Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Methodius Kusumahadi

Pendidikan Politik Secara Diam-diam

Edisi 509 | 10 Des 2005 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali para pembaca. Terima kasih atas perhatian Anda setiap minggu terhadap Perspektif Baru. Di dalam acara ini kami mengundang tamu-tamu yang menurut kami sangat layak untuk didengar suaranya. Ada orang yang tidak terkenal dan ada yang terkenal. Tamu kita hari ini sangat terkenal di dunia Lingkungan Swadaya Masyarakat (LSM) yaitu Bapak Methodius Kusumahadi. Saya mengenal Pak Meth jauh sebelum mengerjakan acara ini karena saya juga suka ikut dalam LSM.

Pak Meth mulai berkarier di LSM sejak tahun 1974 bergabung dengan LSM Bina Swadaya di Jakarta. Waktu itu menangani bagian pemasaran dan produk-produk kelompok-kelompok dampingan. Sebelumnya, Pak Meth mengajar di Fakultas Peternakan Universitas Sudirman (Unsud), Purwokerto. Pengetahuan peternakan Pak Meth didapat saat studi di Inggris bergabung dengan satu komunitas dan Methodius belajar dari dokter hewan dari AS yang ada di komunitas tersebut. Pendidikan Pak Meth terakhir Post Graduate Program - High Diploma Master Level in Cooperative Management (DCM) di The Loughborough University of Technology Leicestershire, Inggris.

Sekarang nama Pak Meth tidak terpisahkan dari nama Yayasan SATUNAMA yaitu Yayasan Kesatuan Pelayanaan Kerjasama. Dia termasuk salah satu pendiri dan kini menjabat sebagai Direktur. Lewat Yayasan ini, dia melakukan pelatihan, pemberdayaan, dan pendidikan politik ke berbagai masyarakat terutama masyarakat rural sehingga lebih kritis dan memahami hak-haknya. Menurut dia, negara dan partai politik tidak pernah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. LSM yang selama ini melakukan itu. Dan model pendidikannya yang dilakukan yayasannya sangat berbeda dengan sekolah formal karena sekolah formal tidak mengajarkan orang menjadi kritis dan itu sistem pendidikan di Indonesia. Berikut pembicaraannya dengan pemandu Perspektif Baru Wimar Witoelar.

Yayasan SATUNAMA kini bukan saja dominan di masyarakat seputar Yogyakarta tapi di seluruh Indonesia karena banyak sekali melakukan pendidikan, pelatihan, pemberdayaan, dan segala macam pekerjaan yang terkait dengan manusia. Bagaimana transisi Bapak dari bekerja dengan hewan menjadi bekerja dengan manusia karena ini memerlukan social skill sedangkan dulu waktu sekolah Bapak banyak di bidang technical agriculture?

Saya kira nomor satu transisinya adalah komitmen. Jadi pada waktu itu saya tidak berkomitmen dengan binatang tapi saya berkomitmen dengan manusia yang memelihara binatang. Jadi binatang sebagai instrumen, katakanlah, untuk perbaikan nasib hidup mereka. Sekarang sama saja, LSM hanya sebuah instrumen saja untuk memperbaiki kehidupan mereka sebagai warga masyarakat dan warga negara.

Ok, SATUNAMA banyak memiliki kerjasama. Siapa saja pihak yang bekerja sama dengan SATUNAMA?

Ada dukungan dari USC Canada (Unity Service Cooperation Canada). Ada dua orang dari sana yaitu John Martin dan Laura Breuer. Dari Indonesia, saya banyak bekerja sama dengan Ibu Hj. Ciptaningsih Utaryo, orang yang sangat terkenal untuk bidang sosial kemasyarakatan di Yogya. Kemudian ada Prof. Sutrisno, Prof. Dewanto, dan Pak Nico Ngani. Mereka pada umumnya dosen-dosen di Universitas Gajah Mada dan perguruan-perguruan tinggi di Yogyakarta.

Saya pernah ingat dan menyaksikan sendiri sebagian kecil dari usaha yayasan ini untuk mendidik lurah-lurah atau pimpinan pemerintah daerah dalam leadership skill. Apakah itu suatu program yang tipikal dari kegiatan SATUNAMA?

Itu pendekatan baru karena pada waktu saya memulainya di tahun 1998 banyak teman LSM mengkritik saya, mengapa harus melatih itu? Namun sejak 1999 dan seterusnya saya juga melatih anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), para tokoh religius atau pemimpin agama.

Saya sangat kagum juga karena kalau bicara tahun 1998-1999 kita praktis belum keluar dari budaya politik Orde Baru. Tapi bapak bisa melakukan training yang sebetulnya bisa menjadi politically sensitive karena zaman Orde Baru para pejabat desa dan lurah justru tidak boleh diberdayakan. Bagaimana Anda bisa lolos dari cengkraman rezim waktu itu?

Kami mengadakan pertemuan di antara tokoh-tokoh LSM yang sudah bergerak 15 tahun lebih pada tahun 1997. Kami sekitar 75 orang dari seluruh Indonesia berpikir mengenai paska-Soeharto. Kami sudah berpikir mengenai perlu ada satu wawasan baru dan calon-calon pemimpin baru. Jadi pertanyaannya adalah apa yang bisa dilakukan LSM? Sejak saat itu saya mendapat mandat dari teman-teman untuk melakukan pelatihan. Karena itu kami melakukan apa saja yang mungkin untuk menanamkan sesuatu, menabur benih wawasan baru, menabur benih keadilan. Istilahnya pada waktu itu.

Bagaimana Anda bisa melakukan pelatihan untuk memberdayakan orang dalam suatu kultur yang dulu tidak ingin rakyatnya diberdayakan? Selain itu, bagaimana Anda beralih ke dalam bidang yang sangat mementingkan human skill?

Jadi terus terang saja, SATUNAMA merintis satu upaya untuk bisa berhubungan dengan bermacam elemen yang berpengaruh terhadap perspektif pemikiran baru. Itu yang kami lakukan. Pada waktu itu karena kami tinggal di Yogya, kami memandang perempuan Jawa sebenarnya mempunyai peranan penting. Karena itu kami ingin melatih perempuan terutama istri pegawai negeri, istri pejabat supaya nanti kami bisa berbicara dengan pejabat. Kami melakukan pendekatan dengan Gusti Hemas. Kebetulan istri saya menjadi volunteer untuk LP3S bekerja dengan Gusti Hemas, lalu ada kesempatan berbicara dengan beliau dan saya mengusulkan bagaimana kalau kami melatih PKK. Dari situ kami kemudian merekrut dan melatih semua pemimpin yang ada di Yogyakarta.

Kapan program itu mulai?

Itu pada akhir 1998. Kemudian pada pertengahan 1999 Gusti Hemas mendukung semua PKK dilatih. Bahkan setelah Gusti Hemas sendiri hadir dalam pertemuan itu malah dia mengajukan untuk anggota DPR dan pegawai negeri juga. Jadi kebetulan cocok dengan apa yang kami pikirkan. Mereka harus diintroduksikan nilai-nilai baru. Kalau mereka menyadari nilai-nilai baru itu mungkin kita bisa mengurangi tabrakan yang terjadi antara masyarakat yang sudah lebih sadar mengenai masalah demokrasi, kebebasan, bahkan masalah-masalah Hak Asasi Manusia. Sedangkan para pejabat, mereka tidak kenal itu.

Intinya, Bapak melakukan reformasi sebelum istilah itu populer. Apa tidak ada pertentangan, keraguan, dan perlawanan, dari orang yang berkuasa atas paradigma pemikiran anda?

Ada perlawanan tapi di Yogya yang melawan Gusti Hemas hanya sedikit. Akhirnya, hampir semua pejabat dari tingkat kabupaten bahkan mulai bupati, wakil bupati, kemudian kepala dinas, kami latih semuanya.

Pelatihan yang saya lihat waktu itu banyak pejabat dari daerah luar, apa pelatihan itu?

Kami juga melatih dan melebarkannya setelah pengalaman di Yogja ini. Jadi basisnya pelatihan tadi. Sekarang sudah hampir di 16 provinsi.

Menurut pemantauan Bapak, apakah pelatihan itu menimbulkan perubahan sikap pada mereka?

Kami pernah mencoba memantau dan terlihat agak berat karena mereka kembali masuk dalam sistemnya yang belum berubah dari dulu sampai sekarang. Jadi pelatihan ini lebih memperkaya wawasan individual, paling tidak dari segi kognitif mereka paham bahwa human rights seperti ini. Sedangkan perubahan yang betul pada sistem belum.

Paling tidak kalau ada utusan perubahan dari tempat lain mereka tahu bagaimana harus meresponnya?

Betul

Kembali pada kegiatan Bapak tentang SATUNAMA, kalau ini tadi dianggap suatu kegiatan inovatif, apa kegiatan standar SATUNAMA?

Kami mendampingi masyarakat, dalam hal meningkatkan kesejahteraan mereka. Dulu kami menerima zakat dalam bidang sosial ekonomi. Jadi mulai dengan usaha pertanian bersama dengan basisnya simpan pinjam. Kemudian mereka berpikir kalau bertani, simpan pinjam, lalu ada proses pendidikan bagaimana bertani yang baik seperti pakai pupuk kimia atau tidak. Ini menjadi bahan-bahan diskusi. Akhirnya mereka main ke tempat lain. Sedangkan sekarang ini kami mengatakan sangat terintegrasi. Kami mendekati apa saja yang dirasa penting oleh masyarakat untuk dibicarakan dan dikembangkan

Apakah itu formatnya bebas atau ada kurikulumnya?

Format bebas

Beban fasilitatornya berat juga karena harus menguasai macam-macam bidang?

Betul, jadi semua fasilisator kami harus sarjana strata satu (S1) dengan Indeks Prestasi (IP) lebih dari 3,7 kemudian dilatih beberapa bulan baru dilepas.

Apakah konteksnya urban atau rural atau itu tidak penting?

Penting, kami lebih rural karena urban memiliki akses lebih banyak. Jadi kami lebih ke rural.

Apakah kalau masyarakat rural itu memang lebih konservatif dalam komunikasi dan pemikiran sosialnya?

Konservatif dalam pengertian kesatuan mereka di dalam domisili mereka jauh lebih besar karena mobilitas mereka juga kecil. Jadi kalau mau membawa mereka pada perubahan, memang seluruh komunitas harus dilibatkan. Itu metode yang kami pakai. Itu berbeda dengan di kota. Kalau di kota itu, misalnya, kelompok-kelompok bisa dibangun berdasarkan sektor-sektor perhatian. Tapi kalau di desa biasanya karena domisili maka bisa bicara apa saja asal penting untuk di desa itu.

Apa yang Bapak lakukan itu sangat diperlukan tapi bagian-bagian yang Bapak lakukan juga dilakukan orang. Misalnya, sekolah juga mengajar orang dalam kurikulum. Kemudian kalau bicara soal keyakinan, pemberdayaan, itu sebetulnya pendidikan politik harusnya dilakukan oleh partai. Apakah program seperti Bapak itu ada hubungan atau perbedaan dengan sekolah berstruktur di satu pihak dan pendidikan politik seperti gerakan atau partai, di pihak lain?

Kalau dibandingkan dengan sekolah formal jauh sekali karena sekolah formal tidak mengajarkan orang menjadi kritis dan itu sistem pendidikan di Indonesia.

Seharusnya iya, tapi kenyataannya tidak.

Iya betul kenyataannya begitu. Karena itu pelatihan ini sangat berbeda. Jadi metodologinya sangat berbeda. Metodologinya dari masyarakat sendiri mereka lebih kritis, mereka mengamati lingkungannya, mereka mempertanyakan lingkungannya. Pokoknya tidak terbatas. Bahkan sampai pada mempertanyakan legitimasi negara, misalnya, kalau Bapak Presiden mengatakan mewakili rakyat.

Bisa sampai se-kritis begitu?

Kalau di tingkat desa bisa, karena mereka berada diantara komunitas mereka sendiri. Jadi seperti mengobrol diantara mereka. Kalau mengobrol mereka tidak terbatas. Ada rasa aman.

Nah ini dari segi sekolah formal. Kalau dari segi pendidikan politik, setahu saya bangsa Indonesia tidak pernah melakukan pendidikan politik. Jadi kelihatannya di masa lalu dan di masa sekarang pun sedikit sekali yang melakukan pendidikan politik. Bukan karena saya dari LSM, tapi LSM-lah yang mulai merintis jalan untuk pendidikan politik bagi masyarakat dan kami yakin itu perlu.

Pak Meth dengan tepat mengatakan partai politik tidak melakukan pendidikan politik. LSM yang sebetulnya banyak melakukannya. Pertanyaan saya, apa yang diperlukan oleh LSM untuk satu langkah lebih maju lagi dan dapat melembagakan training ini menjadi satu gerakan yang suistanable, accountable, yang bisa terorganisir dalam bentuk suatu gerakan partai politik? Kalau partai politik yang sekarang tidak melakukan pendidikan politik, mengapa pak Meth dan kawan-kawan dengan pengalaman puluhan tahun tidak membuat partai yang pasti lebih mempunyai legitimasi dari yang ada sekarang ?

Ada diskusi panjang diantara kami empat tahun yang lalu. Setelah teman-teman LSM merefleksi hasil dari proses penggulingan Pak Harto, kami menyimpulkan bahwa ternyata kami tidak mempunyai peranan banyak. Jadi kami ikut berpartisipasi sejak dari awal sampai proses penggulingan tetapi kita tidak berperan. Yang berperan orang lain. Lalu ada beberapa teman mengatakan kalau begitu mengapa tidak membuat partai politik. Saya pribadi merasa bahwa ini pilihan yang konsekuensinya berbeda-beda. Kalau kita masuk ke politik maka orentasinya nanti yang terdekat itu power. Kita punya kekuasaan untuk mengatur, memelihara, mengembangkan, dan sebagainya. Kalau tidak menang berarti tidak punya power.

Kedua, kita tidak masuk ke dalam politik apapun tapi kita melakukan pendidikan politik, penyadaran supaya rakyat kritis. Mereka bisa memilih, mereka bisa menentukan sendiri apa yang paling baik untuk mereka. Dan kalau pakai yang kedua ini, kita bisa melatih politik apapun, dari partai mana pun dengan perspektif yang semoga lebih mendukung kekuatan rakyat. Banyak teman-teman LSM memilih yang kedua, tapi ada juga yang pertama.

Bapak orang yang sangat dekat, sangat mengerti dan mengalami apa yang dipikirkan oleh rakyat biasa terutama masyarakat rural. Kalau saya tanya mengenai perubahan masyarakat yang sekarang secara umum seperti demokratisasi dan reformasi, apakah arah perkembanganmya memang sesuai dengan yang mereka inginkan atau diam-diam mereka lebih senang ketenangan zaman Soeharto?

Ini berbeda antara kelompok-kelompok yang sangat isolated (Terpencil red) di desa dan kelompok-kelompok yang sedikit dekat dengan kota. Kalau kelompok-kelompok yang jauh dari kota, pada umumnya merasa ketenangan nomor satu. Kalau yang lebih dekat dengan kota, makin lama makin tahu mengenai hak disamping kewajiban. Hak-hak mereka sekarang lebih bebas, mereka bisa membaca koran, dan suaranya macam-macam. Mereka bisa melihat ada banyak partai dan ada apresiasi. Jadi sangat tergantung orangnya, sangat tergantung lokasi di mana mereka berada. Secara umum sebetulnya boleh dikatakan mereka merasakan keadaan lebih baik dalam kerangka kebebasan. Tapi memang kadang-kadang kalau bicara soal ketenangan mereka terusik karena begitu banyak masalah. Tapi banyak juga masyarakat yang sudah tahu sekarang kenapa tidak tenang karena ada yang membuat tidak tenang.

Itu suatu kemajuan besar Pak. Dari seseorang yang dikira membuat ketenangan sebenarnya membuat ketidak-tenangan?

Itulah dan makin banyak orang yang tahu sekarang.

Dimana peran komunikasi di sini? Baik dari pranatanya, akses terhadap berita, maupun cara berinteraksi secara sosial politis.

Kami menggunakan metode kelompok ini sebagai sarana belajar, sarana berkomunikasi, dan kami juga menyelenggarakan semacam pertemuan-pertemuan antar kelompok. Bahkan bisa ke antar kelompok untuk saling belajar dan ini instrumen komunikasi yang paling baik bagi mereka. Kalau mereka berkomukasi dengan orang mereka sendiri yang setingkat, maka proses belajarnya jauh lebih kental daripada berkomunikasi dengan kami karena mereka tahu berkomunikasi dengan orang yang dianggap lebih tinggi. Jadi proses yang horizontal ini yaitu semacam pendidikan antarrakyat semacam ini menjadi proses pembelajaran yang intensif untuk mereka.

Menurut Pak Meth, kalau mereka membaca koran dan melihat nama-nama yang terpampang di sana, apakah bisa membedakan mana orang baik dan yang tidak baik?

Berdasarkan pengalaman saya, mereka sudah tahu. Mereka makin lama makin tahu siapa orang yang baik dan tidak baik.

Karena kalau sepintas lalu, tidak jelas juga apakah seseorang bisa menjadi tokoh padahal kenyataannya tidak cukup bagus. Mereka punya insting politik itu?

Iya dan menariknya adalah karena komunikasi dengan orang dari luar desa sekarang sudah makin banyak sehingga tatkala ada informasi-informasi mereka lalu mendiskusikannya dan makin terbuka pikirannya dan itu menurut saya menarik.

Apakah ada keanggotaannya atau ikatan alumni atau daftar registasi, atau lainnya? Apakah Bapak tahu di mana orang-orang yang pernah bersentuhan dengan program-program Bapak?

Saya tahu mereka semua ada di mana. Yang training di tempat kami dari seluruh Indonesia ada sekitar 11.800 orang. Kami sedang merencanakan untuk membuat semacam simpul-simpul di setiap daerah untuk bertemu. Ini untuk menjadi semacam mekanisme saling belajar diantara mereka, saling memperkuat supaya niat mereka untuk melayani orang, dan membuka cakrawala wawasan makin lama makin kuat. Ini perlu sebab ada banyak yang menakut-nakuti juga. Jadi ini tantangan baru. Jadi kami mengetahui mereka di mana.

Bagaimana semangat mereka? Apakah ada keputus-asaan barangkali yang punya ekspektasi tinggi pada waktu perubahan dimulai tahun 1998 atau mereka realistis? Bagaimana suasana hati mereka terhadap perubahan yang terjadi sekarang?

Kalau di desa-desa sebetulnya mereka tidak terlalu paham soal politik. Misal soal Golkar diturunkan sebenarnya mereka tidak terlalu paham.

Jadi Soeharto jatuh pun, mereka tidak begitu paham?

Tergantung, kalau daerah-daerah di Jawa pada umumnya paham. Tapi saya pernah ke Sulawesi Utara, misalnya, orang-orang di sana hanya tahu 3 partai saja sehingga pada Pemilu berikutnya masih mencoblos 3 partai. Padahal partainya sudah lebih banyak. Mereka tidak tahu ini.

Berarti pekerjaan Bapak masih banyak?

Masih banyak dan tantangannya masih banyak.