperti gunung es. Data di lapangan mungkin lebih banyak lagi. Berbicara tentang HIV/AIDS, kita mempunyai informasi yang sangat minim tentang hal itu. Mungkin Anda bisa menceritakan dulu mengenai data HIV/AIDS yang ada selama ini.

Berbicara masalah data, Indonesia tampaknya kurang dapat mengumpulkan data secara akurat. Itu yang saya lihat selama lima tahun bergerak di bidang HIV/AIDS. Data yang keluar itu hanya berdasarkan estimasi, dan itu hanya terlapor ke rumah sakit kemudian dilaporkan ke Depkes. Jadi hanya dari pihak pemerintah saja dan tidak menayakannya kepada lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang memang bergerak di bidang HIV/AIDS. HIV itu baru virusnya dan AIDS itu sudah kumpulan gejala penyakitnya.

Bagaimana angka tafsiran Anda di lapangan?

Kalau melihat fakta di lapangan, bisa ratusan ribu orang yang sudah terkena HIV.

Apakah data semacam itu karena kurang terpercayainya data yang ada di Indonesia mengenai HIV/AIDS seperti yang Anda katakan tadi, ataukah karena HIV/AIDS ini dianggap mempunyai stigma atau cap buruk tertentu? Menurut Anda, bagaimana respon pemerintah terhadap permasalahan HIV/AIDS ini?

Saya melihat tanggapan terhadap permasalahan HIV/AIDS di Indonesia sangat lamban. Saya juga melihat doktrin yang pertama masuk tentang HIV/AIDS melalui media adalah hal-hal yang buruk, sudah bukan hal-hal yang sifatnya lumrah seperti saat kita membicarakan masalah pilek, kanker dimana semua orang tidak perlu takut. Tapi kalau berita soal HIV/AIDS maka orang sudah menganggapnya itu penyakit gay, penyakit orang yang punya penyimpangan seksual, penyakitnya pekerja seks, penyakitnya orang-orang yang hidupnya tidak benar. Pada kenyataannya setelah 25 tahun sejarah HIV/AIDS ada di dunia, sekarang yang terkena HIV/AIDS itu tidak lagi katakanlah memiliki penyimpangan perilaku. Saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri bahwa sekarang pun sudah ada bayi lahir dengan HIV positif. Jadi kita tidak bisa mengatakan HIV/AIDS itu penyakit orang yang tidak bermoral. Ini sebenarnya tidak ada kaitannya dengan moral karena saya pikir HIV/AIDS itu seperti isu kesehatan masyarakat lainnya.

Jadi orang seperti saya dan Anda punya potensi terkena HIV/AIDS.

Ya, siapa saja bisa terkena.

Nah, sekarang kalau Anda melihat bahwa sebetulnya HIV ini rentan dan mempunyai potensi untuk menyebar dengan begitu cepat, bagaima sikap pemerintah kita menanggapi hal tersebut?

Saya melihat mereka sudah cukup berusaha tetapi kurang maksimal. Metode bekerjanya juga masih secara parsial. Jadi tidak ada satu payung yang khusus untuk menangani HIV/AIDS tetapi terlalu banyak payung, terlalu banyak yang ingin ikut campur. Itu karena mereka melihat isu HIV/AIDS ini sebagai lahan industri. Seharusnya orang-orang bekerja dengan nurani karena masalah ini sudah menyangkut bayi-bayi yang lahir dengan HIV. Jadi jangan lagi melihat HIV itu sebagai lahan untuk mencari uang. Saya melihat kecenderungannya sekarang malah ke sana. Sampai kapan masalah ini bisa selesai kalau kita harus melihat dulu ke arah sana. Penanganannya juga sangat lamban.

Bagaimana bentuk pelayanan pemerintah yang berkaitan dengan HIV/AIDS selama ini?

Pemerintah sejauh ini sudah memberikan kontribusi berupa obat anti retroviral (ARV) gratis. Obat itu untuk menekan virus HIV pada orang dengan HIV/AIDS (ODHA) hingga pada tahap tidak terdeteksi. Namun jumlahnya sangat terbatas sedangkan sudah banyak ODHA yang membutuhkan ARV. Selain itu, bagaimana dengan ODHA yang sudah minum ARV pada lini pertama dan sudah resistance pada lini pertama sehingga membutuhkan ARV jenis baru tetapi belum tersedia di Indonesia. Juga bagaimana penanganan terhadap masyarakat Indonesia yang sudah memiliki kesadaran untuk dirinya tes HIV mengakses layanan konseling dan tes HIV sukarela atau Voluntary Counseling and Testing (VCT). Tahapan orang untuk mengetahui terkena HIV atau tidak adalah pra konseling, konseling, dan pasca konseling. Itu harus bayar. Seharusnya itu gratis karena tidak semua orang mau tes HIV.

Apakah obat itu ada di seluruh rumah sakit?

Tidak semua rumah sakit. Pemerintah sudah menunjuk 25 rumah sakit rujukan untuk melayani pasien ODHA. Tapi pada kenyataannya di rumah sakit rujukan itu tetap terjadi stigma dan diskriminasi.

Jadi sebetulnya sudah ada usaha pemerintah untuk melakukan penanggulangan HIV/AIDS ini, tapi itu hanya parsial dan berkesan tidak ada semacam rencana jangka panjang. Anda kini bekerja di lembaga penanggulangan HIV/AIDS bersama kawan-kawan Anda di Stigma. Anda mungkin bisa menceritakan yang Anda lakukan bersama teman-teman selama ini.

Kita memakai nama Stigma karena sebagian besar anggota yang tergabung di Yayasan Stigma adalah mantan pecandu. Saya juga mantan pecandu. Kita memakai nama Stigma karena orang menstigma pecandu terlepas dia sudah berhenti atau belum. Saya gerah dipandang remeh orang. Orang memberi stigma pecandu atau mantan pecandu tidak produktif, orang mengatakan pecandu atau mantan pecandu tidak bisa sembuh. Saya ingin memutarbalikkan paradigma itu.

Ketika kita melihat hampir semua mantan pecandu juga HIV positif maka kita jadi berpikir untuk fokus kepada teman-teman yang masih menggunakan Napza suntik aktif. Napza itu singkatan dari narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Jenis-jenisnya terdiri dari ganja, putau, kokain, sabu-sabu, ekstasi, alkohol, benzo (pil BK), dan yang paling tinggi jenis heroin. Dalam dua tahun terakhir ini kita fokus menjangkau teman-teman pengguna heroin/putau dengan cara suntik. Wilayah jangkauan kita itu khusus untuk Jakarta Selatan karena untuk wilayah Jakarta yang lain sudah ada teman-teman LSM lain yang bergerak di bidang sama. Selama dua tahun terakhir ini kita sudah menjangkau lebih dari 1200 pengguna narkotika jarum suntik atau Injecting Drugs Users (IDU). Saya melihat ini sebenarnya fenomena yang berbahaya karena kita menemukan lebih dari 1200 lebih pecandu Napza suntik di Jakarta Selatan dengan 50 orang diantaranya adalah perempuan.

Apa implikasinya bahwa 50 orang diantaranya perempuan?

Itu berarti eksklusif. IDU sendiri sudah merupakan komunitas yang ekslusif, sedangkan perempuannya sangat lebih eksklusif lagi. Padahal saya melihat kecenderungan penyebaran HIV itu pada perempuan tidak lewat jarum suntik saja. Beberapa teman perempuan yang menggunakan Napza suntik karena kebutuhan akan barang tersebut maka dia harus menjadi pekerja seks.

Yang menarik buat saya adalah, ketika Anda mengatakan justru di Stigma bergabung teman-teman yang bekas pecandu narkoba. Apakah Anda melihat ini sebagai hal yang menguntungkan dalam gerakan penanggulangan karena mungkin teman-teman Anda lebih tahu jenis-jenis zatnya dan bahayanya sehingga bisa lebih mudah masuk?

Pada saat kita menjangkau mereka, kita tidak membicarakan jenis Napza. Di Stigma, ada delapan orang petugas lapangan yang kegiatannya setiap hari dalam jam kerja turun ke lapangan mencari teman-teman yang masih aktif memakai. Kita mendampingi dan mendidiknya dengan informasi HIV/AIDS seperti cara penularannya, pencegahannya, sehingga mereka tidak memakai bersama-sama lagi jarum suntik. Sekarang kecenderungan penderita HIV paling tinggi ada di kalangan pengguna Napza suntik jarum (Penasum) karena mereka berbagi jarum. Mereka berbagi jarum karena akses untuk mendapatkan jarum steril susah. Jadi mereka berpikir lebih baik uang untuk membeli jarum itu dipakai untuk membeli barang. Apalagi untuk membeli jarum suntik susah. Beli ke apotik belum tentu dikasih, sedangkan beli di toko obat belum tentu ada.

Jadi yang Anda lakukan bersama teman-teman sekarang ini kurang lebih menyediakan jarum suntik steril yang hanya dipakai satu orang agar mereka jangan berbagi jarum suntik. Apakah lebih fokus ke situ karena lebih manusiawi? Apakah Anda tidak melihat dengan memberikan jarum suntik seakan-akan memberi peluang mereka meneruskan kebiasaannya?

Kita berpikir begini. Pada saat masih jadi pemakai, kita membutuhkan tahapan bertahun-tahun untuk dapat berhenti. Ada teman saya yang sudah memakai 10 tahun baru bisa berhenti sekarang. Saya pakai cuma tiga tahun dan bisa berhenti juga. Maksudnya, pendekatannya harus sangat individual karena kita merasakan betapa sulitnya berhenti dari Narkoba. Jadi kita mengetahui cara mendekatinya. Kita mempunyai bahasa yang sama, kita punya mitos yang sama. Kita tahu betapa sulitnya mereka untuk keluar dari lubang itu. Jarum suntik steril itu hanya sebagai media untuk mendekati karena mereka komunitas yang tertutup. Mereka tidak bisa sembarang percaya sama orang. Kita saja yang mantan pecandu saat turun ke lapangan masih mereka sangka polisi.

Anda lebih kenal dengan geografisnya. Bagaimana geografis komunitas mereka?

Ya, ada sekitar 300 tongkrongan di wilayah Jakarta Selatan.

Apakah pemerintah paham terhadap hal-hal semacam itu bahwa sebetulnya yang dilakukan oleh Stigma justru langsung menghadapi basisnya ini?

Pemerintah mengetahuinya karena untuk konsep pengurangan dampak buruk (harm reduction) pada pengguna Napza suntik ini sudah diangkat menjadi isu nasional. Kemarin saya baru datang ke rapat tingkat menteri koordinator. Jadi akan ada peraturan menteri koordinator bidang kesejahteraan rakyat (Menko Kesra) untuk masalah harm reduction di Indonesia bahwa penghentian pertukaran jarum suntik steril itu memang harus dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya penularan HIV/AIDS. Pecandu Napza suntik juga punya pasangan dan mereka juga melakukan kegiatan seksual aktif.

 

 

Pemakaian jarum suntik steril per individu adalah salah satu pencegahan untuk menularnya HIV. Apa lagi metode yang Stigma lakukan selain menyediakan jarum suntik?

Kita mempunyai counselling. Teman-teman IDU yang ingin datang ke kantor untuk cerita atau mau tes HIV, bisa melakukan counselling di Stigma. Kita mempunyai kelompok dukungan buat teman-teman yang sudah HIV positif. Kita mempunyai kelompok dukungan untuk perempuan. Kita mempunyai kelompok dukungan untuk teman-teman yang masih pakai aktif. Terakhir, kegiatan yang akan kita jalani yaitu mengubah paradigma pecandu Napza suntik itu melihat bahwa dirinya adalah korban bukan kriminal. Dia punya hak untuk mengakses layanan apapun ke instansi pemerintah. Jadi kalau sakit, dia berhak untuk ke Puskesmas, berhak ke rumah sakit. Jadi jangan "parno". Dia memang pencandu tapi tetap warga negara Indonesia.

Setelah mendengarkan apa yang Anda ceritakan, saya kemudian menjadi takut. Ternyata hidup saya pun juga sangat berdekatan dengan HIV. Untuk orang umum semacam saya, kemana saya harus pergi kalau ingin memeriksakan diri untuk mengetahui tertular atau tidak HIV atau tidak?

Ini berarti ada lack of information. Sebenarnya sudah ada banyak LSM yang menyediakan layanan untuk tes HIV atau bisa juga di klinik. Misalnya, Prodia juga sudah punya untuk tes HIV tapi tidak ada konselingnya. Jadi hanya langsung tes darah. Padahal sebelum tes HIV kita harus tahu dulu mengapa kita harus tes HIV.

Apakah harus melalui rujukan dokter dulu?

Tidak juga

Jadi bisa berdasarkan keiginan kita sendiri untuk tes HIV.

Bisa banyak cara untuk mengetahui status terkena atau tidak HIV. Untuk metodenya saja kita bisa memakai sistem Elisa atau Dipstik. Elisa adalah metode tes HIV dengan jangka waktu yang lama sekitar dua minggu karena darahnya harus disaring 3 kali. Sedangkan Dipstik adalah hasil yang bisa didapatkan dalam waktu 15 menit. Itu tergantung kesiapan individu, siap untuk menerima hasil atau tidak. Di rumah sakit juga ada pelayanan itu.

Setelah Anda melakukan banyak hal bersama teman-teman, apa persoalan yang paling krusial yang Anda lihat yang tidak pernah dijamah atau terlewatkan oleh pemerintah?

Saya pikir sistem pendataan kasus HIV maupun kasus AIDS di Indonesia, terutama dalam bentuk penelitian. Karena sejauh ini susah mengadakan sebuah penelitian kalau bukan dilakukan oleh badan pemerintah karena hasilnya tidak diakui. Jadi kita serba salah juga. Padahal penelitian kita mungkin jauh lebih baik karena mengetahui fakta di lapangan ketimbang pemerintah yang melakukannya. Jadi saya pikir pemerintah bekerja samalah dengan civil society untuk mengetahui hasil yang paling akurat. Jangan melihat ini sebagai sesuatu hal yang sifatnya tidak penting karena HIV itu sudah sangat krusial.

Lalu metode pendidikan ke masyarakat, kampanye HIV yang baik dan benar sampai jajaran yang paling bawah di Indonesia. Apakah memang benar cukup hanya slogan dan pernyataan "Jauhi perilaku seks menyimpang" Kalau punya uang maka saya akan ganti pesan billboard tersebut karena saya tidak setuju. Ketersediaan layanan kesehatan buat saudara-saudara kita yang sudah terinfeksi HIV yang cukup penting. Saya banyak menemukan teman-teman saya yang sudah ODHA atau yang tidak tahu mereka sudah HIV positif bahkan sudah AIDS sampai harus meninggal di rumah atau di jalan karena tidak mendapat layanan kesehatan. Saat mereka masuk rumah sakit selalu dikatakan, "Ini pecandu ya? Disembuhkan aja dulu kecanduannya." Lalu dioper ke sana-sini sampai dioper lagi ke rumah sakit pusat.

Apakah petugas pelayanan kesehatan kini sudah mendapat advokasi juga?

Sudah tapi belum selesai-selesai. Jadi saya pikir pekerjaan rumah untuk Indonesia menanggulangi ini sangat banyak.

Setelah melihat bahwa kalangan muda pecandu Napza melalui suntik dan sebagainya adalah kalangan usia produktif, Anda mengatakan bahwa slogan-slogan atau jargon yang ada di spanduk, billboard, dan segala macamnya seperti, "Katakan tidak pada Narkoba" kurang efektif. Apakah pemerintah sekarang atau Anda melakukan terjun langsung ke sekolah-sekolah untuk semacam pelatihan atau lainnya?

Ya, kita diundang beberapa kali untuk menjadi pembicara tapi kita tidak melihat metode itu efektif untuk mencegah teman-teman remaja tidak melakukannya. Saya melihat beberapa kali diundang sejumlah pembicara dari dokter dan mantan pecandu tapi yang dikasih lihat ke anak-anak remaja itu adalah film-film yang justru mencontohkan cara pengunaannya. Misalnya, orang yang lagi pakai sabu, nyuntik. Lalu korban AIDS digambarkan sudah dilalati dan kurus kering. Itu membuat stigma dan diskriminasi makin kental. Justru paradigma seperti itu yang harus diubah, harus menemukan metode yang memang cocok untuk remaja di Indonesia. Nah belum ada assessment untuk itu. Sebenarnya anak-anak muda sendiri butuhnya metode yang bagaimana. Ini sepertinya yang tua lebih tahu daripada yang muda. Padahal mungkin yang muda lebih tahu apa yang mereka butuhkan.

Kalau menurut Anda, bagaimana kira-kira metodenya?

Saya butuhnya informasi yang interaktif. Jadi dikembalikan lagi ke anak-anaknya mau menanyakan apa? Saya menilai pecandu-pecandu yang sekarang itu lebih beruntung karena sewaktu saya jadi pemakai saya tidak mendapat informasi HIV, tidak dapat jarum suntik steril tidak dapat informasi efek samping dari pemakaian heroin secara berkala akan menagalami kecanduan seumur hidup. Itu saya tidak tahu

kita tahu obat untuk penyakit HIV tidak ada. Apakah itu menjadi satu persoalan tersendiri mengenai apa yang harus dilakukan orang-orang sehat kepada ODHA?

Biasa saja. Jangan menstigma dan mendiskriminasi. Maksudnya, kita melihat pecandu dan ODHA sama saja dengan melihat orang yang sakit flu, kanker. Tidak ada yang perlu dibedakan. Saya bingung kalau melihat fenomena seperti itu. Jadi harus dengan perpektif kosong untuk melihat itu.

Apa rencana Anda bersama teman-teman untuk penanggulangan HIV ini di masa mendatang?

Kita tetap ingin fokus pada pecandu. Mungkin mendidik mereka untuk lebih sadar terhadap diri dan kesehatan mereka sendiri. Jangan sampai mau menularkan dan ditularkan HIV.