Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Rasdullah, Pemimpin Tukang Becak

Rakyat Miskin karena Korupsi

Edisi 506 | 17 Nov 2005 | Cetak Artikel Ini

Selamat bertemu kembali para pembaca Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar. Tamu kita sekarang adalah Bapak Rasdullah. Dia adalah penarik atau pengemudi becak di Jakarta Utara yang mulai terkenal ketika dulu mencalonkan diri menjadi salah seorang dari 76 bakal calon gubernur DKI Jaya periode 2002-2007. Langkahnya tersebut membuat dirinya seperti selebriti dengan ditampilkan dimana-mana.
Dia berusia 41 tahun, kelahiran Cirebon dan seorang yang belajar dari kehidupan di luar jalur formal yaitu sekolah 24 jam bergaul dengan orang-orang terutama menghayati kehidupan orang miskin karena dia sendiri juga miskin sehingga mengetahui persoalan orang miskin.
Rasdullah kini melanjutkan profesinya sebagai pengemudi becak dan menjadi ketua jaringan nasional pengemudi becak sambil mengemukakan pendapat dari kalangan orang miskin terhadap beberapa masalah sosial yang ada sekarang ini.
Menurut Rasdullah, uang dana kompensasi kenaikan bahan bakar minyak (BBM) jangan dibagi-bagikan kepada masyarakat miskin karena itu mengajarkan mereka menjadi peminta-minta. Dana tersebut sebaiknya di salurkan ke sekolah dan rumah sakit sehingga masyarakat bisa sekolah dan berobat gratis.
Dia berpandangan para pejabat atau birokrasi Indonesia masih berpikir kekuasaan. Kalau menjadi presiden berarti itu kekuasaannya. Menurut dia, kalau mendapatkan ilham dari Allah dan sampai bisa menjadi presiden maka dirinya yakin mampu mengatur karena menjadi pimpinan kepala keluarga lebih berat daripada menjadi pimpinan kepala negara. Kalau menjadi pimpinan negara sudah ada dana anggarannya seperti APBN dan APBD, ada polisi, ada Sekretaris Negara, dan ada macam-macam lainya jadi tinggal mengatur saja. Berikut percakapan dengan Rasdullah.

Saya dulu mendengar nama Pak Rasdullah sewaktu menjadi bakal Calon Gubernur DKI Jaya. Saya tidak sempat menemui Anda tapi saya kagum dan senang sekali setelah sekian tahun bisa bertemu. Bagaimana ceritanya sehingga Bapak bisa menjadi bakal calon gubernur?
 
Pertamanya, Mbak Wardah Hafidz, koordinator Urban Poor Consortium (UPC), di dalam rapat serikat becak Jakarta memberitahukan bahwa di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) ada pencalonan gubernur. Kemudian Mbak Wardah menanyakan apakah ada atau tidak dari teman-teman kelompok penarik becak yang berkeinginan menjadi gubernur. Kawan-kawan kebingunggan. Jangankan untuk jadi gubernur, untuk menjadi lurah saja harus mempunyai sawah berhektar-hektar, harus punya banyak harta banyak.
Tapi Mbak Wardah mengatakan dengan adanya demokrasi maka penarik becak, penjual koran, semir sepatu bisa mencalokan diri menjadi gubernur DKI Jaya dan tidak ada biaya. Setelah Mbak Wardah memberitahukan hal tersebut, teman-teman langsung pada mengacungkan tangan. Akhirnya diputuskan lewat voting. Teman-teman yang kira-kira mampu untuk memimpin Jakarta memilih dirinya sendiri, sedangkan yang tidak mampu memilih temannya. Pada waktu itu saya yang mendapatkan suara terbanyak. Pada hari itu juga diiring sekitar 2.000 abang becak, saya ke kantor DPRD untuk mencalonkan diri.
Sampai di sana, dikerubuti banyak wartawan. Pencalonan saya sempat ditolak panitia dengan alasan tidak mempunyai ijazah dan tidak sekolah. Saya mengatakan, siapa yang mengatakan saya tidak sekolah. Sekolah ada dua jenis yaitu sekolah formal dan informal. Nah saya sekolah informal yang turun langsung ke lapangan sehingga tahu persis permasalahan-permasalahan masyarakat. Sedangkan bapak-bapak panitia sekolah formal yang memakai waktu. Kalau saya sekolah yang tidak pakai waktu. Siang - malam saya sekolah di lapangan. Ketemu pengemudi becak maka saya sekolah dengan pengemudi becak. Ketemu  penjual koran maka saya sekolah sama penjual koran. Jadi saya tahu persis permasalahan mereka. Kalau bapak-bapak yang di gedung-gedung mewah seperti di DPRD mengerti ada nyamuk tapi tidak mengerti bagaimana rasanya digigit nyamuk. Akhirnya teman-teman wartawan ikut mendesak dan panitia pendaftaran menerima pendaftaran saya.
 
Hebat sekali. Jadi walaupun ada syarat harus memiliki ijazah tapi akhirnya diterima. Apakah itu karena keyakinan Bapak?
 
Iya diterima dan sampai penyaringan ketujuh. Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) juga menerima saya menanyakan visi dan misi saya. Wah saya tidak mengerti itu lalu saya tanya apa visi misi itu?
 
Apakah waktu itu pernah ada atau tidak tulisan-tulisan, catatan-catatan tentang visi misi?
 
Saya pokoknya polos saja. Yang saya tahu adalah di dalam hati saya ingin memimpin Jakarta supaya tidak amburadul. Saat itu diberitahu visi misi adalah bagaimana kerja bapak kalau nanti jadi gubernur. Saya mengatakan pertama-tama karena dari kalangan bawah maka orang miskin yang kita akan pedulikan lebih dulu. Kalau untuk kepedulian semua akan saya perdulikan tapi ini  akan seperti memimpin anak sendiri kalau yang sudah SMP, agak besar, maka yang masih kecil dulu yang diperhatikan.
 
Jadi Bapak selain menarik becak sudah banyak memperhatikan soal masyarakat sebelum pencalonan tersebut. Apakah itu umum diantara penarik becak atau Pak Rasdullah memang lebih dari yang lain?
 
Itu bukan pada penarik becak saja. Ada pengamen, joki, dan kaki lima. Pokoknya pekerjaan sektor informal yang dilarang pemerintah kita tetap membela teman-teman tadi karena manusia itu butuh hidup. Orang hidup itu harus makan dan makanan harus dibeli pakai duit. Duit-nya harus dicari dengan jalan kerja, sedangkan pemerintah, menteri tenaga kerja saja tidak bisa membuka lapangan kerja. Hanya bisa makan gaji busuk, tidak mengerti apa-apa. Orang Indonesia malah diekspor ke luar negeri. Di sana disiksa, dianiaya juragan-juragannya atau majikan-majikannya.
 
Ramai sekali pembicaraan Bapak dengan rekan-rekan berbagai profesi sektor informal. Apakah Bapak mendapatkan pengetahuan tadi dari membaca koran atau lihat kiri-kanan atau dari yang lain?
 
Teman-teman kita banyak yang sering baca buku-buku, korang-koran. Kemudian ketika di pangkalan mendiskusikannya seperti tentang dana kompensasi bahan bakar minyak (BBM) yang kemarin.
 
Pak Rasdullah yang dulu terkenal sebagai bakal calon gubernur, ternyata  bukan hanya soal pencalonannya saja yang luar biasa. Yang dia katakan mengenai sekolah dari jalanan itu benar. Pak Rasdullah dengan kawan-kawannya itu punya pandangan yang sangat jernih. Saya kira sangat cerdas mengenai permasalahan bahkan barangkali lebih cerdas dari birokrat yang mengurusi orang miskin. Tadi bapak membicarakan soal dana kompensasi BBM, apa maksud Bapak itu?
 
Teman-teman kita pada mengadukan hal tersebut. Dana kompensasi yang disebar-sebarkan  pemerintah bukan menyelesaikan masalah tapi membuat masalah baru. Teman-teman kita pada berebut sampai berantem, bunuh-bunuhan. 
 
Apakah yang berantem itu antara orang yang dapat dan yang tidak?
 
Iya yang dapat sama yang tidak karena salah sasaran. Bukan hanya orang miskin saja yang dapat tapi yang kaya,  yang mampu juga mendapatkan itu. Bahkan teman saya yang mendapatkan dana kompensasi pada pulang kampung dengan naik motor. Jadi bukan orang miskin karena punya motor. Sedangkan yang jompo, janda, anak yatim malah tidak mendapatkannya. Misalnya,  teman saya Ibu Een mempunyai anak yang bujangan dan tidak mendapatkannya. Kalau ibunya memang lemah tapi anaknya peduli terhadap ibunya sehingga sampai bersitegang dengan RT. Kalau kita tidak nasehatkan bisa berantam dan bunuh-bunuhan.
 
Tapi sayang kalau Bapak mengatakan uangnya tidak berguna, karena seorang mendapatkan Rp 100.000,- per bulan dan jumlah totalnya mencapai Rp 16 - 17 Triliun. Lalu bagaimana uang tersebut sebaiknya digunakan?
 
Maksudnya uang sejumlah Rp 18,6 Triliun yang merupakan dana kompensasi keuntungan jual BBM tersebut jangan dibagi-bagikan. Otak pemerintah harus jernih. Artinya, orang miskin jangan diajarkan minta-minta. Orang miskin yang mandiri, banting tulang, peras keringat jangan diajarkan seperti itu. Tidak dikasih saja negara kita sudah menjadi negara minta-minta, apalagi kalau dikasih.  Islam itu mengajarkan lebih baik tangan yang di atas daripada tangan yang di bawah. Jadi secara tidak langsung pemerintah mengajarkan, menyuruh masyarakat menjadi pengemis nanti jadi pada ribut. Maksud saya, dana Rp 18,6 Triliun itu diambil tapi dikeluarkannya bukan dibagi-bagi.
 
Bagaimana dong cara mengeluarkannya?

Cara mengeluarkannya dengan ditaruh di rumah sakit sehingga rumah sakitnya bermutu supaya semua orang bisa menikmati. Juga misalnya di pendidikan. Jadi supaya semua orang bisa sekolah gratis, rumah sakti gratis, atau air PAM gratis, PLN gratis. Memang betul negara mengelola sumber daya alam seperti BBM untuk kesejahteraan rakyat. Tapi caranya harus memakai otak yang jernih. Jangan memakai otak yang bodoh. Sekarang ini jadi otak yang bodoh karena membuat rakyat miskin tidak simpati. Akhirnya sekarang mereka tidak mau kerja keras jadi tergantung pemerintah. Untuk apa menarik menarik becak karena besok dapat uang kok dari pemerintah. Padahal kalau dipikir secara langsung harga beras saja sudah Rp 3.000,- per liter, harga minyak saja sudah Rp 3.000,- per liter, harga telor sudah 10.000 per kilogram. Sementara dana kompensasi dalam satu bulan itu hanya Rp 100 ribu jadi satu hari hanya Rp 3.300,-. Bagaimana sekeluarga bisa cukup dengan dana itu?
 
Orang minta-minta saja bisa mendapatkan uang lebih dari itu?
 
Jadi bagaimana supaya kita menjadi sejahtera dengan adanya pengelolahan BBM ini. Kita negara yang kaya karena ada tambang emas, perak, ada segala macam. Kalau kita jernih dan tidak ada korupsi maka sebenarnya orang miskin, orang kaya, orang jompo, orang yatim, sudah menjadi tanggung jawab negara.
 
Jadi intinya korupsi. Pak Rasdullah adalah penarik atau pengemudi becak yang secara formal tidak pernah sekolah tapi terlihat pemikirannya justru jauh lebih benar daripada orang yang merencanakan program untuk orang miskin dan dana kemiskinan. Bapak mendapatkan kecerdesan pemikiran itu dari lingkungan sendiri jadi kalau begitu pemikiran di kalangan orang miskin maju dong?
 
Iya. Teman-teman juga mengatakan bahwa yang biasanya diwawancara saya dan mereka menyampaikan unek-unek ke saya. Semua aspirasi dari berbagai macam pangkalan dan dari kota-kota lain, saya tampung. Kemarin kita ketemu teman-teman dari jaringan becak Aceh, ada juga jaringan becak Makassar, jadi semua banyak.
 
Apa saja yang dibicarakan kalau sedang kumpul-kumpul?
 
Kalau kumpul itu yang dibicarakan bagaimana kita bisa mengorganisir teman-teman kita supaya  menjadi mandiri artinya tidak tergantung kepada orang lain.
 
Bapak tadi bilang bahwa negara ini kaya tapi uangnya tidak sampai ke bawah karena dikorupsi. Apakah banyak tahu mengenai korupsi di Indonesia?
 
Banyak teman-teman kita yang melaporkan itu. Misal, untuk membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP) Rp 1.000,- tapi jatuh ke kelurahan biayanya bisa mencapai Rp 250.000,- Rp.  300.000,-
 
Itu korupsi kecil. Apakah Bapak suka mendengar mengenai korupsi besar?
 
Kalau korupsi besar di Indonesia itu sering mendengar tapi dari surat kabar. Misalnya siapa saja yang ditangkap.
 
Tapi apakah itu membuat Bapak gemes dan bagaimana kalau Bapak ketemu koruptor?
 
Itu uang rakyat harusnya dikembalikan kepada rakyat. Jadi kalau keinginan saya bukan para koruptor itu dipenjara terus dibuang ke Nusa Kambangan. Kalau memang pemerintahnya cerdas, para koruptor tersebut dibuatkan kerangkeng di Mall, di pasar agar malu. Itu lebih malu dari pada digebukin
 
Apa sebaiknya pakaian untuk mereka?
 
Dikasih pakaian sederhana. Pokoknya dia dan 17 keturunannya akan malu semua karena setiap orang yang belanja akan mengatakan itu tuh koruptor.
 
Tapi apakah itu akan membuat korupsi masih ada atau tidak?
 
Setidak-tidaknya sedikit demi sedikit. Artinya keturunanya atau yang lainnya akan mikir jangan sampai seperti bapaknya dihukum begitu.
 
Apakah Bapak merasa pedih atau merasa tidak adil melihat orang yang kaya dari korupsi?
 
Bapak saya pernah cerita bahwa pada zaman Bung Karno dulu tidak ada orang kaya yang melambung tinggi. Artinya baru punya sawah 1 hektar saja sudah tidak boleh dan kelebihannya  dibagi-bagikan. Kalau pemerintah kita bisa seperti itu Insya Allah tidak ada orang korupsi.
 
Kalau saya lihat tadi semua pendapat Pak Rasdullah benar dan di kalangan yang tidak miskin juga banyak yang menyetujui pendapat Bapak. Lalu mengapa keadaan bangsa Indonesia begini saja, tidak ada perbaikan dalam penanganan orang miskin oleh pemerintah?
 
Itu karena teman-teman para pejabat atau birokrasinya masih berpikir kekuasaan. Kalau menjadi presiden berarti itu kekuasaannya. Kalau menjadi gubernur berarti itu kekuasaannya. Jadi sebenarnya kita harus berpikir jernih seperti kalau kita mau melangkah seperti ini apakah salah atau benar.
Kalau sudah menjadi pejabat, menjadi orang-orang kapitalis maka orang Indonesia harus mendukung orang Indonesia. Coba lihat saja teman-teman kita orang orang Cina. kalau orang Cina membuka cafe di jalan maka yang makan teman-temannya yang Cina semua. Tapi giliran orang Jawa membeli sebungkus rokok tidak mendapat hadiah korek api di warung rokok milik orang Jawa, langsung pindah ke warung milik rokok Cina yang memberikan hadiah korek api. Jadi secara tidak langsung teman-teman kita juga tidak jernih. Kalau jernih walaupun tidak mendapat korek api akan tetap membeli karena secara tidak langsung kita mendukung agar dia sejahtera. 
 
Barangkali cara berbisnisnya berbeda?
 
Iya
 
Tapi sekarang saya ingin kembali pada masalah penarik becak dan saya setuju  pengemudi becak dan becaknya jangan diobrak-abrik. Tapi pertanyaan saya kalau memang sudah kemajuan zaman bukankah suatu saat becak tetap harus hilang juga?
 
Kalau memang sudah kemajuan zaman becak juga bisa dimajukan mengikuti zaman. Artinya kalau memang zamannya sudah maju maka pemerintah harus memikirkan bagaiamana agar becak yang dulunya dikayuh supaya tidak dikayuh lagi, mungkin bisa memakai tenaga accu. Sekarang becaknya masih pakai tenaga kayu sehingga katanya kendaraan itu tidak manusiawi. Dari mana tidak manusiawin? Pada malam hari dan hujan saya mengantarkan orang mau melahirkan. Saya kayuh beca agar ibu itu bisa melahirkan selamat dan tidak ada halangan apa pun. Jadi sangat manusiawi tapi teman-teman birokrasi mengatakan becak tidak manusiawi. Padahal becak merupakan kendaraan yang ramah lingkungan, tidak bising, tidak membuat telinga budek, dan tidak membuat ozon yang sangat merusak lingkungan.
Jadi sebaiknya adalah bagaimana kita memikirkan supaya rakyat sejahtera dan pemerintah kita mandiri. Teman-teman mengatakan itu nanti bisa membuat kita makan gaplek lagi, bisa makan jagung lagi. Itu tidak mungkin karena pada waktu zaman Pak Karno adalah zaman perang, zaman penjajahan jadi wajar kita tidak berpikir berusaha dan berpikirnya perang. Sekarang sudah merdeka. Ibaratnya orang tani mengatakan saat ini kita sedang panen. Jadi mari jangan tergantung dengan luar negeri. Kita buat negara mandiri dan mengolah kekayaan sendiri.
Nah sepertinya kita sudah disetir sama Amerika. Sekarang muncul WTC (World Trade Center), ITC (International Trade Center), Mega Mall, dan Carrefour, lalu di mana Jakartanya. Semua sudah berbahasa luar negeri dan tukang becak pun tidak tahu apa-apa. Apa itu Carrefour, WTC, semua menanyakan kepada kita. Bahkan kita mangkal di depannya saja tidak boleh padahal saya orang pribumi Indonesia sedangkan di dalam gedung itu orang asal mana saya tidak mengerti.
 
Pedih sekali dan saya sampai terpesona sehingga tidak bisa bertanya karena setuju, tapi bagaimana menyelesaikan masalah gedung ITC, WTC, apakah kita hilangkan?
 
Jangan dihilangkan artinya pemerintahnya yang harus mengatur.
 
Presiden dong ya?
 
Iya mungkin presidennya yang harus bicara. Kalau misalnya kita mendapatkan ilham dari Allah dan sampai bisa menjadi presiden maka kita akan atur sedemikian rupa. Lebih berat menjadi pimpinan kepala keluarga daripada pimpinan kepala negara.
 
Mengapa begitu?
 
Kalau menjadi pimpinan negara sudah ada dana anggarannya seperti APBN dan APBD, ada polisi, ada Sekretariat Negara, dan ada macam-macam lainya termasuk modal dari sumber daya bumi. Tapi kalau menjadi kepala rumah tangga kemudian becaknya diambil oleh Pemda maka bagaimana kita bisa membayar sekolah anak, mengatur belanja rumah tangga, bayar kontrakan, dan bayar listrik. Kepala bisa pecah untuk memikirkannya. Sedangkan kalau menjadi kepala negara sebenarnya tinggal mengatur doang dan semuanya sudah ada bidangnya masing-masing. Jadi yang paling sulit menjadi kepala rumah tangga.
 
Menurut Bapak, apakah Bapak suatu saat akan keluar dari golongan miskin karena Bapak cerdas sekali?
 
Memang orang tidak mau miskin, semua orang ingin kaya. Tapi kekayaan ini sebenarnya hanya titipan dari Allah. Jadi kalau memang kita sudah mampu berikanlah kepada yang tidak mampu agar menjadi mampu. Misalnya, ada yang sedikit mampu maka berikan  kepada orang yang belum mampu sama sekali. Artinya kita ini sebagai kran air. Kalau Allah sudah memberi kita maka kita menjadi kran air dan kran ini harus dibuka dan ditularkan kepada orang-orang miskin dan yang tidak mampu.