Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ian Situmorang

Dana Kurang, Prestasi Sulit Ditingkatkan

Edisi 404 | 08 Des 2003 | Cetak Artikel Ini

Asalamu’alaikum Warrahmahtullahi Wabarakatuh, salam sejahtera buat pendengar sekalian. Setelah seminggu kita berpisah, kali ini kita bertemu kembali dalam Perspektif Baru. Kali ini kita telah kedatangan tamu. Beliau adalah Bung Ian Situmorang. Pemimpin redaksi tabloid Bola, sebuah tabloid yang sejak dari dulu sangat intens menulis tentang olahraga. Juga, sangat besar kontribusinya dalam usaha memajukan olahraga di Indonesia. Kenapa topik kali ini olahraga? Selain karena duta-duta bangsa Indonesia sedang bertarung di ajang SEA Games di Vietnam, juga karena olahraga adalah representasi dari masyarakat kita. Sebagai representasi, prestasi yang diukir oleh atlet-atlet kita menjadi tolok ukur dari kemajuan, keberhasilan dan juga nantinya bermuara pada kebanggaan sebagai sebuah negara. Namun, ada hal yang memprihatinkan bila melihat dunia olah raga kita. Ketika krisis menimpa Indoensia, prestasi indonesia juga ikut melorot. Dari yang biasanya mendominasi SEA Games, beberapa kali kita menjadi nomor 2 (dua) bahkan nomor 3 (tiga) di SEA Games terakhir. Apa yang salah dari kondisi itu, apakah memang betul ada korelasi antara krisis ekonomi, krisis politik, krisis multidimensi dengan prestasi olahraga kita? Kita akan berbincang di Perspektif baru bersama saya Ruddy K Gobel.

Bung Ian, kita akan menghadapi SEA Games di Vietnam. Ini adalah SEA Games kesekian kali setelah beberapa kali Indonesia mengalami keterpurukan prestasi, biasanya selalu mendominasi. Bagaimana prestasi kita nanti di SEA Games?

Saya pikir Indonesia di SEA Games, sejak kita ikut ambil bagian tahun 1977, sudah menunjukkan diri sebagai negara terbesar di Asia Tenggara. Baik jumlah penduduk maupun kemampuannya. Tapi pada tahun 1985 dan 1995 ketika Thailand menjadi tuan rumah, kita tergeser ke posisi dua. Ada alasan yang kita buat atau setidaknya memang faktanya demikian sehingga kita merosot ke posisi dua (2). Terjadinya krisis multidimensi, pada tahun 1998 berimbas secara langsung kepada olahraga. Krisis itu menusuk persendian olahraga kita sehingga pada tahun 1999 dan 2001 posisi Indonesia bukan hanya nomor dua (2) tapi sudah tergeser pada urutan nomor tiga (3). Itu memang sangat kita sayangkan kenapa bisa demikian. Kalau dianalisa dan dari berbagai pendapat yang diajukan, ini diakibatkan moral, mentalitas maupun kesiapan kita sebagai bangsa Indonesia.

Anda mengatakan tadi bahwa memang betul ada kaitan langsung antara krisis yang kita alami. Tapi ada faktor-faktor lain seperti mentalitas. Kita mungkin tidak punya lagi pembina-pembina olahraga yang hebat, juga sudah tidak punya olahragawan yang mau berjuang demi nama bangsa tapi semata-mata hanya alasan komersialitas. Pendapat Anda?

Seperti yang sudah saya sebutkan tadi ada korelasi lansung antara kemampuan secara materi, dalam hal biaya dengan prestasi. Kenapa saya katakan demikian? Karena prestasi itu sebenarnya dibuat, berarti butuh materi yang banyak dan berlangsung secara berkesinambungan. Karena ekonomi kita tidak lagi mendukung ke arah sana sehingga berimbas pada latihan para olahragawan. Biaya yang dibutuhkan cukup besar, bahkan sampai ratusan milyar rupiah. Tapi ketika negara kita tidak lagi menyediakan fasilitas, tidak ada lagi biaya untuk itu. Ya, inilah yang kita tuai sekarang. Ketika kita tidak punya dana lagi, kita akan sulit meningkatkan prestasi. Misalnya mengadakan try out ke luar negeri maupun kejuaran-kejuaran tingkat nasional.

Saya akan menggali lagi korelasi kondisi perekonomian dan prestasi. Tapi sebelumnya saya ingin minta pendapat Bung Ian kira-kira di SEA Games Vietnam kita bisa tidak menjadi jawara kembali atau minimal menjadi nomor dua (2), jangan nomor tiga (3) seperti kemarin?

Memang sulit apakah kita bisa setingkat di atas dari yang kita catat dua tahun lalu di Brunnei dan Malaysia. Kita kesulitan untuk bertahan pada posisi itu, apalagi untuk meningkatkannya. Karena sampai sekarang pun ekonomi kita belum mendekati titik normal. Kemudian sampai sekarang kita tidak melihat adanya gerakan-gerakan yang spektakuler, gerakan yang bagus yang dilakukan KONI pusat untuk menghimpun dana untuk meningkatkan kemampuan pemain. Kalau masyarakat kita mengatakan ingin kembali ke posisi nomor satu, saya pikir sangat berat. Bahkan ada ancaman bukan lagi nomor tiga bisa jadi nomor empat. Kenapa? SEA Games akan diadakan di Vietnam, negara yang sedang berkembang dan sedang giat-giatnya untuk mencari posisi dengan cara menyingkirkan posisi Indonesia dengan meraih oposisi ketiga. Kembali ke KONI pusat, apakah KONI pusat sudah menyediakan dana? Saya pikir inilah persoalan utama yang dihadapi oleh KONI pusat karena sekarang ada pengurus baru yang dipimpin oleh Agum Gumelar. Sejauh ini saya tidak melihat kemampuan atau langkah-langkah mereka yang menjanjikan untuk meningkatkan prestasi Indonesia. Apalagi mereka sekarang menyuarakan bahwa untuk tahun ini kita bertahan diposisi kita saja sudah bagus. Karena memang posisi kita atau materi dari atlet kita belum kelihatan menonjol. Sebaliknya di Malaysia, Thailand maupun terakhir ini Vietnam itu sudah sangat gigih dan sudah menunjukan hasil-hasil di tingkat internasional. Indonesia sekarang sudah mempersiapkan dengan kata-kata, "bahwa kita tahun ini tidak mengejar posisi tapi lebih ke arah kualitas bukan kuantitas lagi". Maksudnya adalah bahwa kita mempersiapkan atlet muda untuk empat atau enam tahun ke depan. Jadi kecenderungannya menurunkan atlet yang masih tergolong muda, ini yang dicanangkan oleh KONI pusat. Sebenarnya cukup bagus kalau berani, hanya saja jangan-jangan ini adalah sebuah alasan yang dipersiapkan sejak awal.

Kita sudah bicara tentang bagaimana korelasi yang kuat antara krisis yang kita alami dengan prestasi olahraga kemudian ada faktor-faktor lain. Banyak juga negara yang terpuruk seperti Indonesia secara ekonomi, bisa dikatakan kurang bagus seperti Brazil, namun memiliki prestasi olahraga yang mendunia. Bagaimana menjelaskan hal ini?

Kita melakukan perbandingan yang cocok, Indonesia dengan Brazil. Hanya saja tidak memasukan faktor lain, seperti faktor historis yang begitu panjang. Indonesia sebenarnya baru saja mengenal olahraga dalam arti olahraga prestasi. Sedangkan Brazil, yang memang mau tidak mau, kita akui bahwa mereka memiliki SDM yang mungkin lebih bagus dari kita. Mereka memiliki Baricello nomor dua dunia F1, tim basket, tim voli dan jangan tanya lagi soal sepak bola. Indonesia, memiliki juara tingkat regional saja tidak mampu. Faktanya dan tidak perlu dibahas lagi, Brazil sudah menganggap sepak bola sebagai agama. Mencintai sepak bola jauh lebih penting dari hal-hal dunia lainnya. Jadi secara historis kita tidak bisa melupakan itu, dan bukan hanya di tingkat Brazil saja, mereka menguasai seluruh dunia termasuk kita. Di Indonesia banyak sekali pemain Brazil, tapi saya tidak tahu apakah ada satu atlet Indonesia di Brazil. Seharusnya kita sebagai juara dunia bulutangkis seharusnya juga bisa diekspor kesana, tapi mereka tidak menyukai itu. Kemudian soal SDM. Materi SDM atau talenta mungkin lebih bagus, baik fisik maupun mental. Sudah menjadi kenyataan bahwa mereka memiliki orang-orang yang secara historis menjadi legenda. Kita juga mengenal nama Pele, Socrates yang setiap orang bisa menghafal. Saya tidak tahu apakah mereka juga mengenal Joko Suprianto. Sebenarnya dia juara dunia tapi di tingkat bulutangkis. Ini yang saya sebutkan tadi secara materi atau talenta pemainnya memang mereka lebih maju. Buat mereka olahraga adalah sumber hidup. Itu yang belum kita ciptakan di Indonesia.

Mencontoh dari apa yang dilakukan oleh Brazil dan kemudian bulutangkis dalam contoh Indonesia. Pembinaannya di Brazil mungkin dilakukan dengan profesional, tapi mengenai persoalan bakat orang mulai dengan latihan-latihan di jalanan. Demikian pula bulutangkis banyak orang berlatih di jalanan dengan menggunakan raket darurat dari papan. Apakah bentuk pembinaan relevan untuk Indonesia dimana tingkat pendidikan masyarakat dan pendapatan masih rendah?

Ada istilah mengatakan champion is made. Saya rasa Indonesia belum sampai kesana, tapi baru setahap champion is born. Selama ini kita tidak memiliki institusi atau lembaga yang mengurus penanganan adanya atlet-atlet atau bibit-bibit unggul yang di-setting menjadi pemain tingkat dunia. Bahkan kantor menteri pemuda dan olahraga sudah tidak ada, ini berarti langkah mundur buat saya. Memang political will pemerintah tidak kesana. Kalau ada political will pemerintah tentu akan ada prestasi. Kini semua urusan olah raga diserahkan ke KONI pusat. Status KONI adalah lembaga swadaya masyarakat yang nirlaba. Pertanyaannya sekarang, berapa besar pemerintah anggarkan? Hampir tidak ada. Rendah sekali, sedangkan biaya yang dibutuhkan ratusan miliar per tahun. Kalaupun pemerintah mengucurkan puluhan milyar, bila tidak ada kebijakan yang mendukung, sangat tidak berarti. Inilah faktor yang menyulitkan kita untuk menjawab pertanyaan berkaitan dengan prestasi olahraga kita. Kalau Anda tanyakan, mana yang lebih relevan? Saya pikir kombinasi sudah jelas, prestasi dibentuk dan prestasi yang dilahirkan artinya bakat ini harus dibina dan dijadikan prestasi

Prestasi itu ada yang dilahirkan tapi ada juga yang dibentuk, paling bagus kalau kita bisa menghasilkan kombinasi diantara keduanya. Persoalannya kita butuh political will dari pemerintah. Kita punya KONI tapi seperti "macan ompong" yang tidak punya cukup dana, tidak punya cukup fasilitas tapi harus menanggung tanggung jawab yang begitu besar. Menurut Bung Ian kira-kira apa yang harus dilakukan pemerintah saat ini?

Yang pertama tentu yang kita tuntut ada political will pemerintah, political will pemerintah bukan hanya retorika tapi harus dibentuk dalam hal merumuskan dulu UU olahraga yang sampai sekarang masih digantung. UU olahraga itu menjamin secara hukum penyediaan biaya untuk setidaknya meringankan beban olahraga di Indonesia. Harus disediakan dana dalam jumlah yang pasti, ada ketetapan cost. Jadi orientasinya biaya, bukan orientasi program kalau orientasi program tidak ada biaya, pasti tidak jalan. Jadi ada sinkronisasi antara cost dan program. Biaya itu harus ditentukan lebih awal, berapa pemerintah harus menyediakan dana untuk olahraga. Lantas proyek-proyek apa saja yang telah disusun oleh KONI Pusat dengan menggunakan skala prioritas. Kita memang tidak bisa membangun semua sisi di olahraga, tapi kita harus menghargai cabang-cabang yang memang memiliki potensi untuk ke tingkat international. Ada olahraga kebanggaan atau lahir dari Indonesia yaitu sepak takraw, lahirnya di Indonesia tapi prestasi kita tidak ada, ASEAN saja kita tidak bisa juara dan sudah dikuasai Thailand dan Malaysia karena kita memang serumpun. Nah, dibandingkan dengan sepak takraw dan bulutangkis, tentu kita lebih concern memberikan bantuan ke bulutangkis. Jadi ini yang saya sebutkan tadi skala prioritas, tapi ini memang riskan karena akan menuai protes dari yang tidak suka, tapi kita harus belajar dewasa menghargai mana yang dikedepankan dan mana yang dikebelakangkan.

Apakah dengan strategi mengutamakan olah raga tertentu, nantinya Indonesia hanya mengenal dua atau tiga cabang olahraga. Akibatnya cabang olahraga lainnya akan tenggelam dengan sendirinya.

Lebih baik tiga daripada 100 tapi tidak satu pun, mana yang kita pilih. Seperti yang saya katakan tadi bukan pilihan mudah, lebih baik sedikit ketimbang banyak. Jadi saya pikir kita harus bersikap dewasa, mungkin terlalu ekstrim kita mengatakan tiga. KONI pun mengenal hal itu, hanya saja dalam penerapan dan pengambilan kebijakan ini sering dibenturkan pada kondisi itu. Kalau ada pendapat yang mengatakan pemerintah ingin meniru negara yang sudah maju dimana olah raga mandiri dan pendanaannya dari penonton dan iklan, saya masih ingat ucapan mantan presiden kita Gus Dur. Beliau berkeinginan agar olahraga ini tumbuh dan lahir di tengah masyarakat tanpa perlu campur tangan dari pemerintah. Itu bagus bagi negara yang sudah maju. Liga Inggris, Spanyol setiap malam di televisi, itu khan yang bayar masyarakat. Setiap TV itu membeli hak siar. Di Indonesia terbalik, hak siar pemilik permanen justru membayar TV supaya disiarkan. Setiap orang pasti ingin memilih ekonomi terbuka dari Eropa, tapi yang pelaksanaan kita belum sanggup. Kita semuanya terpusat pada tokoh dan pemerintah. Dalam pelaksanaannya terkadang kita mengambil sikap sosialis bahkan gaya-gaya komunis yang semuanya harus terkonsentrasi pada satu tokoh.

Pembaca maupun pendengar Perspektif tentu sangat ingin olahraga kita berkembang. Apa yang bisa mereka lakukan atau publik lakukan secara swadaya supaya membantu perkembangan olahraga?

Semuanya berpulang ke masyarakat. Apakah mau memulai dari nol atau bergabung dengan turut dalam usaha pembinaan yang sudah berjalan. Sebenarnya, yang terlibat dalam dunia olah raga adalah masyarakat bahkan masyarakat golongan bawah. Yang tidak kita sadari adalah bagaimana mempersiapkan diri secara gizi. Sehingga kita harus mengenal tokoh-tokoh masyarakat, saling membantu untuk mengarahkan masyarakat supaya lebih banyak melakukan kegiatan olahraga bagi mereka yang berada di usia sekolah. Untuk itu sekolah-sekolah perlu mengadakan kegiatan olahraga dan memikirikan apa keterlibatan orang tua. Saya rasa hal itu saja sudah merupakan sumbangsih masyarakat.