Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Lim Wen Sin

Penyelamatan Burung Elang

Edisi 512 | 30 Des 2005 | Cetak Artikel Ini

Perspektif Baru kali ini menghadirkan tamu seorang yang cukup lama aktif mengamati burung, Lim Wen Sin. Dari namanya Anda sudah dapat menduga tamu kita ini keturunan Tionghoa.  Bukan itu yang paling penting, tapi pekerjaannya sekarang yang mungkin kita abaikan selama ini adalah sesuatu yang penting dalam kehidupan umat manusia.
Saat generasinya lebih cenderung mengerjakan suatu bisnis, Lim Wen Sin lebih memilih kegiatan di tengah hutan dan jauh dari keramaian yaitu mengamati dan penyelamatan burung elang khususnya Elang Jawa. Pekerjaan yang sering dianggap kurang kerjaan. 
Menurut Lim Wen Sin, dia melakukan kegiatan tersebut karena elang berada di paling ujung rantai makanan. Jadi kalau menyelamatkan satu ekor elang saja berarti kita harus menyelamatkan yang di bawahnya. Mulai dari sumber makanan dan tempat makanannya. Jadi memilih burung pemangsa elang karena mamayungi banyak spesies. Selain itu, dengan mengetahui luas jelajah burung elang maka dapat mengetahui luas hutan yang harus diselamatkan sebagai tempatnya untuk mencari makan.
Saat ini Indonesia termasuk sedikit jumlah burung pemangsanya. Untuk itu Lim Wen Sin meminta semua pihak membantu penyelamatkan elang minimal cukup dengan tidak membelinya karena itu paling tidak memutuskan tali perdagangannya. Berikut percakapan Lim Wen Sin dengan Faisol Riza dari Perspektif Baru di Yogyakarta belum lama ini bersamaan perkenalan buku Perspektif Baru Melebarkan Sayap.

Bung Lim, kini Anda bekerja dalam jaringan Raptor Indonesia (Rain). Apa itu Rain dan kaitannya dengan aktifitas Anda selama ini ?

Pada 1999 dibentuk sebuah kelompok kerja penyelamatan Elang Jawa. Kemudian dalam perjalanannya tumbuh sedikit kesadaraan dari teman-teman, kebetulan saya belum masuk pada waktu itu, mengapa harus Elang Jawa diselamatkan sedangkan elang lain tidak. Padahal elang lain jumlahnya banyak sehingga itu lebih penting. Akhirnya dibentuklah Raptor Indonesia yang tidak hanya mengurusi Elang Jawa.

 

Di mana saja jaringannya atau kerja samanya selama ini?

Kalau untuk regional, paling tidak untuk di Asia dan Eropa kita sudah mempunyai link ke sana dan baru-baru ini sampai ke Amerika untuk jaringan informasinya. Kalau untuk lingkup kita sendiri baru di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali.

 

Anda tadi menyebut penyelamatan dan tentu saja ini bukan sesuatu yang sederhana. Mengapa harus diselamatkan? Apakah ada sesuatu yang terjadi terutama pada Elang Jawa yang Anda sebut tadi?

Kalau kita lihat dari segi rantai makanan seperti pelajaran dulu di SD sampai SMP, elang berada di paling ujung. Elang adalah pemakan yang paling ujung setelah itu baru terurai kembali. Kalau kita menyelamatkan satu ekor elang saja berarti kita harus menyelamatkan yang di bawahnya. Mulai dari sumber makanan dan tempat makanannya. Piringnya pun harus disiapkan. Jadi  kita memilih burung pemangsa elang karena dia mamayungi banyak spesies.

 

Apakah juga jumlahnya tinggal sedikit sehingga harus diselamatkan?

Iya, salah satunya karena jumlahnya tinggal sedikit. Mungkin jumlah burung pemangsa di Indonesia yang paling parah. Itu berdasarkan survei yang saya lupa tahunnya. Tapi di buku ekologi Jawa-Bali pernah disebutkan bahwa dari sekian ratus kilo meter, seorang peneliti hanya menemukan lima ekor di jalan raya. Sedangkan di beberapa negara ketika kita menelusuri jalan raya akan menemukan lebih dari lima ekor.

 

Di sini cuma lima ekor. Apa penyebabnya? Apakah itu karena lebih banyak karena diburu atau mungkin secara ekosistem juga tidak mendukung lagi untuk pembiakan elang?

Kalau khusus di Jawa juga karena kondisi ekosistem. Tapi sumbangan terbesar bagi turunnya populasi elang karena perburuan. Itu cukup menarik karena di negara lain bukan karena itu.

 

Mengapa diburu? Apakah untuk dijadikan hiasan?

Iya, mungkin orang Jawa ada sedikit salah tafsir tentang falsafah Jawa yang mengatakan harus punya peliharaan berupa burung.

 

Ini menarik karena lambang negara kita adalah seekor burung. Kalau kita tidak bisa berpikir itu sebagai sebuah simbol dari sebuah ekosistem, maka paling tidak sebagai burung. Ini ironi sekali. Perburuan elang jawa ini  mungkin juga bagian dari ketidak-sadaran. Tetapi yang ingin saya ketahui dan mungkin juga orang awam, siapa sebenarnya yang melakukan perburuan ini? Apakah orang biasa saja atau memang ada gerombolan terorganisir yang memburunya?

Untuk tingkat level paling bawah, pemburu elang hanyalah orang-orang biasa sebagai kerja sambilan. Tapi beberapa kasus di beberapa kota seperti di Muntilan ada yang profesinya memang adalah pemburu elang. Ini menarik karena ternyata di ujung rantai perdagangannya ternyata memang ada sebuah sindikat yang cukup rapih untuk itu.

 

Apakah Itu dikirim ke luar negeri atau untuk konsumsi pasar dalam negeri?

Kalau untuk burung pemangsa, pada umumnya diserap di dalam negeri. Maaf nih, kebetulan teman-teman kita yang punya kursi dan seragam kebanyakan memiliki elang.  Itu sebagai simbol status karena punya seekor atau beberapa ekor elang itu sudah hebat.

 


Saya pernah hidup di kampung, tetapi saya tidak tahu bagaimana menyelamatkan burung. Jadi tolong Anda cerita bagaimana proses menyelamatkan elang secara teknis karena mungkin ada orang yang ingin melakukan hal sama?

Untuk teknisnya, kita perlu bagi dua hal yaitu langsung di tempat si elang dan di luar kawasan. Jadi justru sebenarnya lebih banyak ke arah masyarakatnya. Jadi bagaimana kita membangun sebuah pola pikir bahwa si elang ini tidak perlu ditangkap.

 

Apakah maksudnya kita memberi tahu para pemburu bahwa elang jangan ditangkap?

Sebenarnya lebih kepada masyarakat bukan ke pemburunya. Kalau untuk pemburu, pendekatannya adalah pendekatan ekonomi. Harga yang mereka dapat itu sebenarnya tidak sebanding dan lebih baik tidak usah menangkap. Sebaiknya  fokus ke pekerjaan lain dan itu lebih menghasilkan.

 

Apakah sejauh ini usaha mendekati para pemburu agar meninggalkan pekerjaannya cukup berhasil?

Untuk kasus di Yogyakarta relatif tidak ada pemburu. Jadi arah kita justru ke masyarakat sekitar kawasan sekaligus memberikan juga penyadaran bahwa mereka berhak melarang orang untuk berburu. Jadi kita tekankan hutan adalah bukan milik negera tapi milik rakyat. Tidak boleh orang masuk hutan mengambil milik mereka karena itu adalah harta kesayangan masyarakat. Itu yang mau kita upayakan. Tapi kalau untuk pemburu, kita coba tekankan dengan penjagaan sarang. Jadi kita tujukan dengan setiap ada sarang elang ikut juga menjaganya bersama masyarakat.

 

Bagaimana untuk menjaga sarang elang itu?

Awalnya menjaga sarang elang ini sebenarnya karena dendam bukan karena waktu itu ingin menyelamatkan. Beberapa teman dendam karena seorang pemburu mengambil anak elang berumur satu bulan sehingga induknya terlihat sangat sedih. Beda dengan burung-burung lain, kesedihan elang itu terlihat sekali. Dia tetap mencari makan setiap hari dan sobekkan mangsanya ditaruh di sarang menunggu anaknya pulang. Peristiwa itu membuat beberapa teman sampai menangis dan akhirnya dendam sehingga akan menjaganya setiap hari. Seandainya ada pemburu kita akan tangkap.

 

Apakah menjaganya dengan tidur di hutan di bawah sarangnya?              

Kita lihat kondisinya. Kalau hutan itu tidak bisa diakses dengan mudah maka kita bisa sedikit longgar. Jadi hanya dari pagi sampai sore. Itu pun sekarang kita sudah lebih enteng karena ternyata masyarakat sekitar kawasan cukup membantu. Bahkan sekarang mereka yang minta untuk menjaga bersama kalau ada sarang dan itu cukup meringankan beban kita juga.

 

Berapa sarang yang sudah Anda jaga dan selamatkan selama ini?

Selama ini baru dua sarang.

 

Bertahun-tahun baru dua sarang. Apakah mungkin karena jumlahnya juga memang sedikit ?

Jumlah burung pemangsa memang sangat sedikit. Kita coba mendata sarang dan kita baru menemukan dua sarang. Itu pun bersama masyarakat, sedangkan sarang-sarang yang lain terus kita kejar. Kita dorong masyarakat supaya memberikan informasi kepada kita. Kini mereka sudah merasa bahwa memberikan informasi itu adalah kewajiban mereka.

 

Apa kendala terbesar yang dirasakan selama ini untuk mencari, menjaga, dan menyelamatkan sarang-sarang itu?

Kendala terbesar adalah Sumber Daya Masyarakat (SDM). Kita  memang memiliki banyak SDM anak muda yang sangat aktif di berbagai bidang atau aktivis, tapi untuk lingkungan terutama satwa sangat minim apalagi soal dana. Kita mencoba sisikan dana sendiri sehingga kita bisa mandiri.

 

Anda menyinggung saya juga. Saya mungkin bagian dari itu, tapi tidak apa-apa. Mulai hari ini saya barangkali bisa menyadari itu bagian dari yang harus kita perhatikan. Apa yang Anda harapkan dari teman-teman yang ada di luar paling tidak dalam membicarakan perlu menyelamatkan elang?
 
Harapan saya pada teman-teman terutama orang muda sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk. Untuk membantu penyelamatkan elang cukup dengan tidak  membelinya dan jangan coba-coba ikut masuk ke dalam jaringan perdagangan satwa. Cukup jangan membelinya karena itu paling tidak memutuskan tali perdagangannya.

 

Generasi Anda pada umumnya  mengerjakan suatu bisnis atau mungkin pekerjaan-pekerjaan intelektual dan lain lainnya, tapi Anda lebih memilih satu kegiatan di tengah hutan dan jauh dari keramain yaitu menjaga sarang burung elang. Bagaimana sampai Anda terlibat dalam sebuah kegiatan yang mungkin kurang populer bagi generasi Anda?

Itu berawal pada tahun 1999 juga. Pada waktu itu, saya tidak tahu mengapa paling benci pada orang yang mengamati burung. Dulu saya juga profesinya adalah pemburu dan salah satunya juga elang. Dari situ mulai ada pertanyaan mengapa harus diamati dan mengapa tidak ditangkap saja kemudian dijual. Mungkin karena tidak suka maka lambat laun  jadi ingin tahu apa kelemahannya selama ini. Ternyata bukannya makin tidak senang tapi keasyikan. Akhirnya pada tahun 2001 mulai aktif mengamati burung lalu ikut beberapa survei. Pada  tahun 2001 juga jadi relawan untuk memantau burung yang bermigrasi sehingga makin senang sehingga akhirnya terjerumus sampai sekarang. Memang  teman-teman lain sudah berbisnis dan lainnya, tapi ini juga kita jadikan investasi karena saya sendiri ingin membuat sebuah kegiatan tour wisata yaitu wisata pengamatan burung elang. 

 

Ini mungkin bukan terjerumus. Ini salah satu tugas yang mulia karena tidak semua orang bisa melakukannya.  Apa pengalaman paling berkesan yang mungkin Anda pernah alami berkaitan dengan ini? 

Kalau kita mengamati burung kayaknya semua berkesan. Kalau kita mengambil lagi pelajaran dari burung elang bahwa yang terbesar dan kelihatannya hebat itu belum tentu benar-benar yang terkuat.  Kalau kita lihat elang sepertinya burung itu hebat sekali, tidak ada lawan, tidak ada yang bisa mengalahkannya. Tapi ternyata kalah oleh burung kecil yang bernama Sri Gunting. Ukurannya hanya sebesar burung perkutut, tapi sri gunting lah pemenangnya ketika melawan elang. Itu cukup luar biasa bagi kita sebagai pengamat burung. Apalagi pada waktu awal-awal kita melihatnya membuat image tentang elang yang kita bangun selama ini runtuh. Tenyata yang kecil pun sebenarnya bisa menang tanpa strategi.

 

Jangan membayangkan ini seperti Soeharto melawan orang-orang kecil, tapi barangkali juga bisa direfleksikan sebagai kehidupan kita bersama. Tadi ada yang terputus dan saya ingin tanyakan yaitu mengapa harus dijebak untuk menyelamatkan elang?

Ini memang sebuah dilema bagi kita. Kita sebenarnya ingin tahu daerah jelajahnya karena kalau ada banyak elang di lapangan akan menjadikan kita bisa tahu elang tersebut. Jadi kita harus beri tanda dan satu-satunya cara adalah dengan ditangkap. Untuk menangkapnya, kita terpaksa menjebak. Itu pun kita sudah punya peraturan. Jadi kita harus sesuai sistem prosedur dan langkah-langkahnya sangat detail.

 

Jadi setelah dijebak, ditandai, kemudian dilepas lagi?

Iya, dilepas lagi. Dari situ akan ketahuan ke mana saja elang pergi untuk mencari makan atau ke mana saja pernah mengembara.

 

Bagaimana cara mengetahuinya, apakah mengikutinya atau menunggu ketika dia kembali ke tempat itu?

Dari tempat penjebakan, kita membuat sebuah pagar betis. Kita sebar beberapa teman di sana dan juga melibatkan masyarakat. Jadi kepada rekan-rekan yang mencari rumput, kita selalu pesan untuk melaporkan elang dengan tanda karena tanda itu mudah dilihat.

 

Apa tanda itu?

Sebuah lima persegi. Jadi seperti jaket di sayap dan berwarna orange. Memang jadi aneh ada burung elang kok memakai jaket berwarna orange yang cukup mencolok. Banyak sekali respon dari penduduk dibandingkan sebelum kita pasang. Kalau kita bertemu mereka melaporkan bahwa melihat elang di sini dan mereka selalu cerita ciri-cirinya. Itu kita coba fungsikan sebagai mata-mata untuk melihat elang. Setelah kita mengetahui luasnya maka kita punya kesimpulan bahwa elang memerlukan hutan atau tempat untuk mencari makan sekian kilo meter atau sekian ratus kilometer. Dari situ kita bisa simpulkan luas hutan yang harus kita selamatkan.

 

Kalau usaha yang Anda lakukan ini bisa didukung, apakah penyelamatan burung elang khususnya elang jawa bisa dikatakan akan berhasil atau usia spesies ini masih akan panjang?

Kita berharap. Untuk itu harus banyak dukungan dari masyarakat. Selama ini  yang melihat usaha kita malah kebanyakan orang luar. Jadi wahana anak muda di Indonesia ternyata cukup eksis dan mereka membantunya. Tapi kalau untuk di level kita sendiri, maaf, masih sangat minim dan kita masih dianggap kurang kerjaan. Itu mungkin seperti pemikiran saya dulu pada tahun 1999 yaitu ini orang-orang goblok yang mau-maunya mengamati burung.

 

Bagaimana untuk menjadi seperti Anda. Apakah itu harus melakukan suatu prosedur tertentu atau cukup mengikutinya saja?

Jangan deh menjadi seperti saya.

 

Paling tidak melakukan usaha yang sama seperti Anda lakukan?

Kalau untuk melakukan kegiatan seperti saya, kita tidak perlu mencari orang yang berbasis perguruan tinggi apalagi biologi. Itu yang mungkin saya perlu tekankan karena banyak teman-teman yang selalu mengatakan seperti saya dari fakultas teknik, fakultas ekonomi. Pada beberapa teman kita sekarang dan yang bekerja sama dengan kita malah anak-anak dari fakultas elektronik, sastra, dan  ekonomi juga. Bahkan ada yang hanya lulusan madrasah. Mereka cukup aktif untuk ikut hal seperti ini dan tidak perlu surat khusus kecuali satu yaitu senang pada satwa. Itu dulu syaratnya yaitu cinta pada satwa.