Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Neda Tanaga

Perang Tidak Akan Pernah Ketinggalan Jaman

Edisi 451 | 01 Nov 2004 | Cetak Artikel Ini

Selamat berjumpa kembali melalui jaringan radio di seluruh Indonesia pada acara Perspektif Baru bersama saya Wimar Witoelar. Sekalipun wawancara ini telah berlangsung selama ratusan kali, setiap wawancara merupakan pengalaman yang baru, unik. Terutama hari ini, Perspektif Baru kedatangan tamu yang unik karena tamu kita kali ini adalah mahasiswa di Universitas Indonesia. Ia adalah Neda Tanaga yang baru saja memenangkan lomba tulis dalam bahasa Inggris yang diadakan oleh satu perguruan tinggi di Melbourne-Australia yaitu Deakin University. Karena Neda yang mendapat hadiah pertama, dia diundang menjalani program singkat di Australia.

Kami ingin perkenalkan Neda Tanaga, tapi karena saya juga belum kenal, barangkali Neda bisa bercerita mengenai dirinya, silahkan.

Saya mahasiswa Universitas Indonesia semester lima di jurusan Hubungan Internasional. Saya senang membaca, tapi bukan yang membaca berat-berat.

 

Dalam tulisan itu, anda mengatakan “Apakah Perang Itu Suatu Saat Akan Tidak Ada?”. Bisa anda jelaskan maksudnya?

Judul esai saya adalah “Is The Obsolescence Of War Just Around The Corner?” Jadi, pertanyaan besar dari esai ini adalah apakah suatu saat perang akan tidak ada lagi. Ketinggalan jaman dalam membantu kita untuk mencapai tujuan kita. Yang dimaksud tujuan adalah untuk mencapai kepentingan nasional negara. Kalau menurut saya, perang itu tidak akan pernah ketinggalan jaman karena bagaimanapun akan tetap efektif. Bisa membantu mencapai kepentingan yang kita mau. Hanya sekarang ini mulai banyak cara lain selain perang. Misalnya dengan sanksi ekonomi, sanksi sosial, sanksi politik. Tapi satu yang menjadi keunggulan perang,  saya tidak akan membicarakan kerugian dari perang dulu, dibanding sanksi-sanksi, perang bisa mencapai tujuan lebih cepat.

 

Artinya Neda percaya bahwa perang memang suatu alat yang harus dipakai suatu saat?

Ya, saya percaya perang itu harus dipakai suatu saat.  Teman saya suka ngeledekin, kalau ada istilah war monger, mungkin kamu ini war mongress karena kamu perempuan. Tapi sebenarnya saya juga menyadari kalau perang itu terlalu banyak kerugiannya, untuk rakyat sipil terutama..
 

Kalau militer tidak rugi?

Militer iya, mereka kehilangan tentaranya.

 

Kalau sipil kehilangan apa?

Ya, sipil juga kehilangan nyawanya. Saya tulis di dalam esai ini, ketika sudah perang total, jadi tidak hanya menyerang target-target militer saja. Juga target-target sipil diserang. Bahkan  menggunakan senjata, seperti saya tulis, infrastruktur tetap ada, meja kursi tetap ada, tapi orangnya semua tewas terbunuh dengan senjata itu.

 

Neda Tanaga adalah pemenang perlombaan penulisan esai dari dari Deakin University. Deakin University adalah perguruan tinggi yang mempunyai lima kampus di negara bagian Victoria, Australia. Pada bagian awal esai itu anda mengangkat perang Irak. Perang itu bisa dibenarkan tidak?

Kalau menurut saya perang di Irak tidak bisa dibenarkan karena Bush mencari-cari sasaran saja. Kita semua tahu kalau Bush memiliki dendam keluarga dengan Saddam Hussein. Kita tahu bahwa Bush mempunyai lobby perusahaan minyak dan Irak mempunyai cadangan minyak terbesar kedua di dunia. Jadi sebenarnya perang itu tidak dapat dibenarkan. Apalagi dia bilang Irak mempunyai weapon of mass destruction yang bisa mengancam keamanan dunia. Sampai sekarang, senjata itu nggak ketemu.

 

Argumen dari orang yang membenarkan perang Bush di Irak adalah tidak ada jalan lain untuk membatasi kerajaan setan yang dikepalai Saddam. Kalau dibiarkan akan merusak seluruh dunia. Kalau perang Irak itu tidak bisa dibenarkan, harusnya bagaimana?

Begini, pengertian jahat itu relatif. Amerika memberikan pandangan bahwa Saddam Hussein itu jahat, Saddam Hussein itu evil, Saddam Hussein tidak menegakkan demokrasi. Tapi apakah rakyat Irak itu sendiri berpandangan begitu? Apakah dunia internasional yang lain, negara-negara Arab juga berpandangan demikian. Mungkin yang harus Amerika lakukan kalau hanya berniat merontokkan rejim Saddam Hussein, AS tidak perlu untuk menyerang. AS hanya perlu untuk mengirim agen-agen rahasianya. Bukannya Amerika sering begitu, merontokkan pemerintahan di negara lain?

 

Apalagi di film…

Iya di film, tapi memang banyak contohnya. Waktu perang dingin di negara-negara Amerika Latin, Amerika Tengah banyak sekali pemerintahan yang dijatuhkan oleh Amerika. Mengenai perang Irak itu, saya sendiri senang saja. Saya senangnya Amerika perang di Irak karena saya mengharapkan kejadian Vietnam terulang lagi. Bagaimana Amerika Serikat dipermalukan oleh seluruh dunia. Karena menurut saya, kekuatan Amerika Serikat sudah terlalu besar sekarang dan harus ada suatu peristiwa yang bisa menggerakkan atau memotong kekuatan Amerika. Supaya dunia lebih stabil.

 

Anda tidak setuju bahwa Saddam itu jelek. Atau kalau Saddam jelek, biar saja rakyatnya yang memutuskan. Yang mana yang menjadi pikiran Neda?

Dari yang saya dengar memang Saddam Hussein itu memang kejam pada rakyatnya. Dia melakukan pembantaian massa menggunakan senjata biologis dan kimia. Mungkin yang harus dilakukan itu adalah bagaimana menggerakkan rakyatnya supaya bisa bergerak sendiri menjatuhkan Saddam Hussein. Masalahnya disitu, kalau rakyatnya sendiri yang menjatuhkannya, itu tindakan yang lebih sah dibanding ada negara lain yang datang dan masuk mengintervensi untuk menjatuhkan Saddam Hussein.

 

Perang itu perlu, tapi perang di Irak tidak perlu. Bisa anda kasih contoh perang yang perlu dalam sejarah?

Saya rasa perang dunia kedua itu bisa dibenarkan. Karena NAZI Jerman itu sudah terlalu merajalela, membunuh orang-orang Yahudi, menguasai negara lain. Memang suatu saat sekutu harus turun. Yang saya permasalahkan, mengapa sekutu turun tangan pada saat Jerman itu sudah keburu merajalela. Ketika Hitler baru saja menjadi pemimpin Jerman, ia mulai membangkitkan kembali kekuatan Jerman. Saat itu Jerman kena sanksi sekutu akibat kekalahan pada Perang Dunia I. Seharusnya, pihak sekutu sudah bisa mengambil langkah-langkah mencegah pembangunan kembali kekuatan Jerman sehingga perang dunia seharusnya tidak terjadi. Karena sekutu terlambat, akhirnya terjadilah  perang yang sampai sedemikian besar.

 

Sekutu telat dalam membatasi kekuatan Hitler, dalam debat televisi asing yang saya dengar tadi pagi, mereka katakan hal yang sama. Tapi kenapa perangnya mulai tahun 38, kenapa tidak diserang tahun 32? Istilahnya pre-emptive strike, sebelum kurang ajar, di bom saja. Katanya, yang dilakukan di Irak juga sama, jadi bisa dibenarkan. Kalau dibiarkan, Saddam bisa jadi Hitler. Yang anda maksudkan pre-emptive strike atau cara damai untuk mengatasi kekuasaan jahat itu?

Saya rasa dengan cara damai. Pada waktu itu sekutu mempunyai kekuatan yang lebih besar daripada Jerman dan bisa melakukan tekanan terhadap Jerman. Jadi bukan melalui cara perang. Saat itu, mereka tidak mau menggunakan kebijakan itu. Mereka memilih untuk diam. Kita lihat Jerman mau apa. Setelah menunggu lama, sudah terlambat untuk menggunakan cara-cara damai. Akhirnya harus perang.

 

Argumennya itu menarik sekali, Amerika jauh lebih kuat dari Hitler jadi bisa menggunakan banyak cara. Sekarang, Amerika lebih kuat dari Saddam Hussein, jadi salah betul kebijakan Amerika di Irak. Sebelum perang dimulai, apakah masih memungkinkan cara-cara damai?

Saya rasa cara damai untuk mengatasi Saddam adalah ,seperti yang saya bilang tadi, lebih baik Amerika mengirim agen-agen rahasianya untuk menjatuhkan Saddam Hussein. Sekarang, semua rakyat Irak jadi korban, kerusuhan dimana-dimana. Langkah tadi jauh lebih baik.

 

Sekarang, saya mau meloncat ke kesimpulannya, dalam situasi apa  perang itu bisa dibenarkan? Kalau kata Howard kemaren, walaupun dia sangkal kemudian, kalau ada orang Australia yang tidak bisa ditolong di Indonesia, ya diserbu saja atau pre-emptive strike. Itu bisa dibenarkan tidak? Atau lebih luas lagi, dalam hal apa pre-emptive strike bisa dibenarkan?

Untuk masalah negara, satu hal yang paling penting itu adalah bagaimana kita mempertahankan keamanan nasional. Bagaimana menjaga kepentingan nasional tidak terancam. Jadi yang harus dibenarkan adalah untuk melindungi kepentingan nasional dan keamanan nasional negara kita. Mengenai pre-emptive strike sendiri sehubungan dengan pernyataan Howard, kalau hanya ada satu warga negara Australia yang ditangkap, tidak bisa dibebaskan, lalu kita menyerang, saya rasa itu tidak bisa dibilang pre-emptive strike. Bukannya mengecilkan arti nyawa, saya rasa lebih baik menggunakan pendekatan diplomasi. Seperti kemarin, kita lihat warga asing banyak yang disandera di Irak, warga Italia maupun warga Indonesia. Tapi apakah karena warga Indonesia ditangkap, lalu kita menyerbu kesana? Itu tidak dibenarkan sebagai pre-emptive strike karena menurut saya itu tidak mengancam keamanan nasional sebagai kepentingan negara kita secara keseluruhan.

 

Ada istilah Neda yang saya tidak mengerti yaitu menjaga ketahanan nasional. Apa maksudnya?

Apa tugas negara? Tugas negara adalah memberikan keamanan untuk warga negaranya. Menjaga supaya semua kebutuhan warga negaranya terpenuhi. Tapi karena itu sulit, jadi negara lebih mengarah kepada keamanan fisik warga negaranya. Itulah yang digunakan oleh Bush sebagai alasan menuduh Saddam Hussein mengancam keamanan nasional. Dia beranggapan Saddam Hussein mau menyerang Amerika, jadi lebih baik saya serang lebih dulu.  Melindungi keamanan nasional negara saya, rakyat saya.

 

Pemikiran-pemikiran yang anda tuangkan pada esai ini karena ada perlombaan atau merupakan topik yang anda dalami?

Topik ini sebenarnya bidang yang saya dalami. Jadi hubungan internasional di UI mempunyai dua jalur, ekonomi politik internasional dan perang dan damai. Saya lebih mengarah ke perang dan damai. 

 

Jadi ada jurusan yang bernama perang dan damai?

Bukan jurusan, tapi konsentrasi..

 

Setelah lulus berarti anda bekerja di lembaga seperti Lembaga Pertahanan ya?

Sebenarnya cita-cita saya bukan bekerja di Lembaga Pertahanan Nasional. Saya ingin bekerja di PBB.

 

Apa komentar anda mengenai sikap pemerintah Indonesia dalam menghadapi terorisme?

Hal pertama yang harus Indonesia lakukan adalah mengakui kalau sebenarnya ada jaringan terorisme di Indonesia. Indonesia harus merobah self denial-nya, “bahwa tidak ada kok teroris di Indonesia..” Dengan adanya pengakuan itu, rakyat punya kesadaran. Kalau memang ada teroris di sini, maka kita harus melakukan sesuatu . Saya rasa yang harus dilakukan adalah memberikan pendidikan-pendidikan yang yang moderat. Karena menurut saya, teroris itu berusaha mencuci otak sehingga orang merasa nyawanya nggak berarti, nyawa orang lain juga nggak berarti. Yang paling berarti adalah tujuannya. Itu yang berusaha ditanamkan oleh teroris, dan yang harus dilakukan adalah memberikan pendidikan-pendidikan yang lebih baik kepada pada semua orang. Jangan sampai teroris itu masuk melalui jalur pendidikan untuk mencuci otak manusia.

 

Terpilihnya pemerintah yang sekarang, negara barat senang sekali sampai-sampai Perdana Menteri Howard. Amerika juga seneng. Apa pendekatan yang seharusnya dilakukan oleh Australia, AS, dan Indonesia berbeda?

Menurut saya, kalau pendekatannya ada kemiripan. Kalau bisa dibilang ada kemiripan sedikit. Strategi teroris Indonesia tidak terlalu banyak. Tidak seperti di Amerika. Bahkan dari kuliah-kuliah yang saya dengar selama ini, entah benar atau tidak, SBY adalah orang yang berusaha dipopulerkan oleh AS dan sekutu-sekutunya supaya SBY terpilih sehingga AS punya sekutu baru untuk melawan terorisme. Itu yang mereka bilang. Mungkin tanpa kita sadari, strategi yang ditanamkan oleh Amerika dan negara-negara barat, mereka berusaha melakukan pendekatan ke Indonesia. Kita sering lihat kalau duta besar Amerika dan negara-negara barat sering datang ke pesantren-pesantren. Seperti yang saya katakan, Amerika berusaha masuk ke jalur pendidikan. Tapi niat apa yang berusaha ditanamkan Amerika di situ? Apakah Amerika berusaha menanamkan nilai-nilainya untuk kepentingannya dia sendiri? Atau memang berniat memasukkan nilai-nilai untuk melawan terorisme. Itu yang saya rasa menjadi pertanyaan besar.