Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Kartini Nurdin

Minat Baca Buku Terbentur Rendahnya Daya Beli Masyarakat

Edisi 405 | 15 Des 2003 | Cetak Artikel Ini

Asalamu’alaikum Warrahmahtullahi Wabarakatuh, salam sejahtera buat pendengar sekalian. Setelah seminggu kita berpisah, kali ini kita bertemu kembali dalam Perspektif Baru. Kali ini kita ingin bicara mengenai buku. Buku begitu penting karena menjadi salah satu media masyarakat untuk menimba pengetahuan. Media masyarakat untuk bertukar pengetahuan. Sayangnya buku masih menjadi barang yang bisa dikatakan langka di Indonesia. Langka bukan dalam jumlahnya tapi langka dalam hal minat baca. Minat baca di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan laporan dari beberapa organisasi negara dunia mengatakan bahwa Indonesia berada pada urutan 39 dari 41 negara yang diteliti dalam hal minat baca. Tentu ini merupakan salah satu penilaian yang sangat tidak menyenangkan. Minat baca yang rendah juga menunjukkan tingkat pendidikan masyarakat maupun teknologi dalam masyarakat kita sebetulnya sangat rendah. Untuk membicarakan masalah buku dan hal-hal yang terkait dengan itu, telah hadir bersama kita Ibu Kartini Nurdin. Ibu Kartini adalah General Manager Yayasan OBOR Indonesia. Yayasan Obor Indonesia menerbitkan banyak sekali buku-buku bermutu untuk pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Kita akan berbincang dipandu sahabat anda Ruddy K Gobel.

Ibu Kartini kalau melihat angka-angka dan bila berkunjung ke toko buku, beberapa tahun belakangan, secara kuantitas penerbitan buku meningkat. Faktor apa yang mendorong geliat dunia penerbitan buku di Indonesia?

Memang akhir-akhir ini, khususnya empat tahun terakhir dan sejak masa reformasi, perkembangan penerbitan buku di Indonesia agak menggeliat dan membaik. Banyak muncul penerbit-penerbit baru terutama di Yogya. Mereka berani menerbitkan buku dan menambah khasanah perbukuan kita. Pada masa reformasi, saya kira, kita butuh bacaan, informasi untuk membangun reformasi tersebut. Sebagai penerbit, Yayasan OBOR menyambut baik bangkitnya atau tumbuhnya penerbit-penerbit muda yang umumnya dimotori anak-anak muda itu.

Kearah mana industri penerbitan Indonesia bergerak? Karena penerbitan buku terdiri dari dua aspek, yakni aspek penulisan/kreativitas atau kandungan buku dan aspek komersial.

Penulis-penulis muda memang bermunculan. Tetapi juga yang penting sekarang, sebetulnya ada kebutuhan akan buku-buku sebagai bahan bacaan. Kita sebagai penerbit mengantisipasinya bahwa ada kebutuhan atas informasi. Untuk itu kita [penerbit] harus segera memberikan bacaan-bacaan yang baik.

Tadi Ibu bilang mengenai kebutuhan, kalau dilihat kondisi terakhir ini yang begitu beragam permintaan akan buku. Apakah yang dilakukan penerbit sudah cukup memenuhi kebutuhan atau permintaan masyarakat terhadap buku ?

Belum, masih sangat jauh. Kita masih sangat jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara yang lebih maju. Karena jumlah penerbitan kita juga masih sangat sedikit. Baru-baru ini saya ke Frankfurt melihat perkembangan perbukuan di luar negeri. Terlihat betapa kecilnya kita. Kita masih kurang akses informasi mengenai hal-hal yang kita tidak tahu. Padahal, hak dari semua masyarakat untuk mendapatkan informasi. Memang ada penyebabnya seperti keterbatasan daya beli, minat baca dan sebagainya.

Saat ini beberapa penerbit menerbitkan buku-buku versi murah dengan kertas yang lebih tipis kemudian huruf yang lebih kecil sehingga jumlah halaman lebih sedikit untuk mengejar harga lebih murah. Tapi apakah langkah itu disambut minat baca yang lebih baik ?

Faktor tampilan juga berpengaruh untuk menarik minat baca. Tetapi dengan masih terbatasnya minat baca, hal itu juga akan mempengaruhi harga jual buku. Jadi itu kait-mengkait. Kita tidak semata membuat buku itu murah sehingga bisa dijangkau. Sebetulnya faktor kebutuhan dan tingkat keprofesionalan yang dituntut kepada penerbit untuk menampilkan buku yang baik dan murah, sehingga bisa dicapai oleh pembaca.

Maraknya penerbitan buku dalam empat tahun terakhir ini lagi-lagi terbentur pada dua masalah besar antara minat baca dan daya beli masyarakat. Kita sepakat bahwa Indonesia belum pulih dari krisis ekonomi. Masih banyak kebutuhan pokok lain yang harus diutamakan di samping buku. Tapi kita tidak bisa pungkiri bahwa kalau hal ini terus-terusan terjadi maka kita akan semakin ketinggalan dengan bangsa-bangsa lain.

Bagaimana kita mengakali meskipun harga buku itu mahal tapi masyarakat tetap bisa memperoleh informasi melalui buku-buku?

Hal yang dilakukan sudah banyak. Saat ini bertebaran perpustakaan keliling yang dikelola oleh LSM maupun oleh warga masyarakat. Kita harapkan masyarakat bisa mendapatkan keuntungan. Bila buku mahal harganya, maka masyarakat tidak dapat mengakses buku. Mudah-mudahan langkah di atas bisa membantu. Kita harapkan perpustakaan yang ada di sekitar kita dan dikelola oleh masyarakat sendiri, juga relawan-relawan yang sudah mulai bermunculan terus berlanjut.

Kalau yang dilakukan oleh Yayasan OBOR sendiri dalam rangka untuk ikut menyebarkanluaskan informasi dan ilmu selain melakukan pencetakan buku, apa saja?

Untuk memberi informasi kepada masyarakat kita melakukannya melalui internet, melalui acara peluncuran dan diskusi buku. Kita kirimkan juga pada media-media buku Obor agar diresensi. Dengan demikian masyarakat mengetahui buku-buku yang kita terbitkan. Selain itu kita juga membuka kesempatan pada publik untuk mengunjungi stand Obor pada acara pameran buku.

Saya ingin kembali pada masalah minat baca. Apa yang membuat minat baca kita begitu berkurang. UNDP pelakukan penelitian dari 41 negara tentang minat baca dan Indonesia berada pada urutan ke 39.

Budaya kita masih tradisi lisan. Tradisi tulis kita belum ada. Belum lagi dengan TV saat ini. Dari hasil penelitian tersebut, kita kondisi Indonesia sangat memprihatinkan.

Apakah cara pengajaran ikut menjadikan kita kurang berminat untuk membaca?

Seperti yang disampaikan oleh banyak pakar, kurikulum kita sepertinya harus dirubah. Karena tidak banyak mendorong anak untuk membaca dan menulis. Saya kira itu sudah menjadi rahasia umum dan kita telah mengetahui bersama. Untuk membuat anak bisa menulis, tentu dia harus membaca. Untuk bisa membaca tentu harus ada buku. Untuk menyuruh membaca buku, guru harus tahu terlebih dahulu. Permasalahannya banyak juga yang tidak konsentrasi untuk mendidik anak muridnya. Sama juga seperti kita sebagai orang tua, kita disibukkan persoalan ekonomi maupun persoalan keluarga mengakibatkan kita sangat sedikit sekali untuk menganjurkan anak membaca. Kita tahu bahawa keadaan sekitar kita belum memungkinkan untuk membudayakan membaca buku. Tapi itu harus dikondisikan bersama antara pemerintah dan keluarga. Dan berangkatnya harus dari rumah. Kalau masalah ekonomi sudah tenang, kita dapat mulai membaca. Dengan membaca kita membuka ide-ide dan mungkin kita bisa menulis. Orang bisa menulis kalau sudah bisa menyelami dan mempunyai informasi yang banyak, sehingga bisa menuangkan dalam bentuk tulisan.

Kalau dibandingkan dengan luar negeri, selain faktor ekonomi, apa yang membedakan kita dengan negara lain?

Memang kita sangat jauh ketinggalan dengan negara-negara lain. Misalnya di Frankfurt, negosiasi begitu sepi di stand negara-negara Asia. Tapi di stand Amerika dan negara-negara Eropa begitu gencar mereka bernegosiasi mengenai penerbitan. Disitu kita bisa melihat bagaimana ketertinggalannya kita. Tentu banyak faktor, tidak hanya kualitas, ekonomi dan juga faktor lainnya yang tidak bisa dipecahkan sampai dengan 10 tahun ke depan. Tapi perbaikannya tahap demi tahap harus dimulai dari sekarang.

Sekarang kami ingin lebih spesifik tentang Yayasan OBOR. Bisakah dijelaskan pada masyarakat visi pertama didirikannya?

Yayasan Obor berdiri sekitar awal tahun 70-an. Tadinya hanya kumpul-kumpul para intelektual seperti Pak Sudjatmoko, Mochtar Lubis, Pak Ojong Ping Koen dan beberapa cendekiawan lainnya. Berdasarkan laporan dari UNESCO tahun 73, mereka pihatin dengan keadaan isi laporan itu. Lalu berkumpul dan mencoba menerbitkan buku-buku yang kira-kira dibutuhkan di Indonesia. Waktu itu memang belum ada penerbit yang bergerak seperti Yayasan Obor. Tapi syukur alhamdulillah, sekarang sudah banyak. Jadi kami waktu itu konsentrasi pada buku apa yang harus diterbitkan oleh penerbit di Indonesia.

Kalau kita melihat ke toko buku, dan melihat buku yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia kebanyakan tentang demokratisasi, sastra, sosial budaya. Ada beberapa kalangan yang berpendapat bahwa Yayasan Obor menerbitkan buku yang aspek komersialnya lebih kecil dibandingkan penerbit lainnya .

Karena seperti yang telah saya sebutkan tadi, Yayasan Obor mempunyai misi menerbitkan buku yang penting untuk dibaca. Jadi tidak berpikir ke arah komersil. Tujuannya memperbanyak buku yang harus dibaca. Dari situ kita mengajak beberapa lembaga yang mempunyai kepedulian sama untuk mendukung upaya Yayasan Obor.

Prosesnya seperti apa, apakah pihak Yayasan Obor yang mencari penulis dan manuskrip untuk diterbitkan atau penulis datang dan menawarkan karyanya pada di Yayasan Obor?

Dari awal kegiatannya memang kita membantu menerbitkan, kami memilih dan menterjemahkan. Setelah menterjemahkan, kita berikan pada penerbit untuk diterbitkan secara komersil. Dan kalau kita pikirkan bahwa buku itu tidak laku, kita subsidi ke penerbit. Itu awalnya. Kita yang memilih, bukan penulis datang. Dari komunitas Yayasan Obor banyak para ahli dan para cendikiawan yang perhatian terhadap buku, sehingga kita dapat masukan dari pakar-pakar itu.

Yayasan Obor sudah berdiri kurang lebih selama 30 tahun. Hambatan apa yang terbesar bagi Yayasan Obor dalam rangka ikut mencerdaskan bangsa melalui penerbitan buku?

Kadang-kadang buku-buku yang diterbitkan tidak laku. Seandainya laku kita dapat menerbitkan buku yang lebih baik lagi. Itu dari segi kendala keuangan yang kita alami. Lalu sebetulnya kami ingin menerbitkan karya-karya Indonesia, tapi masih jarang karya Indonesia yang muncul. Jadi sekarang ini masih dominan terjemahan karya penulis asing. Padahal kita ingin munculkan karya penulis Indonesia.

Saya juga pernah membaca salah satu buku karangan Soemitro Djojohadikusumo tentang Sejarah Pemikiran Ekonomi. Kalau tidak salah diterbitkan Yayasan Obor, buku-buku apa saja yang tetap diburu oleh pembaca meskipun sudah dicetak beberapa kali?

Bukunya Pak Mitro sangat diminati oleh masyarakat. Penerbitannya dibantu oleh pak Mitro sendiri. Dan sekarang ini buku-buku sastra banyak diburu oleh masyarakat seperti Perempuan di Titik Nol. Buku-buku walau tidak laris tapi diminati masyarakat seperti buku tentang HAM. Jadi disitu kita bisa melihat bahwa masyarakat butuh informasi. Buku HAM misalnya, ketika akan diterbitkan, tebalnya kira-kira 900 halaman tebalnya dan diterbitkan sebelum reformasi. Kami pun berpikir apa ada yang mau buku itu. Sementara kita merasa kalau buku itu dibaca bisa membuka wawasan orang banyak. Waktu pertama kali kita terbitkan belum laku. Tetapi setelah reformasi buku tersebut laris. Buku sastra, mengenai HAM, lingkungan, sastra, lingkungan dan budaya kita terbitkan dan menjadi ciri khas dari Yayasan Obor.

Sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia penerbitan dan dunia buku. Kira-kira apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat untuk agar industri buku di Indonesia bisa meningkat?

Yang bisa dilakukan oleh masyarakat yang pertama adalah mesti banyak membaca buku. Karena dengan membaca buku otomatis industri buku akan maju dan negara ini akan maju. Dengan dengan membaca buku kita mendapat informasi yang sangat penting untuk pengembangan bersama.