Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Handrawan Nadesul

Cucilah Tangan dengan Sabun

Edisi 557 | 13 Nov 2006 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali pembaca Perspektif Baru dengan saya Wimar Witoelar. Topik kita sekarang adalah kesehatan nasional secara umum dengan tamu kita Dr. Handrawan Nadesul. Dia adalah orang yang mempunyai kontribusi sangat banyak pada kesadaran pengetahuan mengenai kesehatan nasional, disamping disiplinnya sebagai dokter. Sekarang saya rasa peran Handrawan di Indonesia adalah dalam sosialisasi kesehatan. Dia membawakan rubrik kesehatan di sejumlah media dengan menulis kolom, buku, dan juga puisi walaupun bukan dalam bidang kesehatan.

Handrawan prihatin masyarakat Indonesia masih berperilaku tidak sehat terutama menyepelekan cuci tangan dengan sabun. Ada lebih dari 20 penyakit yang timbul akibat tidak cuci tangan dengan sabun dan salah satunya adalah diare. Saat ini angka diare di Indonesia masih tinggi bahkan menyebabkan kematian. Itu juga mengakibatkan anggaran pemerintah dalam bidang kesehatan yang sangat kecil habis untuk belanja obat. Obat untuk mengobati akibat ketidaktahuan pentingnya cuci tangan dengan sabun. Padahal semestinya yang diobati itu ketidaktahuannya melalui sosialisasi dan pendidikan.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Handrawan Nadesul.

Sekarang kalau berbicara mengenai kesehatan, kita ingat pada penyakit. Kita ingat ancaman penyakit yang sekarang ada dari Flu Burung, AIDS, sampai pada penyakit-penyakit epidemik sebagai akibat dari bencana alam seperti tsunami dan sebagainya. Tapi sebetulnya ancaman kesehatan paling konsisten yang mengakibatkan ketidaksehatan, kematian anak dari dulu sampai sekarang, ada dalam hal sehari-hari yaitu kesehatan secara umum. Bahkan Departemen Kesehatan (Depkes) sampai meluncurkan konsep Indonesia Sehat 2010. Barangkali dokter bisa menjelaskan apa sebetulnya ancaman kesehatan sehari-hari yang kita harus perhatikan dan bagaimana konsep Indonesia Sehat 2010 itu?

Sebetulnya Indonesia Sehat ini ada sejak zaman Presiden Habibie. Kalau tidak salah itu diluncurkan pada tahun 1999. Tujuannya supaya pada tahun 2010 masyarakat Indonesia itu kondusif untuk menjadi sehat. Artinya, bukan seluruhnya harus sehat pada saat itu tapi lingkungannya sudah sehat, perilakunya sudah sehat, layanannya sudah berkualitas dan sebagainya. Jadi ancaman yang Bung Wimar tanyakan itu saya menduga keras bahwa intinya itu ada di perilaku tidak sehat.

Perilaku tidak sehat itu kalau yang dramatis seperti perilaku seks bebas dan perilaku narkotika dan obat-obat terlarang (Narkoba). Namun kalau sehari-hari, apa perilaku yang tidak sehat itu?

Kalau kita membaca berita di media massa saat ini bahwa di Kalimantan Selatan ada 430 kasus diare dengan delapan diantaranya meninggal. Di Bandar Lampung, ada sekian puluh juga mengalami diare dengan 1- 2 orang meninggal. Ini ironis bagi bangsa sebesar Indonesia karena sampai saat ini angka diare masih tinggi dan mengakibatkan kematian. Kalau diare sampai mengakibatkan meninggal, itu satu hal yang blunder.

Apakah blunder itu dari individu atau masyarakat?

Ya dari individu, tapi itu tentu karena individunya tidak dimampukan untuk hidup sehat. Mereka tidak berobat cepat sehingga meninggal, atau juga karena tidak tahu padahal musibah itu mudah dihindari.

Bagaimana cara menghindarinya?

Kejadian-kejadian seperti itu semestinya tidak perlu terjadi jika ada penyuluhan. Kondisi masyarakat Indonesia ini boleh dikatakan dari 16% yang miskin mungkin separuhnya tidak menguasai atau tidak cerdas mengenai cara hidup sehat. Arti hidup sehat itu sederhana yaitu perilaku seseorang memilih makanan, menjaga, dan merawat tubuhnya, antara lain juga mencuci tangan. Di situ kuncinya.

Mengapa cuci tangan bisa menjadi masalah? Apa itu bisa mempunyai akibat yang lebih besar pada kesehatan?

Ya. Saya menghitung ada lebih dari 20 penyakit yang timbul akibat tidak cuci tangan.

Dokter, tolong sebutkan beberapa penyakit akibat tidak cuci tangan tersebut?

Misalnya, penyakit yang ditimbulkan oleh adanya transmisi kotoran, dalam istilah medis disebut fecal oral. fecal dari kotoran dan tinja itu mencemari minuman yang tidak dimasak atau tangan sendiri yang kotor.

Apakah itu barangkali hanya berlaku untuk orang yang senang memegang-megang tinja?

Tidak, tidak. Artinya, ini secara tidak langsung mencemari air minum, air dapur, air sungai. Ini E. Coli Pathogen.

Apa itu E.Coli?

Kuman coli pathogen. Kalau air tidak dimasak akan menjadi pathogen sehingga menimbulkan diare, typhoid, disentri, hepatitis A, tifus. Jadi semua penyakit-penyakit itu gara-gara sekadar tidak cuci tangan. Kalaupun cuci tangan hanya sekadar basah.

Maksudnya sekadar basah itu seperti cuci tangan di restoran yang hanya dikasih kobokan. Apakah itu hal kurang bagus?

Iya. Itu sebetulnya tidak higienis. Yang higienis adalah caranya. Sistematikanya itu diajarkan pada waktu sekolah.

Bagaimana kalau tissue basah?

Nah itu yang tidak betul juga. Itu mengembalikan kuman bolak-balik di situ.

Sejauh mana guru di sekolah, misalnya sekolah dasar sampai menengah, bisa mempromosikan kebiasaan cuci tangan yang sehat? Apa itu hanya terbatas pada pelajaran kesehatan?

Pengalaman saya sewaktu dulu bertugas di Puskesmas membentuk Dokter Kecil. Program Dokter Kecil berjalan, artinya mereka sebagai agen pengubah pada teman-temannya, adik kelasnya, atau kakak kelasnya. Dengan adanya Dokter Kecil maka perilaku sehat dibentuk. Bagaimana cuci tangan, bagaimana rumah yang sehat, lantai yang bersih, makanan yang sehat.

Saya ingin fokus pada cuci tangan karena itu kelihatannya kegiatan sehari-hari. Tapi saya mulai menangkap bahwa ada cara benar dan ada cara yang salah dalam mencuci tangan. Bagaimana cara cuci tangan yang benar dan berapa seringnya?

Sebetulnya setiap sebelum memegang sesuatu dan setiap setelah menyentuh sesuatu yang sifatnya publik seperti tombol lift, telepon umum, pegangan pintu kamar praktek dokter, microphone. Semua yang milik publik berpotensi untuk menularkan bibit penyakit. Artinya setiap setelah menyentuh sesuatu yang sifatnya publik maka wajib cuci tangan karena di sana tempat penularannya. Kita ingat di negara-negara maju sewaktu musim SARS, mereka melakukan setiap beberapa menit melap telepon umum, pegangan pintu, karena memang harus seperti itu.

Tadi katanya jangan cuci tangan di kobokan. Apakah itu maksudnya kita harus cuci tangan dengan air yang mengalir?

Iya, dengan air mengalir. Artinya kita memindahkan bibit penyakit itu dari permukaan tubuh kita mengalir ke luar. Kalau kobokan berarti bolak-balik kumannya ada di situ.

Bagaimanapun kemiskinan menjadi faktor kendala. Orang miskin kemungkinan tidak punya keran di rumah. Lalu bagaimana kalau tidak punya keran?

Ini menjadi masalah, air juga susah. Imam Prasodjo (pakar sosiologi Red) pernah mengatakan kita bicara tangan harus bersih tapi kalau fasilitas untuk cuci tangan saja tidak ada maka akan susah. Itu harus dibarengi dengan fasilitas adanya air yang mengalir.

Apakah mencuci tangan cukup dengan air saja atau harus dengan sabun atau obat keras?

Cuci tangan harus dengan sabun

Apa macam sabunnya?

Macam-macam terutama yang ada antiseptic. Artinya, anti pembunuh kuman.

Apakah sabun yang ada di pasaran seperti Lifebuoy bisa?

Ya, tentu bisa. Selain secara mekanis, juga secara kimiawi artinya zat yang terkandung di dalam sabun itu yang mengenyahkan kuman yang mungkin sudah melekat di kuku. Salah satu pendidikan praktis sebetulnya bagaimana meyakinkan publik atau awam bahwa kalau kuku itu kita periksa sebetulnya ada ribuan atau ratusan ribu kuman. Sewaktu pendidikan dokter kecil, kita membuat satu peragaan melihat satu kuku dengan mikroskop. Ternyata di kuku itu ada ribuan kuman.

Apakah kuman-kuman itu kalau dicuci dengan sabun bisa hilang?

Paling tidak dia hanyut secara mekanis terbawa air. Syukur-syukur kuman itu punah atau mati.

Jadi bukan soal imunisasi badan tapi soal mengenyahkan. Ini bukan urusan pemerintah saja. Apa yang orang bisa lakukan dalam hal ini dimana kemampuan pemerintah itu kurang?

Sebetulnya penyuluhan dari pemerintah. Jadi masyarakat yang dulunya tidak dididik hidup sehat, mereka mendapatkannya dari penyuluhan. Salah satu program pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) yang masih berlaku sampai sekarang adalah penyuluhan. Namun tenaga penyuluhan terus terang kurang. Masalah yang terjadi sekarang bahwa Puskesmas terus menerus mengobati saja korban dari ketidakbersihan atau korban dari tidak cuci tangan.

Orang bilang itu ada dikotomi. Di satu pihak orang sibuk menyembuhkan penyakit tapi penghindarannya kurang. Menurut Anda, apakah itu bisa berjalan bersamaan?

Nampaknya begitu. Kalau kita memberikan ikan terus maka tentu anggaran negara akan habis. Saya melihat anggaran pemerintah dalam bidang kesehatan yang sangat kecil itu habis untuk belanja obat. Obat untuk mengobati akibat ketidaktahuan. Semestinya yang diobati itu ketidaktahuannya melalui sosialisasi dan pendidikan.

Apakah itu terutama lewat sekolah atau ada jalur lain selain sekolah formal?

Ya, yang selama ini bisa tercakup banyak adalah anak didik. Jadi pendidikan kesehatan di sekolah itu yang sebenarnya sangat mencakup luas. Jadi pembekalan dan penciptaan perilaku sehat itu dilakukan dalam pendidikan kesehatan sekolah.

Apakah ketidaktahuan itu lebih banyak terjadi pada anak-anak atau juga orangtua?

Anak-anak itu akan menjadi masyarakat. Kelak setelah mereka menjadi masyarakat maka mereka juga menjadi beban pemerintah karena ketidaktahuan itu.

Ada data bahwa di Indonesia sabun itu ada di mana-mana. Istilah pasarnya penetrasi sabun sudah hampir 100% dan sudah masuk desa. Tapi banyak yang tidak tahu cara mencuci tangan dengan baik. Bagaimana bisa salah cuci tangan?

Karena harus diajarkan dan dipraktekkan.

Saya takut salah mengenai ini. Misalnya, ini ada sabun dan air lalu saya mengambil sabun dan digosok-gosok ditaruh di bawah air. Bagaimana mungkin salah cara sederhana itu?

Itu karena tidak semua tercover dari permukaan tangan ini. Ada bagian-bagian yang tidak terkena. Misalnya, bagian di belakang jempol merupakan bagian yang paling sering tidak tersentuh.

Jadi jangan terburu-buru dalam mencuci tangan, dan mencuci tangan yang lama juga tidak apa-apa.

Persis. Sistematikanya adalah seluruh permukaan kulit tangan ini terkena oleh sabun.

Cucilah tangan dengan sabun. Itu adalah pesan sederhana yang kadang-kadang kita lupa. Jadi cucilah tangan dengan air yang mengalir, pakai sabun dan setiap inchi atau sentimeter dari setiap permukaan tangan dicuci. Apakah kalau kita makan di restauran mungkin lebih baik pakai sendok?

Ya, itu tentu lebih aman, tapi budaya kita membuat tetap adanya risiko.

Kalau dikatakan pemerintah belum melakukannya mungkin tidak sepenuhnya benar karena saya melihat beberapa lalu dan sampai sekarang ada gerakan mencuci tangan dengan sabun dari pemerintah. Pihak swasta juga seperti sabun Lifebuoy membuat satu kampanye ke sekolah-sekolah, ke guru-guru untuk mencuci tangan dengan sabun. Menurut dokter, apakah kita ini sudah berjalan di jalur yang benar atau masih kurang cepat?

Ini saya pikir pemulihan saja, tapi sumbernya bahwa pada anak-anak harus ditanamkan perilaku sehat mencuci tangan harus terus menerus diberikan. Kalau tidak nanti ada bolong-bolong terus dalam masyarakat. Jadi artinya dokter kecil harus kembali digiatkan karena kita melihat dalam Indonesia Sehat 2010 program usaha kesehatan sekolah juga ditekankan. Memampukan masyarakat artinya masyarakat sekolah juga supaya mereka berperilaku sehat dan salah satunya adalah bagaimana mencuci tangan yang baik dan benar.

Menurut dokter, apakah mencuci tangan memang bagian dari budaya kita atau harus diintroduksi?

Ada pemeo bahwa tingkat kesehatan berkorelasi dengan pendidikan. Kalau pendidikannya kurang maka tingkat kesehatannya juga kurang.

Sebagai dokter yang tentunya mengamati seluruh spektrum penyakit dan kesehatan, apakah penyuluhan cuci tangan dengan sabun ini memang prioritas dibandingkan dengan kampanye kesehatan melawan penyakit-penyakit yang lebih dramatis itu?

Ya, ini terlihat dari penyakit dominasi rakyat kita adalah diare. Kalau kita melihat sampai tahun ini penderita diare 300 per 1.000 orang, ini angka yang sangat tinggi. Angka 300 penderita diare dari 1.000 populasi masih belum berubah kalau saya melihat kasus di Kalimantan Selatan dalam dua bulan terakhir ini ada 430 angka kejadian diare. Itu di satu desa yang kecil. Jadi kita bisa bayangkan angka diare untuk di seluruh Indonesia. Karena itu obat-obatan anti diare laku keras.

Apakah diare itu karena E.coli tadi sebagai akibat ketidakbersihan? Apakah kalau orang sudah cuci tangan bersih maka kemungkinan diarenya sudah turun secara drastis?

Faktor lain ada, seperti air yang dikonsumsi harus direbus juga. Tapi kalau cuci tangan sudah benar maka angka diare turun.

Apakah angka diare kita turun atau naik selama ini?

Mestinya turun. Tapi yang kita alami stagnan. Jadi sejak lima tahun yang lalu tetap tiga ratusan penderita diare. Ini angka nasional. Jadi segment penduduk yang berbeda-beda bisa punya angka yang berbeda-beda. Pada tahun 2010 ditargetkan menjadi 110 per 1.000 populasi. Jadi nanti ditargetkan sudah menurun sampai sepertiganya.

Indonesia sehat 2010 dicanangkan pada tahun 1999. Sekarang sudah lewat dari setengahnya. Menurut dokter, apakah itu sudah tercapai lebih dari setengahnya?

Saya kira belum. Karena itu ada gerakan yang disebut Desa Siaga. Mungkin Depkes sudah meluncurkan seperti itu dan kelihatannya target hari kesehatan nasional ke sana. Desa siaga yaitu desa yang masyarakatnya dimampukan untuk hidup sehat, punya fasilitas yang minimal Puskesmas di tingkat kecamatan, puskesmas pembantu, dan kegiatan kader pos pelayanan terpadu (Pos Yandu) digalakkan kembali.

Apakah pernah ada usaha untuk menyelipkan tema itu ke dalam pesan-pesan masyarakat seperti sinetron, film, dan iklan?

Saya tidak melihatnya karena itu tidak bisa dijual, barangkali kurang menjual.

Apa perlu ada role model?

Saya rasa perlu begitu karena mencuci tangan yang benar itu memang harus diperagakan. Tidak bisa hanya kita bicarakan saja karena mungkin mereka tetap keliru. Di Amerika pun sampai saat ini cuci tangan dan kebersihan tangan juga masih bermasalah. Hal lain barangkali setelah mencuci tangan kita memakai serbet yang juga kotor, serbet yang sudah sekian hari tidak dicuci. Jadi setelah bersih kita memengang kembali kuman. Maka di Amerika tidak lagi dipakai serbet, pakai tissue saja.

Karena dokter bukan guru sekolah, apa forum apa yang paling berguna untuk mensosialisasikan ide-ide ini?

Ya, saya rasa seperti Bung Wimar katakan bahwa televisi itu sangat efektif. Perlu ada sisipan yang memperagakan cuci tangan dengan benar, cukup satu gambar tetapi benar. Saya rasa itu cukup efektif sekali.

Apakah ini hanya masalah Indonesia saja dan bagaimana gambaran di negara lain?

Saya rasa sama. Ini masalah global, masalah yang sama kalau masyarakat miskin, fasilitas kurang.

Apakah ada satu kebijakan umum atau besar untuk membuat orang lebih sadar cuci tangan pakai sabun? Apakah ada gerakan seperti itu sekarang? Apakah ada kampanye masyarakat?

Saya rasa tidak ada, kecuali dari perusahaan yang memang mempunyai kepentingan dan produk. Kegiatan seperti itu yang mesti digencarkan dan disebarluaskan.