Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Agus Suwage

Kebebasan Seni Tidak Pernah Tercapai

Edisi 505 | 10 Nov 2005 | Cetak Artikel Ini

Beberapa waktu lalu acara pameran lukisan di Museum Nasional terpaksa harus ditutup lebih awal akibat ada beberapa atau sekelompok orang yang merasa terganggu dengan adanya lukisan berobjek artis nasional Anjasmara yang dinilai pornografi. Lukisan tersebut karya kolaborasi antara Seniman Agus Suwage dan Photograper Davy Linggar. Pada kesempatan ini kita akan berbincang dengan Agus Suwage mengenai kebebasan berekspresi lewat seni di Indonesia.
Agus Suwage menyatakan membuat karya tadi berdasarkan tema yang disodorkan  penyelenggara yaitu tema besarnya tentang urban culture. Di sini dia dan Davy mencoba untuk membaca atau merepresentasikan apa yang disebut urban dan culture secara kesenian. Namun dia menyesalkan ide besar itu dibawa keluar dari koridor seni rupa atau kesenian oleh media yang disebut infotainment.
Agus Suwage juga kecewa besar dengan adanya pemberedelan atau penutupan secara sepihak terhadap pameran lukisan tersebut. Dia berpendapat beda pendapat itu sah dan boleh saja. Hanya caranya harus lewat dialog. Dirinya sebagai senimannya tentu punya alasan kenapa seperti ini dan itu. Kalau ada dialog akan menjadi jembatan untuk menerangkan dan tidak harus memakai jalan sepihak. Dalam kasus ini pihaknya memang hanya dilaporkan dan tidak menggunakan kekerasan, tapi dia pikir ini sudah seperti ancaman bagi kebebasan dirinya.
Agus khawatir itu akan bisa menjadi semacam precedent buruk untuk kesenian atau kebebasan berekspresi pada umumnya dan bisa menjalar kemana-mana, seperti ke sastra, teater; dan mungkin bisa ke mediasi yang lain, atau bahkan ke hiburan tontonan-tontonan. Kalau peristiwa tadi tidak ada mediasi yang benar atau dialog dengan pembedahan yang benar maka ini akan berlanjut terus. Berikut percakapan antara Agus Suwage dan Faisol Riza dari Perspektif Baru.

Peristiwa tersebut secara politik juga dilihat oleh orang memiliki dampak atau aspek. Anda juga sempat dipanggil Polda Metro Jaya untuk kasus lukisan ini. Apa sebenarnya yang Polda ingin ketahui atau apa sebenarnya persepsi Polda tentang peristiwa ini? 
 
Iya, sebenarnya peristiwa ini berdasarkan aduan yang diajukan oleh Front Pembela Islam (FPI) dengan dua delik tuduhan yaitu tentang penghinaan agama dan pornografi. Jadi ada dua delik tuduhan.
 
Apa kapasitas Anda saat dipanggil Polda?
 
Dimintai keterangan dalam kapasitas sebagai saksi.
 
Kalau kita dikritik orang biasanya kita melihat apa yang salah dalam diri kita. Nah setelah Anda amati, apakah menurut Anda karya itu memang menghina agama dan juga membawa citra pornografi?
 
Kalau dari perspektif saya atau kita (Agus Suwage & Davy Linggar - red] karena kita bekerja berdua, karya itu sama sekali tidak ada niatan untuk ke arah penghinaan agama atau bahkan yang ponografi walaupun saya pakai figure yang mungkin bisa dibilang “nude” atau telanjang.
 
Apakah menurut Anda itu termasuk kategori pornografi atau tidak?
 
Bagi saya tidak karena saya bergerak dalam lingkup kesenian, artinya secara konsep saya juga punya alasan kenapa harus telanjang dan harus seperti ini dan itu.
 
Apa sebenarnya yang ingin Anda sampaikan dalam karya ini?
 
Ok, saya mungkin akan terangkan secara garis besar karena event pameran yang bernama CP Biennale 2005 ini merupakan event kedua dengan yang pertama pada 2003. Kedua event ini cukup banyak menarik peserta baik dari dalam maupun luar negeri dan juga bisa berkelompok atau bermacam group. Ada group semacam arsitek; seni rupa, perfilman, dan sebagainya.
Dalam kesempatan ini, saya membuat karya berdasarkan tema yang disodorkan  penyelenggara yaitu tema besarnya tentang urban culture. Itu juga menjadi judul  pameran tersebut. Di sini kita mencoba untuk membaca atau merepresentasikan apa yang disebut urban dan culture menurut cara kita secara kesenian. Kita membuat semacam instalasi. Secara fisik sebenarnya semacam ruangan dimana ada gambar orang yang kemudian dihebohkan yaitu gambar Anjasmara dan ketelanjangannya. Tapi sebenarnya dalam gambar tersebut ada bentuk-bentuk lain. Misalnya, kita masuk ada bentuk 3 dimensi yaitu semacam ayunan yang dibuat dari becak kemudian saya modifikasi jadi semacam bangku taman kayu. Di situ orang bisa berinteraksi, bisa duduk di bangku tersebut, dan di depannya ada kaca. Idenya untuk semacam mawas diri atau koreksi diri kemudian background-nya gambar Anjasmara dan Isabel yang kemudian menjadi heboh itu. Konsep sebenarnya adalah saya ingin menggambarkan bahwa salah satu gejala urban dari tema besar itu adalah biasanya di kota besar orang cenderung lebih individual dan mementingkan sesuatu, atau karena desakan-desakan maka segala sesuatunya menjadi lebih instans.
 
Jadi Anda ingin memotret masyarakat budaya urban itu dengan suatu ide besar mengenai individualisme dan aspek instans dari kehidupan?
 
Iya. Sebenarnya foto-foto itu menjadi menghebohkan karena digambarkan juga ada semacam taman buatan, taman virtual atau ilusi. Saya tidak menggambarkan bahwa budaya urban itu mendorong orang untuk seperti bermimpi atau mengidolakan hal-hal yang ideal dan hal yang nyaman walaupun hasilnya instans.  Taman saya buat seperti taman yang nyaman, enak sekali dan bisa duduk berayun-ayun di becak. Jadi suatu hal yang sebenarnya lebih virtual tidak seperti aslinya, tapi itu yang dibuat.
 
Kalau dilihat secara universal ini mestinya sebagai sesuatu yang menarik sekali karena agama di satu pihak merasa bahwa kehidupan modern atau kehidupan urban juga menyebabkan masyarakat menjadi individualis dan agama mungkin menganggap itu tidak terlalu positif bagi perkembangan masyarakat. Nah, dalam hal itu, apakah sebenarnya mereka yaitu orang yang mengeritik atau bahkan polisi mengerti atau tidak mengenai ide besar yang ingin Anda sampaikan?  
 
Sebenarnya ada hal yang disayangkan karena ide besar ini dibawa keluar dari koridor seni rupa atau koridor kesenian oleh media yang disebut infotainment. Saya amati di infotainment itu banyak yang tidak pernah memotret secara keseluruhan, atau mengambil dan bercerita secara keseluruhan. Sedangkan yang saya ceritakan sebenarnya ini karya seperti dalam ruangan. Ada hal yang lain selain foto yang menghebohkan itu. Jadi sebenarnya saya pikir publik dibawa ke opini yang lain sebagai bentukan dari infotainment itu. Saya pikir mereka belum mengerti tema dan konsep keseluruhannya.
 
Kalau memang demikian, soal-soal semacam ini sebenarnya sudah sering kali muncul pada masa lalu. Namun pada masa sekarang barangkali agak berbeda karena sebenarnya ada ruang dialog yang mungkin bisa diciptakan. Nah apakah mereka yaitu kelompok yang tidak setuju, katakalah seperti FPI dan beberapa media, mencoba mendialogkan tema-temanya?
 
Saya tidak tahu secara pasti kejadiannya karena saya tinggal di Yogyakarta sedangkan pameran di Jakarta. Tapi sejauh pengetahuan saya, mereka memberikan satu ancaman, tanpa dialog, dan mereka dalam surat kabar yang saya baca mereka mengancam bahwa, “Kalau ini tidak diturunkan maka kita sendiri yang akan menurunkan.”  Kemudian panitia penyelenggara merasa ketakutan dan menutup karya itu. Saya pikir ini tanpa dialog sama sekali, apalagi terhadap saya.
 
OK, bagaimana sekarang komentar pendek Anda terhadap kasus ini atau terhadap mereka yang punya pandangan berbeda?
 
Saya pikir beda pendapat itu sah-sah saja, baik atau tidak, setuju atau tidak, itu boleh saja. Hanya caranya harus lewat dialog atau dengan kebebasan bicara karena saya sebagai senimannya tentu punya alasan kenapa seperti ini dan itu. Kalau ada dialog sebagai jembatan untuk menerangkan maka mengapa harus pakai jalan sepihak. Walaupun di sini kita dilaporkan dan tidak menggunakan kekerasan, tapi saya pikir ini sudah seperti ancaman bagi kebebasan bagi saya.
 
Ini soal kebebasan yang dibelenggu. Bagi seniman ini gangguan yang terbesar barangkali dari semua proses kreatif mereka. Apa kira-kira harapan Anda terhadap kepolisian yang dalam kasus ini ikut tangan dan pemerintah pada masa mendatang?
 
Saya takut hal semacam ini menjadi precedent buruk untuk kesenian atau kebebasan berekspresi pada umumnya dan ini bisa menjalar kemana-mana, bisa ke sastra, teater; dan mungkin bisa ke mediasi yang lain, atau bahkan ke hiburan tontonan-tontonan. Kalau peristiwa ini tidak ada mediasi yang benar atau dialog dengan pembedahan yang benar diharapkan secara lebih intelek maka ini akan berlanjut terus.
 
Soal persepsi, setiap orang punya persepsi tentang porno dan pornografi. Bagaimana persepsi Anda sebenarnya tentang pornografi tidak dalam kehidupan kesenian tetapi dalam kehidupan umum?
 
Itu tergantung dari persepsi orang cara memandangnya.
 
Kalau persepsi Anda?
 
Kalau persepsi saya, jika saya melihat orang mengenakan baju kebaya dan kalau otak saya berpikiran yang tidak-tidak maka itu dinilai sangat seksi sekali walaupun tertutup rapat atau bahkan berjilbab.
 
Jadi itu punya aspek pornografi?
 
Iya, kalau saya berpikiran kotor atau punya hasrat maka bagi saya itu sudah pornografi.
 
Sekarang ada UU anti pornografi atau atauran-aturan tentang itu, Apakah menurut Anda persepsi orang terhadap itu sebenarnya memang harus diatur atau tidak? 
 
Saya pikir pornografi itu akan tetap ada dan itu tinggal bagaimana melihatnya. Yang harus diatur atau dikembangkan justru sisi kedewasaan memandang sesuatu itu.
 
Jadi UU antipornografi silahkan ada?
 
Iya, itu juga penerapannya akan berkembang sesuai dengan zamannya juga.
 
Selama ini UU itu bisa saja menjerat atau menghalangi satu produk hiburan di televisi dan segala macam karena dianggap punya muatan pornografi?
 
Sebenarnya iya karena perspesi bisa lain-lain tentang muatan ponografi itu.
 
Apakah di UU barangkali itu lebih jelas?
 
Iya itu bisa, tapi saya pikir UU juga harus bisa melihat ada penjelasan yang lebih luas lagi dan tidak sempit seperti yang sekarang ini.
 
Dalam kesenian sebenarnya harus dibatasi atau tidak karya seni itu seperti dalam unsur pornografi atau diberi kebebasan saja berseni?
 
Saya pikir memang bisa dipakai tapi susah untuk diterapkan karena bagi saya itu wilayah-wilayah imajinasi. Wilayah imajinasi itu kalau ada batasannya, saya pikir tidak mungkin. Memang kita harus ada di mana kita hidup dengan norma tapi bukan wilayah yang bisa dihitung matematis. Misalnya, kelihatan aurat. Bagian mana saja dari aurat itu? Pusar mungkin bisa jadi porno, jadi semacam itulah. Imajinasi itu bisa dilakukan dengan melakukan suatu hal di luar jangkauan fisik.
 
Jadi Anda lebih setuju kalau UU ini tidak dipakai untuk menghalangi kebebasan berkreasi?
 
Saya pikir iya walaupun harus ada tanggung jawab dengan melihat tempatnya juga. Misalnya, mungkin dengan kondisi masyarakat Indonesia yang kurang berpendidikan diminta untuk menerbitkan atau hal-hal yang sifatnya memancing mungkin belum tepat. Lain halnya dengan suasana atau daerah tertentu yang sudah berpikiran lebih maju  maka bisa memahaminya. Mungkin di daerah dan di kota pun akan lain kelonggaran semacam itu.
 
Nah, soal tanggung jawab yang tadi Anda singgung, apakah memang sudah terbangun atau belum tanggung jawab sosial semacam itu di kalangan seniman atau pekerja seni?
  
Saya tidak tahu. Yang pasti, saya pikir seniman juga punya tanggung jawab dan batasan sendiri. Dalam kasus ini ketelanjangan itu sebenarnya auratnya sudah ditutup dengan sensor sehingga benar-benar sudah ditutup. Jadi kita tahu diri, semacam sudah punya sensorship sendiri. Walaupun ini bukan berarti kita takut tapi memang lebih ke arah tanggung jawab.
 
Tetapi di masa yang akan datang barangkali kalau masyarakat lebih dewasa semestinya tanggung jawab itu harus dipikul bersama. Apa yang harusnya ada sehingga antara seniman, aktivis, dan juga pemerintah barangkali tidak harus terlibat konflik dalam soal-soal ini? Apakah perlu melalui UU atau semacam forum bersama?
 
Ya, saya pikir ini bisa digodok atau dengan dialog. Misalnya, kalau mau membuat UU itu harus ada ahli-ahli di bidangnya masing-masing jadi seperti dari kesenian, agama, kedokteran, dan lain-lain.
 
Dari sudut pandang Anda, Apakah aturan atau UU yang dibuat sebelum ini tidak pernah mendengar atau meminta pendapat seniman?
 
Saya pikir seniman di Indonesia menjadi warga nomor dua.