Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Budi Putra

Blog Berdampak Dahsyat 

Edisi 553 | 16 Okt 2006 | Cetak Artikel Ini

Pembaca Perspektif Baru di manapun Anda berada, saya Wimar Witoelar berjumpa kembali dengan Anda. Di sini jujur saja, saya sangat excited karena ada tamu yang sangat exciting, yaitu Budi Putra. Menurut saya, dia adalah orang nomor satu atau nomor dua dalam dunia internet, khususnya blogging, di Indonesia. Budi Putra adalah redaktur informasi teknologi (IT) di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Dia juga penulis kolom di blog CNET Asia.

Budi Putra menyarankan kita untuk mulailah dari sekarang nge-blog. Blog adalah satu tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri. Blog mendorong semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis tentang tips-tips kesehatan. Jadi kemampuan menulis adalah suatu sarana yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari semua itu.

Berikut wawancara Wimar Witoelar dengan Budi Putra.

Beberapa bulan yang lalu, Koran Tempo tempat Budi Putra berpangkal menerbitkan suatu tulisan khusus enam halaman mengenai pertumbuhan blog di Indonesia dengan satu langkah yang berani yaitu mengumukan 10 blog pilihan. Jadi bukan terbaik, bukan atas dasar ranking, tapi pilihan yang menurut Budi Putra menarik untuk dilihat. Kami sangat beruntung karena Perspektif Online, yaitu www.perspektif.net masuk 10 pilihan tersebut. Perspektif Online adalah saudaranya website Perspektif Baru, www.perspektifbaru.com

Kemudian kami bertemu di suatu acara di TV swasta mengenai blog. Ini pertama kali blog mendapat perhatian khusus untuk dibicarakan. Jadi jelas ini suatu fenomena nyata dari blog. Kini, apa saja pekerjaan yang Anda anggap paling mendefinisikan keberadaan Anda di dunia blog?

Sekarang sehari-hari bekerja sebagai Redaktur Rubrik Teknologi di Koran Tempo dan Content Manager di Tempo Interaktif. Jadi pekerjaan saya sehari-hari lebih banyak berurusan dengan media online. Yang paling utama kegiatan saya sebetulnya adalah menulis. Setiap minggu saya menulis kolom digital di Koran Tempo. Nama rubriknya E-Culture. Kemudian saya juga menulis kolom di blog-nya CNET Asia. CNET Asia adalah portal informasi teknologi (IT) yang cukup berpengaruh di Asia. Saya menulis artikel teknologi juga di Jakarta Post dan ada beberapa kontribusi saya lainnya di sejumlah media online yang cukup panjang kalau diceritakan satu per satu. Tetapi saya sendiri ingin memprioritaskan atau mendefinisikan diri sebagai wartawan, penulis, dan blogger.

Terkait banyak sekali kemampuan Anda, di sini kita ingin bicara yang ada dalam kemampuan pembaca. Bukan hal-hal seluk beluk yang terlalu teknis mengenai internet atau struktur suatu blog. Sebetulnya di mana kegunaan blog sekarang, sewaktu acara TV Anda menyatakan blog itu akan membantu jurnalisme masyarakat, apakah Anda bisa elaborasi mengenai hal itu?

Ada suatu hal yang selama ini menjadi persoalan dalam jurnalistik secara umum. Selama ini kita mengenal ada istilah mainstream media seperti media cetak dan media elektronik yang sudah ada. Namun pada tingkat tertentu mainstream media ini tidak bisa memenuhi kebutuhan masyarakat karena ada alasan tertentu. Ada alasan-alasan seperti keterbatasan space, kepentingan industri, bisnis, dan sebagainya. Jadi banyak persoalan masyarakat, persoalan publik, tidak terakomodasi dengan baik di media utama. Lalu munculah media blog, dimana internet dijadikan salah satu tempat untuk menginformasikan hal-hal yang sedang terjadi di kalangan masyarakat. Nah, yang menarik adalah yang melaporkan ini tidak lagi wartawan sebuah media tetapi masyarakat itu sendiri. Dia bisa menulis, melakukan laporan pengamatan, dan tak jarang tulisan-tulisan itu atau laporan-laporan itu juga mempunyai rujukan yang sangat kuat. Nah, pada titik ini menurut saya blog sudah menjadi garda depan dari citizen journalism. Blog sudah mulai berhadapan dengan media-media utama. Contoh yang paling bagus adalah ketika kantor berita Associated Press (AP) bekerja sama dengan Technorati (mesin pencari blog, direktori blog terbesar saat ini, beralamat di www.technocrati.com) untuk menyerap atau melakukan feed (Feed atau RSS Feed adalah untuk tujuan sindikasi kandungan situs, berita yang ada di situs/blog, dll.
Sindikasi di sini maksudnya, sebuah situs yg memiliki RSS Feed dapat kita baca isinya tanpa harus datang ke website tsb). terhadap blog-blog terbaru yang terkait dengan berita-berita utama. Jadi seluruh koran di dunia yang berlangganan AP ketika menayangkan berita terbaru, misalnya soal Irak di edisi online, ada satu box bahwa ini dari Blogosphere. Jadi itu luar biasa dan ini juga menunjukkan betapa blog sudah mulai didengar.

Jadi blog sudah menjadi sumber untuk mainstream media?

Sudah menjadi sumber. Pada tingkat tertentu juga menjadi pendukung yang utama sekali karena orang mulai mengacu pada blog. Ini dianggap sebuah laporan-laporan spontan yang relatif, dan bisa saja subjektif berdasarkan laporannya. Tapi orang melihat ada warna-warna yang ternyata tidak terlihat di media utama.

Mungkin ada pembaca yang mengatakan tunggu dulu, apa sih blog itu? Jadi barangkali kita mundur sedikit, apa itu blog dan apa bedanya dari website atau situs pada umumnya?

Blog sebenarnya sebuah website juga. Website seperti kita ketahui adalah satu lembaran informasi yang ada di internet. Jadi ketika kita masuk ke internet, misalnya membaca berita Tempo atau salah satu informasi departemen pemerintah atau perusahaan, itu yang kita sebut dengan Website. Nah, weblog atau blog adalah versi mutakhir dari Web. Disebut mutakhir karena di weblog kita bisa berkomunikasi, berdialog dengan orang yang memiliki blog. Kalau dulu, web itu hanya sebagai sebuah katakanlah pustaka, sekumpulan arsip. Tapi blog jauh lebih maju, ada dialog di situ. Jadi ketika masuk ke blog seseorang, kita bisa bertanya, berkomentar, dan pemilik blog akan menjawab sendiri. Jadi ini katakanlah catatan harian, diary online yang kita pajang agar dibaca oleh semua orang.

Ya, kalau dulu koran kita baca dan kita bisa sangat intensif membaca, tapi tidak pernah kita mimpi untuk berhubungan dengan redaktur koran itu ya.

Iya, jaraknya jauh sekali.

Jauh sekali. Sekarang di Amerika sudah bisa yach. Mungkin bukan dengan redakturnya tapi lebih penting dengan wartawannya, korespondennya, kolumnisnya. Apakah itu juga mulai terjadi di Indonesia? Bagaimana dengan di Tempo sendiri?

Di beberapa media utama di Indonesia, blog sudah mulai diakomodasi tetapi memang belum seperti yang terjadi di luar negeri. Blog baru pada tingkat, misalnya, memberi tempat pada pemberitaan mengenai blog, memberi tempat pada blogger-blogger juga untuk menulis di situ, namun saya yakin Indonesia cepat atau lambat harus mulai melihat blog ini sebagai salah satu sumber atau pendukung dalam berita atau headlines di surat kabar atau media cetak lainnya.

Orang mengatakan blog membuat setiap orang bisa menjadi wartawan. Betulkah begitu?

Iya, dan setiap orang bisa menjadi redaktur juga.

Jadi redaktur sekalian asal dia bisa nge-blog yach. Di kalangan pembaca mungkin sudah ada yang rajin nge-blog dan ada yang belum. Bagi yang belum nge-blog mungkin berpikir bahwa gampang saja bicara, kan susah nge-blog itu. Coba berikan gambaran mengenai susah-mudahnya membuat blog.

Saya punya semboyan atau slogan yaitu nge-blog itu gampang, berhentinya yang susah.

Sangat betul. Saya tidak bisa tidur tadi malam, nge-blog sampai pukul dua pagi.

Karena itu ketika orang sudah mulai nge-blog, dia sudah mulai tahu bahwa ini ada sesuatu yang bisa kita kerjakan dan bisa bermanfaat bagi banyak orang. Nah pada tingkat itu kita merasa ternyata kita bisa berkontribusi dengan cara kita sendiri. Nah blog adalah satu tempat yang sangat luar biasa untuk kita mengekspresikan diri untuk membantu, berkontribusi sesuai keahlian, atau minat kita. Jadi menurut saya, nge-blog di luar soal-soal teknis itu sangat mudah karena yang paling utama dari blog adalah bagaimana kita mengekspresikan diri dan itu dengan cara menulis. Blog sebetulnya adalah sebuah media yang mendorong semua orang agar bisa menulis. Kemampuan menulis tidak hanya dimiliki oleh wartawan atau penulis buku. Melalui blog, seorang ibu rumah tangga juga bisa membuat diary seperti mengenai resep masakan saja. Seorang atlet bisa menulis tentang tips-tips kesehatan. Jadi kemampuan menulis adalah suatu alat yang membuat kita makin lebih menguasai sesuatu yang sudah kita baca dan amati. Nah, blog merupakan muara dari semua itu.

Saya melihat kita juga lambat laun lebih asyik membaca tulisan seorang ibu mengenai anaknya, atau seorang kakak mengenai adiknya, seorang pacar mengenai calonnya yang tidak kunjung muncul, daripada membaca laporan-laporan yang kering. Mungkin itu yang menjadi dasar popularitas blog.

Ya, human interest. Di blog kita menemukan human interest yang luar biasa. Kalau di media seperti koran atau majalah, kita sering tertarik membaca feature. Tapi karena space-nya terbatas kadang-kadang cuma sedikit. Tapi ternyata di blog luar biasa, kita bisa menemukan banyak sekali hal-hal yang menarik. Dalam ilmu atau praktik jurnalistik, misalnya, ketika sebuah kecelakaan terjadi dan ada 50 orang yang meninggal sering dikatakan itu statistik. Tapi ada seorang bapak yang sedang mencari uang untuk anaknya yang sakit juga meninggal dalam peristiwa itu disebut dengan tragis. Nah, yang tragisnya seperti ini biasanya jarang diceritakan karena media-media utama tidak terlalu tertarik sama orang-orang biasa. Saya sering menemukan kisah-kisah seperti ini di-blog. Itu yang membuat kita merasa blog itu adalah suatu jurnalistik yang dikerjakan oleh publik, tapi juga untuk publik itu sendiri. Nah, ini merupakan sebuah tantangan besar juga bagi media utama yaitu bagaimana menyajikan berita, tulisan yang tidak hanya sesuai dengan selera redakturnya tapi juga dengan selera pembacanya. Kalau tidak sesuai dengan selera pembaca tentu saja tidak dibaca.

Anda sudah lama di dunia blog atau internet dan juga sudah lama di dunia media utama yaitu media cetak malah di majalah Tempo . Bagaimana urutan kejadiannya?

Bicara mengenai media cetak, mainstream, ada perkembangan yang sangat menarik untuk kita simak. Pada gilirannya, media cetak itu tidak akan lagi menjadi suatu yang menguntungkan karena ada persoalan kertas, jangkauan sirkulasi, distribusi yang luar biasa mahal. Setiap koran atau majalah yang dicetak sampai sekarang masih disubsidi oleh pemiliknya. Kalau tidak, harganya mahal sekali. Nah ketika masalah ini terjadi dan juga dikaitkan dengan masalah lingkungan karena pohonnya banyak ditebang, tiba-tiba internet muncul pada pertengahan 1990-an dan orang mulai melihat ini sebuah media yang suatu saat akan menggantikan surat kabar atau majalah. Mungkin dalam 10 - 20 tahun yang akan datang, majalah atau koran masih akan tetap ada, belum akan tergantikan. Tapi penggunaan kertas akan makin berkurang karena orang sudah mulai melihat ada media lain yang sangat efisien tapi jangkauannya sangat luas yaitu internet. Salah satu model yang digunakan di internet adalah website. Banyak sekali portal-portal berita, situs-situs yang kualitasnya tak kalah bagus dibanding media-media utama. Bayangkan, misalnya, kalau yang membaca Koran Tempo misalnya 500.000, tapi kalau yang membaca blognya Pak Wimar bisa jutaan.

Koran tidak akan bisa menyaingi media online karena sifatnya yang sangat luas, aksesnya gampang. Yang paling inti dari jurnalistik adalah menyampaikan pesan. Kalau pesan itu bisa sampai secara luas di sebuah media disebut media online, mengapa tidak. Di saat perkembangan media online sudah sangat bagus, di luar dugaan muncul yang namanya blog. Ini sesuatu yang sangat di luar dugaan.

Apakah sangat beda antara blog dan media online yang generasi pertama?

Beda sekali. Misalnya, dalam sisi kita sebagai wartawan saja, kalau Anda ingin menjadi wartawan di New York Times maka luar biasa perjalanannya dan akan susah sekali. Harus tamat di sekolah tertentu, harus mempunyai suatu pengalman, dan kemudian melamar untuk syukur-syukur bisa diterima. Artinya, untuk menjadi wartawan yang kaliber internasional, hanya sedikit sekali orang bisa tampil di situ. Tapi dengan blog, Anda bisa menjadi laris. Kalau Anda membuat blog sendiri, bisa menulis dengan bagus yang dalam konteks ini menulis bahasa Inggris, mempunyai rujukan, dan ada juga hasil investigasi, maka blog Anda layak dikutip atau layak berhadapan dengan New York Times sekalipun.

Kalau bisa menulis dalam bahasa Inggris mengenai Indonesia seperti yang Anda lakukan di CNET Asia, apakah karena itu Anda jadi semangat untuk menulis untuk media internasional?

Saya sama sekali tidak pernah atau jarang menulis dalam bahasa Inggris sebelum saya ketemu blog. Jadi blog memaksa saya harus menulis dalam bahasa Inggris. Salah satu alasannya itu sebetulnya itu kebutuhan saja. Blog saya tentang teknologi yang berbahasa Indonesia memang saya tujukan untuk teman-teman di Indonesia supaya mereka lebih tertarik. Tapi ternyata banyak sekali pembaca blog saya yang bertanya, "Saya tidak mengerti ini karena Anda menulisnya memakai bahasa Indonesia." Jadi untuk melayani ini, saya juga menulisnya dalam bahasa Inggris. Ada dua blog saya yang berbahasa Inggris. Itu hanya sekadar saja sebetulnya, tapi ternyata ada yang mengapresiasi ini. Tiga bulan yang lalu saya dikontak oleh pemimpin redaksi CNET Asia menawarkan saya untuk menulis di blog CNET Asia tentang IT Indonesia. Alasan dia sangat jelas waktu itu yaitu, "Karena Anda wartawan, penulis, dan juga blogger." Jadi ternyata Blogger ini yang membuat mereka menawarkan saya. Ada banyak wartawan IT di Indonesia, penulis IT juga banyak, tapi yang nge-blog sangat sedikit. Saya beruntung menjadi satu dari yang sedikit itu. Akhirnya saya mulai menulis itu.

Saya pikir bahasa itu tergantung pemakaiannya. Misalnya, ada orang tidak bisa bahasa Inggris sama sekali tapi bisa bernyanyi bahasa Inggris. Jadi kepada para pendengar, saya kira jangan mencari keterbatasan dulu, cari kesempatannya. Di blog itu kesempatannya banyak. Menurut Anda, apa yang pertama harus dilakukan oleh orang yang belum ngeblog untuk mulai ngeblog?

Pertama, memang harus nge-blog dulu. Mulailah ngeblog. Tadi saya juga sempat berdiskusi dengan teman-teman di Yayasan Persepektif Baru, jangan kita terlalu repot dengan topiknya. Mulailah dari diary online sehari-hari kita. Misalnya, tadi sewaktu kemacetan lalu lintas, apa yang kita rasakan dan lihat tulislah. Jadi dari hal-hal yang kecil dulu. Itu nanti akan berkembang. Artinya, kita nanti punya satu-dua blog. Satu blog mungkin buat keluarga, satu lagi buat reuni sekolah, satu lagi mungkin untuk komunitas. Mungkin kita perlu satu lagi yang agak serius, yang agak spesifik tentang topik yang kita minati, misalnya kuliner, tapi itu digarap serius. Ada teman saya jago komik, dia menulis anime dan manga, tapi dia tahu persis semuanya. Jadi saat ada komik yang baru, dia langsung posting. Jadi kita tidak perlu harus yang berat-berat saja seperti tentang politik, pemikiran kebudayaan.

Topik mengenai itu terlalu banyak juga.

Iya, terlalu banyak juga. Kita bikin yang unik-unik saja. Misalnya, tentang Formula 1, atau tentang hobi kita mengumpulkan sesuatu seperti sepeda motor atau sepatu. Yang penting kita ahli di situ karena itu akan membuat kita pasti akan nongkrongin topik itu. Kita akan browsing, kita akan searching. Kadang-kadang posting itu ibarat kita mem-bookmark. Kalau kita menemukan informasi yang dicari, ada yang tidak perlu kita tulis panjang. Yang penting ada perhatian kita terhadap suatu topik, kita taruh di blog, kita komentari sedikit, kita jadikan itu bookmark, kita cantumkan link-nya, dengan harapan itu menjadi arsip bagi kita secara pribadi dan orang lain. Jadi manfaatnya sangat besar.

Saya ingin mendengar dari Anda langung, bagaimana sewaktu Anda menentukan 10 blog pilihan di Tempo? Bukan secara resmi, tapi apa ukurannya?

Ukurannya, pertama, kita memang akan memilih dari berbagai bidang. Katakanlah politik, ekonomi, ada dari sisi umum, ada topik yang lebih spesifik misalnya bursa saham. Tetapi saya pertama memilihnya lebih kepada secara acak. Saya wawancara dengan beberapa blogger di luar tapi saya tidak mengatakan ini buat dipilih. Saya mau tanya saja seperti apa yang paling sering Anda baca kalau mengenai teknologi? Dia menjawab Budi Raharjo. Kalau yang agak-agak umum, yang berisi banyak link? Oh itu Enda Nasution. Tapi kalau yang berisi wawancara mendalam membaca Perspektif.

Dari semua yang ditanyakan, saya kira-kira mendapatkan 50-75. Dari situ saya baru buka. Nah untuk membuka itu, menilai satu per satu. Saya mempunyai beberapa kriteria. Pertama, memang jelas sudah lebih dari enam bulan. Kalau masih baru agak susah melihat efeknya. Kedua, dia menggunakan logika blogging. Artinya, ada tersedia ruang comment, pemilihan entry-nya khas, arsipnya jelas, dan navigasi-navigasinya juga tidak membingungkan. Ada juga etikanya, misal, rujukan dan link-nya akurat kalau dia mengutip. Jadi ada beberapa kriteria tehnis. Ada juga kriteria umum. Saya melihat berapa google page rank-nya? Google page rank ini adalah suatu ranking di mana suatu situs bisa ditentukan dari seberapa banyak diakses, seberapa banyak link ke situs lain, sehingga lalu lintas itu dicatat oleh google dan disebut dengan google page rank, rankingnya dari 0-10. Perspektif mendapat page rank enam. Itu termasuk yang paling tinggi di Indonesia.

Oh, saya baru dengar itu. Terima kasih. Webmaster saya akan senang sekali dengan ini.

Terus satu lagi, Technorati. Technorati adalah ranking, mesin pencari blog yang hanya melihat seberapa banyak suatu blog di-link. Dari sekian tema itu, saya melihatnya lalu saya memilih menjadi 20 blog. Dari 20 akhirnya 10 blog dan salah satunya Perspektif. Satu hal yang membuat Perspektif masuk 10 pilihan itu juga istimewa karena yang paling awal, sudah sejak 1996. Walaupun tidak menggunakan software blog pada awalnya.

Jadi yang pertama, dan harus sabar 10 tahun baru diakui.

Iya. Dan saya juga harus sabar 10 tahun baru diwawancarai di sini. Walaupun tidak menggunakan software blog pada awalnya, tapi prinsipnya sudah blog. Sudah ada comment, entry-nya terbuka, dan segala macam. Makanya saya sering mengatakan blog itu harus kita lihat dari content. Jangan dari software atau dari teknologinya sebab teknologinya bisa berubah. Mungkin blog nanti namanya tidak lagi blog tapi prinsipnya adalah kebebasan berekspresi, atau seperti kata Pak Wimar dulu bahwa orang akan tetap mengungkapkan pendapatnya, orang akan tetap berbicara. Itu tidak akan pernah berhenti. Saya ingin memberikan satu kalimat penutup, "Masa depan internet itu ada di blog, dan masa depan blog ada di content (pada isinya). Content hanya bisa dikuasai oleh orang yang terbiasa membaca, menulis, dan berdiskusi." Seperti kita berdiskusi dalam acara Perspektif sekarang.