Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ahmad Sahal

Islam Tidak Pernah Lepas Dari Konteks Historis, Ruang dan Waktu

Edisi 402 | 24 Nov 2003 | Cetak Artikel Ini

Asalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh, salam sejahtera buat pendengar sekalian. Setelah seminggu kita berpisah, kali ini kita bertemu kembali dalam Perspektif Baru. Menjelang Idul Fitri yang tinggal beberapa hari lagi, kita akan berbicara tentang Islam. Islam dalam kedudukannya di masyarakat Indonesia. Kita meyakini bahwa Islam mengandung nilai-nilai yang universal. Di Indonesia, agama inilah yang mayoritas dipeluk oleh penduduk. Dengan demikian berbagai tantangan juga timbul. Apalagi belakangan, seiring dengan semakin terbukanya ruang debat, berbagai pemikiran diperbincangkan. Untuk memberikan pemandangan yang lebih luas, mengetahui apa yang paling penting dalam kehidupan beragama, dalam kehidupan sosial, kali ini kita akan berbincang dengan Achmad Sahal. Beliau adalah Deputy Director dari Freedom Institute. Selain itu juga aktif dalam Jaringan Islam Liberal (JIL). Freedom Institute adalah organisasi yang mengutamakan pemikiran-pemikiran mengenai demokrasi, nasionalisme, dan kajian sosial. Sementara Jaringan Islam Liberal adalah sebuah kelompok yang terdiri dari pemikir-pemikir muda. Semoga perbincangan ini memberikan khasanah dan inspirasi dalam kehidupan sehari-hari. Kita akan berbincang dalam Perspektif Baru bersama saya Ruddy Gobel.

Akhir-akhir ini muncul isu mengenai terorisme, kemudian di dalam negeri muncul gejolak yang beberapa kalangan mengatakan konflik horizontal antar agama. Juga upaya atau gerakan untuk memasukkan syariah Islam ke dalam konstitusi negara bahkan dalam KUHP. Ada ketakutan terhadap Islam atau Islam Fobia dalam masyarakat kita, padahal masyarakat kita mayoritas beragama Islam. Kenapa hal itu bisa terjadi?

Saya ingin menanggapi mengenai istilah Islam fobia. Sebenarnya Islam fobia itu malah sering dimunculkan oleh kalangan Islam untuk menyebutkan kecenderungan kelompok "abangan atau sekuler" pada masa awal-awal orde baru yang sangat takut dengan kekuatan kelompok Islam. Kalau yang Anda sebut tadi, menurut saya itu bukan Islam fobia. Tetapi kecenderungan yang salah kaprah dalam melihat Islam oleh sebagian umat Islam sendiri. Mereka menganggap Islam itu seakan-akan merupakan ‘panacea’ (obat mujarab) untuk menjawab seluruh persoalan. Mungkin Anda pernah mendengar ada slogan atau stiker, "Islam adalah solusi, Islam adalah jawaban". Kalau saya melihat seperti itu, saya selalu bertanya "Loh pertanyaannya apa?" Jadi menurut saya, kecenderungan untuk memperlakukan Islam sebagai solusi terhadap semua persoalan, itu yang perlu kita persoalkan.

Bagaimana menerjemahkan Islam sebagai "Rahmatan Lil Alamin - berkat bagi semua" dalam keseharian melalui tindakan nyata?

Kalau menurut saya, masih banyak yang terjebak pada slogan dalam menghadapi persoalan sehari-hari. Katakanlah krisis multi dimensi yang membutuhkan jawaban-jawaban yang dalam tindakan sehari-hari harus dilandasi oleh tindakan-tindakan yang rasional. Artinya, kalau krisis ekonomi bagaimana memperbaiki sistem ekonomi, kalau krisis politik diperbaiki dengan konsolidasi demokrasi dan perubahan sistem politik. Jadi dalam menghadapi masalah tidak lari pada slogan dan sesuatu yang kita tidak tahu bagaimana penerjemahannya dalam praktek. Islam sebagai solusi seakan-akan dengan penerapan syariah Islam persoalan akan hilang. Padahal justru dengan kecenderungan demikian akan menimbulkan persoalan-persoalan baru seperti yang kita lihat sekarang. Misalnya dengan apa yang Anda sebut tadi KUHP. Ada beberapa pasal yang oleh banyak orang dianggap sebagai menyusupnya penerapan Syariah, dan itu bisa menjadi problematis. Jadi menurut saya ini yang harus kita cermati

Saya ingin bertanya tentang slogan dan simbol. Dengan pemahaman saya yang sangat awam terhadap masyarakat kita, banyak yang mengatakan bahwa masyarakat kita lebih mengutamakan simbol dan slogan-slogan daripada praktek. Benarkah demikian?

Kalau saya mengikuti pendapat para pemikir Islam sebelumnya seperti Nurcholis Madjid atau Abdurrahman Wahid, Dawam Rahardjo yang mengatakan bahwa Islam itu sebenarnya yang penting substansi dalam kaitannya dengan kehidupan publik. Bagaimana Islam mengatur kehidupan pribadi itu urusan masing-masing. Sejauh menyangkut kehidupan publik membutuhkan negara sebagai alat yang paling punya otoritas untuk mengatur kehidupan publik. Islam harus diletakkan dalam posisinya sebagai substansi dan nilai yang bisa dibagi kepada kalangan lain dan nilai-nilainya itu universal, misalnya keadilan. Sejauh sistem yang ada itu menjamin keadilan maka sudah dianggap cukup Islami. Memberikan perlindungan kepada minoritas, itu Islami, memberikan perlindungan kepada kehidupan yang plural maka disebut Islami. Jadi menurut saya Islam itu harus diletakkan dalam kaitannya sebagai nilai dan bukan sebagai bentuk atau sistem. Islam sebagai sistem itu maksudnya seperti yang terjadi di negara-negara yang menerapkan syariat Islam.

Islam adalah bagaimana menjalankan ajaran itu secara pribadi. Ketika kita bicara tentang negara berarti ada faktor-faktor lain yang harus dipertimbangkan. Banyak orang kemudian mengaitkan pandangan itu dengan sekulerisme yang dipandang negatif. Banyak orang yang berpandangan kalau tidak menerapkan syariah itu sekuler. Sampai sejauhmana dikotomi ini serius?

Sekulerisme ini memang sebuah istilah yang sudah terlanjut kotor dikalangan benak umat Islam. Sekuler identik dengan apa saja yang boleh atau yang tidak punya nilai. Orang sekuler itu berarti jahat. Kalau menurut saya yang penting kalau mau mengatur kehidupan publik dan itu melibatkan banyak orang berbeda agama dan suku, maka kita harus memakai prinsip yang berdasarkan kesepakatan. Kesepakatan sifatnya terus berkembang dan melibatkan diskusi antar kelompok. Dalam proses ini yang paling utama adalah digunakannya rasionalitas. Jadi sebenarnya yang oleh banyak orang disebut sebagai sistem yang sekuler itu pada dasarnya hanyalah penerapan prinsip-prinsip rasionalitas dalam kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Demokrasi itu adalah penerapan sistem rasionalitas dalam politik, dalam ekonomi kita juga menggunakan prinsip-prinsip yang rasional dalam efisiensi, dan sebagainya. Penolakan kalangan Islam terhadap dipakainya rasionalitas ini sebenarnya lebih banyak terkait dengan faktor historis. Faktor yang sifatnya terkait dengan pengalaman Timur Tengah. Bukan faktor yang sifatnya inheren dalam Islam itu sendiri. Kalau kita lihat dalam tradisi Islam sebenarnya rasionalitas ditempatkan dalam posisi yang unggul. Rasionalitas itu akal, dan itu adalah anugerah Tuhan. Sesuatu yang merupakan anugerah Tuhan tidak mungkin bertentangan dengan wahyu yang juga dari Tuhan. Jadi kita jangan mendikotomikan antara Islam atau syariah atau wahyu dengan akal. Kalau kita percaya bahwa akal itu juga anugerah dari Tuhan.

Bagaimana kita menjawab polemik mengenai penerapan syariah dan bagaimana kita bisa menjelaskan kepada saudara-saudara kita yang non muslim misalnya tentang kedudukan mereka dalam [kalaupun] sistem yang disebut syariah itu dijalankan?

Sering kurang diperhatikan bahwa yang akan menderita kalau misalnya syariat Islam diberlakukan justru bukan yang non muslim tapi orang Islam. Karena kalangan non muslim dianggap sebagai pengecualian. Misalnya di Malaysia, orang Cina dan Hindia yang non muslim itu bebas, sementara yang menderita adalah orang Islam. Menderitanya karena apa? Karena dikalangan Islam yang disebut dengan syariah itu tidak tunggal. Apa yang saya pahami sebagai syariah dengan yang dipahami oleh orang PPP atau Partai Keadilan berbeda. Misalnya, ada yang mengatakan jilbab itu wajib, tapi ada juga yang mengatakan tidak wajib karena yang penting itu adalah kepantasan. Soal politik apakah yang penting itu nilainya atau simbolnya? Itu juga menunjukkan perbedaan. Banyak perbedaan dan itu sudah lama sekali, justru bagus. Kalau penerapan syariah itu diberlakukan, itu berarti ada satu versi resmi. Penafsiran-penafsiran tentang Islam yang berkembang dan beragam yang karena memiliki argumennya masing-masing akan diberangus. Dan itu akan bertentangan dengan prinsip pluralisme. Jadi menurut saya biarlah syariah itu menjadi wilayahnya masyarakat. Biarlah masyarakat Islam sendiri yang memahami bagaimana syariah, sehingga keberagaman ajaran terjaga. Negara jangan dipakai sebagai alat untuk meresmikan penerapan satu versi syariah. Karena akan menghancurkan keberagaman pendapat yang justru bagus bagi umat Islam.

Mas Sahal juga aktivis Jaringan Islam liberal. Banyak yang mengatakan bahwa yang disebut Islam, Islam saja. Tidak perlu ada ‘embel-embel’. Sebenarnya Islam liberal sendiri itu seperti apa?

Istilah Islam liberal itu sebenarnya istilah yang justru ingin membantah bahwa Islam itu ya Islam saja. karena dalam prakteknya Islam itu selalu dipahami oleh suatu masyarakat tertentu. Islam tidak pernah lepas dari konteks historis, ruang dan waktu. Konteks itu mempengaruhi penafsirannya dan itu dari dulu sudah terjadi. Islamnya orang Persia dan orang Arab bisa berbeda dalam hal manifestasi. Jadi kata sifat (adjective) setelah Islam menjadi penting. Dalam kenyataannya ada Islam model Muhammadiyah, Islam model Iran, Islam model NU. Itukan menunjukkan fakta historisnya. Fakta sosiologisnya menunjukkan bahwa ya memang beragam. Islam liberal itu misinya sederhana yaitu bagaimana supaya penerapan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara itu kita menempatkan posisi rasio. Tapi bukan rasio dalam perdebatan filsafat atau perdebatan tentang rasio itu sendiri. Rasio merupakan prinsip yang mengatur kehidupan. Jadi Islam liberal itu menolak kecenderungan seakan-akan Islam itu punya ambisi untuk mengatur semuanya/totalitarian. Jadi lawan yang hendak ditentang oleh Islam liberal itu adalah kecenderungan totalitarianistik dari pemahaman Islam yang seakan-akan Islam itu mencakup semuanya. Padahal seperti yang saya bilang, rasionalitas itu juga diakui oleh Tuhan. Jadi prinsipnya menempatkan rasionalitas sebagai pusat. Dengan demikian, manusia sebagai sang penafsir dari agama tidak berhak mengklaim bahwa pandangan keagamaannyalah yang paling benar. Barang siapa yang mengklaim bahwa penafsirannya itu yang pasti benar, itu berarti dia sudah mengambil hak Allah sebagai penentu akhir. Jadi kita menolak klaim kebenaran. Kemudian pengakuan dan kerendahan hati bahwa pandangan keagamaan kita tidak mutlak benar. Kita tahu apa yang kita lakukan itu benar seperti yang dikehendaki oleh Tuhan. Jadi semuanya harus diakui haknya, baik rasionalitas maupun pluralisme.

Persoalannya, banyak yang khawatir pemikiran Islam liberal ini kemudian berkembang jauh sampai menafsirkan atau menggugatkan kembali ajaran-ajaran prinsipil seperti sholat, puasa, zakat dan lain-lain. Bagaimana menanggapi pendapat demikian?

Ya ini menarik. Kalau sejauh yang saya tahu, perhatian Islam liberal itu hanya menyangkut kehidupan publik. Kalau menyangkut kehidupan ritual, kita serahkan kepada masing-masing. Kita percaya bahwa para pemeluk agama adalah insan-insan yang dewasa. Mereka sudah mempunyai pilihannya sendiri dan tidak perlu diberlakukan seperti anak kecil yang harus diawasi. Sejauh yang menyangkut ritual, itu hak masing-masing. Tapi kalau menyangkut kehidupan publik yang melibatkan banyak orang, nilai [ajaran] satu kelompok jangan dipakai sebagai acuan untuk seluruh kelompok yang bermacam-macan. Makanya yang justru penting itu, bagaimana mengatur kehidupan yang beragam agar tidak bentrok dan saling menghancurkan. Itu berarti membutuhkan kesepakatan yang rasional yang sifatnya berdasarkan diskusi antara kelompok yang ada. Jadi arahnya kesana. Bukan berarti Islam liberal kemudian menafsirkan sholat sendiri. Dalam hal Ubudyah dan ritual itu adalah hak-hak sendiri dan itu merupakan komunikasi dengan Tuhan. Puasa, sholat itu adalah komunikasi dengan Tuhan dan haknya masing-masing. Sebagai identitas ke-Islaman itu sesuatu hal yang wajib.

Seperti yang disebutkan sebelumnya, perbedaan adalah merupakan rahmat. Perbedaan adalah suatu bagian dari identitas masyarakat akan semakin memperkaya kita dari sudut pandang pengetahuan dan pemahaman. Karena itu saya berharap diskusi ini bisa menjadi insipirasi dan informasi yang bermanfaat bagi Anda bagaimana Islam sebagai sesuatu hal yang universal. Saya mengucapkan Selamat menunaikan ibadah puasa dan minggu depan menyongsong hari Raya Idul Fitri. Saya dan rekan-rekan di Perspektif Baru mengucapkan "Selamat Hari Raya Idul Fitri 1424 H Mohon Maaf Lahir & Batin".