Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Daniel Perret

Batuan Membuka Masa Silam Indonesia

Edisi 504 | 01 Nov 2005 | Cetak Artikel Ini

Selamat berjumpa kembali di Perspektif Baru dengan saya Faisol Riza. Kali ini kita akan membicarakan sesuatu yang agak lain. Kalau biasanya saya lebih banyak mengangkat tema-tema politik tapi sekarang akan berbicara tentang arkeologi dan aktifitas sebuah lembaga penelitian bernama Ecole francaise d'Extreme-Orient (EFEO). Ini lembaga penelitian arkeologi Francis dan  tamu kita kali ini Dr Daniel Perret. Dia adalah direktur EFEO dan seorang arkeolog yang punya perhatian sangat besar terhadap arkeologi di Indonesia. Dia juga fasih berbahasa Indonesia dengan cukup baik sebagai seorang Francis.
Daniel menilai arkeologi Indonesia menarik karena budayanya begitu luas. Selain itu,  penelitian arkeologi belum begitu berkembang karena jumlah peneliti sedikit sehingga masih banyak persoalan yang perlu dipecahkan. Ini suatu keadaan yang lain dari keadaan di Francis karena di sana arkeologi sudah lama berkembang.
Kini Daniel dan EFEO sedang melakukan sejumlah penelitian diantaranya Batu Jaya tentang situs candi-candi di Karawang, Sebuah kota kuno di Barus, Sumatera Barat. Ada juga penelitian tentang Batu Aceh yaitu tentang batu nisan di Aceh.

Kita tahu arkeologi bukan sesuatu yang akrab di telinga masyarakat Indonesia walau sebenarnya sejarah Indonesia sangat kuat dan sangat banyak dengan masalah arkeologi. Saya ingin bertanya kepada Daniel satu hal yang penting karena membaca satu pengantar buku berjudul batu Aceh yang Anda tulis. Apa itu batu Aceh dan bagaimana kira-kira sejarahnya secara arkeologi di Indonesia?

Saya sebagai peneliti sejarah Indonesia sejak sekitar 10 tahun yang lalu dan kini bertugas di Indonesia khususnya dalam bidang sejarah kuno. Batu Aceh memang sedang mendapat perhatian dari sejumlah peneliti termasuk saya baik di Indonesia maupun di Malaysia. Secara kebetulan penelitian saya tentang batu Aceh sampai sekarang lebih ke Malaysia karena saya pernah bertugas sebagai perwakilan EFEO di Kuala Lumpur selama 6 tahun. Di sana saya sempat membuat banyak survai di seluruh Semenanjung Malaysia untuk mencari sejenis monumen yang disebut Batu Aceh. Itu diperkirakan berasal dari satu tradisi kesenian yang muncul di Aceh. Untuk penelitian ini saya sempat bekerja sama dengan sebuah lembaga di Malaysia yang bernama Yayasan Warisan Johor, suatu yayasan yang bergerak di bidang kebudayaan khususnya sejarah.

Apa kesenian Aceh yang berkaitan dengan batu Aceh ?

Ini masih satu tanda tanya yang besar karena sejarah monumen ini masih belum jelas. Seperti semua orang tahu, penelitian sejarah di Aceh belum begitu maju karena sudah lama para peneliti susah untuk masuk ke daerah Aceh sehingga penelitian sejarah di sana agak terbengkalai.

Mengapa batu tersebut harus bernama Aceh dan bagaimana bentuknya?

Istilah Batu Aceh digunakan untuk sejenis batu nisan pada makam Islam. Tingginya sekitar 40 cm sampai 2 meter. Ada beberapa jenis atau tipe batu nisan tersebut yang sempat kami indentifikasikan. Dan yang menarik sekali dengan Batu Aceh ialah keaneka ragaman bentuk dan seni yang boleh dikatakan tidak ada pada bentuk batu nisan lainnya.

Apakah itu berbeda dengan yang saya saksikan di sini? Misalnya, banyak orang-orang Tionghoa membuat kuburan mereka dengan batu tertentu, apakah itu berbeda?

Itu berbeda sekali. Yang menarik dari Batu Aceh adalah batu nisan merupakan tradisi kesenian pada makam yang boleh dikatakan paling kuno dan yang masih kelihatan sampai sekarang karena dari batu. Mungkin pernah ada kesenian batu nisan lain tapi dari kayu dan sekarang sudah tidak ada lagi.

Itu pada abad berapa?

Ini masih menjadi soal yang belum terpecahkan. Sampai beberapa tahun yang lalu masih dipercaya bahwa tradisi itu mulai pada akhir abad ke 13 dengan adanya semacam fosil pedoman batu nisan pada makam Sultan Almalikus Saleh di Pasai. Persoalannya sekarang apakah batu nisan yang tidak ada angka tahunnya tersebut sezaman dengan kematian sultannya. Ini masih belum jelas dan memang diperlukan penelitian yang lebih mendalam di daerah Lhokseumawe tempat sekitar Kerajaan Pasai dulu untuk memecahkan soal ini. Jadi untuk sementara adalah kesenian Batu Aceh ini berkembang pada abad ke 15 karena ada peninggalan di Malaysia dari Abad tersebut, sedangkan untuk ke zaman sebelumnya masih menjadi tanda tanya.

Pembaca, Batu Aceh adalah salah satu proyek dari EFEO untuk melakukan penelitian arkeologi di Indonesia dan Dr Daniel Perret adalah direktur EFEO sekarang. Apa itu sebenarnya EFEO?

EFEO merupakan kepanjangan dari Ecole francaise d’Extreme-Orient, yaitu pusat penelitian Timur Jauh Francis yang didirikan sekitar 100 tahun lalu. Lembaga penelitian ini awalnya di Indo Cina dan lama kelamaan kami membuka cabang di beberapa negara Asia dan sekarang ada sekitar 15 cabang dari India sampai Jepang termasuk satu cabang di Jakarta. Lembaga ini bekerja dalam bidang ilmu sosial pada umumnya. Untuk arsitektur, misalnya, EFEO mempunyai cabang di Kamboja di mana beberapa candi yang sedang dipugar sedang oleh peneliti dari EFEO. Ada juga orang antropolog, ahli bahasa, ahli sastra, arkeolog, dan sejarahwan.

Siapa yang mendirikan EFEO di Jakarta?

Pendiri EFEO Jakarta Prof Louis Charles Damais pada 1950-an. Damais yang pertama membuka cabang di EFEO di sini dengan kerjasama arkeolog Indonesia di pusat penelitian arkeologi nasional.

Saya melihat ada banyak terbitan-terbitan buku EFEO. Apa saja terbitan-terbitan EFEO yang berkaitan dengan Indonesia?

Sebenarnya penelitian yang dilakukan tergantung pada peneliti yang bertugas di EFEO. Untuk sementara kami ada tiga orang sebagai peneliti EFEO tentang Indonesia yaitu dua orang khususnya tentang sejarah kuno Indonesia dan seorang tentang sastra khususnya sastra melayu. Seorang lagi tentang sejarah kuno yang dulu melakukan penelitian dulu tentang kerajaan Sriwijaya dan tentang situs-situs yang beredar tidak jauh dari Jakarta yaitu situs Batu Jaya.

Apa itu situs Batu Jaya?

Batu Jaya adalah situs candi-candi yang dekat Kerawang dan diperkirakan dari sekitar abad awal masehi. Kalau penelitian saya lebih ke zaman kemudian dan saya baru menyelesaikan program penelitian di daerah Barus yaitu pantai barat Sumatera Utara.

Tentang apa?

Ini tentang kota kuno di sana. Sekitar tahun 1980-an diketahui ada situs kota kuno di sekitar daerah Barus dan pada 1995 kami mulai bekerjasama dengan Puspitatenas untuk membuat ekskalasi di sana. Ekskalasi baru selesai pada tahun lalu (2004). Jadi selama 11 tahun meneliti di sana dan sudah ada 2 buku yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia.

Apakah memang ada kota kuno di sana?

Ada. Ada beberapa situs termasuk situs yang bernama Lubu Tua yang mulai dihuni pada abad keIX hingga akhir abad ke XI dan awal abad ke XII.

Sebagai sebuah konsep kota, apakah itu bisa dijelaskan secara sosiologi dan antropologi ?

Situs ini berupa semacam tempat dagang di mana pedagang asing dari Timur Tengah sampai India datang ke Barus untuk mendapat hasil hutan khususnya kamper atau kapur barus. Kapur barus itu betul-betul dari pohon kapur dan memang pada zaman itu kamper dicari karena nilainya lebih besar daripada emas. Jadi pedagang datang dari Timur Tengah khususnya Iran dan juga dari berbagai daerah di India untuk mendapat kamper yang ditukar dengan kain-kain, manik-manik, atau benda yang lain.

Mengapa harus dilakukan ekskalasi? Apa ada suatu bencana sehingga kota itu hilang?

Tidak ini proses biasa untuk situs pemukiman kuno sebab lama-kelamaan jejak-jejaknya hilang. Itu mungkin karena ada kegiatan tertentu, misalnya, pertanian atau rumah ambruk sehingga kami terpaksa membuat penggalian untuk mencari semua lapisan penghunian yang masih dapat ditemukan.

Ini menarik sekali karena Anda sebagai seorang peneliti dari Francis sedangkan saya orang Indonesia bukan orang yang begitu peduli terhadap warisan sejarah masa lalu, terutama arkeologi. Bagaimana awal keterkaitan Anda kepada Indonesia sehingga memilih menjadi peneliti arkeologi di Indonesia?

Sebenarnya ini tidak muncul begitu saja. Saya menjadi peneliti setelah melewati satu proses yang tidak langsung. Pertama, saya masuk universitas dan sewaktu mau mengambil master saya disuruh meneliti satu koleksi benda-benda yang dibawa oleh seorang Francis dari Sumatera Utara. Adanya permintaan tersebut maka saya mulai meneliti koleksi tersebut sehingga mulai meneliti kebudayaan Indonesia. Lama kelamaan saya merasa tertarik sekali sehingga mendapat Phd di Francis tentang sejarah Indonesia. Kemudian saya menjadi peneliti di EFEO dengan sempat bertugas di Malaysia dan sekarang di Indonesia.

Apa yang paling menarik soal arkeologi di Indonesia yang telah Anda teliti dan mungkin akan anda teliti nanti?

Yang menarik di sini ialah wilayah begitu luas dan penelitian arkeologi belum begitu berkembang karena jumlah peneliti sedikit sehingga masih banyak persoalan yang perlu dipecahkan. Ini suatu keadaan yang berbeda dengan di Francis karena di sana arkeologi sudah lama berkembang. Saya sulit melakukan penemuan baru karena susah untuk membuat penelitian yang betul-betul baru sekali. Sebaliknya di Indonesia boleh dikatakan dimana-mana ada situs yang menarik dan kalau ada kerja sama yang baik dapat dilakukan bersama peneliti di Indonesia pasti hasilnya akan membuka halaman baru dalam sejarah tanah air.

Sejarah tanah air sesuatu yang sudah lama saya tidak dengar. Tetapi ada tiga koleksi buku yang agak penting dalam sejarah Indonesia yang pernah menjadi acuan saya yang ditulis oleh Dennis Lombart tentang sejarah Nusa Bangsa dan Tanah Air. Saya kira sumbangan besar dari para peneliti terutama Dennis Lombart waktu itu adalah membuat kerangka sejarah yang begitu penting. Menurut Anda, apakah sekarang ada atau tidak sesuatu yang lebih baru dalam penelitian yang membuat sejarah Indonesia akhirnya punya dasar yang lain dari hasil penelitian sebelumnya terutama arkeologi?

Kalau dilihat dari hasil penelitian arkeologi saja boleh dikatakan jumlah penelitian yang telah dilakukan masih belum mencukupi untuk mengubah gambaran tentang sejarah kuno Indonesia tapi lama kelamaan akan ada penemuan baru. Misalnya, dengan penelitian kami di Baros sudah jelas bahwa pada abad ke IX di daerah seperti Baros sudah mengalami semacam globalisasi karena ada hubungan dengan seluruh Asia. Orang dari Timur Tengah, India, dan kemudian Cina datang ke Baros sehingga boleh dikatakan globalisasi bukan merupakan hal yang baru sekali untuk daerah seperti Baros.

Apa EFEO sedang kerjakan dalam waktu-waktu terakhir ini terutama yang mutakhir yang mungkin akan muncul ke Publik?

Yang akan muncul ke publik sebentar lagi adalah akan ada terbitan mengenai Baros lagi. Penelitiannya sudah selesai jadi sekarang tinggal menulis tentang hasil penelitiannya dan ini membutuhkan waktu cukup lama sekitar 2-3 tahun sesudah penelitiannya selesai. Rencananya ada dua buah buku yang akan diterbitkan sebentar lagi. Satu buku mengenai hasil peneliltian terakhir dan satu lagi dalam bahasa Indonesia yang merupakan terjamahan dari buku yang berbahasa Francis. Sebab, tujuan kami di sini juga untuk mengedarkan hasil penelitian kami. Kami memandang hasil-hasil penelitian itu bukan untuk orang Francis saja tapi penting juga untuk diedarkan di Indonesia. Jadi salah satu tugas kami di sini ialah menyebarkan hasil penelitian bukan saja yang dilakukan EFEO tetapi juga penelitian tentang Indonesia di Francis supaya orang di sini mengetahui bagaimana penelitian orang Francis di Indonesia.

Apakah EFEO juga melakukan penelitian di Indonesia timur karena ada beberapa anggapan bahwa Indonesia timur juga salah satu daerah yang sangat penting bagi sejarah Indonesia yang memiliki warisan negara cukup dalam. Nah Apakah ada proyek yang sampai ke sana?

Untuk sementara ini belum ada karena peneliti yang ada sekarang lebih kepada bagian Barat Indonesia. Tapi ini juga memang karena jumlah peneliti sedikit jadi kami tidak bisa kemana-mana seperti melompat dari Sumatera ke Maluku. Ini bukan berarti bagian timur tidak menarik hanya jumlah peneliti yang ada sakarang sedikit dan secara kebetulan bidang mereka lebih kepada bagian Barat Indonesia khususnya Sumatera.

Apakah Anda dan EFEO akan membuat program memperbanyak peneliti arkeologi di Indonesia?

Ini keputusan dari pemerintah. Kalau mau menambah jumlah peneliti harus ada tambahan dana juga, jadi ini bukan keputusan EFEO sendiri tapi keputusan dari Pemerintah Francis.

Dalam kaitannya dengan peneliti-peneliti Indonesia, saya kira hal yang paling penting adalah menularkan pengetahuan penelitian kepada peneliti – peneliti potensial di Indonesia. Apakah Anda dan EFFO juga kerja sama dengan penelilti-peneliti lokal atau peneliti-peneliti Indonesia?

Setiap kegiatan yang kami lakukan dalam rangka kerjasama khususnya dengan pusat penelitian arkeologi nasional dan juga dengan cabang-cabang arkeologi yang ada di provinsi yang biasanya disebut Balai Arkeologi. Bagi kami ini sesuatu yang penting sekali dan ini juga dapat membantu peneliti-peneliti muda karena tak semua peneliti muda yang sempat ke Prancis untuk mendapat S2 atau pun Phd.