Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Suciwati

Solidaritas Mereka Memberikan Saya Semangat

Edisi 458 | 21 Des 2004 | Cetak Artikel Ini

Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, salam sejahtera. Kita ketemu kembali dalam program rutin seminggu sekali Prespektif Baru. Tanggal 7 September 2004, adalah merupakan hari berkabung buat bangsa Indonesia yang sedang berjuang untuk menegakkan Hak Asasi Manusia (HAM). Pada hari itu, salah satu pejuang HAM kita, Bung Munir, meninggal dunia. Tidak lama kemudian, kita kaget mendengar bahwa ada yang tidak wajar dengan kematian Bung Munir. Sekalipun menghentakkan, kita sepakat bahwa peristiwa ini merupakan momentum bagi perjuangan menegakkan HAM agar lebih serius. Kali ini kita akan bicara dengan seseorang yang melanjutkan perjuangan itu, terutama menegakkan kebenaran di balik meninggalnya Bung Munir. Beliau adalah orang yang sangat dekat dengan keseharian Bung Munir yaitu Mbak Suciwati yang tak lain adalah istri almarhum. Kita akan berbincang dengan mbak Suciwati mengenai harapan apa yang ditinggalkan oleh Bung Munir dan yang terpenting adalah bagaimana kita berpartisipasi menciptakan Indonesia tanpa pelanggaran HAM.  Perbincangan ini akan dipandu oleh sahabat anda, Ruddy K. Gobel.


 

Sebagai orang yang paling dekat, apa yang anda rasakan ketika mengetahui suami anda meninggal dan beberapa bulan kemudian hasil otopsi keluar yang menyatakan ada yang tidak wajar?

Pertama kali mendengar suami saya meninggal, jelas sangat shock. Saya tidak menyangka, karena suami saya berangkat dalam keadaan sehat. Banyak hal yang harus saya lakukan setelah suami saya dikebumikan, saya berusaha menghubungi Garuda. Saya ingin tahu lebih banyak, sebagai orang terdekat tidak ada disamping suami ketika meninggal. Saya ingin tahu secara personal, saya takut rasa bersalah karena tidak berada disampingnya itu menjadi beban sepanjang hidup saya. Saya menemui mereka dan menanyakan seperti apa kondisi suami saya ketika di pesawat.

 

Bagaimana perasaan anda ketika mengetahui hasil otopsi dari Belanda?

Kalau masalah perasaan sudah tidak bisa diceritakan dengan kata-kata. Yang saya tahu pasti, ada sesuatu (dibalik peristiwa itu) , apalagi mendengar suami saya di racun. Kalau melihat background kerja suami saya, (meninggalnya Munir) itu merupakan pembunuhan politik. Kedepan saya harus mencari tahu kenapa suami saya diperlakukan seperti itu.

 

Dari berbagai macam berita yang kita dengar, Munir yang berjuang di jalur perjuangan Hak Asasi Manusia banyak menemui tantangan maupun teror.  Apakah anda pernah mendengar bahwa suami anda mendapat teror?

Kami tidak pernah publikasikan teror yang kami alami, dengan mempublikasikannya, sama saja dengan memberikan teror pada masyarakat. Kita sudah jenuh dengan teror yang selama ini kita alami dan dengan ketakukan yang kita rasakan. Kalau bisa dihilangkan ketakutan dengan mensinergikannya pada hal yang positif.

 

Apa yang bisa diambil dari peristiwa ini oleh publik?

Seharusnya kita harus malu, orang yang dikenal secara nasional dan internasional seperti Munir bisa diciderai. Tentunya ini sebuah pesan dan ancaman bahwa kedepan proses demokrasi kita bisa berantakan. Tapi (peristiwa) ini merupakan satu spirit untuk membangunkan pada masyarakat bahwa kerja-kerja seperti ini butuh perlindungan. Kalau bisa, bukan lagi kewajiban orang per orang untuk memperjuangkan Hak Asasi Manusia. Sebisa mungkin menjadi kewajiban setiap warga negara untuk membela semua kebenaran dan keadilan.

 

Dari pengalaman mbak mendampingi almarhum, apakah pihak atau kelompok yang memberikan perlindungan ?

Itu yang harus kita perjuangkan karena selama ini tidak ada. Sudah ada  deklarasi  PBB tahun 98 mengenai perlindungan, tapi sampai sekarang masih berupa deklarasi, belum berupa undang-undang. Padahal itu sangat penting, bukan hanya untuk orang seperti Munir tapi juga untuk wartawan, dokter dan aktivis-aktivis muda yang rentan diserang. Jika tidak ada undang-undang perlindungan itu, akan dengan mudahnya mereka dilenyapkan.

 

Dalam upaya anda untuk memperjuangkan proses investigasi yang independen, ada jawaban dari istana bahwa tidak perlu dibentuk sebuah tim independen, walaupun kemudian ada ralat. Apa urgensi pembentukan tim independen itu?

Bukan saya pesimis, tapi seperti kita tahu berapa banyak kasus yang tidak bisa diselesaikan oleh polisi. Kita percaya pada polisi, tapi tim independen bukan tidak mengajak polisi, tapi sangat mendukung kerja polisi. Tim ini hanya memonitor, disitu ada para ahli dan tokoh publik yang akan mem-back up kerja-kerja polisi. Sebetulnya apa susahnya membentuk tim independen? Tidak perlu bantah membantah. Yang perlu adalah berpikir apa yang perlu dikerjakan dan apa permintaan teman-teman semua. Kami ingin tim independen itu segera dibentuk.

 

Tim independen seperti yang apa yang ideal?

Kami mengharapkan tim itu terdiri dari para ahli dan juga tokoh publik. Mereka semua akan bekerjasama dengan polisi, kita sudah serahkan pada presiden.

 

Anda sudah bertemu dengan polisi, Jaksa Agung bahkan anda sudah beraudiensi dengan anggota DPR. Dari hasil perjuangan itu apakah anda melihat ada harapan untuk mendapatkan keadilan yang anda inginkan?

Bagi saya harapan itulah yang membuat kita selalu maju. Saya berusaha menemui lembaga-lembaga tersebut karena memang itu penting untuk memberi dukungan pada saya untuk menguak kasus ini sampai tuntas dan mendapatkan keadilan.

 

Usaha anda ternyata tidak disenangi oleh pihak-pihak yang kita tidak tahu identitasnya. Anda juga diteror, apakah ada semacam keinginan untuk meneruskan pekerjaan Bung Munir dalam bidang penegakan Hak Asasi Manusia?

Kalau meneruskan mungkin masih terlalu jauh, tapi saya konsentrasi pada kasus suami saya. Mungkin sedikit harus diketahui, beginilah cermin Indonesia hari ini. Ketika seseorang sudah menjadi korban kekerasan, masih dapat lagi teror seperti yang saya alami. Kita harus melawan hal-hal seperti itu.

 

Anda mendapat dukungan untuk mengusut peristiwa itu?

Dukungan itu banyak sekali, baik dari teman-teman media. Solidaritas mereka memberikan saya semangat yang begitu besar. Dukungan juga datang dari lembaga internasional seperti APPAT yaitu sebuah organisasi orang hilang di Asia, lalu dari Amerika Latin, Afrika Selatan. Mereka memberikan solidaritas yang tinggi. Mereka berkirim surat ke PBB , dan di Belanda juga mereka memberikan semacam protes pada pemerintah Belanda.

 

Apa yang mendorong Munir melanjutkan sekolah ke luar negeri?

Dari dulu suami saya itu rasa ingin tahunya tinggi dan semangat belajarnya juga tinggi. Ia ingin mengasah apa yang dia miliki sekarang dan saya sangat mendukungnya. Seringkali banyak orang beranggapan bahwa orang LSM hanya pandai bicara tapi isi kepala tidak ada. Kita ingin buktikan bahwa Munir tidak seperti itu. Karenanya dia mengambil S2 di Utrech.

 

Kerap diberitakan, melanjutkan kuliah S2 disatu sisi merupakan dilema buat Munir yang tidak bisa diam dan berpangku tangan melihat berbagai peristiwa pelanggaran HAM. Apa harapannya yang mbak Suci rasakan yang belum bisa diwujudkan sampai sekarang ini?

Bagi dia, perjuangan menegakkan HAM itu bukan perjuangan segelintir orang, tetapi perjuangan semua warga negara terhadap ketidakadilan dan kekerasan. Kemudian perjuangan HAM merupakan perjuangan panjang karena perjuangan merupakan usaha membentuk suatu peradaban. Peradaban yang tidak lagi melakukan kekerasan sebagai cara membungkam terhadap mereka yang berbeda, tetapi peradaban yang menghormati nilai-nilai kemanusiaan.

 

Bagaimana awalnya Anda bertemu dengan Munir?

Awalnya saya aktivis buruh, saat itu dia di divisi perburuhan di LBH Surabaya. Kita bertemu dalam acara diskusi tahun 1991 di LBH Surabaya.

 

Tanggal 10 Desember adalah hari HAM internasional, biasanya Bung Munir menjadi salah satu orang yang berdiri di depan, paling tidak menjelaskan kembali momentum pentingnya penegakkan HAM. Apakah anda melihat bahwa personifikasi seorang Munir paling tidak dari sekian besar harapannya sudah mampu memberikan kesadaran kepada masyarakat Indonesia tentang pentingnya Perjuangan Hak Asasi Manusia?

Semuanya kita serahkan kembali pada masyarakat, apakah masyarakat bisa mengambil apa yang telah diberikan oleh suami saya.

 

Ada ucapan khusus lembaga Internasional sehubungan dengan peringatan Hak Asasi Manusia Internasional yang jatuh pada tanggal 10 desember ini?

Kalau lembaga internasional belum ada, tapi kalau teman-teman secara nasional banyak  sekali. Ada yang mengirim surat dan ada lagi yang akan mereka berikan pada suami saya. Mereka akan membuat sebuah award. Penghargaan ini nantinya akan didedikasikan kepada para anak-anak muda yang mempunyai keberanian yang sedikit banyak mirip Munir.

 

Tentu anda berharap kasus kematian almarhum Munir bisa diungkap secepatnya. Apakah anda mempunyai target kapan ini akan diselesaikan? Kalau tidak, peristiiwa ini tentu akan menjadi pesan yang buruk terhadap perjuangan kawan-kawan lainnya.

Pada awalnya mungkin teman-teman merasa seperti itu, (peristiwa) ini merupakan suatu pesan atau ancaman terhadap demokrasi ke depan. Tapi justru saya dan teman-teman akan beranggapan bahwa ini adalah sebuah spirit dan momentum yang seharusnya membuat kita lebih kuat untuk maju kedepan melawan ketakutan. Peristiwa ini tidak akan membungkam kita, tidak akan menghentikan gerak kita kedepan. Peristiwa ini juga sebuah PR bagi semua warga negara yang sangat mencintai keadilan dan Hak Asasi Manusia tanpa kekerasan.

 

Apa yang bisa dilakukan masyarakat untuk melanjutkan cita-cita Bung Munir yaitu Indonesia tanpa kekerasan?

Mereka harus tetap berjuang dalam bidang masing-masing, kalau buruh tetap menyuarakan suara buruh. Itu tugas kita bersama.